Jumat, 03 Desember 2010 | By: Babad Sunda

Selayang pandang Nonoman Ksatrya SumedangLarang


PROFIL
Berdasarkan perjalanan sejarah Sumedang berawal dari Kerajaan Sumedanglarang yang berdiri sejak berabad – abad lampau dengan menguasai wilayah tatar Sunda, puncak kejayaan Sumedanglarang pada masa Prabu Geusan Ulun pada tahun 1578 ketika itu Sumedanglarang mewarisi daerah kekuasaan Pajajaran yang telah burak. Kejayaan Sumedanglarang ditandai dengan diserahkannya Pusaka Pajajaran Mahkota Binokasih oleh empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghyang Hawu / Djayaperkosa, Batara Dipati Wiradidjaya, Sanghyang Kondanghapa, Batara Pancar Terong Peot pada tanggal 22 April 1578 kepada Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri yang kemudian menobatkan putranya Pangeran Angkawijaya sebagai Raja Sumedanglarang dengan gelar Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda. Dari masa berdirinya kerajaan Sumedanglarang (721 M) sampai masa kebupatian (1949), banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan pusaka leluhur Sumedang baik itu situs maupun artefak.

Sampai saat ini oleh keturunan leluhur Sumedang, peninggalan-peninggalan leluhur Sumedanglarang tersebut masih terjaga dan terawat dengan baik di Museum Prabu Geusan Ulun – Yayasan Pangeran Sumedang. Yayasan Pangeran Sumedang selaku Pemangku Adat Karaton Sumedanglarang berperan aktif didalam pelestarian budaya warisan leluhur Sumedang. Eksistensi yang ditampilkan Karaton Sumedanglarang tercatat sebagai anggota Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se Nusantara (FKIKN) dan sebagai Dewan Pembina di Assosiasi Kerajaan Keraton Indonesia (AKKI). Keberadaan Keraton Sumedanglarang sudah tampil di berbagai kancah nasional maupun internasional seperti pameran benda-benda Seni Keraton Indonesia ( Court Arts Of Indonesia ) di Rotterdam Belanda tahun 1992,Pameran kebudayaan Indonesia Amerika Serikat (KIAS) di New York tahun 1993,Pameran Dunia Islam di Australia tahun 2005 dan ikut serta secara aktif sebagai peserta dalam Festival Keraton Nusantara (FKN) yang di selenggarakan setiap dua tahun sekali. Keraton adalah Institusi kekerabatan yang di pimpin oleh Raja/ Sultan / Sunan /Panembahan atau sebutan lain yang menjalankan fungsi sebagai pusat pelestarian dan pengembangan adat budaya nilai-nilai sosial budaya yang terkandung di dalamnya, serta mengayomi lembaga dan anggota masyarakat adat setempat. Berdasarkan nilai-nilai tersebut di atas untuk dapat lebih mengapresiasikan dan mengisi eksistensi pelestarian budaya khususnya oleh generasi muda di Keraton Sumedang larang dan umumnya untuk pengembangan budaya dan pariwisata di Kabupaten Sumedang serta selaras dengan dideklarasikannya Sumedang sebagai Puseur Budaya Pasundan, maka untuk membantu melaksanakan tujuan tersebut dibentuklah Nonoman Ksatrya Sumedanglarang ( NKSL ).



Nonoman Karaton Sumedanglarang di bentuk pada tanggal 6 April 2008, berawal dari prakarsa R.I. Lukman Soemadisoeria Ketua Yayasan Pangeran Sumedang selaku Pemangku Adat Karaton Sumedanglarang dan dukungan pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang.
Nonoman Karaton Sumedanglarang adalah lembaga formal independen generasi muda di bawah naungan Karaton Sumedanglarang / Yayasan Pangeran Sumedang,yang mempunyai fungsi sebagai :
1. Lembaga penelitian dan pengabdian Masyarakat dalam melaksanakan penelitian, penggalian, pelestarian, pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan pariwisata.
2. Garda terdepan Karaton dalam melaksanakan kegiatannya baik itu dalam kegiatan budaya maupun kegiatan lainnya.
3. Wadah generasi muda Karaton menyampaikan aspirasinya dalam kegiatan Sosial Budaya.
4. Membantu program kegiatan Yayasan Pangeran Sumedang selaku pemangku adat yang berkaitan dengan pelestarian Adat Istiadat dan Budaya.

Foto Kegiatan NKSL di Festival Keraton Nusantara


Ketua NKSL dengan busana Kasumedangan 
(Mahkota Binokasih Sanghyang pake & Bino Sri)


Prajurit SumedangLarang


 Prajurit Wanita (Ponggawa Panah Wanita) Srikandi



Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

3 komentar:

target='_blank'>Muhamad Yogi Hamdani mengatakan... [Reply to comment]

bade tumaros, perkawis kaanggotaan NKSL naha ngan saukur nonoman-nonoman katurunan kakaratonan sumedang larang tanapi bebas kanggo umum?
margi simkuring rada kairut ku NKSL nanging simkuring teu gaduh terah Sumedanglarang,,hatur nuhun.

target='_blank'>Babad Sunda mengatakan... [Reply to comment]

Saleresna (NKSL) mah muhun kanggo nonoman katurunan SumedangLarang, tapi kabuktosan namah nonoman anu mikareueus ka sumedanglarang sanaos teu gaduh teureuh oge tiasa aub sareng nonoman anu gaduh terah menak sumedanglarang, yen hiji buktos NKSL milik urang balarea teh ku teu ngawilah-wilah saha urang- saha maneh, tapi kuring teh maneh-maneh teh kuring,mugia kilanceuk tiasa nepangan Aom luky J.Tsumawilaga di yayasan Pangeran Sumedang/museum, margi manten na anu jeneng pupuhu NKSL teh, hatur nuhun

target='_blank'>MENWA ISTA mengatakan... [Reply to comment]

pami hoyong janten NKSL kumaha kang??

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas