Kamis, 02 Desember 2010 | By: Babad Sunda

Situs Megalitik Bitaha, Desa Olayama Kec. Lölöwa’u, Kab. Nias Selatan

Megalitik Bitaha sudah terkenal sejak zaman kolonial Belanda. Para penulis buku-buku edisi terbaru juga menurunkan berita dan foto-foto dari Situs yang termasyhur itu, antara lain: Buku edisi lux tulisan Jean Paul Barbier dengan judul Botschaft der Steine Messages in Stone; halaman 49 dan buku Guide untuk wisatawan tentang pulau Nias yang ditulis pada tahun 1998 oleh Bernd Eberlein yang dilebih akrab dipanggil Mister Ben di Nias (halaman 66-67).

Terdapat di situ beberapa jenis Megalit seperti Awina, Sahuwa dan beberapa bentuk Behu. Yang paling menonjol adalah menhir “Behu” yang berdiri. Ada yang tidak dipahat, ada yang dipahat tapi hanya wajah dan genitalia laki-laki dan ada pula yang dipahat lengkap dalam bentuk manusia yang jongkok.

Semua megalit ini punya hubungan erat dengan budaya marga Halawa, keturunan dari para leluhur Ho dan Sirao. Seorang putra dari keturunan Ho adalah Halawa. Keturunanya yang bernama Fatema pindah ke wilayah desa Soliga, negeri Huruna. Pada waktu itu nama desa itu disebut Hilifalawu. Dan ke-10 saudara Halawa yang bermukim di wilayah Huruna berkembang sejak 7 generasi yang lalu sampai sekarang. Seorang dari antara ke-10 saudara Halawa bernama Falagöhili pergi ke Bitaha dan bermukim di situ.

Situs Bitaha hanya salah satu dari sekian banyak situs megalitik di negeri Huruna (öri Huruna). Desa Olayama sendiri memiliki tiga situs, yakni Hilibadalu, Hili’ana’a dan Bitaha.

Situs Hili’ana’a
Jarak situs Hili’ana’a dari lokasi terdekat yang dihuni warga di Olayama sekitar 1.500 meter. Maka tiga Behu antropomorfik (gowe ni’oniha atau menhir dalam bentuk manusia) dan satu megalit lain yang sangat artistik sudah dicuri. Tiga Behu yang dicuri masih dapat dilihat dalam foto Schröder (1917, Abb. 21) dan pada foto yang sama dalam buku Barbier-Mueller pada halaman 48.

Jumlah Behu yang berbentuk manusia dalam foto itu sebanyak 5 buah. Kini hanya yang paling kiri yang tersisa. Ketiga buah megalit di sebelah kanan sudah raib. Sedangkan Behu yang paling kekar yang dapat kita lihat pada Cover berwarna buku “Hikaya Nadu” yang ditulis oleh Johannes M. Hämmerle pada tahun 1995, sudah dua kali hendak dicuri.

Supaya tidak begitu berat, kakinya dipatahkan dan ditinggalkan begitu saja. Pertama kalinya maling itu hanya sanggup membawanya sejauh 50 m. Keesokan harinya, warga desa Olayama yang hendak menderes karet menemukan behu yang ditinggalkan begitu saja di bawah semak dan pohon karet.

Lantas Behu itu dikembalikan lagi ke situs aslinya oleh para penduduk. Tetapi para maling dan orang tertentu yang ada di belakang pencurian benda yang dilindungi undang-undang itu tidak mau melepaskan mangsa mereka. Mereka beraksi kedua kalinya.

Dalam aksi kedua, mereka berhasil melarikan Behu itu sejauh satu kilometer dari lokasi asal. Mungkin mereka kehabisan tenaga di tempat itu, lalu Behu ditinggalkan lagi di tengah-tengah rimbunan pohon karet. Kali ini warga desa mengangkat dan membawanya ke dalam desa mereka. Karena kakinya tidak ada, Behu itu sekarang berbaring di samping rumah orang. Waktu yang paling nyaman bagi para maling ialah di malam hari, ketika musim hujan tiba.

Situs megalitik Hilibadalu terletak sekitar 2000 m dari lokasi rumah warga di Olayama yang terdekat. Belum ada berita berapa banyak megalit yang sudah dicuri di lokasi itu. Sewaktu penulis berkunjung di lokasi itu pada pertengahan bulan Oktober 2007, satu buah megalit yang tingginya sekitar 2,20 m sudah menunjukkan bekas maling. Mereka sudah mulai membelahnya supaya tidak begitu berat. Satu Behu yang lain di sampingnya sudah patah kepalanya. Dan satu Behu lain lagi sudah dibaringkan oleh maling itu di atas dua kayu bulat untuk diangkut dan dibawa lari. Pasti cukup banyak orang yang terlibat untuk mengangkut menhir yang besar. Patut diduga bahwa di antara warga setempat di negeri Huruna ada yang mengetahui tentang hal itu atau juga terlibat secara aktif.

Yang jelas, pada malam 30/31 Oktober 2007 terjadi lagi pencurian di Hilibadalu. Pada tanggal 31 Oktober, Kades Olayama telah mengirim SMS berikut kepada penulis: “Ya’ahowu pa. Batu megalit di Hilibadalu udah dicuri. Barangnya udah kami dapat, tapi orangnya belum kami dapat. Langsung diangkat ke tempat yg aman di simpang Olayama. Waktu kedapatan rabu, 31-10-07. Dari Kades Olayama.”

Message ini sudah langsung diperlihatkan oleh penulis kepada yang mewakili Kapolres pada acara peresmian SD Negeri 2 di Jl. Karet 17 Gunung Sitoli, yang dibangun oleh Unicef. Saat itu, Kapolres memanggil Inteligen. Message itu sudah diteruskan pula ke dalam HP beliau dengan memberi keterangan tambahan. Tetapi ketika ditanyakan realisasi laporan itu, pada tanggal 5 Nopember 2007 di Olayma, Kades Olayama mengatakan bahwa: “Sampai sekarang belum ada yang datang dari kantor polisi untuk menyelidiki kasus pencurian warisan budaya itu.”

Situs Hilibadalu
Situs ini agak beruntung karena di dekatnya ada rumah warga. Yang sudah hilang di tempat ini hanya patung batu antropomorfik berjenis kelamin laki-laki “Sahuwa Simatua.” Sedangkan pasangannya “Sahuwa Si’alawe” masih ada. Menurut cerita dari warga, satu Behu hancur terbelah bagian atasnya, ketika seorang turis Belanda yang menginap di rumah salah seorang seorang warga di Olayama meletakan tanganya ke atas patung batu tersebut. Orang Belanda itu sangat terkejut disertai rasa takut, sehingga pada malam hari itu juga turis Belanda tersebut melarikan diri.

Tetapi pada gempa bumi yang dahsyat 28 Maret 2005, hampir semua Behu di Bitaha tumbang. Museum Pusaka Nias kemudian menyampaikan proposal ke kantor BRR Nias pada tahun 2005, lewat Kepala Satker Sosial Agama dan Budaya. Intinya: Museum Pusaka Nias memohon bantuan dana untuk menata situs megalitik Bitaha yang terkenal itu dan membangun kembali satu rumah adat gaya Huruna yang berbeda dari semua rumah adat Nias lainnya. Museum Pusaka Nias berulang kali menanyakan hal itu di kantor BRR, lalu akhirnya diberi jawaban bahwa BRR akan mengurus itu sendiri.

Sewaktu penulis yang juga Direktur Museum Pusaka Nias bersama staf berkunjung ke lokasi Bitaha pada pertengahan bulan Oktober 2007, kami melihat sekitar 16 tiang pagar dan dua pintu pagar yang sudah didirikan. Semuanya dililit dengan kawat duri ala kadarnya, sehingga sudah pasti tidak bisa menghalangi seorang pencuri dan sangat mengganggu estetika situs. Lokasi yang sudah dipagari sekitar 6 x 20 meter, termasuk situs megalitik itu. Dan di depan situs itu didirikan empat tiang kayu dengan atap seng sederhana di atasnya. Pondok itu berukuran sekitar 3 x 5 meter. Lantainya dicor dengan semen. Warga sekitar situs alias para pemilik situs itu mengatakan bahwa mereka tidak mengerti apa guna dan tujuan tindakan itu.

Nah, sang pemborong kawat duri dan pondok itu tidak menyentuh situs itu sendiri. Kerusakkan situs megalitik dibiarkan bahkan kawat duri dan pondok seronok itu mengganggu pemandangan dan estetika situs.

Karena itu, Museum Pusaka Nias mengadakan musyawarah dengan masyarakat setempat bersama Kepala Desa Alisama Halawa dan mantan Kades dan sekaligus pemilik situs Bitaha itu, yakni Ama Amina Halawa. Kemudian disepakati untuk mendirikan kembali dan menata semua megalit yang sudah tumbang dalam gempa bumi.

Seandainya ditemukan seorang sponsor, kelak akan didirikan juga rumah adat gaya Huruna di belakang situs itu sehingga situs itu lengkap dan semakin indah serta semakin sulit bagi maling untuk mencurinya karena akan ada orang yang tinggal di situ.

Museum Pusaka Nias telah menyumbangkan seekor babi dan satu karung beras dll. Marga Halawa tidak lama menunggu, mereka langsung bertindak. Maka terjadilah rekonstruksi situs Bitaha pada hari Senin, tanggal 5 Oktober 2007. Upacara berjalan dengan tertib dan meriah. Acara dikendalikan langsung oleh Kades Olayama, doa selamat dan bimbingan rohani oleh Pendeta Jemaat BNKP Hilisoliga, kata Sambutan dari yang mewakili Pemerintah setempat, uraian sejarah oleh Ama Amina Halawa, mantan Kades Olayama dan pemilik situs itu, ditutup dengan kata sambutan dari Direktur Museum Pusaka Nias yang diselingi dengan pertukaran cindamata. Museum Pusaka Nias menyerahkan bibit bambu berduri yang dengan nama Nias disebut “Bitaha” kepada masyarakat setempat, supaya ditanam dan supaya generasi penerus dan para pengunjung langsung dapat melihat asal-usul nama dusun Bitaha itu. Sesudah itu Ama Amina berdoa lagi di tempat itu yang erat sekali hubungan dengan para leluhurnya, dan kemudian sepuluh Behu itu didirikan kembali. Akhirnya jamuan bersama tentu tidak dilupakan.

Rencana dan harapan
Kalau situs Bitaha sudah pulih kembali, masih tinggal dua situs lainnya dalam desa Olayama itu: Hilibadalu dan Hili’ana’a. Di situ dibutuhkan dana yang lebih besar dan perencanaan yang lebih rumit lagi. Seandainya semua orang yang terlibat di situ dapat bersatu, maka sebaiknya megalit-megalit yang masih tinggal di kedua situs di Hilibadalu dan Hili’ana’a yang sunyi itu dipindahkan ke lokasi di mana ada orang, misalnya di desa Olayama di dekat rumah warga. Tapi diperlukan dana yang cukup untuk mengangkat dan mendirikan kembali semua Behu yang masih tinggal dari dua lokasi yang jauh itu.

Sedangkan di Onohazumba, situs yang lebih jauh lagi dan terletak di seberang sungai Oyo, di sebelah kiri dari sungai dan sekitar 2 km jaraknya dari jembatan Oyo, hanya satu Behu ditemukan yang tingginya 2,21 m. Karena terlalu berat bagi komplotan maling dulu, mereka memotongnya di pertengahan. Akhirnya maling itu ditangkap dan dipenjarakan. Kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu.

Situs megalitik Desa Lawa-lawa-Luo juga terletak lebih dekat dengan desa Olayama, hanya sungai Idanömi yang mengantarai kedua desa itu. Sudah banyak behu yang dicuri dari lokasi itu. Salah satu Behu dari desa itu, tingginya 2,25 m, kini sudah sekitar 4 tahun terlantar di kompleks Kapolres Gunung Sitoli. Ada yang mengusulkan, supaya Behu itu dititipkan di Museum, dan Museum Pusaka Nias sudah menyampaikan permohonan, akan tetapi …. Ya, begitula! “Capek deh..!”

Keanehan
Tujuh keturunan yang lalu, seorang dari keturunan marga Halawa yang bernama Tohönawanaetu dari wilayah Huruna pindah ke Nias Selatan dan menetap disana di Hili Ono Takhi atau di desa lama Hili’amaigila. Namanya disingkat menjadi Tohalawa atau Dohalawa. Penduduk dan penguasa wilayah itu sepakat bahwa Tohönawanaetu menjadi Si’ulu dalam desa dan hanya tugas Ere Börönadu yang akan tetap dipegang oleh keturunan Ono Takhi yang asli. Marga Tohönawanaetu kemudian berubah menjadi marga Dakhi.

Itu sebabnya marga Halawa dari Huruna belum bisa kawin dengan marga Dakhi Eks-Halawa di Hilisimaetanö, karena baru 7 keturunan yang lalu terjadi perpindahan Tohönawanaetu ke Nias Selatan. Dan itu pula sebabnya, mengapa terdapat marga Dakhi yang mengawali silsilah mereka dengan Sirao, pada hal para penduduk Maenamölö, Nias Selatan, tidak mengenal Sirao dan mengawali silsilah mereka dengan Hia.

Dan aneh juga, duplikat dari salah satu Behu yang dicuri di situs Hili’ana’a, desa Olayama, kini berdiri dengan megah di lapangan desa Hilisimaetanö. Apakah ini suatu kerinduan pada tradisi leluhur di tempat asal dan lalu menghadirkannya di daerah yang baru ditempati?


http://arkeologi.web.id
Sumber: P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. http://www.museum-nias.org/ Penulis adalah Direktur Museum Pusaka Nias

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas