Selasa, 13 Juli 2010 | By: Babad Sunda

Naskah Purusangkara (Uraian)

Naskah Serat Purusangkara (SP) seperti yang tertera pada teks halaman awal berasal dari Dalem Kangjeng Pangeran Panji Puspakusuma di Surakarta. Kondisi naskah SP masih bagus dan tulisannya masih dapat dibaca dengan jelas. Naskah ini ditulis pada daluang yang disampul dengan karton tebal berwarna hijau kebiru-biruan yang dilapisi plastik.

Aksara Cacarakan (Jawa) yang digunakan berukuran sedang kecuali untuk bagian awal ukurannya besar. Jika dilihat dari bentuk aksara dari halaman pertama sampai halaman terakhir tampak memiliki karakter aksara yang sama atau dalam hal ini naskah SP hanya ditulis oleh satu orang penulis.
Penomoran halaman naskah SP ada yang meloncat 30 halaman, yaitu dari halaman 309 langsung ke halaman 340. Pada awalnya diperkirakan yang 30 halaman tersebut hilang, namun setelah ditelusuri dari alur ceritanya selaras. Kemungkinan besar pada saat membubuhi nomor halaman tersebut penulis lupa sehingga terjadi kesalahan penulisan lambang angka.

B. Ikhtisar Isi
Naskah SP disajikan berbentuk prosa yang tidak terikat dengan aturan pola metrum gurulagu, guruwilangan maupun jumlah padalisan dalam setiap pada (bait), seperti halnya dalam naskah yang berbentuk puisi. Naskah SP secara garis besar menceritakan tentang perjalanan Prabu Jaya Purusa serta berlatar tempat di lingkungan keraton. Walaupun naskah ini berjudul Serat Purusangkara namun yang menjadi tokoh sentralnya ialah Prabu Jaya Purusa di negeri Widarba. Adapun nama Purusangkara merujuk pada salah satu nama lain dari menantu Prabu Jaya Purusa, yaitu Prabu Astra Darma dari Yawastina yang menikahi Dewi Pramesti yang pada akhirnya Prabu Purusangkara sirna beserta negerinya menjadi samudra. Berdasarkan susunan ceritanya teks SP terbagi ke dalam 11 bagian cerita atau episode. Episode yang berkaitan dengan Selahuma terdapat pada episode 6 (± 170 halaman naskah), yaitu sebagai berikut:
Ketika berjalan satu bulan pada tahun 841 siklus Suryasangkala (919 Masehi) atau dua bulan pada tahun 866 siklus Candrasangkala (944 Masehi), termasuk tahun Sambrama dan mangsa Pausa. Diceritakan di negeri Malawapati, sang raja yaitu Prabu Aji Darma bersiteguh untuk menyerang ke negeri Widarba untuk membalas kematian ayahnya, yaitu Prabu Sariwahana. Patih Sudarma menasehatinya bahwa dalam peperangan dulu Paduka telah kalah dan jika sekarang hendak perang kembali maka akan terjadi kekalahan dan mengalami kesulitan pada negeri ini.
Lalu adik Patih Suksara, yaitu Arya Sumarma bercerita kepada kakaknya mengenai kehendak raja tadi. Tidak lama terdengar suara ghaib, yaitu suara Patih Sunjali yang berpesan bahwa negeri Malawapati akan sirna dan kalian berdua harus pergi malam ini juga ke negeri Yawastina dan mengabdi di sana. Setelah mendengar suara itu, pada malam harinya mereka bergegas meninggalkan negeri Malawapati menuju negeri Yawastina. Begitu pula yang dialami oleh Brahmana Resi Rasika. Kepergian ketiga abdi tersebut diketahui oleh Prabu Aji Darma. Ketika mereka bertiga telah sampai di negeri Yawastina, mereka menceritakan maksud kedatangannya kepada Prabu Astra Darma, maka setelah itu mereka bertiga diangkat menjadi abdi Yawastina.
Adapun Prabu Aji Darma tetap menyerang ke negeri Widarba dan menyuruh dua adiknya yaitu Raden Darma Sarana dan Raden Darma Kusuma untuk menjaga kerajaan. Sesampainya di sana terjadilah pengrusakkan dan pembunuhan. Kejadian tersebut diketahui oleh pengawal Widarba yang sedang berkeliling, lalu disampaikan kepada Prabu Jaya Purusa sehingga terjadilah pertempuran antara negeri Widarba dengan Malawapati. Akhirnya negeri Malawapati dikalahkan oleh negeri Widarba. Balatentara Malawapati yang selamat mengabdi pada negeri Widarba. Kedua adik Prabu Aji Darma di negeri Malawapati mendapat pesan dalam mimpinya bahwa harus mengabdi pada negeri Yawastina.
Dalampada itu, diceritakan di Suralaya, Sanghyang Girinatha memerintahkan Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma untuk turun ke bumi dan memimpin para raksasa di Selahuma. Sanghyang Kala diangkat menjadi raja dan diberi nama Prabu Yaksadewa dan Sanghyang Brahma menjelma menjadi pakaian dan gada Prabu Yaksadewa.
Lalu diceritakan pula dua jiwa perempuan yaitu Kanistri dan Metili serta jiwa Maharsi Mayangkara alias Resi Anoman yang raganya bertapa di Gunung Kandhalisada. Maharsi Mayangkara alias Resi Anoman disuruh oleh Sanghyang Girinatha menuju ke negeri Yawastina untuk menyelenggarakan perjodohan antara putra-putra di Yawastina dengan putri-putri di Widarba. Di negeri Widarba, Prabu Jaya Purusa hendak menikahkan putranya yang bernama Raden Jaya Amijaya dengan Ken Satapi cucu dari Resi Kumbayana di Gunung Padang.
Tidak lama di sana kedatangan dua raksasa yang bernama Gawaksa dan Pradaksa utusan Prabu Yaksadewa dari Selahuma untuk menyampaikan pustaka (surat) yang isinya bermaksud melamar putri raja yang bernama Dewi Pramesti. Namun Prabu Jaya Purusa tidak menyetujuinya dan akhirnya terjadilah peperangan. Berkat bantuan Maharsi Mayangkara alias Resi Anoman, pasukan dari Selahuma dapat dikalahkan.
Ketiga putri Prabu Jaya Purusa dinikahkan dengan putra-putra negeri Yawastina, yaitu Dewi Pramesti dengan Prabu Astra Darma, Dewi Pramuni dengan Raden Darma Sarana, dan Dewi Sasanti dengan Raden Darma Kusuma. Selanjutnya, ketiga putra negeri Yawastina berganti nama, Prabu Astra Darma menjadi Prabu Purusangkara, Raden Darma Sarana menjadi Arya Amijaya, dan Raden Darma Kusuma menjadi Arya Jaya Kirana.

C. Kutipan Redaksi Terjemahan Yang Berkaitan Dengan Selahuma
............................................................................................................................................. (Hal.134) bubar.
Prabu Astra Darma pulang ke keraton, Patih Sudarma dan teman-temannya masing-masing pulang.
Selesailah cerita negeri Yawastina akan diganti dengan keadaan di negeri Suralaya. Ketika itu Saghyang Girinata ditemani seluruh bidadara-bidadari. Sanghyang Naradha memanggil Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma untuk turun menjelma ke bumi. Kata Sanghyang Naradha,
“Duh Paduka Sang Jagad Yang Berkuasa, mengenai turunannya Brahma dan juga Kala itu sekarang menjadi raja di Tanah Selahuma. Merajai semua raksasa yang melindungi seluruh tempat di sana. Negerinya pasti dinamai Selahuma, sedangkan yang menjadi raja adalah Kala, dengan julukan (Hal.135) Prabu Yaksadewa. Brahma itu menjadi gada yang dibawa Prabu Yaksadewa, sedangkan yang menjadi keinginannya adalah memusnahkan semua keturunan Wisnu.”
Sanghyang Girinata bertanya kembali, “Mengapa sampai tiba-tiba hendak berbuat salah kepada sesama makhluk? Sekarang Brahma dan Kala itu sama-sama tidak patuh pada aturan saya.”
Sanghyang Naradha menjawab, “Silakan terserah kehendak paduka, karena yang menjadikan gerak-gerik jagat raya ini adalah paduka, tidak akan keliru.”
Sanghyang Girinata berkata lagi, “Seperti itulah Kakang Naradha. Kamu jangan sampai ditaklukkan, lalu turunlah ke bumi, lindungi semua keturunan Wisnu, serta kamu akan mengupayakan untuk mengumpulkan para prabu di Yawastina dan para (Hal.136) prabu Widarba.”
Sanghyang Naradha berkata, “Baiklah,” lalu ia terbang atas kehendaknya dewa.
Lalu diceritakan ketika itu Sanghyang Naradha berjumpa dengan nyawa dua perempuan. Keduanya ditanya tentang alasan mengapa mereka melepas rasa terdalam menuju tempatnyanya yang sejati. Yang satu berkata,
“Silakan Sanghyang Bathara yang tak pernah keliru menjadikan baik buruknya badan saya ketika masih ada di bumi dulu. Adapun yang menjadi penyebab kematian saya itu begini paduka. Selama saya menikah dan lama dibantu oleh dukun beranak, saya belum pernah punya anak. Saya memohon dengan sangat kepada dewa lalu diizinkan untuk diperistri. Akhirnya sampai pada (Hal.137) batas akhir, saya meninggal tidak menunggu datangnya anak sehingga pulang ke tempat saya yang sejati ini paduka. Sedangkan nama saya Kanistri dari Desa Soya. Adapun penyebab saya sekarang telah sampai di sini adalah karena permohonan saya, semoga selanjutnya saya dimasukkan dalam neraka saja, karena sangat jeleknya perilaku saya ketika masih ada di bumi dulu, sehingga melakukan perbuatan yang hina seperti itu tadi. Oleh karena itu, setelah menunggu lama-lama saya dimasukkan ke neraka, paduka.”
Selesai perkataan Kanistri, Sanghyang Naradha sangat kasihan dalam hatinya. Kemudian yang satunya disuruh berkata,
“Duh Sang Mahadewa, menurut perasaan saya, apa yang (Hal.138) saya lakukan ketika masih ada di bumi dulu lebih baik. Perilaku saya sebagai perempuan tidak ada cacat sekecil kulit beraspun. Barangkali Sang Bathara bertanya, nama saya Metili. Istri Umbul Sandana dari Desa Karja. Sedangkan penyesebab kematian saya itu begini, paduka. Suami saya yang bernama Sandana di Desa Karja tadi beristri lagi lebih cantik, namanya Milag. Namun mengenai perilakunya dalam bermadu masih diatur orang tua saya. Selamanya saingan saya, yaitu Milag tadi selalu saya cari setiap pergi. Saya mencari hingga saudara yang seayah-ibu. Pada satu hari, saingan saya, yaitu Milag tadi datang dan tega (Hal.139) memberikan racun kepada saya yang menjadi sebab atas kematian saya itu. Selanjutnya saya tidak tahu lagi bagaimana saingan saya tadi itu. Begitulah paduka kematian saya ini karena dianiaya. Saya tidak suka dan tidak menerima. Semoga ada belas kasihan Mahabathara untuk membalas saingan saya, yaitu Milag tadi. Kematian saya ini adalah karena rasa belas kasih, atau saya ini ketika masih ada di bumi selalu berbuat kebaikaan kepada sesama, juga tidak putus-putus saya selalu menyembah kepada dewa. Oleh karena itu semoga selanjutnya saya dinaikkan ke syurga saja, setelah menunggu lama-lama (Hal.140) ada di sini, paduka.”
Selesai perkataan ruh orang perempuan yang bernama Metili tadi, lalu seluruh anggota badannya atas kehendak dewa tiba-tiba dapat berkata sendiri-sendiri seperti ini,
“Duh Mahabathara yang telah mendengar pernyataan orang bohong seperti itu. Sesungguhnya Metili itu ketika masih ada di bumi jelek perilakunya. Barangkali suaminya sendiri yang mempunyai istri pertama bernama Loka, sedangkan orang yang bernama Sadana tadi itu hanya kesenangannya saja. Sedangkan Metili itu selamanya hidup di alam dunia telah berumah tangga sebanyak sembilan kali. Dia telah melakukan selingkuh dua puluh lima kali (Hal.141) dengan Sadana itu. Selain itu, dia banyak melakukan kejahatan. Sedangkan yang menjadi sebab matinya itu karena sakit terlalu banyak laki-laki, menunggu hingga bau busuk dan tak terpelihara badannya.”
Selesai anggota badan Metili berbicara, Sanghyang Naradha tersenyum lalu bertanya kepada Metili, “Eh Metili, seperti itu cerita anggota tubuhmu, sampai begitu kelakuanmu?” Ketika itu Metili sangat malu, lalu ia menunduk saja.
Kemudian Sanghyang Naradha berkata kepada ruh perempuan yang bernama Kanistri tadi, bahwa saat ini Kanistri mendapat belas kasih dewa dan diperkenankan naik ke syurga, namun akan diuji oleh orang yang menyebabkan saat kematiannya dulu, karena Kanistri matinya itu belum pernah me(Hal.142)menyusui bayi. Jadi masih membawa kotoran air payudaranya. Sekarang Kanistri diperintahkan untuk menyusui kedua sahabatnya, dan jika telah terlaksana tidak ada kekhawatiran dalam hati dan sungguh akan diperkenankan naik ke syurga bersatu dengan Sanghyang Suksma Kawekas. Kanistri berkata, “Baiklah paduka.”
Seketika lalu ada ular yang sangat besar sebanyak dua ekor secara tiba-tiba. Tidak begitu lama ular raksasa itu setelah menerima tanda dari Sanghyang Naradha lalu mereka menyusu kepada Kanistri. Ketika payudara Kanistri dihisap oleh kedua ular itu, seketika itu juga sangat bergetar hampir lupa akan pencariannya atas keadaan yang sejati. Lama-kelamaan ia sadar akan asal mula kehendaknya, lalu diselamatkan pikirannya, bahwa yang dituju dalam pencariannya hanyalah kekekalan (Hal143) dapat naik ke syurga Sanghyang Tunggal. Karena itu tidak lama sahabatnya hilang tanpa sebab. Sejatinya kendaraan Kanistri itu adalah yang keluar menjadi naga itu. Kanistri sangat suka karena sukses dalam pencariannya. Sanghyang Naradha tertawa sambil berkata kepada Kanistri bahwa sekarang ia telah diterima dan diperkenankan naik ke syurga. Kanistri berkata, “Baiklah paduka,” lalu ia berjalan setelah sempurna.
Sanghyang Naradha lalu berkata kepada ruh perempuan yang bernama Metili tadi, bahwa sekarang Metili diperintahkan mejalani cobaan dari dewa, dan jika mencapai keselamatan seperti Kanistri sungguh diperkenankan naik ke syurga serta jujur dalam perkataannya. Metili berkata, “Baiklah paduka.”
Lalu dia disuruh memegang ujung senapan yang dikoyak dan dibagi sepuluh. Sedangkan (Hal.144) pangkal senapan masih dipegang Sanghyang Naradha. Metili segera maju, senapan itu dipegang oleh kedua tangannya, dan setelah kuat pegangannya, segera ditekan pelatuknya oleh Sanghyang Naradha sehingga jemari kedua tangannya hilang semua. Metili menjerit sekeras-kerasnya kepada Sanghyang Naradha. Kemudian ia dibentak menjadi burung cakaklak, serta dalam sumpahnya tidak diperkenankan minum kecuali air hujan. Sedangkan ketika melihat air samudra, air sungai dan sumber air lainnya disumpahi terlihat menyala-nyala. Kemudian keluar suara yang bergetar dan bergemuruh. Sedangkan Metili seketika itu lalu menjadi burung cakaklak dan segera terbang mengembara.
Tidak diceritakan ketika itu dan juga sebelumnya tentang jiwa kedua perempuan tadi, lalu datanglah ruh yang berasal dari (Hal.145) jiwa Sang Maharsi Mayangkara yang sedang bertapa di Gunung Kandhalisada. Ketika itu Sanghyang Naradha yang bijaksana dalam penglihatan lalu melambai dan menyuruhnya mendekat ke hadapannya. Resi Mayangkara bergemetaran saat mendekati dan mencium kaki beliau. Lalu ia ditanya tentang maksud kedatangannya. Dia berkata bahwa ia ingin segera berbadan senjata, ingin segera menyatu dengan para dewa. Sanghyang Naradha tersenyum senang sambil berkata,
“Wahai ananda Hyang yang sungguh mulia budinya. Ketahuilah sekarang ini kamu belum menyelesaikan janjimu, serta belum diperkenankan untuk kembali ke zaman keabadianmu karena masih panjang ceritamu berada di alam dunia. Oleh Sebab itu, sekarang lebih baik pulanglah saja dulu. Kembali ke dalam badanmu karena badanmu itu sangat disukai ular, dan dalam waktu singkat kamu tidak akan mempunyai tempat tinggal karena (Hal.146) kamu telah bangkit dan melepaskan semua anggotamu tadi, sehingga menjadi tidak semakin karuan keadaannya. Bersyukur dan berbahagialah kamu bisa menyatu seperti sekeadaan kamu semula. Di sana kamu sungguh akan bertambah syurganya yang sangat mulia.”
Resi Mayangkara berkata, “Duh Paduka Mahabathara, perkenankanlah saya tanpa harus meminta pulang ke zaman keabadian saya. Sekalipun tidak diperkenankan pulang ke keadaan saya yang sejati, berhubung tempat saya ada di dasar neraka terdalam, paduka. Oleh karena demikian itu sesungguhnya saya ini telah lama sekali berada di bumi. Barangkali diumpamakan orang yang anghkuh, tetapi sesungguhnya telah merasakan lelah yang tidak ada akhirnya. Maka selebihnya dari u(Hal.147)saha saya tadi, serta saya berambisi harus meminta pulang ke keadaan saya yang sejati saja paduka.” Selesailah perkataan Maharsi Mayangkara.
Sanghyang Naradha berkata lagi, “Wahai ananda Mayangkara, kamu tidak boleh lelah akan panggilan Sanghyang Jagad Wisesa tadi. Ketahuilah olehmu sekarang kamu diberi pekerjaan oleh Sanghyang Girinata. Disuruh mengumpulkan keturunan Prabu Sariwahana dan keturunan Prabu Jaya Purusa di Widarba, dan kamu itu adalah keturunan prajurit yang mulia rela mati sampai tidak menggunakan perisai perang. Maka sekarang kamu pergi ke Yawastina, tikahkan Prabu Astra Darma dengan saudaranya karena dialah jodoh putra Prabu Jaya Purusa di Widarba.”
Ketika itu lalu dibisikkan semua perjalanannya. Sang Maharsi Mayang(Hal.148)kara sangat senang. Akhirnya ia berkata, “Baiklah Paduka,” lalu pamit dan kemudian turun dari Suralaya hendak kembali ke pertapaannya di Gunung Kandhalisada. Sanghyang Naradha masih mengawasi kepergian Sang Maharsi Mayangkara dari kejauhan. Kemudian sesampainya ke pertapaan di Kandhalisada, Sang Maharsi Mayangkara bertemu dengan kakaknya yang bernama Resi Anoman.
Diceritakan ketika itu raga Maharsi Mayangkara masih ditemukan berdiri tegak seperti tugu, karena kuat semedinya tidak ada yang bisa mnandingi ketinggian Sang Maharsi Mayangkara. Jika ada burung yang bisa melebihi tidak akan mati. Menurut cerita bahkan angin atau awan mendung pun yang menerobos tidak akan melebihi tingginya pertapaan, kecuali hanya cahaya tempatnya sendiri yang ada setinggi Sang Resi A(Hal.149)noman, serta terlihat menggandeng sebesar kepala.
Dalam pada itu setelah bertemu raga dengan jiwanya, mukjizat dewa, raganya itu dapat bercakap-cakap dengan jiwanya. Sesungguhnya memang itu karena kekuasaan dan kehendak Sang Maharsi Mayangkara tadi. Karenanya ia sama-sama berbincang dengan keduanya. Perkataan Sang Maharsi Mayangkara begini, “Wahai raga lahiriahku yang ada di bumi, seluruh anggota badanku semua, ketahuilah pada sekarang kalian akan saya masuki menyatu dengan saya lagi seperti dulu.”
Jawaban Sang Raga, “Wahai jiwaku yang sesungguhnya menguasai dunia, apa sebabnya kamu itu telah mulia dan suci sampai berkehendak untuk lahir lagi? Apakah kamu itu hendak mengajak pada perbuatan jahat saja, sampai (Hal.150) tidak terpikiran betapa mustahil sekali kehendakmu itu, bahkan keinginan saya selamanya ini bisa menyatu dengan keadaanmu. Akhirnya kamu yang bermaksud akan kejelekan. Jika begitu saya tidak sudi menyatu lagi denganmu. Pasti hanya akan mengajak kepada perbuatan jahat saja, meskipun nyatanya kamu bisa menduga akan pertanyaan ini. Sungguh saya akan menuruti akan kehendakmu itu.”
Jawaban jiwa Mayangkara, “Wahai raga lahiriahku, kamu jangan khawatir kepadaku. Artinya jika kamu tidak saya jaga tinggal di bumi, pasti kamu akan membusuk dan menjadi makanan cacing karena telah tidak ada yang menghidupi di dalam sekujur anggotamu semua. Ketahuilah, kamu masih berkuasa bisa berbincang dengan saya sela(Hal.151)ma ini. Sesungguhnya memang masih pengaruh dari kekuasaan kehendaknya yang sejati meliputi kepadamu. Jika kamu bertambah pada kekuasaan kehendak saya yang sejati, maka kamu itu akan mendapat hinaan bangsa raksasa yang berbuat kepada kamu. Sedangkan jika kamu hendak mengetahui kesejatianmu sendiri, nah ayo ungkapkan pertayaanmu kepada saya dulu. Nanti saya akan berkata kepada kamu.” Selesailah perkataan Maharsi mayangkara.
Lalu Maharsi Anoman berkata, “Wahai jiwaku yang sejati. Adapun yang menjadi pertanyaanku kepada kamu ialah, dahulu ketika sebelumnya datang kepada ayah dan ibu, aku juga kamu ini ada di mana tempatnya, dan apa namanya? Setelahnya datang pada ayah dan ibu itu apa namanya dan di mana tempatnya yang sejati? Juga setelah (Hal.152) dalam kenyatan menjadi itu apa namanya dan di mana tempatnya?. Nah, cepatlah tebak pertanyaan saya kepada kamu ini. Jika memang kamu mulai menduga semua tadi, sungguh tidak khawatir pada kehendakmu jadi.”
Jawaban Maharsi Mayangkara, “Wahai raga Anoman, ketahuilah olehmu yang menjadi pertanyaanmu itu sesungguhnya begini. Adapun yang dulu sebelum diperintah kepada ayah dan ibu, saya dan kamu ini masih bernama kehendaknya Hyang Sejati, terletak di udara, yaitu nafsu yang melahirkan keinginan. Artinya yaitu yang bernama Seming Sakaroron. Adapun pertanyaanmu yang kedua, setelah datang kepada ayah dan ibu, itu namanya jiwa, artinya hidup, terletak pada rasa terdalam bersuka ria (Hal.153) selanjutnya melahirkan sifat, karena yang bernama hidup itu memang menghidupi pada semua sifat. Adapun pertanyaanmu yang ketiga, setelah kenyataan ada ayah dan ibu itu bernama budi, terletak pada sifatmu yang lahir itu, selanjutnya melahirkan pertumbuhan seperti bulu, kulit, tulang, dan sebagainya yang sama nyata terlihat oleh mata semua. Telah terjawab semua pertanyaanmu yang tiga perkara tadi, namun ketahuilah oleh kalian semua, semua itu sungguh sama terikat oleh kehendakku serta diliputi oleh hidupku yang sejati. Adapun kamu tadi mengaku bisa hidup sendiri, itu adalah mustahil. Dengan tidak ada yang menghidupi kehidupan dari apa? Sesungguhnya hidupmu itu pasti diliputi oleh hidupku. Oleh karena itu, sekarang ka(Hal.154)mu akan sadar bahwa kamu hanya cangkangku saja.”
Selesai perkataan Maharsi Mayangkara, ketika itu Resi Anoman mendengar perkataan yang begitu tadi, seketika lalu tanpa bicara serta melumatkan tanpa daya seperti bangkai utuh. Demikian Maharsi Mayangkara ketika melihat raganya telah kalah, segera ia masuk lagi dan menyatu menjadi syurga seperti pada dulu-dulu. Tak begitu lama, datanglah Sanghyang Naradha dengan tiba-tiba, lalu mempercepat perjalanannya Maharsi Mayangkara ke negeri Yawastina. Resi Anoman berkata, “Baiklah paduka.”
Kepergian Sanghyang Naradha telah sempurna lagi. Lalu perjalanan Sang Maharsi Mayangkara tidak diceritakan berapa lamanya. (Hal.155) Ketika sampai di Yawastina, ia menuju ke bawah pohon beringin kembar. Ketika itu Prabu Astra Darma sedang pergi dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara yang sama menghadap tidak berubah seperti biasanya. Di sana selama dihadap, Prabu Astra Darma kaget melihat di bawah pohon beringin kembar terlihat ada yang putih-putih sedang duduk, dan empat panjang rupanya setengah seperti manusia. Raja lalu mengutus pengawal untuk memeriksa yang putih-putih tadi. Pengawal yang diutus berkata, “Baiklah paduka.”
Lalu pergi dari tempat penghadapan. Ketika sampai di bawah pohon beringin kembar, utusan raja mengetahui bahwa yang terlihat putih-putih itu adalah monyet yang sangat besar, serta memakai pakaian seperti pakaian (Hal.156) raja. Utusan raja sangat heran lalu hingga semua berkata begini, "Lah ini monyet-monyet lagi pula bukan main besarnya, dan apakah gerangan yang menjadi kehendaknya sampai berkumpul seperti manusia.”
Maka Resi Anoman menjawab dengan pelan, “Hai utusan raja, telah diketahui aku ini monyet dari hutan. Jelek-jelek begini masih raja pendeta serta diangkat menjadi putra oleh Bathara Bayu. Lagi pula sesungguhnya saya ini saudara Raja Pandhawa dulu. Nama saya Resi Anoman yang bertapa di Gunung Kandhalisada. Maka saya terburu-buru sampai di sini untuk melakukan perintah dewa. Disuruh berpesan bagi semua yang berkunjung kepada raja yang terhormat di Yawastina, yang bernama Prabu Astra Darma.”
Begitu (Hal.157) utusan raja mendengar perkataan Resi Anoman yang seperti tadi, ia sangat senang dan menghormatinya sambil berjongkok. Kata utusan, “Nah jika begitu Resi kalian mohon tinggal di sini sebentar, saya akan memberitahukan kepada raja dulu.” Resi Anoman berkata, “Silakan.”
Utusan raja lalu kembali lagi ke Pancaniti. Setelah diceritakan semua pemeriksaannya dari awal hingga akhir, lalu Prabu Astra Darma dan semua yang menghadap sangat suka, serta semua sangat keheranan karena panjang umurnya. Sang Raja bertanya kepada Patih Sudarma, “Apakah dalam cerita dulu kala ada yang bernama Resi Anoman?”
Jawab Sang Pemimpin kepercayaan, “Benar Paduka Kangjeng Dewaji. Sesungguhnya memang ada ceritanya pada waktu (Hal.158) dulu yang bernama Resi Anoman tadi. Malah dikabarkan bahwa dia sahabat karib kakek Paduka Arya Sena, karena sama-sama diaku putra oleh Bathara Bayu.”
Patih Sudarma lalu menceritakan sebagaimana yang dikisahkan di dalam kitab Wedha. Ketika Resi Anoman bertemu dengan Raja Pandhawa kisahnya telah disampaikan semua dari awal hingga selesai. Prabu Astra Darma sangat senang hatinya, lalu disuruh memanggil Maharsi Anoman yang ada di bawah pohon beringin kembar tadi. Tidak begitu lama sampailah di hadapan raja. Prabu Astra Darma sangat disayangi oleh mereka serta pada perhelatan duduk sejajar. Sang Maharsi Mayangkara diam sehingga dipaksa agar menuruti duduk sama sejajar.
Setelah (Hal.159) berlangsung acara penyambutan, Prabu Astra Darma menyampaikan pidato penuh haru disertai perasaan suka riang bagi tamunya, “Duh, kakek Mahawiku terhormat, saya sangat suka dan bersyukur kepada dewa karena Eyang Sang Kawindra masih selamat. Dalam hati saya juga merasa seperti adik yang serasi dengan kakek Raja Pandhawa yang turun menjelma ke Yawastina lagi. Maka selama ini datangnya Paduka kepada saya, pikiran saya tenang seperti dilimpahi kesabaran dari kasih sayang dewa. Selanjutnya tak henti-hentinya timbul rasa suka cita dalam hati masyarakat di Yawastina semuanya. Akhirnya tidak lebih saat ini saya hanya memohon maaf kepada kakek Mahakawindra, karena saya tadi tidak segera memberi penghormatan atas kedatangan Padu(Hal.160)ka Eyang.” Selesailah perkataan Prabu Astra Darma.
Ketika itu Maharsi Mayangkara sangat senang lalu berkata ganti menjawab ungkapan hati sanubari Sri Narendra, “Duh, Paduka Junjungan alam semesta, tidak sama sekali kakenda mempunyai pikiran yang begitu. Malah selama ini perasaan saya ada pada kehendak paduka itu. Saya merasa tidak mampu menerima kasih sayang yang besar kepada saya bagaikan aliran air sungai. Serasa menunggu percikan kesejukan menyebar ke sekujur anggota tubuhnya kakenda. Justru sebaliknya kakendalah yang memohon ampunan paduka, karena kakenda sampai sombong berani duduk sejajar dengan paduka.”
Ketika (Hal.161) itu, Paduka Astra Darma sangat suka, lalu bertanya akan kesungguhan kehendaknya. Sang Maharsi Mayangkara berkata bahwa ia melaksanakan perintah Sanghyang Naradha. Sejak awal pembukaanya telah diceritakan semuanya hingga selesai.
Jawaban Prabu Astra Darma, “Duh kakek Sang Maharsi Mayangkara. Kira-kira mengapa uwa Prabu Jaya Purusa hendak mengambil menantu kepada saya? Apalagi saya belum pernah dipertemukan atau sampai bermusuhan dengan saudara tua saya, Kakang Prabu Aji Darma di Malawapati. Kekhawatiran dalam hati saya jangan sampai berakibat jelek dalam persaudaraan. Maka dari itu tentu saja akan membuat saya malu.”
Sang Maharsi Mayangkara menjawab, “Tentang hal itu (Hal.162) sudah dipikirkan, dan sesungguhnya tidak jadi masalah karena semuanya itu adalah kekuasaan dan kehendak dewa. Dari ketentuan hidup Prabu Astra Darma dan kedua adiknya juga adalah kehendak dewa yang tiba-tiba menjadi mudah.”
Raja berkata, “Duh, kakek Sang Maharsi Mayangkara bahwa jika memang begitu kehendak paduka, saya akan membungkus tulang yang terpisah. Sesungguhnya memang silakan saja, namun sepantasnya saya tidak membawa balatentara sementara waktu.”
Maharsi Mayangkara berkata, “Duh Paduka, menurut pendapat saya balatentara tadi tempatkan saja di belakang. Semula begitulah panggilan kepada anak, karena kabarnya uwa Paduka Prabu Jaya Purusa di Widarba dulu selalu berperang dengan ayah Paduka Prabu Sariwahana atau kakak (Hal.163) Paduka Prabu Aji Darma di Malawapati. Maka dari itu, paduka yang mulia menunggu setiap kejelekan pikiran balatentara, kalau-kalau masih dicurigai sebagai yang pasti akan menjadikan penghalang. Itulah barangkali maksud dari kehendak raja. Paduka dan kedua adik raja akan saya bawa dalam kancing sanggul saja. Sedangkan Kyai Patih Sudarma beberapa bulan kemudian akan menyusul ke Widarba bersama teman-temannya. Namun sampainya di Widarba pasti telah melihat bahwa belum pasti.”
Selesai perkataan Maharsi Mayangkara, ketika itu Prabu Astra Darma dan kedua adiknya setuju. Singkat cerita, Prabu Astra Darma lalu berkata kepada Patih Sudarma, bahwa ia harus berada di belakang raja dan ia disuruh (Hal.164) menyusul ke negeri Widarba, sebagaimana perkataan Sang Maharsi Mayangkara tadi. Patih Sudarma berkata, “Baiklah paduka.” Setelah itu diceritakan Prabu Astra Darma dan dua adiknya tidak menunggu pulang ke keraton. Lalu mereka berlindung di kancing sanggul Maharsi Mayangkara.
Ketika itu, Maharsi Anoman kemudian menasehati Sang Pemimpin terpercaya, “Hai cucuku Patih Sudarma, yang menjadi pesanku, besok dibelakangku kamu jangan lama-lama lalu seperti yang saya katakan susulah ke negeri Widarba. Namun harus telah jelas dulu, karena belum mendapat berita pertemuan raja. Ada kemungkinan jika telah mendapat berita pernikahan dengan putri Widarba, cucuku Sang Pemimpin terpercaya bersama para pengawal semua (Hal.165) datang kepada Patih Suksara Saja.”
Patih Sudarma menyanggupi lalu mereka bubar. Sang Maharsi Mayangkara segera terbang ke langit. Patih Sudarma dan temannya telah pulang masing-masing.
Sang Maharsi Mayangkara lalu pergi ke arah timur hendak ke negeri Widarba, namun perjalanannya tidak berlawanan sebab menurut perintahnya saja, bahkan setiap gunung disinggahi lalu berhenti untuk memuja dan semedi.
Tunda kisah perjalanan Maharsi Anoman, ganti diceritakan negeri Widarba. Ketika itu pada hari Senin Manis pagi Prabu Jaya Purusa pergi dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara yang sama-sama menghadap dengan sigap seperti biasanya. Hal.166) Yang dipikirkan olehnya hanya rencana pernikahan anak laki-lakinya yang bernama Raden Jaya Amijaya. Patih Suksara ditanya tentang adanya para pendeta yang mempunyai anak perempuan serta pantas menjadi istri putra raja.
Patih Suksara berkata, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, menurut pengetahuan saya tidak ada yang pantas menjadi istri putra Paduka Raden Jaya Amijaya, kecuali hanya cucu Resi Kumbayana yang berasal dari Pendeta Subrata di Gunung Padang, bernama Ken Satapi. Dia itulah yang sangat cantik dan elok parasnya, hanya itu saja paduka. Sebaliknya putra paduka yaitu Rajaputri yang tiga, mengapa tidak dinikahkan dengan putra paduka yaitu Raden Jaya Amijaya, siapa tahu itu yang (Hal.167) menjadi jodohnya? Barangkali jika menunggu dilangkahi seperti apa jadinya.”
Prabu Jaya Purusa berkata, “Hai Patih Suksara, mengenai ketiga putriku ini semuanya saya pasrahkan pada kehendak dewa saja. Semoga mereka diberi jodoh lalu bisa bersama yang sulung jadinya dengan putraku, yaitu Jaya Amijaya.”
Patih Suksara berlutut merasa tidak dapat melangkahi kehendak raja yang seperti itu. Lalu ketika sedang enak berbincang, terlihat ada dua raksasa yang berjalan dengan tiba-tiba. Tatkala itu Prabu Jaya Purusa serta seluruh balatentara yang sama menghadap semua sangat kaget, lalu ditanya nama dan asalnya juga tujuannya.
Kedua raksasa berkata, (Hal.168) “Namaku Gawaksa, yang satunya bernama Pradaksa, sedangkan tujuan kedatangku ini diutus oleh rajaku, yaitu raja raksasa yang bernama Prabu Yaksadewa di Selahuma, disuruh menyampaikan pustaka kepada Prabu Jaya Purusa.”
Sang raja lalu berkata kepada putranya yaitu Raden Jaya Amijaya untuk menerima pustaka itu. Lalu segera diterima oleh Rajaputra. Raksasa yang bernama Gawaksa tidak suka, katanya, “Duh Raden, pesan rajaku Prabu Yaksadewa, surat ini tidak diperkenankan diterima putra mahkota, jika bukan oleh Paduka Prabu Jaya Purusa sendiri yang menerimanya.”
Ketika itu Raden Jaya Amijaya sangat kaget, hatinya sedih lalu diambil oleh ayahnya sehingga terdiam. Prabu Jaya Purusa berseru, katanya kepa(Hal.169)da dua raksasa, ”Hai utusan dari Selahuma, janganlah kalian keliru atas penerimaan yang kurang tepat. Ketahuilah yang saya tunjuk untuk menerima pustakamu itu adalah putraku yang akan menggantikanku di keratonku. Dia juga telah seperti aku berhak menerima sendiri.”
Setelah kedua raksasa mendengarkan perkataan Prabu Jaya Purusa tadi, mereka sangat takut. Pustaka itu lalu diserahkan kepada putra mahkota, diterimanya lalu disampaikan kepada ayahanda kemudian diterima dengan sepenuh hati. Isi dalam pustaka Prabu Yaksadewa berembun-embun pagi hujan sore kepada putri Prabu Jaya Purusa yang bernama Dewi Pramesti akan dijadikan istri. Jika tidak diberikan maka akan merusak negeri Widarba. Setelah sang raja (Hal.170) selesai membaca pustaka, surat itu lalu diberikan kepada putranya yaitu Raden Jaya Amijaya disuruh membacanya. Sang rajaputra menerima dengan segera pustaka dari ayahnya, lalu dibaca, seluruh maknanya telah dipahami. Raden Jaya Amijaya ketika melihat makna dalam pustaka yang berbunyi akan melamar kepada kakaknya yaitu Dewi Pramesti.
Putra mahkota bangkit lagi kesedihannya lalu berkata kepada kedua utusan, “Wahai utusan dari Selahuma, tidak perlu ayahku yang menjawab kepadamu, cukup saya saja. Kalian katakan pada rajamu yaitu Prabu Yaksadewa, jika kakak perempuanku diminta oleh rajamu untuk diperistri akan saya berikan. Namun saya minta seserahan dua kepala raksasa yang rupanya seperti kalian, hen(Hal.171)dak saya buat keset untuk seluruh balatentaraku di Widarba, serta saya minta kematian menghampiri badan kedua raksasa yang sama besarnya. Ya, yang seperti kalian postur tubuhnya. Itu akan saya gunakan untuk sasaran panah yang berada di perempatan, bersama semua keluargaku. Namun semua persyaratan itu aku ingin dalam keadaan hidup saja, dan saya sndiri yang akan memotongnya. Jika tidak dituruti maka saya tidak akan menuruti yang menjadi permintaan rajamu. Karena yang keduanya tertulis dalam surat bahwa jika keinginan rajamu ditolak akan menyerang ke Widarba. Nah cepat kalian sampaikan pada rajamumu, sekarang berani besok pun berani.” Selesailah perkataan Raden Jaya Amijaya.
Ketika kedua raksasa itu mendengar perkataan (Hal.172) putra mahkota yang begitu tadi, seketika seperti diiris telinganya dan segera menjawab dengan kasar, “Hai putra mahkota, menurutku tidak perlu kami pulang, sekarang saja saya berikan persyaratannya. Mari sama-sama dipotong di tengah alun-alun.”
Raden Jaya Amijaya berseru, katanya, “Heh binatang, ayo cepat keluar, saya potong kepalamu!” Ketika mereka akan berdiri lalu dipisahkan.
Prabu Jaya Purusa berkata, “Eh raksasa walau bagaimanapun kalian tinggal sederajat dengan utusan. Tiba-tiba kalian melanggar adat pada kehendakku. Jika kalian saling memaksa segala kesalahan melawan segala perintahku yang datang kepada kamu, sungguh kalian akan meledak menjadi abu.” Ketika mendengar perkataan (Hal.173) Prabu Jaya Purusa yang begitu tadi, kedua utusan itu sangat takut lalu kembali duduk berlulutut.
Prabu Jaya Purusa selanjutnya berkata lagi, “Hai utusan dari Selahuma, sekarang kalian pulang saja. Katakan pada rajamu, yaitu Prabu Yaksadewa sungguh permintaannya itu tidak saya tolak juga tidak saya terima, karena pada saat ini belum ada perintah dewa, meskipun barusan mungkin telah ada perintah dewa agung menyuruh kepada putraku dari rajamu, sepertinya tidak ada hambatan dalam pesta pernikahannya. Jangankan pagi atau sore pasti akan saya nikahkan. Nah hanya itu saja yang jawabanku.”
Selesai perkataan Prabu Jaya Purusa, kedua raksasa menyembah dan berkata, “Baiklah paduka,” lalu mereka pamit (Hal.174) agar diperkenankan untuk pulang. Lalu seperginya kedua raksasa tadi, Raden Jaya Amijaya pamit kepada ayahnya karena akan mengikuti utusan dari Selahuma hendak ditumpas semua. Dengan demikian mungkin menunggu hingga sampai di kerajaannya. Prabu Yaksadewa di Selahuma sudah pasti akan mendatangi, karena dapat laporan dari kedua utusannya tadi. Prabu Jaya Purusa mengizinkan serta diikukuti oleh pamanna, yaitu adik ibu Dewi Sara yang bernama Arya Susastra, sekeluarga. Setelah mereka siap, Raden Jaya Amijaya dan Arya Susastra berangkat. Di belakangnya dihadapkan lalu bubar. Prabu Jaya Purusa pulang ke keraton, Patih Suksara dan temannya telah pulang masing-masing.
Lalu diceritakanlah perjalanan utusan dari Selahuma, ketika (Hal.175) sampai di luar kerajaan telah bertemu dengan balatentaranya yang menungu di perbatasan negeri, tidak berapa lama lalu mereka berangkat lagi.
Kemudian diceritakan perjalanan Raden Jaya Amijaya, ketika sampai di luar kerajaan sudah agak jauh, lalu terlihat seluruh kuda raksasa dari Selahuma tadi. Lalu balatentara Arya Susastra semua disuruh menantang kepada balatentara raksasa dari Selahuma itu. Kemudian semua kuda raksasa ketika mendengar tantangan dari belakang lalu mereka berhenti. Ketika dekat dengan serempak segera berkecamuk perang saling mengalahkan. Lama-kelamaan balatentara di Widarba tidak kuasa lagi lalu berguguran semuanya. Raden Jaya Amijaya beserta paman Arya Susastra bersama-sama kembali melawan, (Hal.176) namun tidak sanggup menghadapi perang. Raksasa segera ikut maju nyasar berebut arah masing-masing. Lalu seluruh kuda raksasa Selahuma ketika melihat musuhnya telah sirna lalu berjalan lagi. Adapun selanjutnya perjalanan kuda raksasa.
Ganti cerita Rajaputra yang kalah perang. Ketika sampai di tengah hutan ia bertemu lagi dengan pamannya yaitu Arya Susastra, lalu mereka berbincang. Kata Raden Jaya Amijaya, “Hai paman Arya Susastra, seperti apakah kenikmatan dalam perjalanan itu, karena perang dengan raksasa saja sampai tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan balatentara benar-benar semua musnah?. Jika saya pulang ke Widarba akan malu (Hal.177) sekali paman, karena tidak sebanding dengan keangkuhanku kepada utusan ketika ada di Pancaniti dulu, tapi akhirnya tidak dapat melenyapkan raksasa musuh. Padahal setiap saya pergi ke mana pun saya sebagai putra mahkota sampai pergi merunduk tanpa diiringi balatentara. Makanya lebih baik menunggu daripada berkeluh kesah begini, betapa kasihan rendahnya paman. Oleh karena itu, bagaimanakah baiknya kesepakatan pembicaraan saya kecuali turut di belakang saja, paman.”
Selesailah perkataan Raden Jaya Amijaya. Arya Susastra betapa sayangnya. Katanya, “Duh putra mahkota, sesungguhnya sangat pasti apa yang dikatakan paduka tadi. Oleh karena itu, baru saja masih anak-anak telah memaksakan keinginan padahal belum sanggup. (Hal.178) Artinya walaupun sombong banyak omong tapi memang telah terbukti sangat sakti. Namun barangkali sikapmu dalam kebaikan tidak kekanak-kanakan, walaupun sakti sekali. Itu sesungguhnya bukan untuk disombongkan oleh diri sendiri. Yang seharusnya mengabarkan bahwa kamu sangat sakti itu orang lain yang telah juga mengetahui dalam kesehariannya. Ucapanku yang demikian ini semoga direnungi dengan sesungguhnya. Daripada disebut rendah lebih baik disebut utama.”
Raden Jaya Amijaya ketika mendengar perkataan pamannya begitu tadi hanya diam saja. Namun di dalam hatinya ia merasa menyesal akan perilakunya sendiri terhadap ke(Hal.179)dua utusan raksasa dulu. Pamannya Arya Susastra berkata lagi, “Duh putra mahkota, mengenai kesenangan perilaku itu, barangkali memang paduka ingin ikut kepada paman. Sebaiknya kita mencari bantuan saja. Siapa tahu mendapat kasih sayang dewa, ada yang dapat menghancurkan musuh raksasa tadi.”
Raden Jaya Amijaya sangat suka, lalu mereka pergi ke barat hendak ke Tanah Yawastina. Ketika itu perjalanan dua perwira belum begitu jauh, lalu bertemu dengan Maharsi Anoman yang ada di tengah hutan. Raden Jaya Amijaya dengan Arya Susastra sangat kaget dan agak takut karena ada monyet yang sangat besar serta memakai pakaian seperti manusia. (Hal.180) Dalam pada itu, Maharsi Mayangkara telah melihat dari pikirannya yang waspada bahwa yang datang itu putra mahkota dari Widarba. Resi Anoman sangat suka cita mendapat waktu yang tepat untuk menikahkan raja di Yawastina dengan saudaranya. Oleh karena itu lalu berkata lemah lembut agar membuat senang hatinya. Demikian kata Maharsi Mayangkara, “Duh, putra mahkota yang utama, telah tanggung pikiran tertukar penglihatan. Sesungguhnya saya ini bukan bagiannya memetik buah di hutan. Walaupun monyet jelek namun masih monyet yang dianggap satria, atau suka berbuat seperti pendeta yang gemar bertapa. Oleh karena itu, Sanghyang Girinata sangat sayang kepadaku dan memberikan seluruh ilmu kejayaannya.”
(Hal.180) Dalam pada itu, Raden Jaya Amijaya dengan Arya Susastra ketika mendengar perkataan Resi Mayangkara yang begitu tadi. Putra mahkota sangat kaget karena telah mengetahui bahwa ia adalah putra dari Widarba. Akhirnya ia sangat senang, serta merasa mendapat belas kasih dewa yang berusaha membantu. Kedua perwira itu lalu mendekat sambil mempersembahkan penyambutan. Maharsi Mayangkara menanggapi dengan perkataan puitis menghantar sambutan pengganti. Setelah semua merasa senang hatinya, lalu ia bertanya tentang nama dan asalnya juga keinginannya.
Sang putra mahkota menjawab, “Namaku Raden Jaya Amijaya putra Prabu Jaya Purusa dari Widarba. Sedangkan maksudku adalah ingin mencari bantuan yang pantas, karena Raden Jaya Amijaya baru saja ka(Hal.181)lah dalam perang dengan balatentara raksasa Prabu Yaksadewa dari Selahuma. Barangkali ada yang mampu memusnakan raksasa di Selahuma itu. Jangankan dari bangsa manusia, walaupun binatang bebek dan binatang ternak, laki-laki atau perempuan sungguh akan dijadikan sahabat kental serta besar ganjarannya.”
Sedangkan yang menjadi sebab terjadinya perang telah diceritakan semua dari awal hingga selesai. Maharsi Mayangkara merasa sangat heran. Kemudian dia menceritakan nama dan asalnya juga tujuannya. Namun ia mengaku dari Suralaya utusan Sanghyang Jagad Wisesa, bernama Maharsi Anoman. Padahal sebenarnya bernama Maharsi Mayangkara, atau disebut Resi Anjanisuta juga Resi Bayu Tanaya. Sedangkan maksud(Hal.182)nya diutus oleh dewa, disuruh menolong seluruh isi bumi yang sedang kesulitan. Ketika itu Raden Jaya Amijaya dan pamannya yaitu Arya Susastra sangat senang.
Lalu putra mahkota berkata, “Hai Sang Maharsi Kera utusan dewa, jika begitu sangat cocok sekali dengan yang menjadi kehendakku. Sedangkan saya bisa bertemu dengan utusan Sanghyang Girinata. Sejujurnya Sang Maharsi, saya ini benar-benar sedang kesulitan hati. Apakah Sang Maharsi bermaksud menolongku untuk melenyapkan musuhku raksasa tadi?”
Jawaban Resi Anoman, “Sanggup tapi belum tahu.”
Sang Rajaputra berkata lagi, “Apa sebabnya jawabanmu sanggup tapi be(Hal.184)lum tahu tadi?”
Yang ditanya menjawab, “Hai putra mahkota, begini arti dari perkataanku tadi. Jika seumpamanya saya sanggup memang benar mungkin sanggup, tapi menang kalahnya itu masih bergantung pada kehendak dewa. Jika saya melawan atas permintaan paduka itu, mungkin saya akan mendapat kemurkaan dewa. Keduanya itu menebak rupa ganjarannya tadi belum bisa diramalkan. Hanya itu yang menjadi keraguan dalam hatiku raden. Oleh karena itu, mengapa paduka hendak menuruti akan permintaanku?”
Jawab Raden Jaya Amijaya begini, “Nah saudaraku yang setia, memang secara tiba-tiba ada keinginan dalam hatiku untuk memberi imbalan yang lebih banyak. Meskipun mungkin ada permintaan Mahare(Hal.185)si selain harta tadi. Silakan apa saja supaya dipikirkan karena pasti saya dapat mengabulkannya.”
Maharsi Mayangkara tersenyum sambil berpesan lagi, “Duh putra mahkota, mengenai permintaanku itu tidak banyak. Seandainya saya dapat melenyapkan raksasa yang jadi musuh, saya minta imbalan seekor burung perkutut saja, dan lebih baik jika ada tiga.”
Raden Jaya Amijaya sangat senang. Jawabannya, “Duh Sang Maharsi Mayangkara, jika hanya meminta burung perkutut seberapa pun banyaknya sungguh saya sanggupi, karena negeri Widarba tempatnya burung perkutut yang bagus-bagus. Jangankan tiga, seratus sekalipun saya akan mangabulkannya.”
Resi Mayangkara berkata lagi, “Duh Raden semoga jangan salah (Hal.186) mengerti, karena permintaanku tadi bukan semata-mata burung perkutut. Permintaanku burung perkutut yang dapat berbahasa manusia, atau peliharaan ayah Paduka Prabu Jaya Purusa sendiri.”
Ketika itu Raden Jaya Amijaya dan pamannya yaitu Arya Susastra sangat bingung hatinya, karena telah menyanggupi permintaan simbolik Sang Resi Mayangkara. Padahal yang demikian itu berarti meminta imbalan putri putra Prabu Jaya Purusa sendiri. Yang menjadi kebingungan kedua Perwira itu karena telah menolak raksasa tapi akan mempunyai menantu monyet. Lama-kelamaan Raden Jaya Amijaya putus asa pada takdir dewa. Dia berterima kasih karena Resi Mayangkara dapat menutupi rasa malunya seketika.
Raden Jaya Amijaya lalu berkata kepada Maharsi (Hal.187) Mayangkara, “Hai kekasih dewa, saya telah mengetahui yang menjadi permintaanmu tadi. Sesungguhnya saya tidak mau, namun sebagaimana yang menjadi permintaanmu telah dikeluarkan. Jika memang telah bebrhasil bisa menyirnakan raksasa musuhku tadi, sungguh akan aku kabulkan semua yang menjadi permintaan Maharesi itu.”
Maharsi Mayangkara sangat senang. Katanya, “Nah mari raden kita ikuti perjalanan kuda raksasa menuju ke Selahuma.”
Raden Jaya Amijaya dan pamannya yaitu Arya Susastra sangat senang. Mereka segera berjalan mengikuti kuda raksasa cepat-cepat. Tidak begitu lama seluruh kuda raksasa sudah terlihat, lalu dipanggil oleh Sang Maharsi Mayangkara. Ketika itu semua balatentara raksasa dari Se(Hal.188)lahuma kaget mendengar panggilan, lalu mereka semua kembali. Ketika mendekat tanpa komando segera berkecamuk perang. Sang Maharsi Mayangkara dikerubuti, namun ia tidak kesulitan membunuh, bahkan segera salin rupanya menjadi besar hampir menyerupai dinding. Raden Jaya Amijaya bersama dengan paman Arya Susastra malah senang melihat pertandingan, bahkan lebih heran melihat tingkah perang antara raksasa dengan monyet. Tidak ada yang mengecewakan kesaktiannya. Ketika itu, perang Sang Maharsi Mayangkara dengan seluruh kuda raksasa dari Selahuma sangat ramai, meski sudah lama belum juga ada yang kalah. Keduanya saling mengeluarkan kesaktian, tidak ada yang takut. Semua berani saling mengeluarkan senjata perang. Seluruh kuda raksasa bersenjatakan (Hal.189) anggala, tombak, kapak, peling, golok, dan pedang. Senjata Sang Maharsi Anoman adalah berupa kayu-kayuan di hutan yang besar-besar. Ada raksasa di batang pohon lontar semua korban terkena pukulan. Siapapun balatentara raksasa dari Selahuma yang terkena pemukul Sang Maharsi Mayangkara semua tidak jadi berdaya. Sisanya yang tidak mati merasa takut dan mereka segera tersasar berebut tempat masingmasing. Lalu kedua senapati raksasa juga sama-sama berlari hendak pulang ke negeri Selahuma. Begitulah sirnanya raksasa yang buas.
Raden Jaya Amijaya dan paman Arya Susastra sangat suka. Lalu mereka mendekati Sang Maharsi Mayangkara sambil berkata dan merayu agar suka kepada yang pintar berkarya. Resi Anoman (Hal.190) sangat senang ketika mendengar kata-kata penuh sanjungan dari Raden Jaya Amijaya. Sang Resi sangat suka untuk bertemu lagi.
Setelah beberapa saat agak tenang Rajaputra berkata, “Duh saudaraku, Mahakawi Dwijendra, saat ini telah nyata kasih sayangmu kepadaku. Sesungguhnya tentu lebih suka ucapan terima kasihku kepada mahakawi. Jadi saya nanti sungguh akan melaksanakan kesanggupanku yang telah diucapkan tadi, serta aku memuja kepada Dewa semoga akan memberikan kasih sayangnya terhadap saya, atau merestui semua hadiah yang aku sanggupi kepada mahawiku tadi. Namun bukan di sini tempatnya saya akan melaksana(Hal.191)kan kesanggupanku. Barangkali berkenan atas kehendakmu, marilah Sang Maharsi saya hadapkan kepada ayahku. Sedangkan tentang terlaksananya keinginanmu tadi, Sang Mahawiku jangan khawatir. Sesungguhnya saya sendiri yang akan berkata memberitahukan kepada ayahku.”
Sang Maharsi Mayangkara sangat suka menyetujui pada rencana putra mahkota. Singkat cerita, ketiga perwira lalu berjalan bersama, tidak diceritakan perilakunya di jalannya. Ketika sampai di negeri Widarba telah tengah malam. Raden Jaya Amijaya lalu pulang dahulu ke dalam keraton sendiri. Ia besok pagi akan menemui ayahnya, sedangkan Sang Maharsi Mayangkara disuruh dibawa ke rumah (Hal.192) paman Arya Susastra semalam, lalu dihormati dengan besar-besaran.
Tidak diceritakan kejadian pada malah hari, dan esok paginya Prabu Jaya Purusa pergi dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara yang menghadap dengan sigap seperti biasanya. Raden Jaya Amijaya dan paman Arya Susastra juga telah berada di hadapan raja, serta membawa Sang Maharsi Mayangkara tadi. Ketika itu Prabu Jaya Purusa melihat putranya telah kembali dan membawa monyet putih yang sangat besar. Raja cepat-cepat bertanya tentang perjalanannya mengikuti utusan dari Selahuma dulu. Raden Jaya Amijaya lalu menceritakan seluruh kejadiannya dari awal hingga selesai. Prabu Jaya Purusa sangat senang juga heran serta agak (Hal.193) sedih. Senangnya karena raksasa utusan dari Selahuma telah sirna semua, sedangkan herannya karena yang menyirnakan raksasa itu karena bantuan berupa monyet putih serta punya permintaan untuk mendaptkan salah satu putra raja, dan yang menjadi sedihnya lagi karena dulu raja tidak ingin mempunyai menantu raja raksasa, tapi justru akhirnya akan mempunyai menantu seekor monyet. Oleh karena itu, raja sesaat tidak dapat berkata-kata karena hatinya sangat bimbang untuk mewujudkan semua yang menjadi kesanggupan putranya tadi.
Sedangkan menurut Prabu Jaya Purusa jika diterima akan sangat malu karena putra raja akan menikah dengan monyet. Namun jika ditolak sungguh akan disebut raja yang hina sebab mengingkari (Hal.194) apa yang telah disanggupinya. Lama-kelamaan lalu pasrah terhadap takdir dan kehendak dewa karena pernikahan Dewi Pramesti dengan monyet. Namun sementara ada juga sukanya Prabu Jaya Purusa, berhubung putranya kembali bersama monyet pendeta, lagi pula kekasih dewa.
Ketika itu Prabu Jaya Purusa lalu menjamu pada penyambutan kepada Sang Maharsi Mayangkara serta ditanya nama dan asalnya, juga ditanya sebabnya ia bisa bertemu dengan putra raja, Raden Jaya Amijaya tadi. Sang Maharsi Anoman sangat senang menerima penyambutan raja dan berterima kasih, serta menceritakan nama dan asalnya dan mengaku dari pertapaan di Gunung Kandhalisada. Kemudian ia menceritakan sebuah kisah sejak zaman Raja Pandhawa menunggu sampai kepada tujuan Raden Jaya Amijaya tadi. Seluruh (Hal.195) kejadiannya telah diceritakan semua dari awal hingga akhir.
Ketika itu Prabu Jaya Purusa mendengarkan kisah dari Maharsi Anoman yang begitu tadi sangat suka serta segera memperkenankan duduk rapih sejajar dengan Sri Narendra. Sang Maharsi Mayangkara berkata lelah, namun dipaksa lama-kelamaan menurut untuk duduk sejajar.
Setelah itu Prabu Jaya Purusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara, “Apakah dahulu diceritakan tentang keluarnya dari negeri di Gua Kiskendha Negeri India. Barangkali ingat akan cerita perjalanannya Prabu Rama Wijaya di Ayudyapala. Dia yang membabad negeri Alengka dulu.
Sang Maharsi Anoman berkata, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, mengenai perjalanan Bathara Rama Wijaya di Ayudyapala, yang memba(Hal.196)bad negeri Alengka dahulu sesungguhnya saya ingat semua. Bahkan ketika itu saya tengah didampingi senapati perang bersama adikku sesaudaraku bernama Raden Anggada, putra tertua pamanku yang bernama Prabu Subali di Gua Kiskendha. Makanya saya menjadi senapati karena pamanku yang muda bernama Prabu Sugriwa yang saat itu dimintai bantuan oleh Bathara Rama Wijaya tadi. Yang jadi balatentaranya ialah semua raja monyet yang mengiringi bersama Bathara Rama Wijaya ke negeri Alengka.”
Prabu Jaya Purusa sangat senang dan heran. Senangnya karena akan dapat bertambah cerita perjalanan Prabu Rama Wijaya dulu, dan yang menjadi herannya karena Sang Maharsi Mayangkara sangat tua usianya.
Kata Prabu Jaya (Hal.197) Purusa, “Wahai Sang Maharsi kekasih dewa, sebagaimana kehendak Wiku semoga berkenan untuk menceritakan perjalanannya Prabu Rama Wijaya yang mebuka negeri Alengka. Asal awal mula dahulu saya kedatangan tamu Brahmana dari negeri India yang kedua kalinya. Yang pertama bernama Dhanghyang Asuman, yang terakhir bernama Dhanghyang Ilagni. Mereka itu sama-sama menceritakan tentang perjalanan Prabu Rama Wijaya dahulu. Saya senang sekali malahan sekarang telah dikarang oleh pujangga saya yang bernama Empu Puywa. Namun dalam hati saya merasa seperti masih kurang lengkap ceritanya, berhubung tidak dialami sendiri seperti Sang Maharsi tadi. Karena itu, apabila Sang Wiku mence(Hal.198)ritakan perjalanan Prabu Rama Wijaya sungguh akan sangat membahagiakan hatiku. Ataukah tidak mungkin akan bertambah lagi cerita dari kedua Brahmana tadi. Namun permintaanku semoga akan diceritakan meskipun ceritanya bukan karena semua telah sama tanpa ada yang terlewat dalam menceritakannya.
Sang Maharsi Mayangkara berkata, “Baiklah Paduka.” Lalu ia menceritakan asal mula semenjak lahirnya Prabu Rama Wijaya di Ayudyapala dahulu hingga wafatnya Putra Prabu Rama Wijaya yang bernama Prabu Padlawa di Duryapura serta Prabu Kusiha di Ayudyapala. Selururuh perjalanannya juga diceritakan semua dari awal hingga selesai. Ketika itu Prabu Jaya Purusa sangat senang (Hal.199) hatinya. Dia lalu menyuruh Empu Puywa untuk menambahkan karangannya ke dalam cerita dari kedua Brahmana dulu.
Empu Puywa berkata, “Baiklah paduka.” Lalu ia catat semua.
Dalam pada itu, Prabu Jaya Purusa berkata kepada Patih Suksara, bahwa sekarang raja akan menikahkan Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesti. Sang Pemimpin kepercayaan disuruh bersiap-siap untuk menghias pernikahan, serta disuruh menggantikan seluruh pewaris balatentara yang mati di medan perang melawan raksasa dari Selahuma tadi. Patih Suksara berkata, “Baiklah paduka,” lalu bubar.
Prabu Jaya Purusa pulang ke keratin. Patih Suksara dan temannya bersamasama pulang masing-masing. Sedang(Hal.200)kan Sang Maharsi Mayangkara diberi satu tempat istirahat di rumah Patih Suksara dengan penuh kehormatan.
Tidak diceritakan kejadian di malam hari, dan keesokan harinya Patih Suksara beserta seluruh teman para pengawalnya bersiap-siap akan mnghormati menantu. Diceritakan ketika itu siang dan malam mereka bekerja sama tanpa ada hentinya. Lalu dalam beberapa hari kemudian telah selesai semuanya.
Singkat cerita, Sang Maharsi Mayangkara telah dinikahkan kepada putra raja yang sulung bernama Dewi Pramesti. Prabu Jaya Purusa lalu menghidangkan jamuan pesta dengan seluruh pengawal di dalam istana. Tidak diceritakan semua tentang pesta perjamuan itu. Dalam pada itu diceritakan pengantin tepat pada (Hal.201) waktunya Raja Sang Resi Mayangkara lalu bersembunyi ke belakang, dan mengeluarkan tiga orang yang disembunyikannya: Prabu Astra Darma ditugasi menuju tempat tidur Dewi Pramesti, Raden Darma Sarana ditugasi menuju ke tempat tidur Dewi Pramuni, dan Raden Darma Kusuma ditugasi menuju tempat tidur Dewi Sasanti. Prabu Astra Darma dan kedua adiknya tanpa ragu-ragu, lalu mereka berjalan masing-masing. Tidak diceritakan cara mereka pada saat merayu. Ketika itu ketiga putri Prabu Jaya Purusa telah saling mencintai dengan adiknya dari Yawastina. Semalam suntuk pasangan mereka bersenggama di tempat tidur masing-masing.
Tidak diceritakan keadaan mereka yang saling (Hal.202) berkasih-kasihan. Keesokan paginya Prabu Jaya Purusa duduk dengan para istri di dalam istana, tidak begitu lama terlihat datang pelayan ketiga putri berkata yang sama kepada Prabu Jaya Purusa, bahwa ketiga putri raja telah bersenggama dengan pandungaguna, sedangkan Sang Maharsi Mayangkara semalam tidak terlihat selain ketiga satria tadi. Prabu Jaya Purusa ketika mendengar perkataan para pelayan seperti itu sangat marah, segera memanggil putra laki-lakinya yaitu Raden Jaya Amijaya. Tidak lama ia sampai ke hadapan ayahnya, lalu diperintah untuk menangkap pandangaguna yang merusak pingitan ketiga raja, sedangkan Sang Maharsi Mayangkara dikabarkan telah menghilang oleh pandangaguna tadi.
(Hal.203) Raden Jaya Amijaya berkata, “Baiklah Paduka,” lalu segera pergi ke tempat kakak perempuannya, yaitu Dewi Pramesti. Sang putra mahkota mengintai dari luar dan melihat kakaknya dipangku oleh ksatria yang tampan. Putra mahkota tidak merasa senang hatinya lalu ia berseru menyuruh keluar hendak diikat. Prabu Astra Darma ketika mendengar seruan itu lalu meminta izin kepada istrinya untuk menuruti.
Dewi Pramesti tidak suka selalu diomeli, namun Prabu Astra Darma tahan mendengar tantangan. Istrinya kemudian dilepaskan, sang raja keluar lalu ribut perang tanding. Lama-kelamaan Raden Jaya Amijaya kalah dan akhirnya tunduk. Prabu Astra Darma sangat senang lalu menyambut kakaknya yaitu Raden Jaya Amijaya diperkenankan duduk, namun putra mahkota segan lalu merasa bosan ada (Hal.204) di sana. Raden Jaya Amijaya sangat senang lalu pamit berdalih akan berkata kepada ayahnya. Raja dari Yawastina mengizinkannya lalu berpisah. Prabu Astra Darma telah pulang ke tempat istrinya lagi. Raden Jaya Amijaya pindah ke tempat kakak perempuannya yaitu Dewi Pramuni. Ketika diintai ada satria tampan lalu ditantang dan disuruh keluar hendak diikat. Raden Darma Sarana keluar dan akhirnya terjadi perang ramai, lama-kelamaan Raden Jaya Amijaya kalah lalu tunduk. Raden Darma Sarana telah pulang ke tempat istrinya lagi. Raden Jaya Amijaya agak kelelahan lalu pindah ke tempat kakak perempuannya yaitu Dewi Sasanti. Ketika diintai dari luar juga terlihat ada satria tampan lagi bahkan terlalu mengejek. (Hal.205) Raden Jaya Amijaya kesal hatinya lalu berkata dari luar. Raden Darma Kusuma ketika mendengar perkataan itu tidak sabar lalu segera pergi ke luar lalu ribut perang ramai. Lama-kelamaan Raden Jaya Amijaya kalah lagi lalu tunduk. Raden Darma Kusuma telah pulang ke tempat istrinya lagi. Ketika itu Raden Jaya Amijaya segera lapor kepada ayahnya bahwa telah kalah perang dengan pandangaguna. Namun tidak diceritakan bahwa para pandungaguna tadi adalah adiknya dari Yawastina, hanya dikatakan bahwa ia kalah saja.
Seluruh kejadiannya diceritakan semua dari awal hingga akhir. Prabu Jaya Purusa sangat marah dan segera turun ke keputrian hendak melihat pandungaguna tadi. Dalam pada itu Sang Maharsi Anoman melihat bahwa Pra(Hal.206)bu Jaya Purusa sendiri yang turun sangat khawatir, takut jika mereka sampai dibunuh. Ia segera turun dari atas kayu Naga Kusuma. Sesampainya di bawah segera mendekap kaki raja sambil berkata memohon pesta pernikahan tidak usah besar-besaran. Lalu diceritakan segala yang diperintahkan Sanghyang Naradha dulu dari awal hingga akrhir. Prabu Jaya Purusa setelah mereda kemarahannya akhirnya sangat berterima kasih kepada dewa. Ketiga putranya lalu diserahkan semuanya untuk dibawa ke dalam kerajaan. Sang Maharsi Mayangkara selalu mengikuti di belakang. Ketika sampai di keraton, ketiga pengantin lalu bersama-sama menyembah kepada ayah dan ibu. Ketika itu seluruh gadis istana sangat senang melihat ketiga pengantin. Laki-laki perempuan se(Hal.207)mua sebanding dengan rupanya seperti keindahan yang tertera pada permata. Prabu Jaya Purusa serta permaisurinya yaitu Dewi Sara sangat sayang kepada para putra menantu sehingga berlinang air mata sambil memeluk kepada adiknya yaitu Prabu Sariwahana dari Malawapati.
Lalu mereka dinasehati supaya dapat menjaga istrinya masing-masing. Sedangkan putri dinasehati agar sayang dan berbakti kepada suaminya. Para putra laki-laki dan perempuan menyembah dan berkata, “Baiklah Paduka.” Prabu Jaya Purusa semakin tumpah rasa sayangnya kepada Sang Maharsi Mayangkara, lebih dihormati serta dituruti segala kehendaknya. Lalu setelah itu Prabu Jaya Purusa merayakan kegembiraannya dengan seluruh balatentara Widarba. Siang dan malam selalu diadakan pesta, (Hal.208) segala terpenuhi tidak pernah ada yang kekurangan. Tumpah-ruah segala hidangan silih berganti jenisnya. Dapat dikatakan yang ada terus ditambah, yang tidak ada terus didatangkan. Ketika itu kemeriahan di negeri Widarba diceritakan lamanya sampai setengah bulan telah berlalu namun belum juga bubar.
Tunda yang tengah menikmati kesengan di negeri Widarba, ganti diceritakan kembali mengenai seluruh raksasa buas yang melarikan diri dari peperangan dulu dan sampai di negeri Selahuma. Kedua perwira lalu menghadap kepada Prabu Yaksadewa. Mereka menceritakan seluruh kejadian dari awal hingga akhir. Ketika itu Prabu Yaksadewa marah sekali, segera memerintahkan kepada Patih Mohita agar bersiap-siap semua untuk berperang, karena (Hal.209) Prabu Yaksadewa akan pergi menyerbu ke Widarba nanti. Patih Mohita berkata. “Baiklah Paduka,” lalu bubar.
Tidak diceritakan bersiap-siapnya raksasa yang buas. Ketika telah lengkap dan siap untuk berperang lalu pergi. Tidak diceritakan kejadian selama dalam perjalanan. Sesampainya di Widarba lalu menyerbu kerajaan. Ketika itu Prabu Jaya Purusa dengan seluruh balatentaranya gempar, lalu mereka perang saling serbu dengan pasukan raksasa, perang berkecamuk saling balas menggunakan berbagai senjata tajam. Serunya perang antara musuh dan teman saling bidik senjata. Lama-kelamaan balatentara raksasa dari Selahuma besar dan kecil ditumpas oleh Sang Maharsi Mayangkara. Sisanya yang tidak mati semua lalu berhamburan. Ketika itu Prabu Yaksadewa dan Patih Mohita (Hal.210) sangat marah dan segera mengamuk sambil membawa gada. Siapapun yang diterjang buyar karena terkena gada sampai mati. Seluruh balatentara Widarba mati karena tertimpa oleh gada Prabu Yaksadewa. Lalu Prabu Jaya Purusa sangat sedih segera melawan dengan seluruh pengawal yang belum mati. Sang Maharesi Anoman marah lalu melemparkan pohon beringin kepada Patih Mohita sampai mati. Prabu Yaksadewa semakin marah, segera melawan dan membalas kematian. Lama-kelamaan seluruh pengawal Widarba mati.
Sang Maharsi Mayangkara melawan bersama dengan Patih Suksara, tidak lama tewas terkena gada. Lalu Prabu Astra Darma dengan kedua saudaranya maju ke medan perang, tidak lama kemudian mati terkena gada, ketiganya hingga berguling di tanah.
Prabu Jaya Purusa ketika (Hal.211) melihat bahwa ketiga putra menantunya mati di sana, raja sangat marah. Ketika hendak salin rupa lalu datanglah Sanghyang Naradha yang turun dari langit. Dia segera berbisik kepada Prabu Jaya Purusa, “Hai Prabu Widarba, ketahuilah olehmu mereka dari Selahuma itu disebabkan Sanghyang Kala. Sementara gadanya yang digunakan untuk menumpas semua balatentara itu adalah Sanghyang Brahma. Nah, kamu jangan khawatir, ayo terus lawan dengan panah. Saya akan berubah menjadi gada untuk digunakan melawan gada Prabu Yaksadewa pasti nantinya ia akan mati.”
Sanghyang Naradha setelah berpesan begitu lalu berubah menjadi gada. Ketika itu Prabu Jaya Purusa sangat senang. Gada itu dibawanya dan segera mengamuk melakukan pembalasan. Lalu berhadapan sendirian dengan Prabu Yaksade(Hal.212)wa. Ramai mereka berperang saling pukul dengan gada. Sudah beberapa lama belum juga ada yang kalah. Selama saling memukul dengan gada Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma sama-sama mencium harumnya Sanghyang Naradha. Ketika menengadah, di keraton terlihat bahwa Sanghyang Girinata sedang mengawasi Prabu Jaya Purusa. Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma sangat takut, akhirnya kembali berubah menjadi Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma lagi. Kemudian mereka bersujud meminta ampunan. Sanghyang Naradha juga tidak terlihat lagi.
Demikianlah Prabu Jaya Purusa ketika melihat para dewa turun menjelma pada Sanghyang Girinata. Sri Narendra sangat takut lalu menghormati sebagaimana biasaannya persembahan. Ketika itu Sanghyang Girinata sangat senang lalu berkata kepada Sanghyang Naradha disuruh menghidupkan (Hal.213) yang telah mati dalam perang tadi. Namun Resi Mayangkara yang telah sampai pada janjinya sendiri pulang menuju keadaan yang satu. Sanghyang Girinata setelah berkata begitu lalu pergi. Sanghyang Naradha berkata, “Baiklah.”
Selanjutnya disampaikannya kepada Sanghyang Brahma seperti kepada Sanghyang Jagad Wisesa tadi. Sanghyang Brahma dan Sanghyang Kala berkata, “Baiklah,” lalu mereka dihidupkan semua. Setelah itu mereka selamat seperti dulu, kecuali Sang Maharsi Mayangkara sendiri yang telah abadi dalam kesempurnaannya.
Sanghyang Naradha lalu berkata kepada raja Widarba, “Hai, Saudara Jaya Purusa, sekarang ketiga menantumu dari Yawastina serta seluruh balatentaramu telah hidup lagi tanpa berubah sama seperti dulu, kecuali saudaramu Resi Mayangkara sendiri yang abadi kembali (Hal.214) kepada keadaannya yang sejati, karena sesungguhnya itu telah terlewat dari batas waktunya sendiri. Oleh karena itu, Resi Mayangkara menerima imbalan karena ditugasi oleh dewa untuk menikahkan Prabu Astra Darma dengan saudaranya kepada ketiga anak perempuanmu. Dengan demikian ketiga putrimu itu telah diramalkan oleh dewa akan menikah memakai peralatan perang. Karena semua tugas Resi Mayangkara telah selesai, maka ia harus kembali pada keadaan yang sejati. Nah setelah mereka hidup dengan senang di Widarba semua akan berakhir kesenangannya. Prabu Jaya Purusa menyembah dan berterima kasih. Lalu Sanghyang Naradha, Sanghyang Brahma juga Sanghyang Kala pergi seketika.
Ketika itu Prabu Jaya Purusa dan para putra juga seluruh balatentara, setelah perginya Sanghyang Naradha semua (Hal.215) sangat bersyukur kepada dewa. Bersama dengan itu raja pun lalu pulang ke keraton. Para putra dan Patih Suksara beserta para pengawal telah bubar pulang masing-masing.
Setelah itu, Prabu Jaya Purusa beberapa hari kemudian bermaksud membahagiakan seluruh putra termasuk para pengawal. Semua dihidangkan pesta lagi di dalam istana. Siang malam hiburan tidak ada hentinya.
Tunda yang tengah berpesta pora, ganti diceritakan Patih Sudarma di Yawastina bersama temannya, sama-sama hendak menyusul rajanya ke negeri Widarba. Lalu tidak diceritakan kejadiannya selama di jalan. Ketika sampai di Widarba mendengar berita bahwa sekarang Prabu Astra Darma beserta saudaranya telah menikah dengan putri (Hal.216) uwanya yaitu Prabu Jaya Purusa. Patih Sudarma dan temannya sangat senang. Segera saja mereka bersama menuju kerajaan. Melihat ramainya hidangan pesta, Patih Sudarma bersama temannya mengira bahwa itu pernikahannya Prabu Astra Darma.
Ketika itu, setelah memberi tahu kepada raja lalu semuanya dijawab, dipersilakan menuju keramaian di dalam istana. Patih Sudarma sampai di hadapan raja dan setelah mereka ceritakan semua perjalanannya dari awal hingga selesai, Sang Pemimpin kepercayaan Yawastina sangat menyesal karena tidak melihat sendiri perang tanding.
Akhirnya semua bersenang-senang karena pernikahan putri di Widarba telah terlaksana. Patih Sudarma dan temannya di Yawastina semua disuruh ikut bersenang-senang, serta mereka dihormati oleh para balatentara Widarba.
(Hal.217) Lalu tidak diceritakan lamanya mereka berpesta. Dikabarkan setelah sampai dua bulan, Prabu Astra Darma pamit akan pulang ke Yawastina, dan istrinya akan dibawa untuk dirayakan di Yawastina. Prabu Jaya Purusa sangat merestuinya, serta ketiga putranya yang laki-laki dan perempuan dinasehati baik-baik. Prabu Astra Darma dan kedua adiknya termasuk para istri semua menurutinya. Ketika itu Prabu Jaya Purusa lalu berkata kepada Patih Suksara disuruh mengiringi kepulangan putranya yaitu Prabu Astra Darma ke Yawastina, serta diperkenankan membawa beberapa pengawal setianya, juga disuruh menyiapkan kendaraan ketiga pengantin dan seluruh abdinya. Patih Suksara berkata, “Baiklah Paduka.”
Lalu mereka bersiap-siap, terutama di dalam istana semua sibuk menyiapkan barang (Hal.218) bawaan beserta abdi yang akan mengiringi pengantin ke Yawastina. Kemudian keesokan paginya bertepatan pada hari Senin Manis, Prabu Jaya Purusa dengan putra menantunya yaitu Prabu Astra Darma duduk dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara menghadap dengan sigap seperti biasanya. Raden Jaya Amijaya duduk berjajar dengan para adiknya dari Yawastina. Patih Suksara berjajar dengan Patih Sudarma, sedangkan para pengawal Widarba semua bersebelahan dengan para pengawal dari Yawastina. Lalu tidak begitu lama Prabu Jaya Purusa berkata kepada Patih Suksara dengan Patih Sudarma, bahwa sekarang putra menantunya yaitu Prabu Astra Darma diberijulukan dengan nama Prabu Purusangkara, serta masih tetap menjadi raja yang terhormat di Yawastina. Sedangkan Raden Darma Sarana berganti na(Hal.219)ma menjadi Arya Amijaya, Raden Darma Kusuma ganti nama menjadi Arya Jaya Kirana, atau putra mahkota nantinya akan diangkat menjadi raja muda, diberi nama Arya Jaya Amijaya. Patih Suksara dan Patih Sudarma juga seluruh balatentara pengawal berkata, “Baiklah Paduka, medukung pada kehendak raja.”
Setelah itu lalu bubar. Prabu Jaya Purusa dan Prabu Purusangkara pulang ke keraton. Para putra dan seluruh pengawal telah pulang masing-masing. Begitulah dikabarkan pada saat itu para balatentara Widarba, yang sma-sama diperintah mengantarkan kepulangan Prabu Purusangkara ke negeri Yawastina.
Tidak diceritakan dalam persiapannya, ketika telah siap lalu pergi. Ayahanda yaitu Prabu Jaya Purusa dengan ibunya yaitu Permaisuri semua mengantarkan (Hal.220) kepulangan putranya sampai ke pesanggrahan di luar kerajaan lalu mereka semua berhenti. Tidak begitu lama Prabu Purusangkara serta para adik serta istri mereka berjalan lagi bersama balatentara bergemuruh. Ayahnya yaitu Prabu Jaya Purusa dengan ibu suri semua sangat meronta-ronta sehingga berlinang air mata lalu pulang menuju kerajaan. Begitu pula mereka yang pulang bersama berlinangan air mata.
Tersebutlah yang pulang ke Yawastina bersama seluruh balatentaranya. Mereka di sepanjang perjalanan bercengkrama, bertemu binatang hutan, tertarik oleh berbagai burung yang pantas dijadikan kesenangan. Lalu tidak diceritakan kejadiannya selama di perjalanan, dan setelah sampai di Yawastina menghabiskan waktu dalam perjalanan kurang dari tiga hari. Patih Sudarma diperintah berjalan lebih dahulu, disuruh menyiapkan di dalam (Hal.220) kerajaan juga di dalam dan di luar istana, serta disuruh melengkapi tempat peristirahatan seluruh balatentara Widarba jangan ada yang kekurangan. Patih Sudarma berkata, “Baiklah Paduka.”
Segera berangkat dengan hanya membawa dua pengawal bersama pembantunya. Di belakang Patih Sudarma lalu ada yang berangkat lagi. Dalam perjalanannya mereka bersnang-senang sambil menikmati keindahan sepanjang perjalanan membahagiakan para istrinya.
Selesai cerita tentang perjalanannya Prabu Purusangkara, ganti diceritakan Patih Sudarma dengan kedua pengawal yang dibawa berangkat dulu. Tidak diceritakan selama di perjalanan, sampai di negeri Yawastina tanpa beristirahat lagi lalu mereka menyiapkan seluruh hiasan istana serta di dalam kerajaan semua, terutama melengkapi semua tempat (Hal.222) peristirahatan untuk seluruh balatentara Widarba yang mengikuti kepulangan Prabu Purusangkara. Ketika itu mereka melakukan pekerjaannya dengan cepat siang malam tidak ada berhenti.
Dalam pada itu tidak diceritakan perilaku orang yang bekerja. Sekitar tiga hari telah sempurna dan lengkap pekerjaannya semua. Lalu datanglah Prabu Purusangkara beserta seluruh balatentara bergemuruh. Sang raja dengan para adik serta para istrinya terus menuju istana. Patih Sudarma mempersilakan seluruh balatentara Widarba ditempatkan di tempat istirahatnya masing-masing. Para pengawal Widarba sangat senang tak terhingga. Sedangkan balatentara di Yawastina semua telah sama bubar pulang masing-masing.
Lalu diceritakan kembali ketika suasana badan telah tentram. Prabu Purusangkara (Hal.223) lalu mengungkapkan kegembiraannya. Tersebutlah siang malam selalu mengadakan pesta meriah di dalam istana. Ketika itu negeri Yawastina di dalam beberapa hari tidak ada yang dikhawatirkan kecuali hanya bersenang-senang habis-habisan dengan seluruh balatentara Widarba dan balatentara di Yawastina semua. Namun tidak diceritakan kejadian dalam bersenang-senangnya. Ketika telah sampai setengah bulan seluruh balatentara Widarba berpamitan kepada Patih Sudarma. Ketika itu lalu dikatakan kepada raja dan diperkenankan. Mereka diberi banyak hadiah berupa kain dan senjata. Para pengawal Widarba sangat senang dan mengucapkan terima kasih. Tidak diceritakan perilakunya mereka yang sedang bersiap-siap, dan setelah siap lalu semuanya berangkat. Tidak pula diceritakan sampainya mereka di kerajaannya. (Hal.224) Setelah waktu pergi para pejabat Widarba, antara sebulan kemudian bertepatan dengan pergantian tahun.
// Ketika berjalan tiga bulan dalam siklus Suryasangkala pada tahun 842, atau terjadinya pada bulan keempat siklus Candrasangkala pada tahun 867, termasuk dalam tahun Biswawisu, bertepatan dengan masa Sitra. Selanjutnya yang diceritakan negeri Yawastina. Pada waktu itu Prabu Purusangkara sangat bersedih hatinya karena istri kedua adiknya telah hamil tua, hanya istri raja sendiri yang belum mengandung. Oleh karena itu, Prabu Purusangkara setiap hari selalu bepergian keluar kerajaan diikuti seluruh balatentara Yawastina. Oleh karena itu, pulangnya selalu senja, langsung me(Hal.225)nuju tempat tidur saja. Ia melakukan itu karena kesedihannya. Prabu Purusangkara tampak malu kepada istrinya yaitu Dewi Pramesti. Dikiranya raja mungkin celaka tidak akan mendapat putra. Maka setiap hari raja selalu bercengkrama di luar kerajaan. Patih Sudarma beserta para pengawalnya sangat sedih karena raja kemudian tidak ingin dihadap rakyatnya sehingga di Pancaniti sepi. Akhirnya akan merusak aturan tugas semua balatentara karena mereka tidak menjalankan kewajibannya, selalu ikut berbincang saja. Sedangkan yang membuat sedih Patih Sudarma hanya keteladanan paduka raja pada dulu kala, berhubung telah lama meninggalkan kerajaan tidak memperdulikan pengadilan. (Hal.226) Hal itu seharusnya tidak pantas terjadi dalam kerajaannya. Dalam keadaan demikian, Sang Pemimpin terpercaya beserta temannya ingin berkata namun takut, sehingga hanya berdiam diri. Akan tetapi mereka tidak putus asa tetap berusaha berdoa sekemampuannya dengan mengharap tidak lebih hanya memohon ampunan dewa bila ada kesalahan sehingga marah.
Tidak diceritakan perilaku Prabu Purusangkara yang selalu bepergian, tersebutlah istri adik raja yang dua, yaitu Arya Amijaya dan Arya Jaya Kirana. Saat ini telah sampai bulan ke sembilan lalu mereka melahirkan. Istri Arya Amijaya yang bernama Dewi Pramuni melahirkan anak perempuan, sangat cantik parasnya diberi nama Dewi Renggawati. Istri Arya Jaya Kirana yang bernama Dewi Sasanti melahirkan anak laki-laki, sangat tampan parasnya (Hal.227) diberi nama Raden Sanjaya.
Ayah, ibu, uwa raja laki-laki dan perempuan sangat suka karena mempunyai keponakan. Namun, hati Prabu Purusangkara semakin sedih sekali karena selalu diminta istrinya supaya punya anak sendiri. Dalam pada itu Prabu Purusangkara lalu berkata kepada Patih Sudarma disuruh mengutus dua pengawal untuk memberitahukan kepada ayahanda Raja Widarba. Patih Sudarma berkata, “Baiklah paduka.”
Lalu Patih Sudarma menugasi kepada dua pengawal saat itu juga mereka pergi. Yang pertama Arya Sudarsa, dan kedua Arya Sasana. Mereka setelah diberi nasehat lalu berangkat ke tempat yang dituju. Tidak diceritakan antara lamanya di perjalanan, sampai negeri Widarba pada pagi hari bertepatan dengan hari penghadapan.
Ketika itu pada hari Senin (Hal.228) Manis Prabu Jaya Purusa duduk dihadap oleh rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara bersama menghadap degan sigap seperti biasanya. Ketika itu kedua utusan dari Yawastina setibanya ke tujuan langsung menuju tempat penghadapan secara tiba-tiba. Prabu Jaya Purusa dan semua yang ada sangat kaget lalu menyuruh menanyakan tujuan kedatangannya. Patih Suksara berkata, “Baiklah Paduka,” lalu bertanya kepada Arya Sudarsa. Jawabnya, ia diutus putra raja Prabu Purusangkara di Yawastina, disuruh memberi tahukan bahwa Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti saat ini telah Melahirkan. Seluruh kejadiannya telah diceritakan semua dari awal hingga akhir. Prabu Jaya Purusa sangat suka dan heran. Sukanya karena saat ini ia telah mempunyai dua orang cucu, dan herenannya (Hal.229) karena putranya yaitu Prabu Purusangkara belum mempunyai putra sendiri.
Prabu Jaya Purusa berkata, “Hai Arya Sudarsa, jadi putraku Prabu Purusangkara itu dapat dikatakan tinggal berbuat membahagiakan keempat adiknya.”
Arya Sudarsa berlutut sambil menceritakan kesedihan Prabu Purusangkara. Semua perilakunya telah diceritakan dari awal hingga akhir. Prabu Jaya Purusa begitu heran sekali dan agak kasihan. Lalu ia berkata kepada Arya Sudarsa, “Kamu sampaikan pada putraku Prabu Purusangkara apa yang menjadi kesedihannya itu jangan sampai terus-menerus bersedih. Saya pasti temani meminta kepada dewa semoga diberi putra nanti.”
Arya Sudarsa menyembah dan berkata, “Baiklah Paduka.”
Prabu Jaya Purusa berkata kepada Sang Pemimpin kepercayaan, “Hai Patih Suksa(Hal.230)ra, yang sedang saya pikirkan itu lain, tapi juga masih termasuk kehendakku dulu. Saat ini siapa kiranya yang pantas untuk saya utus ke Gunung Padang, meminta putra perempuannya Ajar Subrata yang bernama Ken Satapi. Aku hendak menikahkannya dengan putraku yaitu Prabu Anom Jaya Amijaya?”
Kata Patih Suksara, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, di luar dari kehendak Paduka saya pantas untuk diutus ke Gunung Padang. Oleh sebab itu paduka, berhubung Ajar Subrata untuk memanggilnya agak sulit, kemungkinan saja jika saya yang pergi akan lebih mudah.”
Prabu Jaya Purusa sangat senang. Patih Suksara telah dinasehati tentang segala kehendak raja. Patih Suksara berkata, “Baiklah Paduka,” lalu bubar.
Prabu Jaya Purusa pulang ke keraton, Patih Suksara dan temannya telah (Hal.231) pulang masing-masing. Utusan dari Yawastina dan temannya telah diberi tempat istirahat serta hidangan yang cukup. Setelah beberapa hari, Arya Sudarma dan Arya Sasana memohon pamit pulang ke Yawastina, diperkenankan serta diberi banyak kiriman oleh Prabu Jaya Purusa untuk ketiga putranya berupa bahan dan barang jadi terpilih dan dibagi-bagi banyak sedikitnya, termasuk bagi kedua utusan juga diberi kain dan senjata yang sama rata dengan temannya. Kedua utusan semua berterima kasih lalu bersiap-siap. Setelah itu mereka berangkat bersamaan dengan keberangkatan Patih Suksara yang diutus ke Gunung Padang.
Dalam pada itu cerita perjalanan Sang Pemimpin kepercayaan tidak dilukiskan. Sampailah di Gunung Padang bertemu dengan Ajar Subrata. Setelah disambut (Hal.232) dengan penuh keramahan dan hidangan, Patih Suksara lalu mengatakan perintah Prabu Jaya Purusa. Seluruh nasehatnya telah dikatakan dari awal hingga akhir. Ketika itu Ajar Subrata menerima perintah raja tadi. Seketika Ajar merunduk, namun cahaya wajahya terlihat seperti kurang suka. Patih Suksara sangat senang hatinya karena mendengar ungkapannya tadi. Sang Pemimpin kepercayaan lalu mengira bahwa pernyataan Ajar Subrata itu telah memuaskan.
Sang Ajar Subrata menjawab dengan santun, “Duh Paduka Sang Pemimpin kepercayaan, sesungguhnya memang benar sekali di sini ada bunga teratai putih yang tumbuh di telaga. Namun menurut pikiranku sepertinya tidak pantas jika dijadikan permaisuri tuanku, yaitu Prabu (Hal.233) Anom karena jelek sekali rupanya, kecuali sungguh ada pilihannya mengingat keperawanannya masih utuh. Karena masih diinginkan oleh dewa disimpan dalam ramalan. Maka beginilah dulu pesan dari dewa. Diramalkan bahwa bunga teratai putih yang tumbuh di telaga itu kelak keturunannya akan menyebabkan pertengkaran di seluruh Tanah Jawa. Namun hanya ada sedikit yang mengherakan hatiku selama ini tadi paduka, karena meskipun bunga itu buruk rupa tempatnya dan sangat hina keturunannya, ternyata atas kehendak dewa sampai harus dicari oleh tuan. Akhirnya atas kesepakatan tidak lebih pada saat ini saya hanya mempersilahkan atas kehendak raja saja.”
Patih Suksara sangat senang. Setelah sepakat Sang Pemimpin kepercayaan lalu (Hal.234) utusan berkata kepada raja, serta meminta untuk menjemput Ken Satapi yang serupa ratu keputrian dan kendaraannya. Singkat cerita ketika itu penjemput Ken Satapi semua telah datang di Gunung Padang, lalu diterima oleh Ajar Subrata. Selanjutnya mereka bersiap-siap, sehari kemudian telah siap bersama Patih Suksara berangkat pulang dari Gunung Padhang. Ken Satapi telah dibawa di dalam tandu. Ajar Subrata dan semua keluarganya mengikuti.
Tidak diceritakan di perjalanannya. Sesampainya di negeri Widarba semua berhenti di Pancaniti. Patih Suksara telah laporan kepada raja dan dijawab akan menuju istana. Sampai di hadapan raja, Ken Satapi telah masuk ke dalam istana. Patih Suksara (Hal.235) disuruh menceritakan seluruh perilakunya yang diutus dari awal hingga akhir. Prabu Jaya Purusa sangat senang menyambut hangat kepada Ajar Subrata, dengan penuh suka cita dan berterima kasih sambil berlutut.
Prabu Jaya Purusa bertanya sebabnya Resi Kumbayana sampai tidak ikut mengiringkan. Kata Ajar Subrata bahwa sekarang Resi Kumbayana telah wafat, tetapi tidak diberitakan kepada raja karena ketika itu di dalam negeri Widarba sedang terjadi perang besar dengan Malawapati menunggu reda kedua pihak. Tidak lama setelah itu datang musuh besar lagi dari Selahuma. Akhirnya menunggu hingga sekarang ini belum juga diberitakan. Bersamaan dengan sirnanya musuh baru akan diberitahukan, namun karena telah terlalu (Hal.236) lama hingga menjadi begitu takut. Prabu Jaya Purusa heran sekali dan agak menyesal karena tidak menyaksikan jenazah Resi Kumbayana. Prabu Jaya Purusa bertanya tentang putra yang ditinggalkan Resi Kumbayana. Ajar Subrata disuruh menjelaskan secara terperinci.
Kata Ajar Subrata, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, jika bertanya mengenai putra Resi Kumbayana itu hanya ada dua. Saya dan adikku perempuan yang bernama Ken Subrangti yang diperistri oleh Empu Sedhah itu. Sedangkan saya ini hanya mempunyai dua anak, yaitu Satapi dan Ajar Satapapampang. Sedangkan yang ikut kepada saya yang tiga orang itu adik ayahku, yaitu Resi Kumbayana bersama putranya Resi Brangtadi, bernama Empu Kumbarawa, (Hal.237) kedua Empu Sendhi, ketiga Empu Ken Dhiwiri. Ketiga orang itu seluruhnya senang menjadi pandai besi. Prabu Jaya Purusa sangat senang lalu berkata kepada Patih Suksara bahwa sekarang Ajar Subrata diperkenankan datang pada pertemuan di Pancaniti, bersatu dengan para Brahmana tidak berubah seperti ketika ayahnya Resi Kumbayana dulu, dan Ken Satapi nanti berdiganti nama Dewi Satapi. Sedangkan adik Resi Kumbayana yang tiga sama-sama diabdikan menjadi balatentara raja sebagai kepala pandai di Widarba semua.
Patih Suksara berkata, ”Baiklah Paduka,” lalu melantik para pengawal yang ada di hadapan raja. Setelah itu lalu mereka saling berbincang tentang rencana pernikahan pengantin. Patih Suksara dengan Ajar Subrata se(Hal.238)mua menyambut baik. Semoga diperkenankan kehendak raja yang baik besok pada hari Senin Manis mengusulkannya itu. Prabu Jaya Purusa Menyetujui keinginan itu. Sang Pemimpin kepercayaan lalu disuruh menyiapkan seluruh keperluan pernikahan. Ajar Subrata disuruh mengundang sahabat karibnya, para pendeta yang dekat-dekat.
Patih Suksara dengan Ajar Subrata berkata, “Baiklah Paduka,” lalu mereka diperkenankan keluar, kecuali Ajar Subrata sekeluarga yang disuruh tetap berada di tempat peribadatan. Patih Suksara dan rombongan pengawal sampai di luar, lalu mereka semua pulang masing-masing.
Keesokan harinya Patih Suksara dan temannya lalu mulai bekerja mempersiapkan pernikahan putra raja yaitu Prabu Anom. Ketika itu negeri Widarba setiap (Hal.239) hari sama-sama sibuk merangkai hiasan kerajaan dan di dalam keraton. Sedangkan Ajar Subrata sekeluarga meminta pamit pulang ke Gunung Padang, akan mengundang saudaranya, para petapa yang dekat-dekat semua. Prabu Jaya Purusa mengizinkan Ajar Subrata dengan keluarganya berangkat. Sampai di Gunung Padang, Ajar Subrata lalu menunjuk seluruh muridnya, disuruh mengundang kepada semua saudaranya, bersama dengan putranya Ajar Subrata yaitu Satapi di Pampang termasuk ketiga pamannya juga disuruh merangkai macam-macam yang akan dipersembahkan ke luar Gunung Padang.
Tunda cerita tentang persiapan Ajar Subrata di Gunung Padang, ganti diceritakan yang mempersiapkan hiasannya di negeri Widarba. Tidak di(Hal.240)ceritakan berapa lamanya mereka semua bekerja, dan sebulan kemudian telah siap dan sempurna semua. Selanjutnya rombongan Ajar Subrata dari Gunung Padang dan keluarganya telah sampai sambil membawa persembahan kuning keemasan bermacam-macam sangat banyak, dan diiringi seluruh saudaranya para pendeta. Sampai di Widarba telah diberitakan kepada Patih Suksara, rombongan pembawa persembahan tengah berjalan menuju istana untuk diberikan kepada permaisuri raja. Sedangkan seluruh pendeta besar dan kecil telah ditempatkan di peristirahatan masing-masing.
Singkat cerita ketika telah sampai pada hari Senin Manis, putra raja yaitu Prabu Anom Arya Jaya Amijaya lalu dinikahkan dengan (Hal.241) putrinya Ajar Subrata yang bernama Dewi Satapi. Ketika itu pernikahannya lebih meriah, siang dan malam selalu menghidangkan pesta. Seluruh tempat penghormatan dihidangi jamuan bagi para balatentara yang kecil-kecil semua bersatu dengan seluruh murid para petapa yang sama-sama menghadap di negeri Widarba. Sedangkan para pengawal dan para pendeta Resi Bagawan Ajar Wawasi yang besar-besar semuanya disuguhi hidangan pesta di dalam istana.
Diceritakan ketika itu keramaian dalam pernikahan Prabu Anom Arya Jaya Amijaya sampai empat puluh hari empat puluh malam, namun tidak diceritakan perilaku mereka dalam pesta. Ketika telah sampai empat puluh hari empat puluh (Hal.242) malam lalu selesai. Seluruh pendeta telah diperkenankan pulang ke pertapaannya masing-masing, serta semua diberi berbagai macam peralatan yang cocok untuk bertani dalam jumlah banyak. Namun Ajar Subrata sendiri dan keluarganya belum diperkenankan pulang, karena masih diminta supaya merayu putrinya yaitu Dewi Satapi.
Tunda perjalanannya di negeri Widarba, ganti diceritakan negeri Yawastina. Ketika itu pada hari Kamis Manis pagi Prabu Purusangkara duduk dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara yang menghadap dengan sigat seperti biasanya. Prabu Purusangkara bertanya kepada Sang Pemimpin terpercaya barangkali mendengar berita dari negeri Widarba. Kabarnya nanti Prabu Jaya Purusa (Hal.243) hendak menikahkan putra laki-lakinya. Patih Sudarma ditanya benar atau tidaknya.
Kata Patih, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, saya sungguh mendengar berita itu. Katanya yang dinikahkan adalah kakak Paduka Prabu Anom Arya Amijaya kepada putri Ajar Subrata dari Gunung Padang bernama Dewi Sutapi. Sedangkan Ajar Subrata itu putranya Resi Kumbayana, cucunya Empu Brangkadi yang bernama Resi Tambakbaya oleh kakek Paduka leluhur Prabu Parikesit di Astina dulu. Sedangkan mengenai pernikahan kakak Paduka Prabu Anom Arya Amijaya tadi, kabarnya lebih meriah pestanya. Semua merasa senang sampai menghabiskan seluruh perilaku dalam pesta. Ibaratnya yang ada ditambah yang tidak ada sama didatangkan. Demikianlah (Hal.244) paduka kabar tentang kesenangan hati uwa Paduka Prabu Jaya Purusa. Lamanya mereka mengadakan pesta sampai empat puluh hari empat puluh malam baru selesai. Hanya itu yang saya ketahui Paduka.”
Begitulah laporan Patih Sudarma.

Nara Sumber Tim Independen Peneliti Batu Nangtung Selareuma Sumedang Tahun-2009

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas