Selasa, 19 Oktober 2010 | By: Babad Sunda

Tari Primitif

Sejak zaman primitif, tari telah menjadi suatu budaya masyarakat. Dalam kebudayaan masyarakat primitif, tari berperan sangat penting serta memiliki tujuan untuk berkomunikasi dengan kekuatan yang tidak terlihat seperti arwah nenek moyang, kepada dewa yang memberi kesuburan, mengatur cuaca, memberikan keberuntungan dan memberikan kesejahteraan serta keselamatan kepada manusia. Oleh karena itu, pelembagaan tari masyarakat primitif ini pada umumnya sarat dengan sifat mistis, magis, dan untuk kepentingan ritual. Sehingga tari primitif adalah tari yang bersifat imitatif, mengembangkan imajinasi magis simpatetis, banyak meniru gerakan binatang.

Ciri mentalitas primitif bukanlah logikanya, melainkan sentimen hidupnya yang menyeluruh, dan itulah ciri dari keyakinan mitos. ( Sumandiyo Hadi,2005:47). Hal ini disebabkan karena imaginasi mistis maupun magis selalu melibatkan tindakan percaya tanpa aturan logika, sehingga tanpa kepercayaan bahwa objeknya nyata, maka sifat mistis dan magis akan kehilangan dasar-dasarnya. Tari primitif pada umumnya tidak mengutamakan nilai estetika tariannya, gerakannya cenderung sederhana namun mengandung motif tertentu.
Ciri pelembagaan tari dari warisan masyarakat primitif biasanya terkandung peran magis yang diinginkan. Gerakan tari dalam ritus tertentu dapat dipilah-pilahkan menjadi tiga macam magis, yaitu magi imitatif, simpatetis, dan kontagius. ( Sumandiyo Hadi,2005: 51). Magi imitatif adalah macam gerak tari yang dilakukan dengan gerakan menirukan binatang tertentu sebelum berburu dengan tujuan agar binatang yang ditirukan dapat ditangkap dengan mudah. Magi simpatetis adalah macam gerak tari yang ditujukan untuk mempengaruhi kekuatan alam. Sedangkan magi kontagius adalah macam gerak tari yang dimaksudkan sebagai adanya hubungan dengan obyek atau bagian tertentu dari obyeknya untuk mencapai suatu kehendak seperti gerakan saling bersentuhan tangan atau sentuhan dengan properti, dengan harapan agar dapat menumbuhkan kontak terhadap kenyataan yang diinginkan.
Di Indonesia, sampai saat ini masih banyak tarian-tarian primitif yang masih hidup, sebagai contoh:
1. Tarawangsa
Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Kesenian ini hanya ditemukan di beberapa daerah di Jawa Barat, yaitu Rancakalong ( Sumedang), Cibalong, Cipatujah ( Tasikmalaya Selatan), Banjaran ( Bandung), dan Kanekes ( Banten Selatan) ( Dana Setia,2003:31). Alat musik pokok kesenian tarawangsa terdiri dari tarawangsa( rebab jangkung) dan jentreng ( alat musik mirip kecapi). Tarawangsa dimainkan oleh dua orang, satu pemain tarawangsa dan satu pemain jentreng. Semua pemain tarawangsa terdiri dari laki-laki, dengan usia rata-rata 50-60 tahunan yang berprofesi sebagai petani. Biasanya tarawangsa disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalam ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Dalam pertunjukannya, tarawangsa biasanya melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur, mula-mula Saehu/saman ( laki-laki), lalu disusul para penari perempuan. Mereka bertugas menurunkan Dewi Sri dan para leluhur. Kemudian hadirin yang ada di sekitar tempat pertunjukan, juga ikut menari.Tarian Tarawangsa tidak terikat oleh aturan pokok, kecuali gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Saehu dan penari perempuan sebagai tanda penghormatan kepada Dewi Sri. Menari dalam tarawangsa bukan hanya gerak fisik semata, melainkan sangat berkaitan dengan kepercayaan si penari. Sehingga tak mengherankan apabila penarinya sering mengalami trance ( tidak sadarkan diri).
2. Tari Hudoq
Tari Hudoq dalah bagian ritual suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, yang biasa dilakukan setiap selesai manugal atau menanam padi, pada bulan September-Oktober. Semua gerakannya, konon dipercaya turun dari kahyangan.
Berdasarkan kepercayaan suku Dayak Bahau dan suku Dayak Modang, tari Hudoq ini digelar untuk mengenang jasa para leluhur mereka yang berada di alam nirwana. Mereka yakin di saat musim tanam tiba, roh-roh nenek moyang akan selalu berada di sekitar mereka membimbing dan mengawasi anak-cucunya. Leluhur mereka ini berasal dari Asung Luhung atau Ibu Besar yang diturunkan dari langit di kawasan hulun Sungai Mahakam Apo Kayan. Asung Luhung memilki kemampuan setingkat Dewa yang bisa memnggil roh baik maupun roh jahat.
Tari Hudoq ini memakai topeng atau sabuka dari daun-daunan. Daun-daunan ini digunakan seperti pakaian yang membungkus seluruh tubuh penarinya. Tari Hudoq diiringi oleh bunyi gong serta tambur.
3. Tari Ngaji Beten
Tarian ini dibawakan pada saat upacara ngigel ngaji beten di Trunyan-Kintamani-Kabupaten Bangli yang dilaksanakan pada saat upacara Saba Gede Kapat. Tarian ini dimaksudkan untuk mempersembahkan arak kepada Dewa Bumi, dengan cara mencecer-cecerkan arak yang ada di sebuah gayung ke bumi. Tarian ini dinamakan Ngaji Beten karena dilakukan di bawah (Beten), yaitu dilakukan di bagian luar ( jaban) kuil utama Trunyan.
Pada bagian pertama, ditarikan oleh enam belas orang Peduluan tingkat Saing di bawah pimpinan para Bau Mucuk. Bagian kedua oleh dua orang, yaitu dua Saing Enem. Bagian ketiga oleh empat orang, yaitu sepasang Bau Mucuk, seorang Bau Merapat, dan seorang Saing Enem. Gerak tarinya sangat sederhana, yaitu dengan gaya berjalan Tari Baris. Tari ini diiringi oleh alat gamelan suci yang disebut selunding.
4. Tari Nelayan
Tari primitif ini merupakan bagian dari ritual suku Biak-Numfor, salah satu dari kelompok kepulauan Schouten di teluk Saireri ( teluk Cendrawasih). Tari ini menggambarkan secara imitative perjuangan nelayan-nelayan dengan perahunya melawan keganasan samudra, dengan tujuan, yakni magi simpatetik agar apa yang diiinginkan dalam upacara dapat terjadi dalam kenyataan. Dua baris penari laki-laki menggambarkan perahu yang cepat, meloncat, sedangkan tiga penari lelaki lainnya menggambarkan nelayan dengan dayungnya. Tarian ini menggambarkan keberhasilan nelayan mengatasi amukan gelombang.
5. Tari Wor Ular Naga
Tarian ini sampai saat ini masih hidup di masyarakat Biak-Numfor. Tari Wor Ular Naga adalah tarian upacara untuk men datangkan kekuatan magis yang baik, mengusir kekuatan jahat dan membersihkan diri dari magis jahat. Tarian ini dilakukan oleh pasangan penari laki-laki sebagai kepala ular naga sedang pasangan wanitanya sebagai ekor naga, dan kedua bagian ini tidak boleh bersentuhan.


DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Sumandiyo. Sosiologi Tari. Yogyakarta : Penerbit Pustaka. 2005
Kurnia, Ganjar, dkk. Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat & Pusat Dinamika Pembangunan Jawa Barat. 2003.
Sari, Vivi Kumala. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Pendekatan Ke arah Seni Pertunjukan. Bandung: Penerbit ITB. 1996.
Sumardjo, Jakob, dkk. Seni Pertunjukan Indonesia. Bandung : STSI Press.2001.
http://dunialain-laindunia.blogspot.com/2009/04/tari-hudoq-dari-kalimantan-timur.html

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas