Kamis, 28 Oktober 2010 | By: Babad Sunda

Laporan penelitian Tim Independen Batu Nangtung Selareuma-Sumedang.2009

KEDUDUKAN LAHAN PENAMBANGAN BATU
KAMPUNG SELAREUMA PASIR REUNGIT
KELURAHAN PASANGGRAHAN
KECAMATAN SUMEDANG SELATAN
KABUPATEN SUMEDANG
DALAM KONSTELASI KABUYUTAN
SUMEDANGLARANG




Photo oleh: Undang Ahmad Darsa
LAPORAN PENELITIAN

OLEH:
TIM PENYUSUN


SUMEDANG
DESEMBER, 2009

TIM PENYUSUN
Editor

Peneliti

Nara Sumber Keilmuan

Nara Sumber Kabuyutan

Penggambaran / Pemetaan,
dan Tata Letak Laporan



Perekaman dan Fotografi :

Dra. Etty Saringendyanti, M.Hum
Dra. Elis Suryani, N.S., M.S

Dra. Richadiana K. Kartakusuma, M.Hum. (Arkeolog & Ahli Sejarah Kuno Puslitbang-Arkenas))
Dra. Etty Saringendyanti, M.Hum. (Arkeolog, Fakultas Sastra UNPAD))
Drc.Undang Ahmad Darsa, M.Hum. (Ahli Sejarah Kuno & Filolog Fakultas Sastra UNPAD)
Dra. Elis Suryani, N.S., M.S. (Filolog / Ahli Sastra, Fakultas Sastra UNPAD)

Prof. Dr. Ir. H. Yahdi Zaim (Geolog, Vice Decan for Academic Affairs and Quality Assurance Post Graduate Program- Geologi ITB)
Prof. Dr. Sc. HM. Ahman Sya, Drs., M.Pd., M.S.
(Ahli Geografi, Rektor ARS/koordinator Universitas BSI – Bandung)
Dra. Ottih Rostoyati, M.Si. (Antropolog, Universitas Pasundan, Bandung)
Drs. RH. Hidayat Suryalaga (Universitas Pasundan)



Opan Sopandi (Kuncen Gunung Lingga)
Endang (Putra Kuncen terakhir Selareuma)
Ayat Wahidin (Kuncen Kabuyutan Ciguling, 68 tahun)
Tatang (sesepuh masyarakat Cikondang, 65 tahun) Rohman (Kuncen situs Bojongmenje)
DR. R. Sonnia Soema
Rd. Dyna Ahmad.



Wan Irama Puar (Arkeolog & Topografi Situs)


R. Abdul Latief
R. Luky Dj. Sumawilaga
Yadi Mulyadi


KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur dipanjatkan ke Khadirat Illahi Robbi yang telah menganugerahi kami kelancaran serta kekompakan selama melaksanakan proses penelitian di lapangan hingga selesainya penyusunan laporan hasil penelitian ini. Adapun Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan benar tidaknya lahan Selareuma Pasir Reungit, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang itu sebagai situs arkeologi atau benda cagar budaya (BCB)? Sehubungan dengan pernyataan itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi jawaban guna memberikan pertimbangan atas permasalahan yang muncul berkaitan dengan lokasi penambangan batuan di Kampung Selareuma Pasir Reungit tersebut.
Kami sadar bahwa laporan hasil penelitian ini belum mampu menyingkapkan semua aspek struktur dan sistem yang ada dalam lingkungan sosial kemasyarakatan di seputar wilayah lokasi penelitian. Hal ini dikarenakan mengingat rentang waktu yang tersedia untuk melakukan penelitian lapangan secara intensif hanya satu bulan sampai tersusunnya ke dalam bentuk laporan. Namun demikian, penelitian ini bertolak dari sudut pandang arkeologi dengan melibatkan bidang-bidang keilmuan secara interdisipliner. Bidang keilmuan yang dimaksud meliputi bidang Geografi, Geologi, Filologi, Antropologi, dan Folklor.
Laporan penelitian ini belum tentu dapat kami wujudkan tanpa dukungan atau bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini sudah selayaknya kami menyampaikan ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pihak-pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini, terutama kepada Pemda Kabupaten Sumedang, Kepala Badan Koordinator Pembangunan Wilayah Priangan, Yth. Bapak Tubagus Hisni, M.Si. Hal serupa kami sampaikan pula kepada Kapolwil Priangan, Bapak Kombes Pol. Drs. Anton Charliyan, MPKN., beserta seluruh jajarannya. Para pemangku Kampung Adat di Wilayah Kabupaten Sumedang, wilayah Priangan, dan yang lebih besar lagi se Tatar Sunda, Yayasan Pangeran Sumedang, dan kepada berbagai pihak terutama para nara sumber di wilayah penelitian yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Akhir kata, semoga laporan hasil penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.




Sumedang, Desember 2009

Tim Penyusun



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Identifikasi Masalah 3
1.3 Tujuan 6
1.4 Kerangka Teori 6
1.5 Metodologi 10
BAB II GAMBARAN UMUM SELAREUMA, PASIR REUNGIT 16
2.1 Lingkungan Geografis dan Geomorfologis 16
2.2 Tradisi Naskah 22
2.3 Foklor 33
2.4 Tinggalan Arkeologi 44
2.4.1 Pemerian 44
2.4.2 Penataan Ruang 59
BAB III KAJIAN DATA 65
3.1 Pengertian Kabuyutan 65
3.2 Konsep Kosmologi Sunda 70
3.3 Korelasi Tradisi Tulis Dan Tradisi Lisan 90
3.3.1 Hubungan antara Naskah dan Folklor 90
3.3.2 Korelasi Prabu Gajah Agung, Batu Nangtung dan Naskah 100
3.3.3 Persepsi dan Penghargaan Masyarakat terhadap Kabuyutan
Pasir Ringgit 103
3.4 Selareuma, Pasir Reungit dalam Konstelasi Sumedanglarang 105
BAB IV PENUTUP 114
4.1 Simpulan 114
4.2 Saran 118


DAFTAR PUSTAKA 120
ADENDUM 126
LAMPIRAN 164



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada minggu pertama di bulan September 2009, beberapa orang dari kami, yang sekarang tergabung dalam tim, menerima permintaan lisan dari pihak kepolisian wilayah Priangan untuk melihat sebuah lahan penambangan batuan alam di Desa Selareuma, Sumedang Selatan, yang telah beberapa tahun terakhir dieksplorasi oleh Perusahaan Bangunan CV. Stone-House. Permintaan tersebut berdasar pada adanya singkapan hasil tambang yang ditenggarai sebagai tinggalan budaya, atau paling tidak memiliki nilai sejarah. Sebagai tindak lanjut dari hasil pengamatan awal tersebut, beberapa hari menjelang puasa Ramadhan diadakan pertemuan “sebuah tim awal” berdasar permintaan resmi dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Barat Wilayah Priangan, yang berpusat di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang merujuk hal berikut sebagai dasar penyidikan :
a) pasal 120 UU no.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;
b) Laporan Polisi No. Pol: LP/34/IX/2009/JBR/ Wil Pri, tanggal 15 September 2009, tentang tindak Pidana merusak/mengeksploitasi suatu tempat yang diduga terdapat Benda Cagar Budaya (BCB) dan situs serta lingkungannya dengan memindahkan, mengambil, mengubah bentuk memugar, atau memisahkan benda cagar budaya dari tempatnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 dan atau pasal 28 huruf c.UU no.5 tahun 1992, tentang benda cagar budaya.
Berdasar rujukan di atas dapat dikemukanan bahwa terbitnya surat undangan pertemuan tersebut sehubungan dengan adanya sengketa antara pemilik lahan tambang dengan masyarakat setempat pada umumnya dan atau pemangku masyarakat adat Sumedanglarang khususnya, yang memiliki sejumlah informasi lahan sebagai kabuyutan atau setidaknya tempat bersejarah pada masa lalu. Mereka menginginkan lahan tambang itu dikembalikan pada statusnya semula, sementara itu di pihak lain ada penambang yang mengantongi izin resmi usaha penambangan dan telah menjalani usahanya sejak beberapa tahun belakangan.
Dilematik, oleh karena itu, pihak kepolisian memandang perlu untuk mencari ketegasan kedudukan Lahan Selareuma menurut kajian ilmiah ilmu-ilmu sosial dan budaya. Hasil dengar pendapat dengan tim awal, disepakati bahwa langkah ke arah itu diperlukan adanya Tenaga Ahli sebagai tim peneliti yang independen (sesuai dengan permintaan para pemangku adat yang tidak menginginkan tim peneliti dari BP3 yang dianggapnya telah melakukan penelitian yang kurang objektif), yang memiliki latar belakang pengetahuan disiplin ilmu bersangkutan, yang secara profesional melakukan observasi, deskripsi, kajian, dan interpretasi (simpulan). Realisasinya kemudian penyidik dari pihak Polwil Priangan mengundang beberapa Tenaga Ahli (Ilmuwan) dari berbagai disiplin ilmu, yang secara khusus dimintai pendapatnya tentang identifikasi dari status Pasir Reungit dengan kandungan sumberdaya alam yang tampak sebagaimana adanya kini. Keterangan yang disampaikan beberapa Tenaga Ahli tersebut direkam sesuai proses verbal menurut pihak Kepolisian Wilayah Priangan dan disimpan sebagai alat bukti saksi ahli atas status Pasir Reungit. Prosedural dan keputusan tersebut secara lisan diterangkan oleh Kompol Elman Limbong bahwa pihak Polwil Priangan belum memperoleh ketegasan tentang status Pasir Reungit.
Untuk itu, pihak kepolisian meminta Badan Koordinasi Pembangunan Wilayah Priangan untuk membentuk Tim Peneliti Ahli yang independen dari kalangan akademisi dan dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan sistem tata ruang lingkungan dan sejarah sosial budaya.
Berdasarkan surat yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Pembangunan Wilayah Priangan bernomor .......................................tanggal 21 November 2009, Tim Peneliti melaksanakan observasi, deskripsi, pengkajian, dan simpulan atas status lahan Selareuma, Pasir Reungit, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang


1.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Lahan Selareuma berada di Pasir Reungit, --salah satu bukit di lingkungan Sumedang Selatan-- yang kini dalam kondisi digali khususnya lereng dan dinding bukit yang menghadap ke jalan raya Sumedang – Bandung. Sekitar 50% lahan bukit bagian selatan nampak terbuka oleh hasil pengupasan selama eksplorasi oleh pihak perusahaan bersangkutan, dan memperlihatkan sejumlah besar bongkahan batu dengan bentuk khas berupa sejumlah besar tonggak dengan ukuran yang spektakuler. Beberapa di antaranya dibaringkan di bagian bawah bukit di halaman rumah milik Ade Rahmawati (30 tahun), satu-satunya bangunan rumah yang berada di lereng Pasir Reungit. Sebagian besar lainnya lagi masih berada pada tempatnya (intax sesuai matrixnya). Beberapa batu yang ditemukan sebelum dijadikan tambang bangunan, telah banyak dipergunakan penduduk setempat selain dijadikan bahan bangunan rumah mereka, juga untuk menyanggah tebing sungai (Cipeles).
Berpijak dari aduan para pemangku adat, baik Kampung adat yang berasal dari Sumedang maupun di luar Sumedang yang dapat dipertanggungjawabkan legalitasnya, serta melihat kondisi yang telah ditampakkan CV Stone-House terhadap lahan di Selareuma, Pasir Reungit, maka permasalahan yang hadir “apakah kawasan Pasir Reungit ini hasil karya manusia (artefak) ataukah hadir semata karena gejala alam?”
Dalam hal ini Mundardjito menyatakan bahwa penunjukkan ‘situs’ di Indonesia tidak perlu harus ‘purbakala’ atau ‘arkeologi’, karena dalam masyarakat umum istilah ‘situs’ hampir selalu dikonotasikan dengan situs purbakala. Sebaliknya, kata ‘kawasan’ sudah lebih dahulu dikenal msyarakat umum dalam kaitannya dengan misalnya kawasan hutan dan kawasan industri. Lagipula kata ‘situs’ di Indonesia kerap menimbulkan kerancuan dalam pemakaiannya, karena tidak konsisten dengan prinsip taksonomi keruangan yang sifatnya hirarkial. Untuk menunjukkan keistimewaan suatu situs biasanya diembel-embeli sebutan tertentu, meskipun ini tidak salah -- benar karena ada dalam kepustakaan arkeologi. Hal ini disebabkan selama ini kita menganut definisi ‘situs’ sebagai ‘sebidang lahan yang mengandung atau diduga mengandung tinggalan arkeologi’ namun tanpa merinci kompleksitasnya, keluasannya, kepadatan penduduknya dan sebarannya ke dalam lingkup ruang budaya. Undang-undang BCB 1992 yang segera direvisi sudah memperhitungkan bahwa ‘situs’ adalah kawasan. Situs, dalam wacana para Arkeolog sepakat bahwa pengertian ‘situs’ sebagai kawasan adalah lahan yang relatif luas, yang berada dan mengandung sebaran sejumlah situs arkeologi yang letaknya berdekatan atau dalam satuan ruang (spatial clustering sites).
Sejauhmana sebenarnya Pasir Reungit dalam satuan ruang Arkeologi dapat ditempatkan identifikasinya berdasarkan keluasan atau kompleksitasnya yang meliputi ‘satuan ruang situs yaitu site’; ‘satuan ruang yang lebih luas dari sebuah situs yaitu locality’; ‘satuan ruang yang lebih luas lagi dari locality yaitu region’; dan ‘satuan-satuan ruang yang lebih luas lagi dari region yaitu area’. Sementara itu, untuk region dan area dipadankan kepada ‘wilayah atau kawasan’, istilah ini kerap dipakai secara bergantian menjadi “pengertian rancu”. Dalam pada itu, istilah dalam administrasi kepurbakalaan, kata ‘daerah’ dalam konteks BCB Sumedanglarang; juga ‘mintakat’ atau ‘zona’ yang dipakai untuk mengacu kepada sebagian dari suatu situs. Maka kita pun mengenal adanya ‘zona inti’ yang merujuk kepada sanctuary area; “zona penyangga’ merujuk kepada buffer area; ‘zona fasilitas’ merujuk kepada facility area yang merupakan daerah sarana penunjang; dan zona lansekap sejarah merujuk kepada historical area yang diperlukan untuk mempertahankan keselarasan lingkungan.
Sehubungan dengan itu, permasalahan yang dikemukan adalah apakah Lahan Selareuma, Pasir Reungit, yang terletak di Kampung Selareuma, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang itu merupakan situs arkeologi atau benda cagar budaya (BCB)?
1.3. TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan benar tidaknya lahan Selareuma, Pasir Reungit, Kampung Selareuma, Kelurahan Pasangrahan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang itu sebagai situs arkeologi atau benda cagar budaya (BCB).

1.4. KERANGKA TEORI
Sesuai dengan tujuan penelitian, diperlukan kerangka teori yang bisa mewadahi berbagai kajian sebagai penunjang analisis arkeologi. Hal itu disebabkan karena sifat data arkeologi yang terbatas baik kuantitas maupun kualitas, apalagi lahan yang diduga situs itu sudah sangat acak. Dalam hal ini, teori interpretasi (hermeneutik) dipandang dapat menjadi alat untuk memperoleh jawaban.
Dasar teori itu merupakan asumsi bahwa manusia secara aktif senantiasa menginterpretasikan pengalamannya dengan cara memberi makna terhadap apa pun yang dilihatnya. Atas dasar itu maka interpretasi merupakan proses kegiatan kreatif agar bisa mengungkapkan makna dari berbagai kemungkinan makna. Teori tentang “mengerti” (verstehen) ini disebut hermeneutik . Menurut Wilhelm Dilthey, segala aspek kehidupan manusia hanya dapat dimengerti melalui interpretasi yang bersifat subyektif dan bukan dengan metode sebagaimana yang dikenal dalam ilmu pengetahuan alam. Dunia manusia merupakan dunia sosial dan historis sehingga memerlukan pengertian sebagaimana masyarakat ketika pelakunya hidup dan bekerja, mengartikannya. Dunia manusia bukanlah dunia yang tetap sehingga dapat dikaji secara obyektif.
Hermeneutik ditujukan untuk mengerti perasaan orang, makna suatu peristiwa, atau menterjemahkan suatu tindakan, sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Atas dasar ini, hermeneutik dapat dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu hermeneutik tekstual yang diterapkan mengerti teks , dan hermeneutik kultural yang diterapkan untuk mengungkapkan makna tindakan. Sebuah rekaman arkeologi (archaeological records) dapat berwujud tulisan, foklor, atau artefak. Namun dalam pengkajiannya para arkeolog dihadapkan pada persoalan bahwa archaeological records dalam keadaannya yang sekarang, tidak bisa lagi mengetahui maksud dari pencipta teks itu karena mereka sudah meninggal. Selain itu, para arkeolog juga seringkali harus menghadapi tinggalan budaya yang sama sekali berbeda dari kebudayaannya sendiri. Oleh karena itu, arkeolog harus menginterpretasikan teks yang telah terpisahkan oleh waktu dan budaya penciptanya. Dalam hal ini makna teks senantiasa menunjukkan pola yang utuh dan menyeluruh, tidak merupakan bagian-bagian yang lepas .
Secara umum interpretasi terhadap kebudayaan materi bekerja di antara masa lampau dan masa kini. Bukti-bukti materi senantiasa berpotensi untuk dipolakan ke dalam banyak kemungkinan tanpa dapat diduga sebelumnya. Dampaknya adalah bisa jadi seorang analis akan menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan pengalamannya di dunia, sehingga ia terpaksa harus menilai kembali, dan proses ini dapat memperluas cakrawala pengalamannya. Di sisi lain, kebudayaan materi merupakan produk dari yang tertanam dalam pengalaman internal. Dalam beberapa kebudayaan materi --karena tidak terutarakan sehingga merupakan self-conscious speech-- justru dapat memberikan insight yang lebih dalam tentang makna internal dari orang yang menjalani kehidupan di masa kebudayaan materi itu berfungsi. Atas dasar itu maka kelangkaan pengujian oleh bagian yang tidak terucapkan dapat diatasi dengan pengujian yang diberikan oleh pemolaan materi yang tidak terucapkan yang senantiasa dapat menyangkal dan undermine interpretasi .
Asumsi awal sebagai dasar interpretasi terhadap kebudayaan materi adalah bahwa “kepercayaan”, “ide”, dan “niat” merupakan unsur yang menentukan terhadap tindakan dan praksis masyarakat. Sebagai akibatnya apa yang bersifat konseptual memiliki dampak tertentu pada pemolaan peninggalan materi. Komponen yang bersifat ideal dari pemolaan materi tidak dipertentangkan melainkan justru diintegrasikan dengan rekonstruksi fungsi materialnya. Atas dasar itu maka dimungkinkan untuk mengacu pada baik makna yang bersifat fungsional maupun yang bersifat konseptual dengan cara terlebih dahulu menempatkan bukti material ke dalam pola-pola.
Paling tidak para arkeolog harus terlebih dahulu membedakan antara teknologi, fungsi, dan gaya serta menerapkan atribut yang demikian itu guna membentuk tipologi serta mencari pola-pola yang didasarkan atas ruang dan waktu. Atas dasar itu, pada semua tahap mulai dari pengidentifikasian kelas-kelas dan atribut-atribut sampai kepada pemahaman terhadap proses sosial, arkeolog harus menghadapi tiga wilayah sekaligus, yaitu:
1. Pengidentifikasian konteks terhadap artefak itu memiliki makna fungsional yang sama. Dalam hal ini, interpretasi harus dilakukan guna menentukan batas-batas konteks makna fungsional, karena batas-batas itu tidak pernah akan tampak dengan sendirinya. Untuk itu sisa-sisa peninggalan fisik dan kemudian pemilahan terhadapnya dapat sangat membantu penentuan batas kontekstual itu seperti misalnya batas keliling sebuah desa.
2. Pengidentifikasian konteks hanya dapat dilaksanakan melalui pengenalan kembali terhadap adanya persamaan-persamaan (sintagma) dan perbedaan-perbedaan (paradigma). Dasar pengidentifikasian konteks ditentukan atas dasar dua asumsi, yaitu bahwa benda-benda yang berada dalam batas-batas sebuah konteks dibuat dengan cara yang sama, dan bahwa manusia bersikap sama dalam menghadapi situasi yang sama.
3. Evaluasi yang harus dilakukan oleh ahli arkeologi adalah mencari relevansi dari teori-teori yang umum maupun yang spesifik terhadap data yang dihadapinya.
1.5. METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode arkeologi , dengan data utama fitur (feature). Fitur, dalam banyak hal masih diyakini sebagai tinggalan yang insitu. Terlebih lagi tinggalan itu merupakan tinggalan yang dibuat dari bahan yang lebih tahan lama. Dalam penggarapannya, metode yang diterapkan tidak lepas dari kerangka metode penelitian arkeologi, yaitu observasi, deskripsi, dan eksplanasi .
Observasi merupakan tahapan kerja pertama, yaitu proses pencarian dan pengumpulan data, baik data tertulis maupun data lapangan yang berkaitan dengan objek penelitian. Data tertulis diperoleh dari berbagai sumber tertulis baik buku-buku maupun naskah atau artikel. Sementara data lapangan diperoleh melalui survei di sekitar Desa Pasangrahan berupa perekaman terhadap tinggalan arkeologi dan yang diduga tinggalan arkeologi, serta pendekatan terhadap Masyarakat Adat dan masyarakat sekitar Desa Pasangrahan yang dianggap mengetahui Pasangrahan di masa lalu.
Sumber-sumber yang dikumpulkan itu, diidentifikasi dan diolah melalui tahapan deskripsi. Dalam tingkatan analisis diperlukan data arkeologi lain di luar situs (atau yang diduga situs), serta sumber-sumber lain berupa prasasti dan karya sastra baik sastra tulis ataupun sastra lisan, geomorfologi, dan antropologi. Data-data penunjang tersebut lalu dikorelasikan untuk kemudian dianalisis sejauh mana kaitan antara data arkeologi dengan data penunjangnya, sehingga diperoleh interpretasi yang dapat membantu mengungkapkan permasalahan.
Hal tersebut dilakukan sesuai dengan sifat dan data Arkeologi yang diperoleh melalui pendaftaran, pencatatan dan pemugaran, lalu membahas masalah-masalah yang ada di balik data kontekstual (artefak-artefak). Akan tetapi penafsiran terhadap artefak-artefak atau data kontekstual selalu dilakukan melalui penjelasan-penjelasan sumber tertulis (data tekstual). Arkeologi, di samping sebagai bidang ilmu yang berdiri sendiri juga dipandang sebagai bagian pengkhususan dari Antropologi, sehingga permasalahan dalam perkembangan seni di kedua bidang tersebut didekati dengan cara yang sama. Terutama di Amerika, sebagian besar budayanya meliputi masa Prasejarah sehingga Arkeologi sebagai bidang ilmu, mempelajari dan membahas warisan aktivitas budaya tersebut tidak melalui data tekstual (sumber tertulis). Dengan demikian, penafsiran dari hasil analisis bersandar pada analisis artefak atau pada analogi Etnografi. Di Indonesia, dalam hal pembahasan, Arkeologi dapat mengggunakan pendekatan, pertama melalui pendekatan Arkeologi Prasejarah dan pendekatan Antropologi; kedua dengan melalui Oudheidkundige dan Art History. Dalam hal ini Oudheidkundige memberikan penjelasan mengenai artefak-artefak seni kuna yang menggunakan data tekstual berupa sumber-sumber tertulis. Sumber-sumber tertulis itu memberi keterangan-keterangan pemikiran, khususnya tentang gagasan-gagasan keagamaan yang melandasi karya-karya seni tersebut. Sumber tertulis juga terutama digunakan untuk meletakkan suatu karya dalam titik waktu tertentu (kronologi) dalam tatanan Sejarah Kebudayaan.
Dalam hal folklor yang datanya diperoleh secara lisan, data itu harus difiksasikan terlebih dahulu ke dalam bentuk teks. Ricoeur mengatakan bahwa teks adalah wacana (berarti lisan) yang diafiksasikan ke dalam bentuk tulisan. Sebuah teks mempunyai tiga tingkat otonomisasi, yaitu otonomisasi yang berhubungan dengan penulis, otonomisasi yang berhubungan dengan kondisi-kondisi sosial-budaya, dan otonomisasi yang berhubungan dengan pembaca.
Dalam kaitannya dengan hermeneutik, metode hermeneutik adalah sebuah proses yang seringkali disebut sebagai “lingkaran hermeneutik”. Interpretasi dimulai dari yang umum kepada yang spesifik, dan dari yang spesifik kembali kepada yang umum, demikian seterusnya. Hal ini berarti bahwa di dalam mengkaji dan mengungkapkan makna yang spesifik dari teks, kajian itu harus dilakukan dalam rangka makna umum sebagaimana yang dimaksudkan oleh teks. Pada gilirannya makna umum itu pun perlu disesuaikan dengan hasil pengkajian dari bagian teks yang spesifik. Apa yang harus dilakukan dalam proses melingkar itu ialah untuk senantiasa menghubungkan apa yang dikaji dengan apa yang telah diketahui, sehingga sampai proses interpretasi itu terjadi pengkajian senantiasa berpindah dari konsep yang telah diketahui ke konsep yang asing, menyatu sebagai hasil tentatif interpretasi .
Ricoeur mengembangkan metode melingkar ini ke dalam dialog antara explanation dan understandyng. Explanation merupakan kajian yang bersifat analitis dan empiris, sehingga kajian dilakukan terhadap obyek yang terdiri dari unsur-unsur yang telah terpolakan walaupun unsur-unsur yang telah terstruktur ini belum mengungkapkan makna apa pun. Makna itu baru akan terungkapkan setelah unsur-unsur ini diproyeksikan menjadi sebuah pola yang utuh untuk kemudian diletakkan pada tahap interpretasi. Jadi interpretasi adalah tahap sintese, dan interpretasi dilakukan terhadap pola yang menyeluruh dan utuh tadi. Dengan demikian, lingkaran hermeneutik terjadi antara explanation ke understandyng dan kembali ke explanation dan seterusnya .
Berdasarkan teori dan metode hermeneutik ini suatu situs atau yang diduga situs harus diintegrasikan terhadap situs lain di sekitar situs itu (atau yang diduga situs) dalam suatu sistem tata ruang. Dalam hal ini lahan Selareuma di Pasir Reungit harus dilihat dalam penataan ruang yang lebih besar, tidak sekedar di tempat itu. Oleh karena itu, kajian diarahkan secara terpadu mulai dari lingkungan fisik, filologi, antropologi, sastra, dan arkeologi itu sendiri.
Untuk itu, kerangka analisis yang digunakan adalah sebagai berikut:


Sumber: Munandar, 2008

Kajian yang dilakukan dalam penelitian ini berkenaan dengan (a) wujud benda arkeologi; (b) matra situs (data ukuran); (c) gambaran lingkungan sekitar; (d) perbandingan dengan data di situs lain; (e) folklor yang berhubungan dengan situs (jika ada); (f) menelaah sumber tertulis yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan situs dan monumennya, dan (g) memasukkan kronologis situs dalam babakan sejarah Sunda .
Selanjutnya, berkenaan dengan masih digunakannya situs untuk upacara keagamaan bagi sekelompok masyarakat Sunda, dilakukan kerangka analisis sebagai berikut:



Sumber: Munandar, 2008.

Dalam hal ini, pertalian antara berbagai tinggalan arkeologi dengan upacara keagamaan bersifat historis, karena tinggalan arkeologi itu dapat menjadi bukti sejarah. Sementara pertalian antara upacara keagamaan dengan masyarakat (Adat) masa kini lebih bersifat praktis yang mempunyai tujuan sosial dan kebersamaan sebagai orang yang berasal dari karuhun yang sama. Adapun pertalian antara masyarakat dengan tinggalan arkeologi bersifat mitis, sebab sampai saat ini masyarakat (Adat) itu masih mengapresiasi berbagai tinggalan arkeologi sebagai sesuatu yang keramat, mengandung kekuatan supranatural dan bersifat tabu .
Selanjutnya, tahapan terakhir dalam metode arkeologi adalah eksplanasi atau penulisan tentang gambaran budaya yang saling terpadu, harmonis dan logis berwujud gambaran budaya di Sumedang Selatan pada masa Sunda Kuna.

BAB II
GAMBARAN UMUM SELAREUMA,
PASIR REUNGIT
2.1 LINGKUNGAN GEOGRAFIS DAN GEOMORFOLOGI
Selareuma adalah sebuah kampung yang terletak di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang. Kampung Selareuma, Pasir Reungit, secara morfologis terletak di suatu daerah perbukitan dengan lembah sempit yang dikelilingi oleh bukit-bukit landai sampai terjal, dengan aliran Sungai Cipeles di bagian lembahnya (lihat gambar di bawah ini). Dalam gambar itu terlihat adanya pola garis ketinggian (garis kontur) yang mencerminkan bentuk permukaan (relief) bumi/tanah di daerah tersebut. Setidaknya dapat dilihat adanya garis ketinggian/kontur rapat dan berkelok di bagian selatan peta, antara lain terdapat desa/kampung Banceuy dengan ketinggian puncak 593 m di atas permukaan laut, dan 681 m di atas permukaan laut. Pada bagian barat laut peta terdapat desa/kampung Bojonggawul dan Babakan Cijeunjing dengan ketinggian 547m di atas permukaan laut, dan juga di bagian timurlaut peta. Garis ketinggian/kontur rapat dan berkelok di bagian selatan dan di bagian barat laut peta, menggambarkan kondisi alam yang sebenarnya di lapangan berupa perbukitan cukup tinggi dan terjal, yang dapat disebut sebagai daerah bermorfologi Perbukitan Terjal.


Plotting kabuyutan Pasir Reungit dan morfologi pada peta topografi
(Plotting oleh R. Abdul Latief, dan morfologi oleh Yahdi Zaim)
Sumber: Peta Topografi Bakosurtanas, tanpa tahun

Keadaan alam berikutnya diperlihatkan oleh garis ketinggian/kontur agak jarang dan berkelok yang terdapat di bagian tengah peta, dengan beberapa desa/kampung Ciwaru, Pasangrahan, Ciawi, Samoja, Cikotok dan Cilipung dengan beberapa aliran sungai, antara lain Sungai Cilipung. Garis ketinggian/kontur agak jarang dan berkelok ke daerah di bagian tengah ini menunjukkan perbukitan yang relatif landai, dengan ketinggian 546 m di atas permukaan laut dan 485 m di atas permukaan laut dapat disebut sebagai daerah dengan morfologi Perbukitan Landai, yang dalam peta ditunjukkan oleh daerah yang diberi garis-garis arsiran.
Morfologi di daerah yang juga terdapat di bagian tengah peta, merupakan daerah dengan garis ketinggian/kontur yang sangat jarang, menunjukkan daerah yang datar, terdapat desa/kampung Sindangpalay dan Warungjambu yang berada di ketinggian 475 m di atas permukaan laut. Daerah ini merupakan daerah dengan morfologi Dataran, ditunjukkan oleh lembah sempit yang datar dengan aliran Sungai Cipeles, dan terdapat jalur jalan raya utama menuju Sumedang dari arah Kota Bandung.
Secara geologis, Jawa Barat umumnya merupakan wilayah perbukitan dan pegunungan dari gunung api aktif maupun yang sudah tidak aktif. Jalur tengah Jawa Barat mulai dari Depresi Bandung ke arah timur merupakan rangkaian perbukitan dan pegunungan volkanik, dengan Gunung Tampomas dan Gunung Ciremai di bagian timur. Pada jalur selatan Jawa Barat, rangkaian perbukitan dan pegunungan volkanik mulai dari Komplek Volkanik Gunung Windu – Wayang menerus ke arah timur sampai Gunung Galunggung dan sekitarnya.
Wilayah Kabupaten Sumedang dan sekitarnya terletak di jalur tengah rangkaian perbukitan dan pegunungan volkanik. Sebagaimana uraian van Bemmelen (1934 dan 1949), Sumedang dan sekitarnya terbentuk dari hasil kegiatan volkanisme tua pada kala Plestosen dan kegiatan volkanisme muda pada Akhir Plestosen – Holosen. Silitonga (1973) yang melakukan pemetaan geologi permukaan, memasukkan Sumedang dan sekitarnya ke dalam Peta Geologi Lembar Bandung, Kuadran 9/XIII-F, sebagai berikut:
Batuan tertua yang terdapat di daerah Sumedang dan sekitarnya adalah Formasi Kaliwangu yang terdiri atas lempung biru kehijauan hasil pengendapan laut pada kala Pliosen, dalam peta berwarna hijau dengan kode Pk yang tersingkap sangat terbatas. Endapan laut Formasi Kaliwangu tersebut tertutup dan dikelilingi secara luas oleh endapan gunung api sebagai produk kegiatan volkanisme masa lampau. Van Bemmelen (1949) dan Silitonga (1973) membagi batuan produk kegiatan volkanisme tersebut menjadi batuan Volkanik Tua berumur Plestosen (Qvb,Qvl dan Qvu – warna merah tua, kuning tua dan kuning muda,di bagian selatan peta) dan produk Volkanik Muda (Qyl,Qyt dan Qyb - abu-abu muda/tua, biru muda – Komplek Tampomas; Qyu – merah muda/jingga) berumur Plestosen – Holosen. Batuan paling muda adalah Alluvial (Ql – kuning terang), yang merupakan endapan sungai sekarang ini, sebagai hasil kikisan/erosi batuan diperbukitan oleh hujan dan sungai.
Batuan Volkanik Tua berumur Plestosen terdiri atas batuan piroklastika dan epiklastika, berupa breksi volkanik, tufa/debu gunung api dan lava yang bersifat basaltis dan andesitis (Qvb,Qvl dan Qvu). Sementara itu, batuan produk Volkanik Muda juga terdiri atas breksi volkanik, tufa/debu gunung api, lahar dan lava yang bersifat basaltis (Qyl,Qyt Qyb dan Qyu).

Lokasi Pasir Reungit, Kampung Selareuma,
Desa Pasanggrahan
Sumedang

Keterangan/Legenda: Pliosen: Pk (hijau): Formasi Kaliwangu. Plestosen: Produk Volkanik Tua (Qvb,Qvl dan Qvu – warna merah tua, kuning tua dan kuning muda,di bagian selatan peta). Plestosen – Holosen: Produk Volkanik Muda (Qyl,Qyt dan Qyb - abu-abu muda/tua, biru muda – Komplek Tampomas; Qyu – merah muda/jingga). Holosen-Resen: Alluvial (Ql – kuning terang)

Peta Geologi Daerah Sumedang dan Sekitarnya
(Sumber: Silitonga, 1973)

Kampung Selareuma, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang terletak di lereng timur laut Gunung Karumbi, pada peta berikut ditunjukkan oleh tanda panah.
Lokasi Kampung Selareuma, Pasir Reungit,
Desa Pasanggrahan
Sumedang



Peta Geologi Situs Selareuma (Desa Pasanggrahan) Sumedang
Sumber: Silitonga,1973.

Dari plotting dan penglihatan tindih pada peta geologi, diketahui bahwa seluruh Kabuyutan (1 s/d 9) yang terletak di lereng timur laut Gunung Karumbi, daerah tersebut secara geologi terbentuk dari batuan lava basaltis produk kegiatan Volkanik Tua berumur Plestosen (Qvl, merah tua).
Pada Batu Nantung Selareuma, dapat diamati adanya singkapan lava bersifat basaltis dengan struktur kekar kolom (columnar joint), yang oleh penduduk setempat disebut Batu Tonggak dan diyakini batuan andesitis. Kekar kolom (columnar joint) ini sangat lazim terbentuk di daerah gunung api, yang merupakan hasil pembekuan magma yang keluar ke permukaan yang disebut lava. Bentuk kekar kolom bervariasi, segi lima, segi enam ataupun segi delapan dengan arah kolom yang dapat berdiri/tegak, miring maupun rebah, tergantung dari arah dan pola aliran lavanya. Dengan adanya kekar kolom, maka akan dapat diketahui arah aliran lava, karena arah aliran lava akan tegak lurus dengan sumbu memanjang dari kolom. Oleh penduduk, kekar kolom di Selareuma ini disebut sebagai Batu Tonggak, karena bentuk dan kedudukan kekar kolomnya yang berdiri, meski miring sekitar 60o.
Penamaan Batu Nantung (Batu Tonggak/Berdiri) di daerah ini oleh masyarakat Sumedang adalah sangat sesuai dengan keadaan alam, karena batuan itu berdiri tegak, atau Batu Tonggak memang terbentuk secara alamiah sebagai hasil pembekuan lava basaltis dipermukaan, hasil kegiatan volkanisme pada Kala Plestosen (sampai sekitar 1,5 juta tahun yang lalu).
2.2 TRADISI NASKAH
Filologi sebagai sebuah ilmu telah berkembang sangat lama. Ia mempunyai metode penyelidikan yang cukup handal dan eksak. Peneliti pada bidang ini mesti mendasarkan kepada teks suatu naskah. Salah satu tugas ahli filologi (filolog) ialah mengumpulkan naskah yang akan dipelajarinya. Segala kegiatan untuk memperoleh sebuah teks naskah yang diduga paling asli sangat penting sebab jika tidak demikian sukar sekali dilakukan analisis kritik terhadap teks itu dan ditentukan artinya dalam fenomena sejarah kebudayaan.
Apabila diperhatikan kedudukan filologi di antara ilmu-ilmu yang erat hubungannya dengan objek penelitian filologi, maka akan tampak adanya hubungan timbal-balik, saling membutuhkan . Guna kepentingan tertentu, filologi memandang yang ilmu-ilmu lain sebagai ilmu bantunya. Sebaliknya, ilmu-ilmu yang lain untuk kepentingan tertentu memandang filologi sebagai ilmu bantunya.
Dalam kesempatan ini, filologi berada dalam posisi sebagai ilmu bantu arkeologi. Kecuali kegiatan mengumpulkan naskah, mengidentifikasi, dan menyuntingnya, filolog berupaya mengungkap khazanah rukhaniah warisan nenek moyang, misalnya, sistem tata ruang, sistem kepercayaan, adat-istiadat, kesenian, dan lain-lain. Melalui pembacaan teks-teks naskah lama banyak dijumpai informasi adanya unsur budaya yang sekarang telah punah, seperti data toponimi, nama tokoh dan jabatannya, jenis peralatan, mata uang atau alat tukar, takaran, dan sebagainya.
Hal tersebut merupakan bahan yang sangat berguna dalam upaya memberi informasi bagi para arkeolog untuk menguji serta menentukan, apakah suatu lokasi merupakan situs cagar budaya? Mereka dituntut berusaha menginterpretasikan teks itu dengan memperlihatkan pikiran-pikiran yang ada di dalamnya dalam suasana sebuah sejarah kebudayaan. Bahkan lebih jauh lagi, teks sebuah naskah harus dilihat dalam lingkungan pengaruh-pengaruh yang terjadi sehingga filologi dapat memberikan landasan untuk membicarakan filsafat, terutama pandangan masyarakat yang bersifat kosmomagis, yakni pikiran-pikiran yang hidup di dalamnya.
Istilah kosmos (Yunani) berarti susunan atau ketersusunan yang baik; lawannya ialah khaos yang artinya keadaan kacau balau. Kosmologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang alam ataupun dunia. Dewasa ini, kosmologi juga dipergunakan dalam ilmu-ilmu empirik, untuk menunjukkan ilmu mengenai evolusi kosmis . Manusia pada dasarnya terikat erat pada alam semesta dan memiliki pandangan akan adanya hubungan gaib secara timbal balik antara manusia dengan alam semesta.
Pandangan tersebut tampak dalam masyarakat Sunda, sebagaimana digambarkan dalam salah satu naskah Sunda Kuno yang berjudul Sang Hyang Hayu (disingkat SHH) . Menurut teks naskah SHH, tata ruang jagat (kosmos) terbagi menjadi tiga susunan, yaitu: (1) susunan dunia bawah, saptapatala ‘tujuh neraka’, (2) buhloka adalah bumi tempat kita saat ini yang disebut madyapada; dan (3) susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu ‘tujuh sorga’. Tempat di antara saptapatala dengan saptabuana itulah yang disebut madyapada, yakni pratiwi ‘dunia tempat manusia’. Hal serupa sama dengan bagian dalam teks naskah Sunda Kuno Sanghyang Raga Dewata yang mengisahkan proses penciptaan jagat raya beserta segala isinya, hanya cara pemaparannya yang agak berbeda. Begitu pula dalam teks naskah Sunda Kuno Sri Ajnyana yang mengisahkan proses turunnya manusia ke bumi, di dalamnya dilukiskan tentang struktur kosmos.
Dengan demikian, konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis bersifat triumvirate ‘tiga serangkai, tritunggal’. Dalam tatanan tersebut, mereka berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya, yakni menyangkut keluasan atau lingkupnya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya sehingga tidak ada sesuatu pun yang dikecualikan. Ini artinya masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia.
Berkaitan dengan Selareuma Pasir Reungit, Kelurahan Pasanggarahan, Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang, secara toponimis dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Istilah selareuma secara morfologi terdiri atas dua kata, yakni sela dan reuma. Kata sela dalam bahasa Sunda artinya ‘celah atau jarak antara dua benda terpisah’, homofon dengan kata séla yang artinya ‘batu’. Kata reuma merupakan varian bentuk dari istilah huma yang artinya ‘lahan perladangan atau perkebunan’, homofon dengan kata réma artinya ‘jari-jemari atau ujung rambut’ .
Istilah sela dalam bahasa Jawa berati ‘sela, bersela, lapang, senggang’, sedangkan kata séla artinya ‘batu, kemenyan, intan, pelana, sela, ringka, ringga gajah)’ . Dalam bahasa Jawa Kuno, sela dapat diartikan ‘selang, celah, antara; sedangkan séla adalah ‘batu’ . Sementara itu, baik dalam bahasa Jawa masa kini maupun bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan kata réma juga reuma atau pun huma.
Sehubungan dengan itu, secara morfologi dapat ditemukan kata:
(1) selareuma artinya ‘celah atau jarak di antara lahan perladangan atau perkebunan’; atau sélareuma ‘batu atau bebatuan di perladangan atau perkebunan’.
(2) selaréma artinya ‘celah atau jarak antara jari-jemari atau ujung rambut’; sélaréma artinya ‘batu atau bebatuan bercelah seperti jari-jemari/ujung rambut’.
Dengan demikian, istilah selareuma, selaréma, juga selahuma merupakan bentukan kata asli dalam bahasa Sunda. Selareuma atau sélareuma identik dengan selahuma mengandung pengertian sebuah tempat ladang bebatuan yang tegak berderet bagaikan jari-jemari.
2. Istilah pasanggrahan secara morfologis terdiri atas kata dasar sanggrah yang artinya ‘menyimpan sementara (barang atau orang) sementara waktu’ mendapat gabungan awalan pa- dan akhiran –an yang berfungsi membentuk kata tempat atau lokasi. Jadi pasanggarahan artinya ‘tempat atau rumah peristirahatan sementara untuk bermalam para pejabat atau tamu penting’.
Salah satu naskah yang menyinggung-nyinggung istilah Selahuma (sebanyak 25 kali penyebutan), antara lain adalah naskah yang berjudul Serat Purusangkara, milik Museum Sri Baduga Jawa Barat, berasal dari Kuningan, berbahan kertas, beraksara Cacarakan dan berbahasa Jawa dialek Priangan . Bagian yang menyebutkan istilah Selahuma merujuk pada nama tempat atau lokasi yang bersifat mitos-legendaris, sebagaimana tampak pada kutipan terjemahannya dalam bahasa Indonesia berikut ini:
..............................................................................................................
Selesailah cerita negeri Yawastina akan diganti dengan keadaan di negeri Suralaya. Ketika itu Saghyang Girinata ditemani seluruh bidadara-bidadari. Sanghyang Naradha memanggil Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma untuk turun menjelma ke bumi. Kata Sanghyang Naradha,
“Duh Paduka Sang Jagad Yang Berkuasa, mengenai turunannya Brahma dan juga Kala itu sekarang menjadi raja di Tanah Selahuma. Merajai semua raksasa yang melindungi seluruh tempat di sana. Negerinya pasti dinamai Selahuma, sedangkan yang menjadi raja adalah Kala, dengan julukan (Hal.135) Prabu Yaksadewa. Brahma itu menjadi gada yang dibawa Prabu Yaksadewa, sedangkan yang menjadi keinginannya adalah memusnahkan semua keturunan Wisnu”.
Sanghyang Girinata bertanya kembali, “Mengapa sampai tiba-tiba hendak berbuat salah kepada sesama makhluk? Sekarang Brahma dan Kala itu sama-sama tidak patuh pada aturan saya”.
(Data lengkap dapat dilihat pada addendum) ............................................................................................................
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Selahuma mengacu pada sebuah nama tempat di bumi yang merujuk pada suatu lokasi lingkungan sebagaimana telah diuraikan di muka. Namun demikian, para penghuni tempat tersebut dapat dikategorikan sebagai mahluk dunia gaib, yakni: Saghyang Girinata, Sanghyang Naradha (penghuni Suryalaya), Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma (penghuni Suryalaya yang turun ke Selahuma). Dunia gaib itu dalam naskah SHH dapat diacukan pada alam saptabuana atau buanapitu. Ini artinya bahwa lokasi Selahuma atau Selareuma merupakan tempat yang memiliki fungsi magis dalam tatanan ruang bagi masyarakat yang tinggal di sekelilingnya.
Sanghyang Kala dalam teks naskah Bujanggamanik disebut dengan Sang Dorakala, yaitu sebagai mahluk penjaga gerbang alam saptabuana ‘kesorgaan’, simbol perjalanan spiritual seseorang ketika mulai memasuki alam niskala. Dalam hubungan ini dapat disimak sebuah gambaran proses kematian, yakni berpisahnya ruh melepas raga untuk menuju ke gerbang alam gaib. Gambaran yang dimaksud tampak dalam kutipan berikut ini:
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Awak eukeur beurat pading, Badan sedang masanya dikubur,
eukeur meujeuh ngarampésan. sedang saatnya menuju keindahan.
Lamun bulan lagu tilem, Bagaikan bulan menjelang tenggelam,
panon poé lagu surup, matahari menjelang terbenam,
beurang kasedek ku wengi, siang terdesak malam,
tutug tahun pantég hanca, tutup tahun bertemu ajal,
nu pati di walang suji, yang mati di walangsuji,
nu hilang di walang sanga, yang meninggal di walangsanga,
awak nyampay ka na balay, badan bersandar pada balay ,
mikarang hulu gegendis, kepala berbantalkan selendang,
paéh nyanghulu ka lancan. meninggal menghadap lawan.
Pati aing hanteu gering, Kematianku tanpa sakit,
hilang tanpa sangkan lara, meninggal bukan karena derita,
mecat sakéng kamoksahan. melesat menuju kebebasan.
Diri na aci wisésa, Saat kepergian sang sukma,
mangkat na sarira ageung, keluar dari raga kasar,
ngaloglog anggeus nu poroc. copot sesudah yang terakhir,
Atma mecat ti pasambung, Sukma lepas dari ikatan,
aci mecat ti na atma, ruh lepas dari sukma,
pahi masah kaleumpangan. sama-sama lepas dan pergi.
Ragaing nyurup ka petra, Ragaku lebur ke kubur,
kaliwara jadi déwa, tak ternoda jadi dewa,
pasambung nyurup ka suwung. nyambung lebur ke kehampaan.
Atmaing dalit ka lentik, Sukmaku menyatu ke kegaiban,
sarua deungeun déwata. sama seperti leluhur.
Tuluy nyorang jalan caang, Selanjutnya menempuh jalan terang,
neumu jalan gedé bongbong. menemukan jalan besar terbuka.
Unggal sampang dilamburan, Tiap persimpangan disediakan bangunan,
laun lebak dicukangan, tiap lembah dipasang jembatan,
sumaray ditatanggaan, yang curam dipasangi tangga,
maléréng dipasigaran. yang miring dibuatkan titian.
Tapak sapu bérés kénéh, Bekas sapu masih nampak jelas,
barentik marat nimurkeun. lengkungannya mengarah ke barat timur.
Golang-golang situ mungkal, Ngalir berputar telaga batu,
patali patalumbukan. saling kait bertumpukan.
Kembang patah cumaréntam, Rangkaian bunga semarak warnanya,
nambuluk apuy-apuyan, gemerlap menyala-nyala.
Tajur pinang pumarasi, Kebun pinang pumarasi,
pinang tiwi pinang ading, pinang tiwi pinang kuning,
pinang tiwi kumarasi, pinang tiwi kumarasi,
pinang ading asri kuning. pinang kuning indah kemuning.
Di tengah bantar ngajajar, Di tengah parit berjajar,
hanjuang sasipat mata, pohon hanjuang selaput mata,
handeuleum salaput hulu, pohon handeuleum setinggi bahu,
handong bang deung handong, pohon handong merah dan handong,
‘haat di janma sajagat, ‘sayang kepada manusia sejagat,
bihari basa ngahanan, dahulu ketika tinggal,
masa di madiapada’. pada saat di alam dunia?.
Rakaki Bujangga Manik Yang mulia Bujangga Manik
ngarasa manéh ditanya. menyadari dirinya ditanya.
Umun teher sia nyebut, Lalu nyembah sambil berkata,
némbalan sakayogyana, menjawab sebagaimana layaknya,
nyarék sakaangen-angen, bicara sesuai dengan nurani,
némbalan sang Dorakala: menjawab kepada Sang Dorakala:
‘Mumul mangnyarékkeun manéh, ‘Malas membicarakan diri sendiri,
sugan bener jadi bélot, kalau-kalau yang benar jadi salah,
sugan rampés jadi gopél, kalau-kalau yang baik jadi jelek,
sugan sorga jadi papa, kalau-kalau kesenangan jadi
penderitaan.
sugan pangrasa ku dapet, kalau-kalau menurutku bisa,
sugan pangrasa ku tembey, kalau-kalau menurutku sudah mulai.
Mumul misaksi na janma, Tak mau minta saksi kepada manusia,
pangeusi buana ini, penghuni wilayah ini,
janma di madiapada. manusia di dunia.
Sariwu saratus tunggal, Seribu seratus satu,
kilang sahiji mo waya, meski seorang pun takan pernah ada,
janma nu teteg di carék. manusia yang teguh akan ucapannya.
Réa nu papa naraka, Banyak yang menderita di neraka,
kilang déwata kapapas, bahkan leluhur pun terbawa-bawa,
ku ngaing dipajar rényéh, kuanggap tak ada yang bisa dipercaya,
ja daék milu ngahuru, sebab mau ikut bersekongkol,
ja daék dibaan salah, sebab suka diajak salah,
ku nu dusta jurujana. oleh pendusta yang jahat.
Kucawali hénggan hiji: Kecuali hanyalah satu:
saksiing sanghiang beurang, kesaksianku kepada siang,
saksiing sanghiang peuting, kesaksianku kepada malam,
candra wulan deungeun wéntang, bulan purnama bersama bintang,
deungeun sanghiang pratiwi. serta kepada bumi.
Itu nu ngingu mireungeuh: Itu semua yang memelihara
keperdulian:
pratiwi nu leuwih ilik, bumi yang lebih teliti,
akasa nu liwat awas, angkasa yang sangat jeli,
hidep nu nyaho di bener. pikiranlah yang mengetahui
kebenaran.
Inya nu ngingetkeun rasa, Yaitu yang mengingatkan perasaan,
itu nu ngingu na bayu, itulah yang memelihara kekuatan,
éta nu milala sabda, yakni yang memperhatikan ucapan,
inya nu mireungeuh tineung, yaitu yang perduli akan ingatan,
nu milala tuah janma, yang memperhatikan sifat manusia,
bisa di bélot di biner, mengerti tentang yang salah dan yang
benar,
nyaho di gopél di rampés. tahu tentang yang jelek dan yang baik.
Hénggan sakitu saksiing.’ Hanya demikianlah kesaksianku.’
Carék aki Dorakala: Jawab yang mulia Dorakala:
‘Samapun sanghiang atma. ‘Mohon maaf, sanghiang sukma.
Mungku aing mirebutan, Sebab aku tak akan ngambil paksa,
ja na rua mungku samar. karena dalam rupa tidak samar.
Na awak hérang ngalénggang, Kilapan wujudmu kemilau,
na rua diga déwata, dalam hal rupa mirip dewata,
kadi asra kadi manik. bagaikan mutiara dan permata.
Na awak ruum ti candu, Harum tubuhmu melebihi candu,
mahabara ti candana, semerbak melebihi wangi kayu
cendana,
amis ti kulit masui.’ manisnya lebih dari kulit masui.’
Kitu pamulu nu bener, Begitulah rupa yang sesungguhnya,
éta na kingkila sorga. itu merupakan pertanda kesorgaan.
Samapun sanghiang atma, Mohon maaf, sahnghian sukma,
rakaki Bujangga Manik, yang mulia Bujangga Manik,
leumpang sakarajeun-rajeun, silakan berjalan sekehendakmu,
sia ka na kasorgaan. keberadaanmu di alam sorga.
Samungkur aing ti inya, Lalu aku meninggalkan tempat itu,
leumpang nanjak nyangtonggohkeun, berjalan mendaki ke perbukitan,
husir kéh na taman hérang, hendak menuju ke taman indah,
dibalay ku peramata. yang ditaburi permata.
(baris 1432-1564)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Dengan demikian, lokasi Selareuma atau Selahuma tidak bisa dipisahkan dengan lokasi lain yang ada di sekitarnya. Lokasi yang dimaksud, antara lain, adalah lokasi Batukursi di Pasir Peti yang secara geografis segaris lurus mengarah ke Utara-Selatan tembus ke Gunung Tampomas. Sejajar dengan posisi lokasi Batukursi di Pasir Peti adalah Pasir Gegerhanjuang. Di Pasir Gegerhanjuang ini terdapat sebuah kuburan atau makam Sunan Guling, salah seorang penguasa di Pagulingan. Lokasi Pagulingan ini masih berada di Pasir Gegerhanjuang. Tidak jauh dari lingkungan tersebut adalah lokasi Cadasgantung .
Pagulingan ini merupakan pusat dari Sumedanglarang masa lalu. Bahkan, dalam teks naskah Carita Ratu Pakuan (Ceritera Sunda-Kuno dari Léréng Gunung Cikuray) ada bagian-bagian yang berhubungan dengan gambaran lokasi tersebut, yakni:
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .,
Gunung Cupu Bukit Tamporasih, Gunung Cupu Bukit Tamporasih,
patapaan Pwahaci Niwarti, pertapaan Pohaci Niwarti,
nu nitis ka Taambo Agung, yang menitis kepada Taambo Agung,
nu leuwih kasih, yang penuh kasih sayang,
ahis tuhan Rahmacuté, adik tuan Rahmacute,
seuweu patih Prebu Wangi anak patih Prebu Wangi
Serepong. Sira Punara Putih, Serepong. Dialah Punara Putih,
ti Sumedanglarang. dari Sumedanglarang.
(baris 21-28)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Gunung si Purnawijaya, Gunung si Purnawijaya,
lumenggang larang sorangan, terpencil suci sendiri,
di Sanghiyang keusik manik batu mirah, di Sanghiyang pasir permata batu mirah,
hanjuang di kembang homas, pohon hanjuang berbunga emas,
patapaan Raga Pwah Hérang Manik, pertapaan Raga Pwah Herang Manik,
nitis ka nu geulis Rajamantri, menitis kepada si cantik Rajamantri,
nu geulis palang ngajadi, yang cantik tiada tanding,
nu micaya sisit peuting, yang menyinari sisik kegelapan malam,
cangkang beurang kale hésé, kulit siang tanpa susah,
panonpoé miawak séda karuna, matahari menjelma suci karunia,
ahis tuhan Sunten Agung, adik tuan Sunten Agung,
sang Raja Gunung, sang Raja Gunung,
seuweuna juru labuan, putera juru pelabuhan,
dayeuhan di Pagulingan, bertempat tinggal di Pagulingan,
mangkubumi di Sumedanglarang, mangkubumi di Sumedanglarang,
ngapwahan mohéta bedas, menakjubkan luar biasa,
nu ngirutan Acidéwata. yang mempesonakan Acidewata.
Gunung Guruh Bukit Sri Prebakti, Gunung Guruh Bukit Sri Prebakti,
salaka Sanghiyang Nusa, salaka Sanghiyang Nusa,
di susuku gunung Kumbang, di kaki gunung Kumbang,
bukit si Salaka Mirah, bukit si Salaka Mirah,
mandala Sri Kapundutan, mandala Sri Kapundutan,
di Sanghiyang Salal Ading, di Sanghiyang Salal Ading,
nu mepek na bumi manik, yang berkumpul dalam bangunan permata,
patapaan Bagawat Sang Jalajala, pertapaan Bagawat Sang Jalajala,
susulan watek déwata, undangan bisikan gaib dewata,
murba ka bumi Pakuan. berkuasa ke tanah Pakuan.
(baris 60-86)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .,
Tujuh Sanghiyang Mahut Putih, Tujuh Sanghiyang Mahut Putih,
nu mungguh di handaru, yang bersemayan di halilintar,
deung Sanghiyang Linggamanik, kemudian Sanghiyang Linggamanik,
deung Sanghiyang Hindit-hinditan, dan Sanghiyang Hindit-hinditan,
nu mungguh di siki panon, yang menetap di biji mata,
deung Sanghiyang Karang Curi, kemudian Sanghiyang Batu Tegak,
nu mungguh tumpak di huntu, yang menetap tunggang pada gigi,
deung Sanghiyang Cadas Gumantung, lalu Sanghiyang Cadas Gumantung,
nu mungguh di tungtung létah, yang menetap di ujung lidah,
deung Sanghiyang Cadas Putih Gumalasar, kemudian Sanghiyang Cadas Putih Gumalasar,
nu mungguh di harigu, yang menetap di dada,
deung Sanghiyang Adong Agung, kemudian Sanghiyang Adong Agung,
sagedé munding saadi, sebesar anak kerbau sesusu,
nu mungguh di tulang tonggong, yang menetap pada tulang punggung,
deung Sanghiyang Bitung Wulung, lalu Sanghiyang bambu wulung,
patét ka langit, menjulang ke langit,
nu mungguh tumpak di siki éta, yang menetap tunggang pada biji zakar,
reujeungna ngajadi. bersamanya menjelma.
(baris 102-119)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ..

Berdasarkan kutipan teks naskah Carita Ratu Pakuan itu, tercatat nama, seperti Sumedanglarang dicatat dua kali (dalam teks lengkap dicatat 4x), Pagulingan, dan Cadasgantung ditulis dengan Cadas Gumantung di samping juga Cadas Putih Gumalasar. Di situ pun dicatat Sanghiyang Karang Curi yang artinya sama dengan Batu Tegak atau Batu Tiang. Gunung Tamporasih adalah nama lain dari Gunung Tampomas yang tercatat dalam teks naskah Kisah Bujangga Manik sebanyak tiga kali:
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Ku ngaing geus kaleumpangan, Semua itu telah kullalui,
meuntas di Cipunagara, nyeberang di sungai Cipunagara,
lurah Medang Kahiangan, daerah Medang Kahiangan,
ngalalar ka Tompo Omas, berjalan lewat Tompo Omas,
meu(n)tas aing di Cimanuk, aku nyeberang di sungai Cimanuk,
(baris 69-73)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
meuntas di Cipunagara, nyeberang di sungai Cipunagara,
lurah Medang Kahiangan, wilayah Medang Kahiangan,
ngalalar ka Tompo Omas, berjalan lewat Gunung Tompo Omas,
meuntas aing di Cimanuk, aku nyeberang di sungai Cimanuk,
(baris 716-719)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Itu ta na Tompo Omas, Itulah yang disebut Gunung Tompo Omas,
lurah Medang Kahiangan. daerah Medang Kahiangan.
Itu Tangkuban Parahu, Yang itu Gunung Tangkuban Parahu,
tanggeran na Gunung Wangi. sebagai tiang tapal batas Gunung Wangi.
(baris 1200-1203)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Apabila disimak lebih mendalam dari sudut pandang filologis melalui data-data yang tercatat dalam teks-teks naskah Sunda Kuno, yang di antaranya seperti telah dikemukakan tadi, yakni naskah: Sang Hyang Hayu, Sanghyang Raga Dewata, Kisah Sri Ajnyana, Serat Purusangkara, Carita Ratu Pakuan, Kisah Bujanggamanik, dan naskah Sunda Kuno lainnya, seperti yang akan dibicarakan kemudian, akan banyak dijumpai bukti tentang dasar kosmologis dari sistem tata ruang dan kedudukan penguasa di daerah Sumedang ini, khususnya berkenaan dengan Kampung Selareuma Pasanggrahan Sumedang Selatan.
Selareuma bukanlah sebuah tempat berdiri sendiri, tetapi tempat itu termasuk ke dalam sebuah sistem tata ruang kosmologis yang saling mempengaruhi dengan tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat-tempat di sekitarnya. Tenaga-tenaga ini mungkin bisa menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan, atau bahkan bisa berakibat kehancuran. Hal tersebut bergantung pada dapat tidaknya individu-individu atau kelompok-kelompok masyarakat, terutama sekali pemerintah, berhasil dalam menyelaraskan kehidupan dan kegiatan mereka dengan jagat raya.
2.3 FOKLOR
Sejarah kebudayaan Sunda Kuno, antara lain dapat diketahui dari pengkajian naskah, prasasti, dan tradisi lisan yang berisi tuntunan moral, kepemimpinan, pemerintahan, topografi, pandangan hidup, sistem kepercayaan, dan sebagainya. Kesemuanya itu dapat dipandang sebagai dokumen budaya yang berisi berbagai data dan informasi, ide, pikiran, pengetahuan sejarah, dan budaya dari bangsa atau kelompok sosial tertentu. Pada umumnya, dokumen budaya itu bisa mengungkapkan peristiwa masa lampau yang menyiratkan aspek kehidupan masyarakat yang meliputi sistem religi, ilmu pengetahuan, kesenian, ekonomi, sistem kemasyarakatan, sistem teknologi, bahasa, dan sebagainya. Data-data tersebut dapat memberi gambaran tentang keadaan masa lampau yang masih sangat relevan untuk dicermati dan diterapkan pada saat ini.
Dalam filsafat Sunda yang tersurat dan tersirat dalam folklor Sunda , manusia adalah makhluk yang berfikir. Pikirannya bisa merambah ke wilayah yang sangat luas dan liar. Ibarat tentakel yang menyelusup dan mencengkeram ke berbagai ranah yang bisa dijangkaunya, wilayah pemikiran lahir-batin fisik-metafisik bahkan dunia-akhirat. Tataran wawasan spiritual-metafisik ini adalah mandala. Dalam folklor Sunda dikenal dengan terminologi Sapta Mandala Panta-panta ‘Tujuh Wilayah Sakral Berjenjang’.
Capaian yang terangankan dalam geliat spiritual tulisan ini adalah kontribusi Kasundaan bagi terwujudnya masyarakat kesejagatan yang madani-mardhotillah. Ini sangat berkelindan erat dengan kemampuan memaknai dan mengaplikasikan kandungan nilai-nilai kearifan Budaya Sunda yang terkandung dalam folklor. Pada gilirannya kandungan esoterik nilai-nilai filosofinya bisa diimplementasikan dan diaktualisasikan dalam hidup keseharian secara individual maupun sosio-komunal masyarakat lokal-nasional maupun global-internasional
Dalam wilayah pemikiran filsafat dengan konsentrasi khusus wilayah pemikiran filsafat teologis-kosmologis, bisa beranjak dari penelaahan mengenai segala sesuatu yang terkandung dalam mitos . Berbincang tentang mitos, mau tidak mau kita akan memasuki ranah yang berkaitan erat dengan legenda, cerita, dongeng, nyanyian rakyat, yang kesemuanya itu termasuk kelompok folklor serta seluruh aspek budaya lainnya sebagai alat perekam peradaban masyarakatnya.
Van Peursen mengatakan bahwa mitos adalah sebuah cerita (lisan) yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Inti dari mitos adalah lambang-lambang yang menginformasikan pengalaman manusia di masa lalu tentang kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan proses katarsisnya.
Sementara itu, Rene Wellek & Austin Warren (1989) menyebutnya sebagai cerita anonim mengenai penjelasan tentang asal mula sesuatu, nasib manusia, tingkah laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral bagi masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.
Mengacu kepada pendapat tersebut, ternyata dunia mitos sangat kaya akan nilai-nilai kemanusiaan yang holistik. Kita dibuat terkagum-kagum ketika menyimak kepiawaian para bujangga/empu di masa lampau yang mampu menata nilai-nilai kearifan dan etika hidup, dikemas dalam cerita lisan yang sangat memikat hati. Tidak eksplisit literer namun implisit penuh makna.
Betapa pentingnya ilmu tentang nilai-nilai kearifan lokal ini juga disampaikan A. Chaedar Alwasilah, dkk. bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan menduduki tempat sentral dalam proses pembangunan. Sebagian besar penyimpangan dalam pembangunan terjadi karena pengabaian terhadap ilmu kemanusiaan .
Dengan demikan, kaidah tadi bisa dijadikan acuan bahwa spiritual adalah suatu keadaan yang dinamis, bergerak dari satu capaian ke capaian lainnya; dari satu perasaan ke perasaan lainnya, dari satu maqomat ke maqomat lainnya, dari satu terminat ke terminat lainnya dan dari satu konsentrat ke konsentrat lainnya. Dalam bahasa Sunda gerak dinamis ini bisa diwakili dengan idiomatika pindah cai, pindah tampian ‘Pindah alur pindah pula tepian’ dan Nété tarajé nincak hambalan ‘Naik tangga berundak-undak’ disebut pula sebagai Sapta mandala panta-panta ‘tujuh wilayah sakral berjenjang’; dikatakan pula sebagai Metu lawang manjing lawang ‘Ke luar dari satu pintu (spiritual)’.
Mengapa harus melalui dunia folklor Sunda? Sebab dunia folklor merupakan rekaman dan endapan seluruh keberadaan manusia dalam hidupnya, baik yang fisik maupun meta-fisik, yang lahir maupun batin, direkam dalam bentuk folklor lisan, tulisan dan artefak budaya lainnya. Dalam kajian antropologi sering dipilah menjadi konsep folkway, folktale, folklor.
Upaya mengkaji kandungan nilai yang terdapat dalam dunia folklor Sunda, perlu disertai dengan kualitas berfikir dan berasa yang lantip dan surti, wawuh ka semuna, apal ka basana, rancagé haté – rancingas rasa, yaitu mampu membaca dan memaknai yang tersurat dan tersirat. Dalam dunia pewayangan ilmu hermeunetika atau semiotika. dikenal dengan istilah PANCACURIGA (5 S = silib, sindir, simbul, suluk/siloka dan sasmita); sebab hanya dengan Pancacuriga ini sajalah kita berkemungkinan dapat memasuki gerbang dunia meta-fisika agar Metu lawang manjing lawang dan akhirnya sampai di titik akhir yang juga titik awal.
Kegiatan manusia tidak terlepas dari kemampuan untuk menafsirkan terhadap apa pun yang dialaminya. Hasilnya adalah didapatkannya arti dan makna dari yang ditafsirkannya. Arti adalah hubungan antara sesuatu dengan yang melingkunginya, hubungan teks dengan konteks. Adapun makna adalah hubungan arti dengan nilai esensial yang dikandungnya .
Kemampuan mengartikan dan memaknai sesuatu, dalam budaya Sunda disebut dengan kemampuan memanfaatkan Pancacuriga (lima senjata/ilmu), yaitu kemampuan untuk menafsirkan secara:
a. SILIB, yaitu memaknai sesuatu yang dikatakan tidak langsung tetapi dikiaskan pada hal lain (allude);
b. SINDIR, yaitu penggunaan susunan kalimat yang berbeda (allusion);
c. SIMBUL, yaitu penggunaan dalam bentuk lambang (symbol, icon, heraldica);
d. SULUK/SILOKA, adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (aphorisma) dan
e. SASMITA, adalah berkaitan dengan suasana dan perasaan hati (deep aphorisma).
Kaidah yang digunakan untuk melakukan analisis, adalah dengan memanfaatkan kajian:
a. leksikografi (cara menuliskan kata),
b. etimologi (tentang asal-usul kata),
c. semantik (tentang arti kata),
d. semiotika (tentang arti lambang) dan
e. hermeuneutika (tentang tafsir mak’na dan memaknai).
untuk menarik tafsir dan makna yang dikandung dalam beberapa carita pantun dan legenda dengan segala aspek yang menyertainya.
Pengamatan selama menggeluti dunia folklor Sunda diketahui bahwa ada keterkaitan erat antara yang tampak indrawi (fisik, wujud lahir) dengan yang transenden (metafisika, wujud batin). Urang Sunda bilang lir peueut reujeung amisna ‘seperti gula dengan rasa manisnya’ atau kawas lauk jeung kulahna ‘seperti ikan dengan kolamnya’, tidak terpisahkan.
Keterkaitan antara yang substansi dengan yang esensi terdapat 7 tahap wawasan berjenjang, dimulai dari pemaknaan yang berwawasan Naturalis  Naturalis Eksploitasi  Naturalis Eksplorasi  Naturalis Fungsionalis  Naturalis Mitis  Naturalis Spiritualis/Transendental  Naturalis Religius.
Penjelasannya seperti berikut:
1. Naturalis, terjalinnya hubungan manusia dengan alam dan lingkungan hidup seperti apa adanya saja, tanpa koneksitas yang terencana, sangat alami.
2. Naturalis Eksploitasi, berorientasi memanfaatkan alam untuk keuntungan materi yang sebesar-besarnya. Alam hanya ditempatkan sebagai obyek untuk memenuhi keserakahan manusia yang sering tanpa batas. Ini mengakibatkan kerusakan alam yang dahsyat disebabkan kerakusan serta kekejaman manusia. Punahnya species biota, hancurnya keseimbangan alam, pemanasan global (global warming) dan perusakan lapisan ozon, menjadi salah satu penandanya.
3. Naturalis Eksplorasi, pemanfaatan sumber daya alam melalui kualitas penelitian lebih dulu, sehingga tidak semena-mena dalam meperlakukan alam.
4. Naturalis Fungsionalis, pemanfaatan sumber daya alam dengan sangat memperhitungkan fungsi kelestariannya. Walau demikian belum dikaitkan dengan fungsi alam sebagai kekuatan yang bernuansakan spiritual.
5. Naturalis Mitis, tumbuhnya kesadaran bahwa ada koneksitas dengan sesuatu energi atau kekuatan yang tidak tampak. Masih sangat bersifat mitos. Sejalan dengan pola mitos dari van Peursen.
6. Naturalis Spiritualis/Transendenta, pemahaman bahwa ada saling ketergantungan antara manusia dengan alam. Tumbuhnya kesadaran ekosistem berdasarkan keterhubungan sinergi antar energi metafisik-spiritual di dunia transendental. Ini sejalan dengan konsep ontologis van Peursen.
7. Naturalis Religius, tumbuhnya kesadaran optimal adanya rangkaian perjalanan spiritual dari yang wujud lahir (terminat-terminat, penulis artikan sebagai kualitas kemampuan yang bersifat fisik) maupun wujud batin (adanya maqomat-maqomat, yaitu kualitas keimanan-ketaqwaan) menuju ke alam ghaib (adanya konsentrat-konsentrat di alam ruhi) dan yang ghaibul-ghaib (wallohu alam bish showwab). Jadi Naturalis Religius adalah kesadaran dalam diri manusia bahwa seluruh alam ini pun dengan spiritualnya sendiri terus mengalir menuju ke satu titik lahir yang juga merupakan titik awal. Kesadaran religiositas yang final holistik (Q.S 22/18).
Seperti itulah struktur kesadaran spiritual manusia, dalam keberadaannya di tengah yang alami (natuur). Budaya Sunda mengenal adanya 7 jenjang penahapan alam Transendental/Spiritual ini. Dalam sastra Sunda klasik sering diajarkan bahwa perjalanan spiritual manusia di alam kehidupan ini akan melalui Sapta Mandala Panta-panta ‘Tujuh Wilayah Sakral Berjenjang’.
Salah satu sebab yang memungkinkan Urang Sunda memahami keterpaduan yang tak terpisahkan antara yang tampak lahir dan tampak batin ini karena adanya keyakinan bahwa dirinya (wujud lahir mikro) berkorelasi dan berkoneksitas erat dengan alam dunia/jagat raya (wujud lahir makro). Adapun jembatan yang mempertemukannya yaitu kesadaran adanya alam metafisik (keadaan yang memungkinkan berkoneksitasnya wujud batin mikro dengan wujud batin makro).
Tentu saja dalam perjalanan untuk memasuki gerbang alam meta-fisik, setiap orang akan melalui bermacam proses yang sifatnya sangat pribadi (individual). Masalahnya yaitu seberapa kuat semangat dan kemampuan setiap individu untuk mengatasi berbagai macam godaan ragawi maupun kenikmatan duniawi, agar tidak terjebak dalam “kebenaran” yang sesaat. Misalnya, timbulnya kegamangan hati kalau-kalau terjebak dalam perilaku pabid’ahan – bid’ah dholallah, mengultuskan sesuatu yang berasal dari dunia meta-fisik. Untuk menyiasatinya tidak ayal lagi adalah teguhnya prinsip keyakinan dan kreatifitas yang berbasis aqidah religiositas yang murni.
Premis tentang adanya kesadaran keterpaduan antara alam mikro-makro ini bisa ditemukan hampir dalam seluruh aspek folklor Sunda, misalnya dalam folklor lisan atau folktale berikut ini:
1. Carita Pantun: a) Yang bersifat vertikal semisal: Sanghyang Lutung Kasarung (SLK) Mundinglaya Di Kusumah (MDK), b) Bersifat linear: Jaka Susuru, Amongsari Lembusari, dsb.
2. Legenda: sasakala Gunung Tangkubanparahu dll.
3. Uga : Uga Siliwangi, Uga Lebak Cawéné, Uga Bandung, dsb.
4. Cacandran : Bandung heurin ku tangtung. Sukapura ngadaun ngora dsb.
5. Paribasa : Bihari ngancik di kiwari, seja ayeuna sampeureun jaga. Ulah heureut ku sateukteuk. Sunda sadu santa budi. dsb.
6. Babasan : Cageur, bageur, bener, pinter, singer, teger, pangger, wanter, cangker. Kudu anggeus lain enggeus, dsb.
Dalam hubungan dengan uraian tersebut, pada kesempatan ini dilakukan penelusuran di beberapa lokasi, yang antara lain yaitu di Pasirpeti, Pasir Ciguling, dan Cikondang diurai sebagai berikut:
1. Batu Pangcalikan

Batu Pangcalikan terdapat di Kampung Pasirpeti sekarang Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan. Batu Pangcalikan dikelilingi oleh pohon cebreng dan pohon kaliandra. Menurut masyarakat batu ini berfungsi sebagai tempat istirahat. Karena di sekitarnya disimpan sesajen, maka diperkirakan tempat ini masih dianggap keramat dan biasa digunakan untuk sekedar ‘bersemedi’ atau ‘pemujaan’ bagi mereka yang masih mempercayainya.
2. Geger Hanjuang

Menurut bapak kuncen bernama bernama Ayat Wahidin (68 tahun), Eyang Raja Mukti (Prabu Sunan Guling) pada tahun 1958 bernama Sukma Langgeng (rangkepan di alam Sukma) tahun 1968 bernama Juhad Jahid. Doa yang dibaca di depan makam:
Bul kukus terusing bapa,
terus tingal terus rasa,
mangka cunduk ka nu jauh,
mangka datang kanu anggang,
mangka tepi kanu buni,
ka jungjunan urang sadaya,
ka kangjeng Nabi Muhammad SAW.
ka Alloh ka Rosululoh….

Wali nu aya di urang nya eta liang-liang nu 9 di diri urang, ka 10 tunggal (fisik lahir bathin). Kuncen seumur hidup melaksanakan puasa tiap Senin dan Kamis. Ketika sedang Saum hari Senin, dzikir yang dibacanya adalah:
Ya rohmanu 40 x,80 x atau 800x.
(Puasa hari Kamis dzikir membaca subhanalloh 400x).

Di depan batu Prabu Sunan Guling, uncen menurutnya pernah mengalami pengalaman yang mengagumkan, yaitu melihat keraton yang sangat indah melalui mata rohani dan ada suara tanpa katingalan ‘tidak kelihatan’ memberikan petuah sebagai berikut:
Ka sasama kudu mibaraya
ka saluhureun kudu midulur
ka kolot kudu mikolot
ka budak kudu mianak

Di daerah kabuyutan tersebut ada pohon campaka tanjungtulus yang sejak tahun 1926 telah tumbuh di sana. Di daerah kabuyutan batu Eyang Raja Mukti, kuncen selalu menyimpan sesajen dan kemenyan. Sesajen itu terdiri atas: teh pait, teh manis, gula kawung, surutu, beuleum cau kapas, ketan ditumpangan dengdeng (deeng). Menurut kuncen pula, untuk berhubungan dengan alam gaib, tidak mungkin sampai apabila menggunakan kertas sebagai surat, tetapi harus melalui asap kemenyan yang telah diisi dengan doa atau jangjawokan. Ada sebuah mantra yang menurutnya merupakan bahasa malakut, yakni: mahalap ya iko nenen nenenen (Beliau tidak menjelaskan apa arti sebenarnya).
3. Cadas Gantung

Berdasarkan masyarakat setempat, Cadas Gantung dalam posisi ketinggian sehingga dapat melihat keadaan ke sekelilingnya. Dengan demikian, Cadas Gantung berfungsi sebagai menara tempat mengintai, memantau situasi dan kondisi keadaan di sekitar keraton (zaman dahulu) apabila ada musuh yang hendak menyerang.
4. Batu Jangkung Cikondang Pasanggrahan

Menurut Bapak Tatang (65 tahun) sesepuh masyarakat setempat, batu jangkung tersebut tingginya lebih dari 1 meter, merupakan tongkat karuhun dan menjadi batas antara masyarakat Sindangpalay dan masyarakat Cilupun ketika terjadi pertentangan. Menurut masyarakat setempat, batu tersebut asalnya ada dua sebagai batas gerbang, namun batu yang satu lagi ada yang memotongnya. Orang yang memotong batu kabuyutan itu tidak lama kemudian meninggal. Berdasarkan cerita Pak Tatang, di Gunung Gadung, ada batu berisi kaki orok ‘bayi’ sebelah kiri, dan kaki sebelah kanan berada pada batu di Dayeuhluhur/Gagakjalu. Konon menurut cerita, bayi tersebut ngapung ‘melayang dan hilang’ (ngahiyang). Menurut Bapa Tatang pula, masyarakat ini walalupun beragama Islam masih melaksanakan budaya leluhurnya dengan memberikan sesajen, untuk menghargai leluhurnya dan alam yang telah memberikan segalanya bagi manusia dan rasa hormat kepada Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT yang Maha Agung dan Maha Bijaksana.
Berdasarkan penelitian di lapangan, yang dapat dilihat dan didengar melalui wawancara serta melihat tingkah laku kuncen dan masyarakatnya yang masih menyediakan sesajen di sekitar batu yang dianggap ada hubungannya dengan nilai-nilai sejarah budaya leluhur, batu tersebut dianggap sakral. Maka tak heranlah apabila batu kabuyutan tersebut ada penunggunya yang disebut kuncen ‘juru kunci’.
2.4 TINGGALAN ARKEOLOGI
2.4.1 PEMERIAN
Pasir Reungit secara geografis berdasarkan hasil pengukuran alat GPS merk Garmin 12 CX, berada pada koordinat 06° 51’ 43” Lintang Selatan dan 107° 53’ 59,9” Bujur Timur, dan terletak pada ketinggian 525 m di atas permukaan laut. Pasir Reungit berada di lingkungan perbukitan Sumedang Selatan yang terdiri dari Pasir Nangtung, Pasir Konci, Pasir Peti, Pasir Ciguling, Pasir Palasari dan Gunung Palasari.

Lahan di mana terdapat balok-balok batu merupakan bagian dari wilayah Pasir Reungit yang dimiliki oleh beberapa warga. Salah satunya adalah keluarga Bapak Juned. Semenjak tahun 1954, tanah ini telah digali demi memperoleh batu-batu koral yang terkandung di dalamnya untuk berbagai keperluan. Pada awal tahun 2003, ketika penduduk setempat melakukan penggalian untuk mendapatkan batu-batu koral, ditemukan adanya jajaran batu-batu tegak yang menyerupai balok batu dalam jumlah yang cukup besar dalam berbagai ukuran. Kemudian, balok-balok batu itu dimanfaatkan untuk berbagai keperluan sampai akhirnya lahan ini menjadi lahan penggalian CV. Stone House. Lahan bukit yang telah ditampakkan oleh CV. Stone-House sekitar 50 %. Beberapa di antaranya terbaring di bagian bawah bukit pada halaman rumah milik Ibu Ade Rahmawati (30 tahun), satu-satunya bangunan rumah yang berada di lereng Pasir Reungit. Sebagian besar dari bebatuan itu masih berada pada tempatnya (intax sesuai matrixnya). Beberapa batu yang ditemukan sebelum menjadi lahan tambang, banyak yang digunakan sebgai bahan bangunan rumah dan untuk menyanggah tebing sungai (Cipeles).
Pemanfaatan batu-batu tonggak baik oleh perusahaan maupun masyarakat setempat, disebabkan karena jenis batu itu sangat keras, tidak mudah retak meskipun dibanting dan dijatuhkan dengan keras. Namun belakangan Perusahaan CV. Stone-House menggunakan mesin berat dan besar yaitu Buldozer yang kini masih terparkir di halaman rumah penduduk.
Pada bagian lereng bawah Pasir Reungit (dibawah susunan balok batu) masih terhampar kerakal andesit dan kericak yang sebagian masih tersusun rapih seperti lantai dan sebagian lagi terserak bercampur kerikil (kericak). Dibalik dinding susunan batu tonggak ditemukan tatanan batu lainnya seperti “susunan kue lapis” yang mengisi bagian dalam Pasir Reungit. Lahan paling atas tatanan batu tertutup tanah dengan partikel padat sekitar 50 cm dari batas tatanan batu, diikuti hamparan pasir pada bagian permukaan. Pada bagian selatan kawasan Pasir Reungit kurang lebih 1-1.5 km mengalir Sungai Cipeles, yang alirannya mengalir ke arah timur-barat dan bermuara di Sungai Cimanuk.
Di antara dinding ruas jalan (Sumedang – Bandung) dan Sungai Cipeles terdapat sungai irigasi yang sekaligus menjadi batas lahan Pasir Reungit. Pada lahan ini ditemukan lubang terowongan (diameter terowongan 80-100 cm). Kendati besaran ukurannya cukup untuk dimasuki manusia, namun keadaannya kini telah terisi tanah dan bahkan kerap berisi air dan dihuni binatang (sero) sehingga sulit untuk diamati. Hasil pengamatan secara menyeluruh menunjukkan bahwa Pasir Reungit merupakan:
-- Lahan terbuka yang masih intax terlekat pada matrixnya
-- Mengandung sumberdaya alam sangat potensial berupa balok-balok batu, kerakal dan kerikil dalam jumlah banyak, serta mengandung pasir dan tanah
-- Pasir Reungit terletak di lingkungan pegunungan atau perbukitan dalam jajaran pegunungan Dataran Tinggi Parahiyangan.
-- Terdapat sungai besar Cipeles yang bermuara ke Sungai Cimanuk.
Dari keterangan Aki Jenar diketahui bahwa dahulu balok-balok batu itu berdiri berjajar dengan berbagai ukuran menyambung sampai ke perkampungan di sekitar Sungai Cipeles. Batu-batu ini kadang dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk menyanggah tebing atau kali/sungai. Disamping itu, pada tatanan bawah bukit sebelah kiri mulai dari batas jalan raya, terdapat jalan (undak-undakan/tangga batu) yang berkelok-kelok menuju ke puncak Pasir Reungit, dan “makam”, serta batu berbentuk perahu yang sekarang sudah dijual ke Korea. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, dulu di daerah Nangtung (seberang Selareuma) terdapat Batu Jaga (setinggi 17 m ?) yang fungsinya untuk menjaga Selareuma. Sekarang batunya sudah hancur digunakan tatapakan rumah panggung di Samoja. Selain itu, terdapat juga tiga arca yang telah hancur dibom oleh Belanda ketika perang kemerdekaan. Ketika itu, kawasan Ciguling menjadi basis perjuangan kaum pribumi.
Berikut sketsa rekonstruksi lahan Pasir Reungit sebelum ditambang, berdasarkan keterangan masyarakat setempat:

Sketsa rekonstruksi lahan Pasir Reungit, diubah dari sketsa gambar Bapak Rohman dan staf kepolisian sesuai dengan kebutuhan penelitian oleh W.I. Puar.

Dengan demikian, Pasir Reungit merupakan lingkungan dengan kandungan bebatuan, tanah, air dan tetumbuhan sebagai sumber daya alam yang dibutuhkan oleh manusia demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia sebagai makhluk historis memanfaatkan sumber daya alam tersebut untuk tinggal dalam lingkungan dengan seluruh kandungan sumber daya alam itu sebagaimana adanya sekarang.
Pertanyaannya, bagaimana situasi dan kondisi pemanfaatan lahan Pasir Reungit dan keberadaanya, dalam tatanan ruang budaya Sumedang (Larang) sejak awal keberadaannya hingga sekarang? Hal itu tentunya tidak terlepas dari segi historis masyarakat Sumedang dalam dimensi ruang dan waktu yang saling berkesinambungan (continuity). Proses perjalanan waktu tersebut merupakan difusi sejarah yang terjadi pada bentang ruang melalui periode yang cukup panjang. Dalam pengertian ruang inilah secara dimensional Pasir Reungit berada pada satuan wilayah administratif Kabupaten Sumedang (Larang), sehingga tidak bisa terlepas keberadaannya dalam bentang ruang sejarah budaya Tatar Sunda yang kini lebih dikenal dengan sebutan Provinsi Jawa Barat dan Banten.
Berangkat dari hal itu, oleh karena kondisi lahan Pasir Reungit sudah sangat acak, dipandang perlu untuk melihat lahan lain di sekitar Pasir Reungit dilihat dari bentang alam Sumedang Selatan. Beberapa lahan yang diteliti pada hari Minggu, 6 Desember 2009 adalah kawasan Pasir Peti, Pasir Ciguling dan Cikondang.
1. Kawasan Pasir Peti

Di kawasan Pasir Peti terdapat tinggalan berupa Kabuyutan Batu-batu Pangcalikan yang terletak di bentang alam Cadas Gantung dan di puncak Pasir Peti. Tinggalan ini terletak di Dusun Pasir Peti, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan.

Batu-batu Pangcalikan di kawasan Cadas Gantung terdapat pada sebuah dataran di salah satu puncak bukit di kawasan perbukitan Pasir Peti.

Bentang alam Cadas Gantung
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009

Batu Pangcalikan I, sekarang berada di bawah naungan bekas bangunan tanpa atap. Bangunan tersebut dibangun kira-kira tahun 2000 oleh sebuah organisasi (LSM) yang menamakan diri Sumedang Larang. LSM ini sering mengadakan ritual tertentu sehingga masyarakat merasa terganggu dan akhirnya pada tahun 2007 warga menghancurkan bangunan itu.
Batu pangcalikan I berupa batu datar yang menghadap ke arah utara (Gunung Tampomas). Pada saat menelusuri arah hadap dengan panduan kompas, berulangkali kompas bergeser sekitar 60° jika kompas diletakkan di atas batu. Jika kompas diletakkan di tempat lain selain batu itu, kompas menghadap ke arah utara. Belum dapat dipastikan mengapa hal itu bisa terjadi. Bisa jadi, batu tersebut mengandung magnit yang dapat bereaksi dengan bahan dasar kompas.

Batu Pangcalikan Cadas Gantung
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
Selain itu, terdapat juga Batu Pangcalikan II, yang berada di bagian atas bukit, berupa batu datar yang kini kondisinya sudah pecah-pecah. Batu Pangcalikan itu juga menghadap ke arah utara (Gunung Tampomas), dan masyarakat setempat percaya bahwa tempat itu merupakan tempat bertapa Prabu Siliwangi.

Batu Pangcalikan Cadas Gantung
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
Batu Pangcalikan III terdapat di puncak Pasir Peti, berupa tiga batu datar dengan berbagai bentuk dan ukuran (lihat gambar dan foto di bawah ini). Batu pangcalikan yang terletak di tengah berbentuk trapesium, dengan ujung lancip dan mengarah ke utara (Gunung Tampomas).

Digambar oleh W.I. Puar, 7 Desember 2009

Batu Pangcalikan Pasir Peti
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
Menurut kepercayaan setempat, Batu Pangcalikan merupakan salah satu sarana ritual pada saat penobatan raja-raja.


2. Kawasan Pasir CiGuling

Kawasan Pasir Ciguling terletak di Dusun Ciguling, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan. Di kawasan ini terdapat lahan yang menurut tutur masyarakat setempat merupakan pusat pemerintahan Sumedanglarang ketika Raja Gajah Agung pindah dari Citembong Girang (Darmaraja).
Bila direkonstruksi dari tutur masyarakat setempat, di bagian bukit di sebuah lahan datar terdapat hunian masyarakat dengan ditemukannya fragmen keramik baik porselen maupun tembikar, dan batu gandik (Lihat foto lampiran). Pada bagian punggung bukit terdapat benteng (Ciguling I) yang dipercaya sebagai benteng keraton berupa susunan batuan cadas dan andesit.


Foto Dinding batas (benteng) dan salah satu batu tegak di Pasir Ciguling
Sumber: R. Abdul Latief, 2009
Bila dilihat lebih jauh, arah hadap “keraton” Gajah Agung ini menghadap ke arah utara mengarah ke Gunung Tampomas. Dalam areal itu juga ditemukan salah satu batu tegak yang dipercaya sebagai makam Sunan Guling. Kabuyutan Ciguling I terletak di Dusun Ciguling, Rt 05/08 Kel Pasangrahan, Kecamatan Sumedang Selatan
Selain itu, ditemukan beberapa susunan batu (Ciguling II), yang disebut sebagai Kabuyutan Geger Hanjuang, terletak di Dusun Ciguling, Rt 03/05 Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan.

Serakan batu dan susunan batu di Pasir Ciguling,
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
Serakan batuan ini dipercaya sebagai “Makam” Ratu Purbakawasa, istri dari Sunan Guling, yang disebut masyarakat setempat sebagai Prabu Rajamukti, dan “Makam” penjaga Ratu Purbakawasa.

Perjalanan menuju “petilasan” Sunan Guling dan rumah Kuncen
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
Pada bagian puncak bukit terdapat bangunan Punden berundak yang dipercaya sebagai “makam” (Petilasan) Sunan Guling. Secara umum, bangunan ini berada di puncak bukit Pasir Ciguling.
Lahan yang dikeramatkan itu terdiri dari susunan batuan sebagaimana gambar dan foto di bawah ini:

Denah Keletakan Petilasan Sunan Guling, Pasir Ciguling
Digambar oleh W.I. Puar, 7 Desember 2009

Untuk masuk ke areal tersebut, di sebelah baratdaya terdapat susunan anak tangga dari batu kali. Pada sebelah kiri tangga, terdapat dua susunan batu berbentuk empatpersegipanjang yang saling berdampingan dengan jarak lebih kurang 40 cm. Susunan batuan itu dipercaya sebagai “Makam” Uyut Lem dan Uyut Anih. Penjaga I dan ke II kabuyutan tersebut.

Makam Uyut Lem, dan Uyut Anih
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
Di sebelah kanan tangga terdapat kelompok batu yang salah satu di antaranya (batu terbesar dengan bagian permukaan rata 60 cm (X); dan 110 cm (Y)) dipercaya sebagai “Makam” Sunan Guling. Sampai saat ini makam tersebut masih diziarahi oleh masyarakat Sumedang dan sekitarnya, serta masyarakat yang datang dari berbagai kota seperti Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Di sekitar lahan ini sekarang digunakan sebagai pemakaman umum.


Petilasan Sunan Guling
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
Pada dataran sebelah bawah, ke arah barat kira-kira 40 m dari punden, terdapat lahan yang dipercaya sebagai lokasi sumur tujuh. Lahan itu saat ini dipenuhi semak belukar sejak sumur-sumur itu ditutup. Menurut wakil kuncen Kabuyutan Geger Hanjuang (Jana, umur sekitar 40 an), pada areal tersebut pernah ditemukan beberapa sumur. Namun ketika lahan itu dijadikan padang gembala, dan gembala milik penduduk setempat terperosok ke dalam sumur untuk kemudian mati, warga menutup sumur tersebut karena alasan keamanan. Penduduk yang memanfaatkan lahan itu sebagai ladang, seringkali menemukan pecahan keramik (porselin dan tembikar). Sementara itu, di sebelah timur kabuyutan ini terdapat mata air yang disebut Cikahuripan.

Lahan yang diduga terdapat sumur tujuh
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
3. Batu Lingga/Menhir Jangkung Cikondang

Tinggalan lain yang dikeramatkan oleh penduduk setempat adalah batu tegak yang dinamakan Batu Lingga/Menhir Jangkung, terletak di Dusun Cikondang Rt 001, Kelurahan Pasangrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan, tidak jauh (sekitar 400 m) dari jalan raya Sumedang - Bandung. Batu tegak itu menurut nara sumber (Prof. Dr. Ir. Yahdi Zaim), secara geologis termasuk jenis lava basaltis dengan struktur kekar kolom (Columnar joint). Batu itu berdiri di tepi jalan Desa Cikondang dengan kemiringan sekitar 30°. Menurut keterangan Bapak Tatang (65 Tahun), batu itu dulunya ada dua batu yang berdiri berjajar. Namun pada saat salah seorang penduduk setempat membangun rumah, salah satu batu tegak itu diambil untuk tatapakan rumah. Tidak lama sesudah itu, warga tersebut meninggal.
Batu tegak yang tersisa memiliki tinggi 175 cm dengan lingkaran bawah (60 cm dari permukaan) 250 cm; dan lingkaran atas (150 cm dari permukaan tanah) 210 cm. Bagian ujung berbentuk elips berdiameter 41 cm. Pada dasarnya batu ini tegak lurus, namun karena berada di lahan miring batu itu terlihat condong sehingga sudut batu dengan permukaan tanah sekitar 75° - 80°.

Batu Tegak di Desa Cikondang
Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2009
Kabuyutan lain yang terletak di sekitar Pasir Reungit adalah Kabuyutan Bagus Suren yang terletak di Desa Girimukti dan Kabuyutan Sanghyang Kolak di Gunung Palasari. Penelitian tidak sampai di kedua kabuyutan ini. Bentuk kabuyutan itu dapat dilihat pada foto di bawah ini:

Kabuyutan Bagus Suren
Sumber: Dokumetasi R. Abdul Latief, 2009


Kabuyutan Sanghyang Kolak
Sumber: Dokumetasi R. Abdul Latief, 2009

2.4.2 PENATAAN RUANG
Pengkajian atas dimensi ruang (spatial) terhadap benda dan situs-situsnya dalam lingkup lebih luas amat mungkin dilakukan sebagai dasar pengkajian dimensi lainnya, yaitu bentuk (formal) maupun dimensi waktu (temporal). Luas dalam artian sebagai sebuah kajian yang lebih menekankan dimensi keruangan dibanding kajian persebaran data arkeologi dalam sebuah situs maupun bentuk data dan kronologi data itu sendiri, yang selama ini dikenal sebagai kajian regional. Upaya ini sejalan dengan perkembangan arkeologi di Indonesia dalam tahun-tahun terakhir, maupun di negara-negara lain yang perkembangan arkeologinya telah lebih dahulu. Di Amerika Serikat misalnya, kajian semacam ini telah lama menjadi dasar pengolahan data arkeologi Amerika yang menitikberatkan pada ruang (spatial) tempat ditemukannya data arkeologi. Oleh Clarke upaya penelitian semacam itu berdasarkan nilai pengukur (parameter) yang diajukannya, digolongkan sebagai arkeologi-ruang (spatial archaeology). Kajian tersebut menitikberatkan pada sebaran (distribution) dan hubungan (relationship) keruangan (lokasional) antar artefak (artifact) dengan unsur lainnya, yaitu struktur atau fitur (feature), situs (site), dan unsur lingkungan fisik yang dimanfaatkan sebagai ruang sumberdaya (resource space) dalam satuan-satuan ruang mikro, semi mikro dan makro
Berpijak pada nalar-teoritik demikian, penelitian ini merupakan aplikasi berdasarkan dugaan adanya sejumlah pertimbangan pemilihan lahan atau lingkungan fisik dari manusia masa lalu untuk menempatkan kabuyutan sebagai salah satu sarana pemujaan mereka terhadap Tuhannya. Dalam hal ini pengertian lahan sejalan dengan apa yang dimaksud sumberdaya (resource space), yaitu mengacu pada sebidang permukaan bumi yang meliputi parameter-parameter geologi, endapan per¬mukaan, topografi, hidrologi, tanah, flora dan fauna. Secara keseluruhan, pengertian tersebut bertindak sebagai informasi-informasi geomorfologis yang bersentuhan langsung dengan kegiatan manusia dari masa lalu dan masa sekarang serta akan memberi pengaruh langsung pada seluruh kegiatan manusia masa datang. Informasi tersebut dapat dicerna sebagai sumber data yang dipergunakan dalam mengkaji potensi sumberdaya lahan, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Dimana secara kuantitatif informasi geologis tersebut diartikan sebagai luas lahan serta sediaan (agihan) sumberdaya lahan, dan dalam hal kualitatif diartikan sebagai kemampuan lahan untuk peruntukkan tertentu.

Melihat keadaan alam dan lingkungan Kampung Selareuma, Desa Pasanggrahan dan sekitarnya, berdasarkan foto udara (BPN, 2001), peta topografi, dan peta geologi, ternyata kabuyutan 2-6 yaitu Kabuyutan Menhir Jangkung di Ci-kon¬dang, Batu Kursi, Geger Hanjuang, dan Cadas Gantung di Pasir Peti, serta “Kera¬ton Raja Gajah Agung”, patilasan Sunan Guling di Ciguling, berada di daerah ber¬mor¬¬fologi Perbukitan Landai. Kabuyutan 1, 7, 8 yaitu Sanghyang Kolak di Gunung Palasari, “Makam” Prabu Pagulingan, di Dusun Nangtung, “Makam” Bagus Su¬¬ren di Desa. Girimukti, Sumedang Utara, terdapat di daerah bermorfologi Perbukitan Terjal, dan belum ada kabuyutan yang dijumpai di daerah dataran/lembah.
Dipandang dari sudut morfologi, sangat wajar kalau kabuyutan --termasuk di dalamnya hunian--, berada di kaki perbukitan dengan morfologi yang landai. Ditinjau dari aspek keamanan, bahan-bahan batuan yang berat justru tersingkap/terkupas di daerah perbukitan landai, dan akan mengalami kesulitan secara fisik untuk membawa bahan batuan yang berat jika kabuyutan dibuat di daerah dengan morfologi terjal. Kabuyutan-kabuyutan itu tidak terletak di daerah dataran/lembah, karena sangat mungkin si pembuat menghindari bencana banjir, mengingat daerah dataran merupakan lembah yang sempit dengan aliran sungai utama Singai Cipeles dengan anak-anak sungainya. Sangat mungkin ketika itu (kerap) banjir menggenangi daerah lembah dan aliran Sungai Cipeles, sehingga jika daerah dataran dan aliran Sungai Cipeles dijadikan daerah hunian, berbagai kegiatan manusia di Kabuyutan, akan bisa mendapatkan ancaman bencana banjir, banjir bandang dan longsor. Kabuyutan yang terletak di perbukitan terjal sangat mungkin merupakan kabuyutan yang bersifat Karesian, artinya memang diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin bertapa dalam upaya mendekatkan diri dengan Tuhannya.
Oleh sebab itu, jika kita pelajari seluruh kabuyutan yang ada di daerah Sumedang Selatan, maka terlihat bahwa sebagian besar kabuyutan terletak di daerah perbukitan landai, dan hanya sedikit di perbukitan terjal, dan tidak ada di daerah lembah yang datar, sehingga kalau dihubungkan dengan aspek arkeologis, kosmologis, antropologis dan lain-lain, maka sangat wajar dan menunjukkan "kehebatan para Buyut" yang telah mampu memilih lokasi. Kehidupannya yang menyatu dengan alam, membuat mereka sangat memahami aspek lingkungan dan dapat memilih daerah yang "ramah lingkungan" untuk seluruh kehidupannya, termasuk aspek ritualitasnya.


BAB III
KAJIAN DATA
3.1 PENGERTIAN KABUYUTAN
Sebagai bekas wilayah kerajaan Tarumanagara dan Sunda, tidak banyak sumber tertulis yang memberitakan masalah tempat-tempat yang disucikan masyarakat. Sejumlah prasasti dan karya Sunda kuna, menyebutkan tempat-tempat suci di Tatar Sunda dengan nama kabuyutan, lemah dewasasana, kawikwan, mandala, dan parahiyangan. Sementara itu, tempat-tempat dengan sejumlah tinggalan dari masa lalu, baik berupa sisa-sisa bangunan suci atau bukan misalnya makam, mataair, gua, “petilasan” dan lain-lain, namun dalam artian sebagai tempat yang disucikan atau dikeramatkan, saat ini dikenal dengan sebutan kabuyutan. Dengan demikian, kabuyutan merupakan sebutan umum untuk menyebut sesuatu yang berkenaan dengan tempat dan dianggap terlarang.
Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Jayadewata), salah seorang raja dari kerajaan Sunda terdapat dua prasasti yaitu prasasti Kebantenan dan prasasti Batutulis. yang menyebutkan nama kabuyutan, lemah dewasasana, parahyangan dan kawikwan.
Istilah parahyangan mengacu pada tempat pendharmaan raja-raja atau (mantan) pejabat-pejabat istana/daerah yang telah meninggal. Kata lainnya yaitu Lemah dewasasana adalah tempat suci (pemujaan) raja, yang pemeliharaannya diserahkan kepada sekelompok wiku. Para wiku ini bertempat tinggal di dalam atau di sekitar tempat suci tersebut yang disebut Kawikuan.
Karya sastra Sunda yang mengungkapkan keterangan lebih banyak tentang kabuyutan daripada yang lainnya adalah Amanat Galunggung. Naskah ini mengungkapkan betapa pentingnya Kabuyutan Galunggung untuk dipertahankan kemuliaannya. Dalam naskah itu diberitakan bahwa lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah dari pada rajaputra bila kabuyutan akhirnya jatuh ke tangan orang lain. Dari ungkapan ini diketahui bahwa Kabuyutan Galunggung merupakan kabuyutan utama atau tempat suci yang menjadi pusaka kerajaan. Sebagaimana Kabuyutan Galunggung, naskah Bujangga Manik menyebutkan sebuah kabuyutan yang menjadi kabuyutan rakyat Pakuan yaitu Sanghiyang Talaga Warna, yang disebutkan pula dalam prasasti Batutulis dengan nama Sanghiyang Talaga Rena Mahawijaya. Berdasarkan isi prasasti itu kecuali ibukota Pakuan Pajajaran, Ayatrohaedi menghubungkan adanya kesesuaian fungsi antara isi prasasti dengan situs Rancamaya. Pasir Badigul adalah tanda peringatan berupa bukit (gugunungan) sedangkan jalan yang dikeraskan adalah jalan yang menghubungkan istana ke tempat itu, sedangkan membuat samida adalah membuat hutan tutupan. Talaga Rena Mahawijaya tidak ditafsirkan sebagai nama diri danau atau telaga, melainkan lebih kepada fungsinya sebagai danau tempat menyatakan syukur atau berterima kasih atas kemenangan besar (yang telah dicapai). Letaknya di Rancamaya sesuai dengan apa yang tertulis di dalam naskah Carita Parahiyangan bahwa Jayadewata, nama lain Sri Baduga Maharaja dikenal sebagai sang mwa(k)ta ring rancamaya (CP.: 19), diartikan “yang hilang di Rancamaya”. Dengan demikian daerah tersebut merupakan hutan tutupan, danau pemujaan, dan tempat ngahyang Jayadewata dengan dewanya. Sanghiyang Talaga Rena Mahawijaya dalam prasasti Batutulis adalah Sanghiyang Talaga Warna dalam naskah Bujangga Manik, sesuai dengan kutipan “Sadatang ka Bukit Ageung: eta hulu Cihaliwung, kabuyutan ti Pakuan, Sanghiyang Talaga Warna” (“Setelah sampai di bukit agung: hulu (sungai) Cihaliwung itu, kabuyutan Pakuan, Sanghiyang Talaga Warna”).
Lain daripada itu, dalam Carita Pantun yang dituturkan oleh Juru Pantun terpilih pada waktu-waktu tertentu (upacara suci), tersirat bahwa suatu bukit yang di bagian tertentu ditumbuhi pohon beringin atau pohon besar lainnya, atau bukit yang dijadikan punden berundak pun disebut sebagai kabuyutan. Kabuyutan dianggap sebagai pusat kekuatan batin atau puseur dangiang. Sementara pendirian sejumlah kabuyutan oleh seorang tokoh (raja Sunda) diungkapkan dalam Carita Parahiyangan sebagai berikut:
“Sang Rakeyan Darmasiksa, pangupatiyan Sanghiyang Wisnu, inya nu nyieu(n) sanghiyang binayapanti, nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tara¬han, tina parahiyangan. Ti naha bagina ? Ti sang wiku nu nga¬wakan jati Su(n)da, mikuku(h) Sanghiyang Darma, ngawakan Sanghiyang Siksa” (CP: 17).
(“Rakeyan Darmasiksa titisan Sanghiyang Wisnu, dialah yang membangun tempat pendidikan (agama), yang menjadikan kabuyutan-kabuyutan dari sang rama sang resi, sang disri, sang tarahan, dari parahiyangan. Apa manfaatnya ? Dari sang wiku yang memelihara Jati Sunda, berpegang teguh kepada Sanghiyang Darma, mengamalkan Sanghiyang Siksa).
Istilah mandala ditemukan dalam naskah Kawih Paningkes, Bujangga Manik, dan cerita pantun Lutung Kasarung. Dua naskah pertama menyiratkan bahwa mandala adalah pemukiman atau pedukuhan yang diperuntukkan bagi kaum agamawan. Sementara dalam cerita pantun Lutung Kasarung dilukiskan lokasi sebuah mandala seperti dalam kutipan berikut:
di Gunung Cupu Mandala-Hayu,
Mandala-Kasawiatan,
di hulu-dayeuh
dina cai teu inumeun,
dina areuy teu tilaseun,
dina jalan teu sorangeun, sakitu kasaramunan
di Gunung Cupu Mandala Hayu
Mandala Kasawiatan
di hulu dayeuh
pada tempat yang airnya tak bisa diminum,
pada sulur-suluran yang tak mungkin dipotong,
pada jalan yang tak mungkin dilalui,
sedemikian sunyi senyap !
Kutipan ini menunjukkan bahwa sebuah mandala terletak di bagian hulu dayeuh, yang tidak mudah ditempuh oleh manusia karena terjal dan penuh hutan belantara. Di tempat seperti ini, pada bagian hilirnya biasanya terdapat mata air yang menjadi sumber kehidupan penduduk.
3.2 KONSEP KOSMOLOGI SUNDA
Istilah kosmos (Yunani) berarti susunan atau ketersusunan yang baik; lawannya ialah khaos yang artinya keadaan kacau balau. Kosmologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang alam ataupun dunia. Dewasa ini, kosmologi juga dipergunakan dalam ilmu-ilmu empirik, untuk menunjukkan ilmu mengenai evolusi kosmis. Manusia pada dasarnya terikat erat pada alam semesta dan memiliki pandangan akan adanya hubungan gaib secara timbal balik antara manusia dengan alam semesta.
Dengan demikian, konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya, yakni menyangkut keluasan atau lingkupnya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya sehingga tidak ada sesuatu pun yang dikecualikan. Ini artinya masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia.
Berkaitan dengan itu, Mircea Eliade mengatakan bahwa pada umumnya manusia religius mempunyai sikap tertentu terhadap kehidupan, yaitu dunia, manusia, dan terhadap apa yang dianggapnya suci (sakral). Dunia adalah wilayah yang sudah “dikonsentrasikan”sebagai kosmos. Sementara di luar wilayah itu, masih merupakan dunia lain, dunia yang kacau, asing, tempat tinggal roh-roh, setan, jin, dan sebagai-nya. Keadaan yang kacau dan tidak berbentuk itu disebut khaos. Wilayah itu dapat dijadikan daerah teratur dan berbentuk, dengan cara peniruann yaitu penciptaan semesta alam oleh para dewa melalui upacara.
Dalam pandangan itu, dunia terdiri dari tiga lapisan, yaitu: (1) dunia atas merupakan dunia Illahi, surga, tempat para dewa, dan para leluhur; (2) dunia tengah merupakan dunia yang didiami manusia; dan (3) dunia bawah merupakan dunia orang mati. Ketiga dunia ini membentuk tiga lapisan yang dihubungkan oleh satu poros yang disebut axis mundi. Axis mundi terletak pada pusat dunia yang menghubungkan lapisan dunia yang satu dengan yang lain. Melalui axis mundi manusia mengadakan hubungan dengan dunia atas dan dunia bawah. Oleh karena itu, dalam membangun negeri, kota bahkan rumah, manusia selalu berusaha mendekatkannya dengan pusat dunia.
Konsep kosmologi secara universal terdapat pada setiap suku bangsa di dunia. Demikian juga dengan masyarakat Sunda, yang pada umumnya tercermin pada naskah dan folklor Sunda, sebagaimana uraian berikut:
A. TRADISI TULIS
Pada masa Sunda kuna, gambaran alam semesta terdapat dalam naskah-naskah Sunda, baik naskah yang berbahasa Jawa kuna maupun bahasa Sunda kuna. Salah satu naskah yang menggambarkan mitos tentang proses penciptaan alam adalah Naskah Sang Hyang Raga Dewata.
Dalam naskah itu dikatakan bahwa proses penciptaan alam meliputi buwana (jagat raya), pretiwi (bumi), sarira (diri sendiri), dan para dewa pengatur jagat. Penciptaan alam diawali dengan dibangunkannya siang dari kegelapan oleh kekuatan Sang Bayu (tenaga gaib) dari Sang Hyang Raga Dewata. Setelah itu, diciptakanlah bumi, bulan, matahari, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa. Matahari ditempatkan di arah timur dan bulan di arah barat. Bumi, oleh Sang Hyang Tunggal diciptakan dari sebutir telur yang terbuat dari sekepal tanah liat. Ketika telur itu menetas, menjelmalah berbagai makhluk, di antaranya adalah Batara Guru yang ditempatkan di Gunung Kahyangan. Batara Guru dapat menjelma sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Mahadewa, dan Siwa. Ia juga berhak mengendalikan Batara Basuki penguasa bumi dan Batara Baruna penguasa lautan. Sang Hyang Raga Dewata adalah dzat tunggal sebagai pencipta tetapi tidak dicipta, sebagai pembuat tetapi tidak di¬buat, dan yang mengetahui tetapi tidak diketahui. Dialah Maha Pencipta. Manusia adalah salah satu makhluk yang dipandang sebagai mikrokosmos jagat raya yang seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan siksa Sang Hyang Darma atau ajaran Sanghiyang Darma. Itulah manusia ideal yang kelak dapat mencapai kesempurnaan surga abadi.
Naskah kuna lainnya yaitu Kropak 422 menyebutkan bahwa alam semesta terbagi dalam tiga dunia, yaitu sakala (dunia nyata), niskala (dunia gaib), dan jatiniskala (kemahagaiban sejati).
Buana sakala adalah alam nyata sebagai tempat tinggal manusia, hewan, tumbuhan, dan benda lain yang dapat dilihat. Buana niskala adalah alam gaib sebagai tempat tinggal makhluk gaib yang wujudnya hanya tergambar dalam imajinasi manusia, seperti dewa-dewi, bidadari-bidadari, apsara-apsari, dan sebagai¬nya, serta berkedudukan lebih tinggi dari manusia. Buana niskala yang disebut juga kahyangan terdiri atas surga dan neraka. Buana jatiniskala adalah alam kemahagaiban sejati sebagai tempat tertinggi di jagat raya. Penghuninya adalah zat Maha Tunggal yang disebut Sang Hyang Manon, zat Maha Pencipta yang disebut Si Ijuna¬jati Nistemen. Zat inilah yang tingkat kegaiban dan kekuasaannya paling tinggi. Dialah pencipta batas, tetapi tak terkena batas. Untuk lebih jelas, lihat tabel berikut:
Tabel 1 : Alam Semesta menurut Kropak 422
Alam Dunia
(Buana) Alam Kehidupan
Jatiniskala
(Kemahagaiban Sejati) Sang Hyang Manon
atau
Si Ijunajati Nistemen.
Niskala
(Kahyangan) Surga Makhluk gaib:
dewa-dewi, bidadari-bidadari, apsara-apsari, dan sebagainya.
Neraka Manusia yang tidak menjalani ajaran Sang Hyang Manon
Sakala
(Alam Nyata) Manusia, hewan, tumbuhan, dan benda lain yang dapat dilihat.

Naskah lainnya yaitu Sang Hyang Hayu memulai uraiannya dengan mengutarakan asal mula para dewa ketika diciptakan, baik para dewa yang dipuja oleh golongan Siwaisme (Brahma, Wisnu, Iswara, dan Mahadewa), maupun yang dipuja oleh golongan Rěsi yang dikenal dengan istilah Pancakusika (Kusika, Garga, Metri, Kurusya, dan Patanjala), serta Yaksa (makhluk setengah dewa, sebangsa raksasa), Pisaca (setan, sebangsa raksasa kecil), Prata (hantu), Buta (raksasa, ruh jahat), Pitara (arwah leluhur), dan Siwah Buda (Siwa dan Budha). Sang Sewasogata menuturkan bahwa alam semesta terdiri dari sakala (alam dunia) dan niskala (alam akhirat) sebanyak tujuh lapisan ke atas dan ke bawah berbentuk sarang lebah, yaitu Kanirasrayan (Kemahakuasaan/Kebebasan Tertinggi, yaitu takdir), Sunyata Nirmalataya (keheningan suci), Abyantarataya (bagian terdalam kesirnaan), Panca-tanmantra (lima unsur halus), tujuh susun berupa tempat kesirnaan/lenyap, tujuh susun yang bersuasana sunyi/hampa, Saptabuwana/Buwanapitu (tujuh surga), Buhloka/Madyapada (dunia tempat tinggal manusia), dan Saptapatala (tujuh neraka). Alam semesta ini pada hakikatnya tanpa batas. Arah penjuru angin, atas maupun bawah hanya ada dalam angan-angan. Di dalam angan-angan itu pula surga berada di atas, dan neraka berada di bawah. Secara garis besar dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2 : Alam Semesta menurut Sang Hyang Hayu
Saptabuwana/
Buwanapitu
(Tujuh surga) Kanirasrayan
(Kemahakuasaan/Kebebasan Tertinggi, yaitu takdir)
Sunyata Nirmalataya
(Keheningan suci),
Abyantarataya
(Kesirnaan)
Pancatanmantra
(Lima unsur halus)
Taya
(Sirna) Abyantarataya
taya
paramataya
atyantataya
nirmalataya
suksmataya
acintyataya
Sunya
(Hampa) sunya
atisunya
paramasunya
atyantasunya
nirmalasunya
suksmasunya
acintyasunya
Loka Atyantaartaloka
Mahaloka
Satyaloka
Tapwaloka
Janahloka
Suwahloka
Buwahloka
Buhloka/Madyapada
(Tempat tinggal manusia)
Sapta Patala
(Tujuh neraka). Patala (Neraka)
Nitala
Sutala
Talantala
Talaningtala
Mahatala
Atyanta Artapatala
(Neraka yang sangat mengerikan).

Sewaka Darma, --salah satu naskah Sunda lainnya-- lebih menekankan keadaan di dunia atas. Pada bait 27-67, digambarkan bahwa ketika jiwa (atma) meninggalkan raga, jiwa akan tiba di persimpangan tujuh (jalan tujuh bersanding), dan simpangan lima (jalan pedati besar). Daerah perbatasan surga penuh dengan ber-bagai jenis serangga penghasil madu untuk persediaan makanan para dewa. Di surga pun terdapat tangga pada tiap ujung jalan seperti tangga yang terpasang pada pintu pagar yang mengelilingi dusun, hanya bahannya berbeda. Surga berlapis-lapis menurut derajat penghuninya.
Jika semasa hidup, orang tersebut selalu mengikuti ajaran darma, maka jiwa akan tiba di gerbang kahyangan. Sang Yama, penjaga pintu kahyangan akan menyembah kepada atma dan menunjukkan jalan ke arah surga. Jalan menuju surga dihiasi dengan taman bunga yang indah diselingi oleh keharuman asap dupa di sepanjang jalan ke arah permulaan surga. Setelah melewati bukit dan ngarai, jiwa tiba di Cipamohacan, taman bening tempat untuk mencucikan diri. Sesudah itu, ketika melewati kawah (neraka) jiwa yang bersih tak akan terpengaruh dengan segala apa yang dilihat dan didengar tentang penghuni neraka. Jiwa akan terus berjalan sampai ke tanah kahyangan di kawidadaren, tempat jiwa akan dihias dengan segala kemewahan dan wewangian. Kemudian, jiwa akan dibawa ke sebuah bangunan terbuat dari emas diiringi berbagai tetabuhan, antara lain tarawangsa, kecapi, dan suara burung-burung. Rupa sejati yang menjalankan sewaka darma akan terlihat bercahaya. Ia akan terus berjalan menyongsong pelangi, menuju bianglala, menyelinap di matahari, melewati sinar terang, menggapai tangga emas di ujung kehampaan yang tanpa batas siang dan malam, hingga tiba di tempat yang terang benderang, tempat para leluhur.
Dari tempat itu, jiwa menuju kahyangan di sebelah timur, tempat tinggal Batara Isora (Hyang Isora) yang digambarkan sebagai kahyangan perak putih, tujuan mereka yang lulus tapa dalam kebahagiaannya. Kahyangan di sebelah utara merupakan tempat tinggal Batara Wisnu, merupakan kahyangan meru hitam tujuan mereka yang sempurna perbuatannya dalam kebahagiaannya. Di sebelah barat terletak kahyangan Batara Mahadewa, kahyangan meru kuning merupakan tujuan dari mereka yang bertanya tentang kalepasan jiwa (moksa) dalam kebahagiaannya. Kahyangan di sebelah selatan adalah tempat tinggal Batara Brahma, merupakan kahyangan warna merah. Batara Brahma dianggap sebagai dewa pelipur lara bagi orang-orang yang melakukan kejahatan dan ingin bertobat. Kahyangan Tengah adalah tempat tinggal Batara Siwa, merupakan kahyangan baranang siang (terang benderang), tujuan mereka yang sarat dengan amal baik. Tempat harapan mencapai sanghiyang lengis (lembut atau sendu), tempat meng¬amati kesunyian dengan kebeningan hati.
Di atas kahyangan kelima dewata itu, terdapat kahyangan Sari Dewata dengan Ni Dang Larang Nurwati sebagai penghuninya Setingkat di atasnya, terletak kahyangan Bungawari, di situlah tempat tinggal Pwah Sanghiyang Sri (dewi padi), Pwah Naga Nagini (dewi bumi), dan Pwa Soma Adi (dewa bulan) yang menghuni puncak dunia (jungjunan bwana). Di situlah batas kehidupan surgawi.
Sang atma (jiwa) yang telah lepas dari kungkungannya boleh singgah di setiap tingkat surga. Namun, jiwa yang mantap karena gemblengan ajaran Sewaka Darma tidak akan berlama-lama di situ. Ia akan terus naik mencari lapisan yang layak bagi “dirinya”. Dari Bungawari masih ada tangga emas untuk naik ke lapisan lebih tinggi. Untuk masuk ke situ tidak akan ada ajakan atau undangan. Jiwa yang sempurna menjalankan Sewaka Darma akan mampu memasukinya. Ia akan tiba di bumi kancana (dunia emas). Di situlah terletak jatiniskala (kegaiban yang sejati). Keadaan serba cerah dalam keheningan yang kekal. Jiwa telah sampai ke ujung perjalanan karena di situlah terletak keabadian. Ia telah lepas dan melampaui para dewa dan para hyang. Itulah kebahagiaan sejati yang digambarkan sebagai suka tanpa mengenal duka, kenyang tanpa mengenal lapar, hidup tanpa mengenal mati, bahagia tanpa mengenal nestapa, baik tanpa mengenal buruk, pasti tanpa mengenal kebetulan, moksa lepas tanpa mengenal ulangan hidup. Jiwa yang mencapai moksa berada dalam suasana dunia yang tiba pada kegaiban murni, lepas dari para dewata, lepas dari sanghiyang, tak ada rintangan, meresap merasuk alam pikiran, sebab utuh tanpa dengar, sebab hampa tanpa wujud, kepada yang halus tanpa wadah, dan lembut, serba tunggal kuasa. Untuk lebih jelas, lihat tabel berikut:
Tabel 3 : Alam Semesta menurut Sewaka Darma
Alam Dunia
(Buana) Alam Kehidupan
Bumi kancana/Jatiniskala (Kemahagaiban Sejati) Sang Pencipta
Niskala
(Kahyangan) Kahyangan Bungawari Pwah Sanghiyang Sri (dewi padi), Pwah Naga Nagini (dewi bumi), dan Pwa Soma Adi (dewa bulan)
Kahyangan Sari Dewata Ni Dang Larang Nurwati
Kahyangan kelima dewata Utara: Kahyangan meru hitam, tempat tinggal Batara Wisnu
Timur : Kahyangan perak putih, tempat tinggal Batara Isora (Hyang Isora)
Tengah: Kahyangan baranang siang (terang benderang), tempat tinggal Batara Siwa
Barat: Kahyangan meru kuning, tempat tinggal Batara Mahadewa
Selatan: Kahyangan warna merah, tempat tinggal Batara Brahma.
Kahyangan Baranang Siang Para leluhur.
Neraka Manusia yang tidak menjalani ajaran Sewaka Darma
Kahyangan Kawidadaren Tempat jiwa akan dihias dengan segala kemewahan dan wewangian
Cipamohacan
(Taman bening) Tempat jiwa mensucikan diri
Alam antara:
Gerbang kahyangan
(Jalan simpang 7 dan 5) Jiwa pada persinggahannya yang pertama ketika lepas dari raga
Sakala
(Alam Nyata) Tempat tinggal manusia

Sebagaimana naskah Sewaka Darma, jagat langitan digambarkan tidak jauh berbeda dalam Sri Ajnyana bait 360-400; dan 470-1065. Setelah meninggalkan bumi, raga mereka yang bercahaya bagaikan kunang-kunang, tiba di alam pertama yaitu angkasa, alam tengah antara langit dan bumi. Setelah itu, sampai ke Sanghiyang Limur (surga di dalam kabut), Yogadita (surga Hyang Mega), Taranggana (surga Hyang Bintang). Tahap selanjutnya tiba di Sadinem (surga Hyang Wulan), Gerehananda (surga Hyang Rahu). Setelah melewati itu, mereka menyeberangi titian kencana yang mengarahkannya ke jalan menuju langit, dan akhirnya menaiki tangga emas kencana di istana Pancamirah.
Setingkat di atasnya terdapat kahyangan di ke empat wilayah, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Kahyangan timur, ditempati oleh Isora Guru yang disebut Jambudrasana, meru bertiang perak, tempat tujuan pertapa sejati. Kahyangan selatan ditempati oleh Brahmaloka, meru beratap tembaga. Kahyangan ini adalah tempat bagi orang-orang yang melaksanakan janjinya dan orang-orang yang membakar dupa dan kayu bakar. Kahyangan barat tidak bernama, meru beratap emas ini menjadi tujuan orang-orang yang memberikan bantuan amal (dana punya). Akhirnya, kahyangan utara disebut utarapada, meru tumpang tiga, tempat tujuan para pahlawan perang.
Setelah melewati tempat itu, menyusuri jalan raya yang lurus ke langit kencana yang disebut sorga kancana dan bumi kancana. Jalan yang dibatasi oleh barisan pepohonan dan perdu, melintasi bebatuan, danau-danau serta tebing-tebing, jembatan-jembatan, dari satu ke lain tangga. Wewangian semerbak rupa-rupa bunga di sepanjang jalan mengiringi perjalanan hingga tiba di surga kencana, tempat Sri Ajnyana sebelum diturunkan ke bumi.
Setelah beranjak dari situ, Sri Ajnyana pergi dan melintasi berbagai kahyangan. Dia melintasi keempat jagat (caturloka), kemudian buana Meukah bernama surga Siak. Naik setingkat dari sana, sampai ke Sanghiyang Lengis, tempat tinggal Manondari dan Puah Nilasita, istri Hyang Surugiwa yang mati mengor¬bankan diri. Setelah itu, tiba di Sangkan Herang, tempat tinggal Sanghiyang Sri (dewi padi), kemudian tiba di Sari Dewata tempat tinggal Wiru Mananggay, Manarawang, tempat tinggal Sanghiyang Sri (lain) dan Dewi Satiawati.
Setelah meninggalkan tempat-tempat di kahyangan, Sri Ajnyana melalui Budi Keling dan Rahina Sada tiba di Rahina Wengi kediaman Puah Lakawati. Untuk kemudian turun ke bumi, tiba di dunia dan sampai ke Mandala Singkal, pertapaan dimana ia tinggal sebagai manusia. Secara garis besar uraian alam semesta dalam naskah itu, sebagaimana tabel berikut:
Tabel 4: Alam Semesta dalam Sri Ajnyana
Alam Dunia
(Buana) Alam Kehidupan
Bumi Kancana Sang Pencipta
Niskala
(Kahyangan) Sari Dewata Wiru Mananggay, Manarawang, Sanghiyang Sri (lain) dan Dewi Satiawati.
Sangkan Herang, Sanghiyang Sri (dewi padi),
Sanghiyang Lengis Manondari dan Puah Nilasita, istri Hyang Surugiwa yang mati mengorbankan diri.
Buana Meukah
(surga Siak) --
Catur Loka --
Surga Kancana --
Sri Ajnyana sebelum diturunkan ke bumi
Kahyangan Jagat Utara : Meru tumpang tiga Timur : Meru bertiang perak, disebut Jambudrasana tempat tinggal Isora Guru
Barat: Meru beratap emas
Selatan: Meru beratap tembaga, disebut Kahyangan warna merah, tempat tinggal Batara Brahma.
Istana Pancamirah. --
Sadinem
Gerehananda Hyang Wulan
Hyang Rahu
Sanghiyang Limur
Yogadita
Taranggana Kabut
Hyang Mega
Hyang Bintang
Angkasa Alam tengah antara langit dan bumi
Sakala
(Alam Nyata) Tempat tinggal manusia

Dalam naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian, paparan kahyangan para dewa lokapala (pelindung dunia), disesuaikan dengan kedudukan mata angin dengan warna masing-masing yang disebut Sanghiyang Wuku Lima di Bumi, yaitu Isora bertempat di kahyangan timur (Purwa), putih warnanya. Daksina yaitu selatan, tempat tinggal Hyang Brahma, merah warnanya. Pasima yaitu barat tempat tinggal Hyang Mahadewa, kuning warnanya. Utara yaitu utara tempat tinggal Hyang Wisnu, hitam warnanya. Madya yaitu tengah, tempat Hyang Siwa, aneka macam warnanya.
Paparan kahyangan ini tidak jauh berbeda dengan naskah Sewaka Darma. Naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian menyatakan bahwa moksa adalah keadaan jiwa yang berhasil memasuki kahyangan, dan dengan tegas membedakan surga (tempat dewa) dengan kahyangan (tempat hyang). Masuk surga disebut munggah, sedangkan masuk kahyangan disebut moksa atau luput.
Dalam naskah Bujangga Manik bait 1455- 1755, --walaupun beberapa lembar daun hilang sehingga paparan surga menjadi tidak jelas-- paparan kahyangan tidak jauh berbeda dengan paparan kahyangan dalam naskah Sewaka Darma. Ketika raga memasuki jagat maut, sukma mengecil menjadi setara dengan para dewa, tiba di bentang jalan terbuka menuju taman bunga. Setelah melewati pemeriksaan Dorakala, penjaga langit yang bertanya pada jiwa (atma), Dorakala menunjukkan jalan menuju surga (kasorgaan). Kemudian atma akan diterima dengan upacara resmi melalui serangkaian upacara dimulai dari atma yang diang¬kut oleh kereta putih yang sarat dengan hiasan diiringi berbagai irama tetabuhan surga. Keindahan ranah surgawi digambarkan dengan istilah-istilah yang amat agung.
B. TRADISI LISAN
Dalam cerita pantun Eyang Reusi Handeula Wangi termuat kosmologi Sunda yang membagi dunia ke dalam tiga bagian yaitu Buana Nyungcung adalah dunia roh, Buana Panca Tengah merupakan dunia manusia, dan Buana Larang.
Mandala hanya dikenal di Buana Nyungcung, yang terdiri dari 9 tingkat. Mandala pertama adalah Mandala Kasungka yang merupakan dunia roh orang-orang yang baru meninggal dunia. Disinilah roh-roh itu ditimbang perbuatan baik buruknya selama hidup di Buana Panca Tengah. Setelah itu roh manusia memasuki tahap dua yaitu Mandala Permana. Kemudian naik ke mandala ketiga yaitu mandala Karna. Naik lagi ke mandala keempat yaitu Mandala Rasa, dan mandala kelima yaitu Mandala Seba. Mandala-mandala ini merupakan tempat penyucian roh sebelum masuk ke mandala keenam yaitu Mandala Suda (mandala suci). Di sinilah terhimpun roh-roh manusia atau sukma yang dapat pergi bolak balik ke dunia manusia di Buana Panca Tengah baik berupa manusia atau hanya hadir di dunia dalam bentuk suara manusia. Mandala ketujuh adalah Jati Mandala. Disini terdapat Paseban Pangauban dan Papanggung Bale Agung. Di Paseban Pangauban terdapat sukma-sukma yang diizinkan oleh Sanghyang Wenang turun ke dunia manusia untuk suatu kepentingan, sedangkan di Papanggung Bale Agung berkumpul sukma-sukma yang menunggu perintah untuk menitis ke dunia manusia mandala kedelapan adalah Mandala Samar, tempat berkumpul sukma-sukma yang tidak perlu menitis lagi dan tidak perlu lagi naik ke tahapan mandala berikutnya. Mandala terakhir adalah mandala kesembilan yang disebut Mandala Agung yang merupakan alam atau dunia Kahyangan tempat roh-roh abadi. Disini bersemayam Empat Sanghyang atau para dewata. Dari keempat sanghyang itu yang terpentinmg adalah Sanghyang Kala (Batara Seda/Batara Seda Niskala) penguasa keabadian.
Buana Panca Tengah merupakan dunia manusia. Di dunia ini dibedakan antara jelema dan manusia. Jelema adalah manusia yang masih mudah tergoda, mudah jatuh dalam kesalahan, sedang manusia adalah manusia yang telah mengatasi chaos dalam dirinya, telah menjadi suci, tertib sesuai dengan tata etik kosmos.
Buana Larang atau Patala merupakan tempat bersemayam Sang Nugraha atau Batara Naga Raja, Naga Rahyang Niskala yang berada di Bumi Paniisan. Disini juga tempat Nini Bagawat Sang Sri yang mengurus kesuburan tanah, dan Bagawat Sangsri yang mengurus segala tanaman. Konsep kosmologi ini dituangkan dalam tabel berikut:


KONSEP DUNIA DALAM PANTUN EYANG REUSI HANDEULA WANGI
BUANA NYUNGCUNG

Mandala Agung
Sanghyang Tunggal
SH Wenang SH Kala SH Wening
Sanghyang Guriang Tunggal
Mandala Samar
Jati Mandala
Papanggung Bale Agung
Paseban Panganban
Mandala Suda
Mandala Seba
Mandala Rasa
Mandala Karma
Mandala Permana
Mandala Kasungka

BUANA PANCA TENGAH
Jelema
Manusia

BUANA LARANG (PATALA)
Nini Bagawat Sang Sri Sang Nugraha Batara Nagaraja
Aki Bagawat SangSri Naga Rahiyang Niskala
BUMI PANIISAN

Sumber: Jacob Sumardjo, 2003: 63

3.3 KORELASI TRADISI TULIS DAN TRADISI LISAN
3.3.1 HUBUNGAN ANTARA NASKAH DAN FOLKLOR
Andaikan di era globalisasi saat ini masih terbersit hasrat untuk melirik sejarah dan kearifan lokal budaya masa silam, hal itu cukup arif, karena jika kita cermati secara seksama, tanpa kita sadari banyak manfaat serta informasi budaya hasil kreativitas dan warisan karuhun terdahulu yang bisa kita gali dan kita ungkapkan di masa kini. Beberapa hal menarik dari tradisi tulis maupun tradisi lisan, baik itu tuntunan moral, sistem pemerintahan, kepemimpinan, kosmologis, topografi, pandangan hidup, sistem tata ruang situs atau ‘kabuyutan’, maupun unsur budaya lainnya dapat memberi gambaran sistem pemerintahan dan kepemimpinan serta kosmologis masa lampau yang masih sangat relevan untuk dicermati dan diterapkan saat ini.
Di era globalisasi sekarang, ada kecenderungan bahwa masyarakat lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya ‘pituin’. Globalisasi memang tidak bisa kita hindari, namun kita dituntut agar pandai memilih dan memilah budaya asing yang masuk, serta lebih menghargai peninggalan warisan budaya karuhun kita di atas kepentingan pribadi, karena warisan budaya nenek moyang kita jauh lebih berharga dan tidak bisa diukur dengan materi semata. Salah satu sumber informasi budaya masa lampau yang sangat penting adalah naskah, karena naskah dapat dipandang sebagai dokumen budaya, yang berisi berbagai data dan informasi ide, pikiran, perasaan, dan pengetahuan sejarah, serta budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu. Sebagai sumber informasi, dapat dipastikan bahwa naskah-naskah buhun termasuk salah satu unsur budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang melahirkan dan mendukungnya, yang ditulis pada kertas, daun lontar, kulit kayu, bilahan bambu, atau rotan. Secara umum isinya mengungkapkan peristiwa masa lampau yang menyiratkan aspek kehidupan masyarakat, terutama tentang keadaan sosial dan budaya, yang meliputi: sistem religi, teknologi, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, bahasa, dan seni.
Berkenaan dengan salah satu peninggalan warisan karuhun orang Sunda dalam bentuk ‘kabuyutan’ ‘Selareuma Pasir Ringgit, ada hubungannya dengan naskah berjudul Purusangkara, Carita Ratu Pakuan, Sanghyang Raga Dewata, Sanghyang Hayu, dan Jatiniskala. Hal ini ditunjang dengan tradisi lisan berupa folklor yang berkembang di masyarakat sekitar daerah tempat Kabuyutan Pasir Ringgit (sebutan masyarakat setempat) berada. Melalui tradisi naskah Sunda Kuno sebagaimana telah ditunjukkan dalam uraian terdahulu, keberadaan Selareuma Pasir Reungit yang berlokasi di Kelurahan Pasanggarahan Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat bisa ditempatkan dalam sebuah sistem tata ruang secara arkeologis.
Daerah Pasir Reungit/Ringgit yang terletak di Kampung Selareuma Kelurahan Pasangrahan Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat masih menyimpan ‘misteri’ bagi berbagai pihak. Untuk menggali serta mengungkap informasi data dan fakta yang masih ‘misteri’ tersebut dilakukan sebuah penelitian arkeologis yang bersifat interdisipliner, yaitu dengan melibatkan bidang geologi, geografi, filologi, antropologi, dan folklor. Selama ini memang belum ada penelitian yang bersifat multidimensi guna mengkaji serta menganalisis data yang kompleks di seputar lokasi yang disebutkan tadi, baik melalui perseorangan maupun dari lembaga atau instansi terkait pemerintah. Penelusuran yang dilakukan dalam kesempatan ini, khususnya konstelasi tradisi tulis dan tradisi lisan dalam keterkaitannya dengan masyarakat pendukungnya dari segi tradisi lisan (folklor), dimaksudkan untuk mengecek dan mengkonfirmasi adanya hubungan yang nyata antara naskah (filologi) yang ditemukan dengan cerita atau dongeng maupun tradisi lisan (sastra) yang muncul di masyarakat sekitar kampung Selareuma Pasir Ringgit.
Daerah Selareuma Pasir Ringgit (Pasir Reungit) ternyata merupakan peninggalan budaya masyarakat Sunda masa lampau berupa ‘kabuyutan’. Hal ini berdasar atas data faktual yang ditemukan, antara lain dalam naskah Purusangkara yang kini tersimpan di Museum Sri Baduga Bandung. Teks naskah Purusangkara menyebutkan nama atau daerah Tanah Selahuma sebagai diuraikan dalam bab II. Berdasarkan Kenyataan yang ada, memang demikian adanya, bahwa daerah Kampung Selareuma berada di daerah Kelurahan Pasangrahan, Kampung Pasirpeti Desa Margalaksana (pemekaran dari desa Pasanggarahan) Lebak Huni serta Kampung Legok Bungur (Ciguling II). Keempat daerah tersebut mengelilingi Selareuma Pasir Reungit. Ini membuktikan bahwa keberadaan Naskah Purusangkara mengandung salah satu data faktual bahwa Selareuma ‘Pasir Reungit’ merupakan kabuyutan (mandala gaib puseur dangiang) ‘tahta para leluhur atau karuhun’. Maka dari itu, di mana pun kabuyutan itu berada, dipercayai sebagai pusat paragi ngahiang/parahiyangan, peninggalan karuhun orang Sunda masa lampau.
Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa tanah Selahuma , Pasir Reungit secara mitos mengacu sebagai kabuyutan tempat suci yang harus selalu dipelihara, dilindungi, serta dikeramatkan. Dalam tradisi masyarakat setempat, dahulu setiap bulan harus ‘diruwat’ melalui upacara ritual. Selain itu, kabuyutan Selareuma Pasir Reungit dianggap sangat istimewa yang berdasarkan naskah tersebut sampai harus direbut dengan mendatangkan pasukan dari Gunung Padang, juga tersurat dalam naskah Carita Ratu Pakuan.
Mengapa Selareuma Pasir Reungit dianggap istimewa? Jika dilihat secara sepintas, Selareuma/Pasir Ringgit (Pasir Reungit) layaknya seperti gunung kecil atau pasir lainnya yang ada di daerah Sumedang dan sekitarnya, yang di dalamnya secara umum menyimpan batu-batuan dan pasir. Namun, apabila kita perhatikan secara seksama, terdapat perbedaan yang sangat mencolok dilihat dari bentuk dan ukuran batu yang dikandungnya. Selareuma Pasir Reungit memiliki ukuran bentuk, posisi, dan ukuran batu yang sangat unik Selareuma Pasir Reungit mengandung sumber daya alam berupa batu-batu tonggak dalam jumlah yang melimpah. Ketika digali, posisi batunya tersusun rapi, jenis batu-batuan andesit yang sangat keras dan kokoh, serta berwarna hitam, ada yang berukuran sampai 6-8 meter, dengan diameter 60-70 cm.
Karena posisi batunya yang tersusun rapi dan menjulang tinggi ke atas, maka Selareuma Pasir Reungit oleh masyarakat sekitarnya dinamai Batu Nangtung ‘batu keras kokoh berdiri’ yang menjadi ciri dan bukti keberadaan Kerajaan Sumedanglarang pada masa Prabu Gajah Agung sampai dengan Ratu Nyi Mas Patuakan yang ibukota keratonnya terletak di Ciguling II (Situs Geger Hanjuang). Prabu Gajah Agung berputra Prabu Pagulingan, yang berputra Sunan Guling (Situs Geger Hanjuang) alias Eyang Raja Mukti Purba Kuasa. Beliau berputra Sunan Tuakan, yang berputra lagi Nyi Mas Ratu Patuakan yang merupakan raja terakhir yang menetap di Ciguling II Situs Geger Hanjuang. Ciguling II merupakan ibukota keraton pindahan dari Tembong Agung di Kampung Muhara Darmaraja (sekarang akan menjadi genangan waduk Jati Gede).
Kemudian kerajaan Sumedanglarang ibukotanya pindah ke Keraton di Kutamaya Padasuka Kelurahan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang yang dipimpin oleh Ratu Inten Dewata Pucuk Umun yang bersuamikan Pangeran Santri. Selanjutnya ibukota Sumedanglarang berpindah lagi ke Dayeuhluhur pada masa Prabu Geusan Ulun. Hal ini sebagaimana tersurat juga dalam Carita Ratu Pakuan.
Berkaitan dengan keadaan daerah Selareuma Pasir Reungit dan cerita lisan yang berkembang pada masyarakat sekitar, menurut Bapak Endang, anak dari kuncen terakhir Kabuyutan Selareuma menyatakan bahwa penggalian tanah di tempat tersebut telah dilakukan selama bertahun-tahun. Istilah Pasir Ringgit itu sendiri menurut Endang, terdiri atas pasir yang berarti ‘bukit’ dan ringgit yang bermakna ‘uang atau hal-hal yang menguntungkan’. Dengan demikian ‘Pasir Ringgit’ adalah bukit yang mendatangkan banyak uang serta membawa pemiliknya kepada keuntungan terutama dalam masalah perekonomian.
Pada kenyataannya sekarang memang seperti itu, karena pemilik ‘stone house’ mengelola penggalian Selareuma Pasir Reungit dengan mengambil batu dan tanah untuk dijual sampai ke mancanegara (Korea) tanpa memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya, di samping dampak atau akibat yang ditimbulkannya yang kini dikhawatirkan oleh masyarakat yang berada di sekitar Selareuma Pasir Reungit tersebut. Mereka khawatir kalau terjadi gempa atau terus menerus digali, akan terjadi longsor, yang berakibat fatal sehingga menimbun perumahan dan lahan masyarakat sekitarnya.
Daerah Selareuma Pasir Reungit Pasanggrahan ini ada kaitktannya dengan cerita lisan bahwa pada zaman dahulu, Eyang Tajimalela (lihat Carita Ratu Pakuan) sering singgah di tempat ini. Apabila hendak bepergian ke mana pun, Beliau selalu singgah dulu di Pasangrahan. Menurut cerita Endang pula, sebagai keturunan Juru Kunci Batu Selareuma, menuturkan bahwa semasa ayahnya (Bapak Ending, alm.) Selareuma Pasir Reungit pada mulanya merupakan tempat dimakamkannya Eyang Jambrong sebagai orang yang dituakan atau ketua adat setempat. Berdasarkan cerita lisan pula, bahwa Selareuma Pasir Reungit menyimpan ‘harta karun’ berupa batu perahu terbuat dari emas, serta harta karun lainnya yang sampai saat ini belum terungkap. Konon, untuk mendapatkan atau mengungkap harta karun tersebut, hanya bisa dilakukan oleh keturunan atau ahli waris dari pemilik lama, melalui cara bertapa ‘tirakat’ di salah satu titik Selareuma Pasir Reungit. Berdasarkan cerita pula, bahwa orang yang berhasil mengungkap dan mendapatkan perahu emas atau benda lainnya (keris, kujang, dan pakarang yang lain) diprediksi akan menjadi seorang petinggi atau pemimpin besar, yang dikagumi, serta dihormati oleh banyak orang. Wallahu’alam bi sawab.
Berkaitan dengan masalah ‘kepemilikan’ lahan Selareuma Pasir Reungit, ketika masih dimiliki oleh Bapak Juned (pemilik lama), di tempat ini sering dilakukan hajat. Kegiatan hajat atau selamatan yang dilakukan setiap satu bulan sekali, yang pada perkembangannya kemudian berubah hanya dilaksanakan pada bulan Mulud saja. Acara Selamatan atau hajatan ini dimaksudkan untuk menghormati nu ngageugeuh ‘penunggu’ Selareuma Pasir Reungit agar senantiasa memberikan keselamatan dan berkah selama dilakukannya kegiatan penggalian dan penambangan. Namun setelah kepemilikannya berganti, tidak pernah dilakukan hajatan lagi.
Penghentian hajatan ini menimbulkan asumsi dan cerita-ceria miring yang berkembang di masyarakat, sehubungan dengan keberadaan Selareuma Pasir Reungit yang sering menimbulkan keanehan, seperti ‘beko’ yang bengkok, jatuh dan tergelincir dengan sendirinya. Kejadian-kejadian aneh tersebut menurut masyarakat sekitar karena pemilik yang sekarang tidak pernah mengadakan ruwatan atau hajatan. Mereka meyakini adanya interaksi antara pemilik maupun masyarakat dengan nu ngageugeuh Selareuma Pasir Reungit. Kegiatan hajatan dilakukan dengan menyuguhkan berbagai sesajen/sesajian layaknya sesajen yang sering dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, seperti: kelapa, kembang tujuh rupa, hahampangan ‘makanan ringan’, kopi, teh, air putih, kemenyan, dan sebagainya, yang pada intinya atau esensinya tetap meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Mahaesa, Alloh SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Konon, katanya di daerah Selareuma Pasir Reungit dahulu pernah ditemukan batu berbentuk perahu sepanjang 2,5 meter, dengan berat lebih dari 5 (lima) kuintal. Batu berbentuk perahu tersebut polos dan tidak ada ukirannya. Batu itu telah dibeli oleh seseorang dari daerah Muncang. Tidak diketahui apakah batu tersebut masih ada atau sudah hilang. Menurut Endang pula, bahwa pada suatu malam menjelang pagi, pernah terdengar suara berdentum. Suara tersebut terdengar seolah-olah seperti sesuatu menabrak tanah dengan sangat kerasnya (jatuh dari atas). Endang kemudian keluar rumah dan berusaha mencari-cari apa yang sebenarnya terjadi. Tatkala memandang ke arah bukit/pasir, Endang melihat sebuah sinar yang muncul dari dalam tanah berwarna biru. Dari semua kejadian yang telah dialaminya, masyarakat sekitar menjadi percaya dan meyakini bahwa kejadian-kejadian aneh itu ada kaitannya dengan ‘kabuyutan’ serta nu ngageugeuhnya. Melihat situasi dan kondisi lingkungan sekitar bukit Selareuma Pasir Reungit sekarang, Endang mengharapkan agar tempat ini tetap utuh dan jangan sampai rusak lebih parah lagi. Masyarakat sekitar Selareuma Pasir Reungit sebenarnya sangat peduli terhadap lingkungan sekitar Selareuma Pasir Reungi, namun mereka tidak berdaya serta tidak bisa berbuat apa-apa.
Berkenaan dengan Kabuyutan Selareuma Pasir Reungit ada kaitannya dengan naskah Carita Ratu Pakuan (CRP) yang juga mengemukakan data-data yang bisa menunjang keberadaan Selareuma Pasir Reungit sebagai salah satu tempat sakral yang harus dijaga dan dilestarikan serta dikeramatkan sebagaimana tersurat dalam teks CRP berikut ini:
Nu beunghar di Taalwangi
Gunung Cupu Bukit Tamporasih
Patapaan Pwahaci Niwarti
Nu nitis ka Taambo Agung
Nu leuwih kasih
Ahis tuhan Rahmacuté
Seuweu Patih Prebu Wangi
Serpong. Sira Punara Putih
Ti Sumedanglarang.
Gunung Cupu Bukit Tamporasih
……………….
……………….
Patanjaya panénjoan
Gunung si Purnawijaya
……………………
…………………….
Dimaksud dengan Bukit Tamporasih dalam teks tersebut di atas, adalah Gunung Tampomas yang merupakan ‘pancer’ dari kabuyutan Selareuma Pasir Reungit Desa Pasangrahan Kabupaten Sumedang Selatan. Dalam teks Carita Ratu Pakuan juga disebutkan Kerajaan Sumedanglarang. Selain itu, tercatat pula nama-nama sebagai penunjang data, seperti; Tajimaléla, Suten Agung, Dayeuh Pagulingan, Cadas Gumantung, Cadas Putih Gumalasar, serta data-data arkeologis seperti Batu Pangcalikan, Batu Panjang, Lingga, Batu Geger Sunten, sebagaimana tampak dalam teks berikut ini:
………………….
Nu mungguh tupak di huntu
Deung Sanghyang Cadas
Gumantung
Nu mungguh ti tungtung létah
Deung Sanghiyang
Cadas Putih Gumalasar
…………………..
Gunung Puguh Mandala Hibar Bwana
Patapaan Batara Wisnu Déwa
Nitis ka Tajimaléla Panji Romahiya
…………………………………
ahisna Ponggang Sang Raja Panji
putri ti Hulu Padang
deung nu geulis Maya Padang
……………………….
sataganan lain deui
diselang ku urang Sumedanglarang.
………….
Asuh Hacimaya Manik
Seuweu susuhunan Pakancilan.
…………………..
Data tekstual yang disajikan secara faktual sebagaimana diuraikan berdasarkan teks naskah Purusangkara, Carita Ratu Pakuan, Sanghyang Hayu, Sanghyang Raga Dewata, dan Jatiniskala, dan yang lainnya membuktikan adanya hubungan antara data yang ada dalam naskah dengan cerita lisan dan sejarah Sumedang yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, berdasarkan naskah dan sastra lisan yang ditemukan, dapat dikatakan bahwa Pasir Ringgit atau Batu Nangtung yang terdapat di daerah Kampung Selareuma desa Pasangrahan Sumedang Selatan adalah sebuah kabuyutan peninggalan warisan karuhun orang Sunda masa lampau, yang harus dipelihara dan dilestarikan keberadaannya.
Berdasarkan uraian data faktual yang disampaikan dalam tulisan ini oleh sebagian pihak mungkin belum cukup untuk mendukung kebenaran sejati dan hakiki sehubungan dengan adanya kabuyutan Selareuma Pasir Ringgit sebagai peninggalan karuhun orang Sunda masa lampau. Namun, setidaknya tradisi lisan yang ada kaitannya dengan tradisi tulis berupa naskah yang telah disebutkan terdahulu dapat menjadi bahan pertimbangan atau penguat data lainnya dari segi arkeologi, antropologi, dan geologi. Selain itu, perilaku masyarakat yang tergambar dalam cerita-cerita tutur sebenarnya telah mampu menggambarkan pola pikir masyarakat Sunda masa lalu dengan segala aspeknya.
Berdasarkan data faktual ini pun, sebenarnya kita tidak bisa memungkiri dan berpaling, bahwa Selareuma Pasir Reungit adalah ‘kabuyutan’. Kita mungkin tidak tahu atau pura-pura tidak mau tahu karena terbelenggu oleh kepentingan–kepentingan ekonomi yang hanya menguntungkan sepihak dan ‘orang-perseorangan’ dibanding kepentingan orang banyak, dalam hal ini masyarakat Sunda Jawa Barat. Hendaknya berpikir secara jernih dan bijak demi ngaraksa, ngariksa, tur ngamumulé peninggalan warisan karuhun orang Sunda masa lampau yang sama-sama kita cintai, jangan hanya mementingkan materi semata.
Kita berharap semoga semua pihak mampu berpikir jernih disertai kebijaksanaan yang cukup arif untuk menentukan kelangsungan hidup budaya Sunda dalam upaya merumat dan melestarikan warisan karuhun orang Sunda yang sama-sama kita hormati, kita junjung tinggi dan kita cintai. Semoga Alloh SWT. senantiasa memberi jalan terbaik serta berada dalam lindungan-Nya. Amin.
3.3.2 KORELASI PRABU GAJAH AGUNG, BATU NANGTUNG
DAN NASKAH (839-998 M)

Keberadaan Pasir Reungit atau Pasir Ringgit yang dikenal oleh masyarakat sekitarnya dengan sebutan Batu Nangtung berkelindan erat dengan Prabu Lembu Agung sebagai pemangku Kerajaan Sumedanglarang sebagaimana dikemukakan pula dalam naskah Carita Ratu Pakuan. Tatkala Prabu Lembu Agung bertahta, Resi Prabu Tajimaléla mendirikan padepokan/perguruan yang bernama Padepokan Rangga Maléla, yang terletak di dekat air kahuripan/cikahuripan yang berada di Gunung Lingga. Padepokan itu menjadi sebuah karesian yang banyak didatangi oleh para cendekiawan/santri. Setiap murid yang berguru di sana diharuskan bertapa di padepokan, untuk memperoleh kekuatan lahir maupun batin. Para murid menobatkan gurunya sebagai Resi Prabu Pancarbuana (menerangi alam manusia). Berdasarkan cerita yang berkembang sampai saat ini, bekas padepokan Rangga Maléla tersebut saat ini dijadikan lahan pertanian warga, namun sejak tahun 1720 meskipun ditanami oleh warga sekitar, pertumbuhan tanamannya tidak berkembang dengan baik (selalu mati). Baru tahun 2009 ini masyarakat kembali menggarapnya dengan menanam berbagai pohon, mudah-mudahan tanamannya bisa tumbuh subur agar warga masyarakat dapat memetik hasilnya. Menurut cerita lisan masyarakat sekitar padepokan pula, bahwa Cikahuripan yang berada di dekat padepokan Rangga Maléla tersebut, sampai saat ini masih ada dan masih dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Kembali kepada historiografi tradisional Sunda, berkaitan dengan hubungan antara Sumedanglarang, Prabu Lembu Agung, dan Tajimalela, juga naskah, pada suatu waktu, Resi Prabu Tajimaléla memerintahkan muridnya untuk memanggil Atmabrata yang sedang sibuk membantu Prabu Lembu Agung. Utusan itu diterima dengan baik. Atmabrata meninggalkan keraton untuk menghadap ayahnya di Gunung Lingga. Dia diperintah untuk mencari pohon kemenyan yang tumbuh di pinggir sungai yang tidak disertai dengan tujuan yang jelas.
Atmabrata pergi meninggalkan petapaan menuju ke arah selatan dengan menyusuri hutan belantara, namun hasilnya nihil. Sampai tiba di sebuah bukit yang subur dengan pepohonan yang lebat, serapan air gunung mengalir ke sungai-sungai kecil yang menciptakan suasana sejuk. Di keteduhan pohon, sungai kecil menjulur ke utara, di pinggir sungai terdapat pohon besar dan berjenggot. Di bawahnya terdapat batu hitam persegi tempat nenek moyang bertapa. Di sanalah Dia melepas lelah dan bersemedi untuk memohon petunjuk Sanghyang Widi (Alloh SWT). Perjalanan batinnya menghadirkan petunjuk gaib, yakni agar Atmabrata melakukan perjalanan dengan mengikuti aliran sungai kecil yang menjulur ke arah utara.
Atmabrata menyusuri sungai-sungai menjulur ke utara. Sampailah Ia di Sungai Cipélés, di sanalah Dia meneliti pohon-pohon yang berderet di pinggir sungai. Betapa gembira hatinya menemukan ‘pohon kemenyan’(berkaitan erat dengan istilah ‘sela’ yang berarti ‘menyan’ untuk Selareuma) yang tumbuh subur di pinggir sungai. Di atas sungai terdapat sebuah batu besar menyerupai tiang yang disebut Batu Nangtung (Pasir Ringit, Kampung Selareuma Desa Pasangrahan Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang-sekarang). Di sana pulalah Dia mendirikan gubug tempat berlindung. Selama menunggu pohon kemenyan tumbuh besar, Dia membuka lahan untuk bercocok tanam. Penduduk berdatangan secara bergelombang, mereka pun bercocok tanam, beternak, serta mendirikan gubug-gubug yang secara perlahan berkembang menjadi sebuah pemukiman.
Pada suatu masa, tersiar kabar bahwa Prabu Lembu Agung akan léngsér kaprabon/tutun takhta. Atmabrata dipanggil ke istana. Di saat terang bulan purnama Prabu Lembu Agung menobatkan Atmabrata menjadi Pemangku Kerajaan Sumedanglarang dengan Sari Naganingrum putri Raden Gédéngwaru atau cucu Prabu Pucuk Bumi Dharma Swara penguasa Kerajaan Sunda Pakuan. Masa masa pemerintahannya, Prabu Gajah Agung mengangkat para pejabat keraton dari lingkungan keluarga terdekat.
Pada masa awal kekuasaannya, Beliau memindahkan keraton dari Leuwihideung ke daerah Ciguling Pasangrahan Sumedang Selatan (tersurat dalam naskah Carita Ratu Pakuan). Karena alasan usia, Gajah Agung lengser kaprabon. Kekuasaan diserahkan kepada Sunan Guling (Carita Raku Pakuan/data arkeologi & antropologi). Kemudian Prabu Gajah Agung Ngarajaresi. Dalam melaksanakan tugas-tugas keresiannya menyebarkan agama di daerah Cicanting Darmaraja hingga wafat, serta dimakamkan di Cicanting Desa Cisurat Kecamatan Wado.



3.3.3 PERSEPSI DAN PENGHARGAAN MASYARAKAT TERHADAP KABUYUTAN PASIR RINGGIT

Bertolak dari historiografi tradisional Sunda yang berkaitan dengan pemangku kerajaan Sumedanglarang Prabu Lembu Agung (778-838), pada masa pemerintahannya Beliau mengembangkan serta membangun sarana peribadatan Mandakala Kawikun yang disebut Karang Kawikun sebagai sarana ritual gaib untuk melakukan hubungan dengan arwah suci. Kabuyutan mandala di Gunung Nurmala dipercayakan penuh kepada Kuntawisesa dan Santawisesa sebagai penunggu dan pengelola. Kabuyutan tersebut disakralkan sebagai pusat kekuatan gaib yang memiliki energi mistik alam semesta yang paling tinggi di bumi Sumedanglarang. Di Kabuyutan itupun merupakan tempat berkumpulnya para arwah suci seperti juga Kabuyutan Selareuma/Pasir Ringgit di Desa Pasanggrahan Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang pada zaman dahulu, yang menurut Naskah Puru Sangkara dan Carita Ratu Pakuan tempat itu dikeramatkan dan disakralkan sehingga harus ‘diruwat’. Untuk merebut daerah tersebut sampai-sampai harus mendatangkan bala bantuan dari Gunung Padang. Itu sebabnya Prabu Lembu Agung mengembangkan tempat-tempat peribadatan.
Kabuyutan di Gunung Rengganis dipercayakan kepada keturunan Sunan Pancer agar selalu dijaga dan dikembangkan sebagai tempat menempa jiwa dalam rangka menyiapkan pemuka-pemuka agama yang handal. Dalam perkembangan selanjutnya kabuyutan tersebut akhirnya menjadi sebuah padepokan/perguruan terbesar di Bumi Sumedanglarang.
Kabuyutan di Gunung Cakrabuana dipercayakan penuh kepada Pandita Sakti sebagai tempat menyempurnakan ilmu. Kabuyutan ini dalam perkembangannya menjadi pusat kegiatan keagamaan. Kabuyutan di Gunung Tampomas dipercayakan kepada keturunan Sokawayana sebagai tempat marifat raja-raja Sumedanglarang oleh penduduk setempat disebut tempat ngahiyang, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kabuyutan Medang Kahyangan. Kabuyutan di Gunung Jagat dipercayakan penuh kepada keturunan Langlangbuana, dalam perkembangannya sebagai tempat merenung atau mengembarakan batin untuk memperoleh petunjuk dan perlindungan dari Murbawisesa sebagaimana tertuang dan tersurat dalam naskah Puru Sangkara dan Carita Ratu Pakuan juga Sanghyang Raga Dewata.
Berkenaan dengan masalah Kabuyutan, Prabu Lembu Agung mengembangkan kebudayaan dengan memperkenalkan doktrin nilai-nilai budaya kepada rakyatnya: Sing saha nu mopohokeun kabuyutan, darajatna leuwih hina ti batan asu budug di jarian ‘barang siapa yang melupakan patilasan/peninggalan karuhun, derajatnya lebih hina daripada anjing borok di tempat sampah’. Bagaimana dengan Kabuyutan Pasir Ringit atau selareuma? Apakah kita termasuk kepada perumpamaan tersebut yang derajatnya hina serta disamakan dengan anjing borok dari tempat sampah? Orang tidak menghargai sebuah kabuyutan, mungkin karena ketidaktahuan dan ketidakmauan mengakui ‘salah satu peninggalan warisan karuhun orang Sunda, yang berdasarkan data dan fakta, baik ditinjau dari segi filologis, arkeologis, geologis, dan antropologis serta sastra merupakan ‘kabuyutan’.
Di era globalisasi yang serba canggih ini, masyarakat cenderung lebih menghargai budaya dari luar ketimbang budaya kita sendiri. Selayaknya kita mampu memilih dan memilah budaya asing yang masuk ke dalam tatanan budaya kita. Masyarakat masa kini tampaknya lebih mementingkan materi dibandingkan kepentingan umum yang jauh lebih berguna. Kita jangan melihat ‘suatu benda atau budaya untuk kepentingan sesaat, karena warisan budaya masa lampau lebih berharga serta tidak bisa diukur dengan materi semata.
3.4 SELAREUMA, PASIR REUNGIT DALAM KONSTELASI SUMEDANGLARANG

Manusia dalam upaya memanfaatkan lingkungan, pada dasarnya selalu mempertimbangkan pemilihan lahan atau lokasi untuk menempatkan dirinya dalam suatu lingkungan fisik. Pertimbangan ini mencerminkan bahwa dalam batas-batas tertentu masyarakat mengikuti aturan umum yang berlaku (normative), sehingga tidak berperilaku acak dalam memilih suatu lahan atau lokasi pemukiman melainkan berpola. Pemolaan aktivitas manusia itu tercermin pada keruangannya, dengan ciri dan karakter budaya dalam suatu lingkungan tertentu.
Tata letak Pasir Reungit dengan tatanan geografisnya menginformasikan karakter fisik dan non-fisik dalam berbagai aspek kehidupan manusia masa lalu hingga ke masa kini, baik ditinjau dari segi sosial budaya, sosial ekonomi, dan segi ekoteknologinya. Dalam pengertian ruang inilah secara dimensional Pasir Reungit berada pada satuan wilayah administratif Kabupaten Sumedanglarang, sehingga tidak bisa terlepas keberadaannya dalam bentang ruang sejarah budaya Tatar Sunda.
Dalam hal ini Pasir Reungit merupakan salah satu lahan di kawasan Batu nangtung Pasangrahan di dalam tatanan lahan-lahan yang telah teridetifikasi sebagai situs. Bukan suatu kebetulan semata bahwa Pasir Reungit adalah lahan yang terletak di tengah-tengah situs-situs yang mengelilinginya melainkan dilatari konsep pemikiran “yang tidak gegabah” tatkala situs-situs tersebut masih dihidupkan si Pemangku Budaya bersangkutan sesuai pengalaman pengetahuan dan lingkungan tempatnya berkebudayaan. Nampak jelas pula bahwa semua lahan situs di kawasan ini berorientasi ke arah Gunung Tampomas yang merupakan Gunung tertinggi di Sumedanglarang.
Kedudukan Pasir Reungit di dalam konstelasi tatanan ruang budaya Sumedanglarang harus dikembalikan kepada latar belakang sejarah Tatar Sunda sebagai Pemangku budaya yang secara tegas dan nyata merupakan ahli warisnya yang sah, bukan oleh latar budaya lain dengan konsep yang bukan Sunda. Masyarakat Sunda secara dasariah juga memikili konsep Kosmologi sebagaimana tertuang dalam naskah dan folklor. Pada prinsipnya dunia (baca: Jagat semesta/universe) ini terdiri dari tiga lapisan, yaitu dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah yang dinamai dengan berbagai nama, misalnya sakala, niskala, dan jatiniskala atau sapta patala, madyapada, dan sapta buana.
Dapat dijelaskan bahwa kedudukan Pasir Reungit dan konstelasinya di dalam tatanan kabuyutan-kabuyutan di kawasan Sumedanglarang berada di tengah-tengah dikelilingi situs-situs di delapan arah mata angin (periksa sketsa dan foto udara):


KETERANGAN :

BATU NANGTUNG SELAREUMA
1. Sanghyang Kolak di Gunung. Palasari , + 1349,27 M dari Batu Nangtung (sebelah timurlaut ke arah Barat Batu Nangtung).
2. Batu Tegak Cikondang di Dsn. Cikondang, + 524 M dari Batu Nangtung (sebelah Tenggara Batu Nangtung).
3. Batu Kursi di Pasir Peti, + 1641,61 M dari Batu Nangtung (Ke arah Baratdaya Batu Nangtung).
4. Geger Hanjuang, + 1651,27 M dari Batu Nangtung Nangtung (Ke arah Baratdaya Batu Nangtung).
5. Cadas Gantung di Pasir Peti, + 1404,61 M dari Batu Nangtung (Ke arah Baratdaya Batu Nangtung).
6. Ciguling, “Keraton Raja Gajah Agung, dan patilasan Sunan Guling, + 1358,78 M dari Batu Nangtung Nangtung (Ke arah Baratdaya Batu Nangtung).
:7. Makam” Prabu Pagulingan, raja Sumedanglarang ke 4 di Dsn. Nangtung Ds. Ciherang Sumedang Selatan, + 1291,07 M (sebelah barat Batu Nangtung)
8. “Makam” Bagus Suren di Dsn. Jamban Ds. Girimukti Sumedang Utara, + 594,25 M dari Batu Nangtung (sebelah baratlaut).
Seluruh situs-situs yang mengelilingi Pasir Reungit dalam tatanan denah Batu Nangtung Pasangrahan tiada lain simbolisasi jagat alit yang merupakan replika jagat ageung (kahiyangan). Letak-letaknya dipilih ditempatkan tidak secara acak melainkan berpola, sesuai keyakinan kosmologi Sunda yang di dalam naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian disebut Sanghiyang Wuku Lima di Bumi. dalam lintasan kosmologi, Gunung Tampomas (Periksa Carita Ratu Pakuan baris 21-28; 60-86; dan 102-119) dan Bujangga Manik (baris 67-77; 714-723; dan 1195-1207) merupakan gunung suci masyarakat Sunda khususnya wilayah Sumedang sehingga semua kabuyutan di sekitar Sumedang Selatan posisinya mengarah ke gunung tersebut. Di gunung tersebut juga terdapat kabuyutan Sanghyang Taraje.
Dalam tata ruang kosmos Sunda yang membagi dunia menjadi tiga, yaitu sakala, niskala, dan jatiniskala, jika dikaitkan dengan naskah Purusangkara, Selareuma dimaknai sebagai ruang yang dijaga oleh Batara Kala atau Dora Kala dalam naskah Bujangga Manik (baris 1504-1560). Dora Kala adalah penjaga pintu gerbang kahyangan dimana roh memasuki alam niskala (periks sub bab 3.2). Jika memang demikian, maka Selareuma (Batu Nangtung) Pasir Reungit merupakan simbol perjalanan spiritual seseorang ketika mulai memasuki alam niskala. Oleh karena itu, sebagai simbol gerbang ke alam niskala, Selareuma Pasir Reungit (berdasarkan bentuknya yaitu sebuah bukit) sudah mencerminkan fungsinya sehingga tidak diperlukan ornamen lain. Batu Pangcalikan Pasir Peti merupakan gerbang batas antara dunia manusia (madyapada) dengan saptabuana.
Secara horizontal tatanan Pasir Reungit dan situs-situs di sekitarnya yang mengilinginya di arah delapan mata angin merupakan pancer sebagai tonggak dangiang layaknya sarang lebah di dunia nyata “jagat leutik/buana leutik”; dan secara vertikal melambangkan jagat gede/jagat ageung- alam semesta sesuai Kropak 422 dan teks naskah Sang Hyang Hayu. Senarai konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis selalu bersifat triumvirate ‘tiga serangkai, tritunggal’.
Dalam tatanan tersebut, Masyarakat Sunda mencari makna dunia menurut eksistensinya, yakni menyangkut keluasan atau lingkupnya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya sehingga tidak ada sesuatu pun dikecualikan. Artinya masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Di sini Pasir Reungit atau Cadas Nangtung Pasanggrahan ataupun Selareuma merupakan jembatan (Sunda: rawayan) batas antara alam pratiwi ‘dunia manusia’ atau bhuhloka menuju ke Swahloka atau buana. Dinamai Selareuma bukanlah semata mengacu pada ucapan asal-asalan dan semena-mena, melainkan tetap harus dikembalikan konsep dasar kosmologi Sunda (Periksa bab II, sub bab naskah).
Secara morfologi, kata Selareuma juga selahuma merupakan bentukan kata asli dalam bahasa Sunda. Selareuma atau sélareuma identik dengan selahuma mengandung pengertian sebuah tempat ladang bebatuan yang tegak berderet bagaikan jari-jemari.
Istilah pasanggrahan secara morfologis terdiri atas kata dasar sanggrah yang artinya ‘menyimpan sementara (barang atau orang) sementara waktu’ mendapat gabungan awalan pa- dan akhiran –an yang berfungsi membentuk kata tempat atau lokasi. Jadi pasanggrahan artinya ‘tempat atau rumah peristirahatan sementara untuk bermalam para pejabat atau tamu penting’, dalam hal ini merupakan tempat singgah sementara orang-orang yang hendak mencapai moksa atau jivanmokta.
Senarai data tekstual (sumber tertulis) dan data kontekstual (data arkeologi) kini nyata bahawa Pasir Reungit – Selareuma – Pasangggrahan merupakan axis mundi karena itu Selahuma (baca : Selareuma) dalam Serat Purusangkara disebutkan sebanyak 25x penyebutan, pada bagian yang menyebutkan istilah Selahuma merujuk pada nama tempat atau lokasi yang bersifat mitos-legendaris. Istilah yang sangat Sunda mencakup berbagai makna yang teramat dalam yang merujuk kepada kegiatan berladang (agraris) di dalam melangsungkan kehidupan sehari-hari (sensorable-message) yang juga dipakai untuk menamai hingga ke alam kalanggengan (unsensorable-message).
Pasir Reungit adalah ‘AXIS MUNDI’ alam sela/Madyapada, dan bukan kebetulan pula jika bentuk-bentuk tonggak batu menjulang tinggi yang disediakan alam (proses geologi) juga sesuai dengan konsep kepercayaan Sunda, layaknya untaian reuma atau alam celah - pemberhentian sejenak, perjalanan jiwa/sukma/roh untuk selanjutnya menuju ke alam yang lebih tinggi yaitu buanasapta atau saptaloka yang dalam tatanan di Kabuyutan Sumedanglarang adalah Gunung Tampomas.
Alam Dunia
(Buana) Alam Kehidupan
Jatiniskala
(Kemahagaiban Sejati)
Gunung Tampomas Sang Hyang Manon
atau
Si Ijunajati Nistemen.
Niskala
(Kahyangan)
Alam diatas Selareuma Surga Makhluk gaib:
dewa-dewi, bidadari-bidadari, apsara-apsari, dan sebagainya.
Neraka Manusia yang tidak menjalani ajaran Sang Hyang Manon

PASIR REUNGIT/CADAS NANGTUNG PASANGGRAHAN/
SELAREUMA = alam sejenak = AXIS MUNDI

Sakala
(Alam Nyata)
Situs-situs di lingkungan Selareuma Cadas Nangtung pada 8 arah Mata angin
Manusia, hewan, tumbuhan, dan benda lain yang dapat dilihat.
Tabel di atas menggambarkan bagaimana perjalanan roh/sukma/jiwa dalam tatanan kosmologi Sunda
Alam sementara atau alam sejenak adalah adalah alam gaib yang dalam Serat Purusangkara disebutkan sebagai berikut:
“. . . Duh Paduka Sang Jagad Yang Berkuasa, mengenai turunannya Brahma dan juga Kala itu sekarang menjadi raja di Tanah Selahuma. Merajai semua raksasa yang melindungi seluruh tempat di sana. Negerinya pasti dinamai Selahuma, sedangkan yang menjadi raja adalah Kala, dengan julukan (Hal.135) Prabu Yaksadewa. Brahma itu menjadi gada yang dibawa Prabu Yaksadewa, sedangkan yang menjadi keinginannya adalah memusnahkan semua keturunan Wisnu”. Sanghyang Girinata bertanya kembali, “Mengapa sampai tiba-tiba hendak berbuat salah kepada sesama makhluk? Sekarang Brahma dan Kala itu sama-sama tidak patuh pada aturan saya . . . ”

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Selahuma mengacu pada sebuah nama tempat di bumi yang merujuk pada suatu lokasi lingkungan sebagaimana telah diuraikan di muka. Namun demikian, para penghuni tempat tersebut dapat dikategorikan sebagai mahluk dunia gaib, yakni: Sanghiyang Girinata, Sanghiyang Naradha (penghuni Suryalaya), Sanghiyang Kala dan Sanghiyang Brahma (penghuni Suryalaya yang turun ke Selahuma). Dunia gaib itu dalam naskah Sang Hyang Hayu termasuk alam saptabuana atau buanapitu. Artinya bahwa lokasi Selahuma atau Selareuma merupakan tempat yang memiliki fungsi magis dalam tatanan ruang bagi masyarakat yang tinggal di sekelilingnya.
Tidak perlu dipertanyakan dan diragukan mengapa pada lahan Pasir Reungit tidak ditemukan artefak (hasil buatan manusia) kecuali benda-benda yang merupakan sumber daya alam. Artefak-artefak (situs-situs) ditemukan justru berada dan terletak di sekeliling Pasir Reungit. Sehingga ke alam Kahiyangan sebelum menuju ke Gunung Tampomas, sehingga Pasir Reungit merupakan salah satu Kabuyutan dalam Tatanan Mandala yang berpusat di Gunung Tampomas. Sebagaimana dalam uraian UU Cagar Budaya Pasal 1 point a dan b (lihat lampiran), kabuyutan ini harus dilindungi dan dijaga kelestariannya.



BAB IV
PENUTUP
4.1 SIMPULAN
Merujuk butir Identifikasi Permasalahan (1.2) dan berdasarkan pada:
1. Peraturan pemerintah RI tentang pelaksanaan UU No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB), khususnya Bab I, pasal 1 a dan b, pada bagian ketentuan umum yang menyatakan:
1. Benda Cagar Budaya adalah:
a. benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan;
b. benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
2. Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hak-hak Masyarakat Adat (United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples), tanggal 13 September 2007, khususnya yang tercantum pada pasal 4, 5, dan 11, yaitu:
a. Pasal 4
Masyarakat Adat, dalam melaksanakan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri, memiliki hak otonomi atau pemerintahan sendiri dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan urusan-urusan internal dan lokal mereka, juga cara-cara dan sarana-sarana untuk mendanai fungsi-fungsi otonomi mereka;
b. Pasal 5
Masyarakat Adat mempunyai hak untuk menjaga dan memperkuat ciri-ciri mereka yang berbeda di bidang politik, hukum, ekonomi, sosial dan institusi-, institusi budaya, seraya tetap mempertahankan hak mereka untuk berpartisipasi secara penuh jika mereka menghendaki, dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Negara;
c. Pasal 11
Masyarakat Adat mempunyai hak untuk mempraktikkan dan memperbarui tradisi-tradisi dan adat budaya mereka. Hal ini meliputi hak untuk mempertahankan, melindungi dan mengembangkan wujud kebudayaan mereka di masa lalu, sekarang dan yang akan datang, seperti situs-situs arkeologi dan sejarah, artefak, disain, upacara-upacara, teknologi, seni visual dan seni pertunjukan dan kesusasteraan.
3. Pernyataan Mundardjito tentang definisi ‘situs’ sebagai ‘sebidang lahan yang mengandung atau diduga mengandung tinggalan arkeologi’, tanpa merinci kompleksitasnya, keluasannya, kepadatan penduduknya dan sebarannya ke dalam lingkup ruang budaya sehingga kata situs di Indonesia kerapkali menimbulkan kerancuan dalam pemakaiannya, karena tidak konsisten dengan prinsip taksonomi keruangan yang sifatnya hirarkial. Di samping itu, Undang-undang Benda Cagar Budaya tahun 1992 yang sedang direvisi sudah memperhitungkan bahwa ‘situs’ adalah kawasan’. Dalam pengertian ini, ‘situs’ sebagai kawasan adalah lahan yang relatif luas, yang berada dan mengandung sebaran sejumlah situs arkeologi yang letaknya berdekatan atau dalam satuan ruang (spatial clustering sites).
Pasir Reungit dengan Kabuyutan-kabuyutan yang terletak di sekelilingnya dalam bentang keruangan kabuyutan Sumedanglarang, bukan saja termasuk dalam konteks budaya materialistik, namun dalam cakupan yang lebih luas yaitu dalam tatanan budaya idealistik. Dengan demikian, Selareuma, Pasir Reungit merupakan bagian dari satu tatanan kosmologi Sunda yang tidak hanya berdekatan dalam hal keruangannya (space), tetapi juga memiliki kedekatan dalam bentuk (form) dan waktu (time) yang teridentifikasi dalam naskah Sejarah Ratu Patuakan dan sejarah kebudayaan Sumedanglarang (masa Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung abad ke-8 dan ke-9 Masehi). Dalam hal ini sama dalam bentuk kabuyutan di seluruh wilayah Sumedang yang mengacu pada bentuk budaya tradisi megalitik, misalnya kabuyutan Gunung Lingga, Gunung Tampomas, dan lain-lain; atau kabuyutan lain di wilayah Ciamis misalnya Kabuyutan Kawali, Karangkamulyan, Gunung Padang Cikoneng, dan lain-lain. Sehubungan dengan hal itu, kosmologi Sunda yang tercermin dalam tradisi naskah dan folklor Sunda, menjadi acuan manakala para karuhun Sunda membangun keraton, hunian masyarakat, pusat upacara keagamaan, dan bangunan-bangunan suci lain yang lebih kecil dalam kawasan itu.
Pasir Reungit dengan keberadaan dan kandungan sumberdaya alamnya berupa batu-batu tonggak tersusun rapi dengan kemiringan sekitar 60° ke arah timur, lahannya terletak di lingkungan pegunungan termasuk dalam rangkaian Dataran Tinggi Parahiyangan yang marupakan “benteng pakidulan” dan kawasan hulu (girang) aliran sungai-sungai di Tatar Sunda. Seperti kenyataannya bahwa aliran (sungai) Cipeles bermuara ke timur yakni Cimanuk. Semua tatanan fisiografis tersebut bukan semata kebetulan belaka, melainkan fakta bahwa Pasir Reungit berorientasi ke timur “Leluhur alias Karuhun” yang mengawali kehidupan selaras tataran waktu. Sejarah mencatat raja-raja Sumedang keturunan raja-raja yang berjaya di masa lampau berpusat di wetan, yakni Kerajaan Talaga. Batu tonggak yang tersusun rapih tersebut sebagian besar menunjukkan ciri khusus, yakni bagian badan yang diletakkan di bawah (di atas tanah) menunjukkan permukaan yang rata, sedangkan bagian badan mendongak ke atas berpermukaan kerucut semu “seperti bekas dipangkas kasar” bukan pula kebetulan, namun berkait kepada pola alami bahan bangunan yang secara umum ditemukan pada sebagian besar Kabuyutan di Tatar Sunda khususnya yang mengambil corak tradisi Megalitik, sebagaimana Batu Pancak yang ditemukan di puncak Bukit Pasir Reungit. Batu Pancak tersebut menurut tradisi masyarakat Sunda kuno berfungsi sebagai ‘pusat spiritual’.
Kabuyutan adalah mandala kerajaan maka setiap kerajaan selalu memilikinya. Oleh karena itu Kabuyutan disebutkan dalam teks naskah Amanat Galunggung: “Kabuyutan ti Galunggung sebagai timbang taraju jawadwipa mandala”. Maka bukan asal berkata jikalau sesepuh Yayasan Keraton Sumedanglarang menyampaikan bahwa Pasir Reungit bagi masyarakat Sumedang merupakan “Cadas Nangtung Nu Ngajadi Ciriwanci Sumedanglarang”. Selaras dengan yang digambarkan oleh Pantun Lutung Kasarung:
Gunung Cupu Mandala-hayu
Mandala Kasawiatan
di Hulu Dayeuh
dina cai nu teu inumeun
dina areuy nu teu tilaseun
dina jalan teu sorangeun
sakitu kasaramunan

Bahkan secara tegas dinyatakan oleh pakar Sunda (almarhum) Prof. Dr. Ayatrohaedi:
“Bangunan suci masayarakat Tatar Sunda tidak selalu harus diidentifikasi sebagai bangunan dengan artefak atau struktur seperti bangunan suci yang dimengerti masyarakat umumnya (candi); atau bangunan lengkap dengan fondasi, dinding dan atap, melainkan lahan bukit alam atau dibuat lambang suatu bukit (bukit buatan = gugunungan) dengan vegetasi hutan yang dibiarkan tumbuh alami...”

Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian dan pengkajian, disimpulkan bahwa lahan Selareuma Pasir Reungit, yang terletak di Kampung Selareuma, Desa Pasanggrahan Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang merupakan sebuah Kabuyutan yang juga merupakan ‘Situs’ Cagar Budaya di Tatar Sunda, yang termasuk ke dalam Tatanan Mandala Kabuyutan Cadas Nangtung di lingkungan Gunung Tampomas dengan seluruh kandungan warisan budaya lintas masa Sejarah Kebudayaan Sumedanglarang, sebagai satu kesatuan sistem tata ruang yang komprehensif dan integral (dilihat dari berbagai sudut pandang keilmuan, antara lain arkeologi, geologi, geografi, filologi, sejarah kuno, topografi, antropologi, dan folklor).
4.2 SARAN
Setiap situs memiliki karakter yang unik dan khas sesuai pengalaman pengetahuan kebudayaan masyarakat pendukung yang telah dijiwai oleh sejarah masa lampaunya. Oleh karena itu, tidak semua situs arkeologi dapat digeneralisasi begitu saja, apalagi dengan kondisi pengetahuan si peneliti yang kerap terbatas hanya pada pilihan bidang-bidang minat spesialisasi tertentu.
Berbicara tentang fenomena warisan aktivitas kebudayaan di Tatar Sunda (BCB), secara langsung akan berhadapan dengan berbagai permasalahan epistemologis yang fundamental. Apakah kita, peneliti, bertolak dari keyakinan bahwa gagasan teoritis dalam pengetahuan Ilmu Sosial Budaya universal, seperti Ilmu Pengetahuan Alam, atau terikat kepada kebudayaan dimana gagasan itu dicanangkan? Ataukah harus diteruskan dengan pertanyaan “Apakah kebudayaan suatu masyarakat/individu/kelompok sosial merupakan suatu sistem yang dihayati warganya sehingga pemahaman tentang lingkungan sosial dan biofisika harus dianggap seragam?” Ataukah pula masing-masing warga memiliki pemahaman sendiri-sendiri yang tidak perlu dan belum tentu sama dari satu warga ke warga yang lain ? Layaknya pepatah kuna mengatakan “ciri sabumi cara sadesa” (Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya). Dengan demikian, kami Tim Peneliti menyarankan untuk menetapkan Kampung Selareuma Pasir Reungit, Desa Pasanggrahan Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang, yang saat ini dikelola oleh CV. Stone House dan mandala-mandala yang berhubungan dengan lokasi tersebut SEBAGAI SITUS CAGAR BUDAYA. Di Samping itu, kami menyarankan agar penelitian situs-situs selanjutnya dilakukan secara KOMPREHENSIF INTEGRAL dari berbagai bidang ilmu terkait dapat dijadikan sebuah model untuk meneliti kabuyutan lain, khususnya di Tatar Sunda, dan seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Atja
1968 Carita Parahyangan: Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. Bandung: Yayasan Kebudayaan Nusa Larang.
1970 Tjarita Ratu Pakuan: Tjerita Sunda Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj. Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah
Ayatrohaedi, Tien Wartini, dan Undang A. Darsa
1987 Kawih Paningkes dan Jatiniskala. Alih Aksara dan Terjemahan. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda.
Bakker, Anton
1995 Kosmologi & Ekologi. Yogyakarta: Kanisius.
Baried, Siti Baroroh, dkk.
1985 Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Binford, Lewis R.
1972 An Archaeolological Perspective. New York: Seminar Press.
Danadibrata, R.A.
2006 Kamus Basa Sunda. Bandung: Kiblat Dananjaya, James
1994 Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: PT Pustaka Jaya Grafiti.
Danasasmita, Ma’mur
1981 Sastra Sunda Klasik. Bandung: ASTI
Danasasmita, Saleh, dkk.
1987 Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung. Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi).

Darsa, Undang A.
1998 Sang Hyang Hayu. Tesis Pascasarjana Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung.
2007 Carita Ratu Pakuan (Kropak 410) dalam Seri Sundalana 6. Bandung: Kiblat.
Darsa, Undang A. dan Edi S. Ekadjati
2006 Gambaran Kosmologi Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Clark, David L. (ed.)
1977 Spatial Archaeology. London: Academic Press.
Deetz, James
1967 Invitation to Archaeology. London.
Djafar, Hasan
1991 “Prasasti-Prasasti dari Masa Kerajaan Sunda,” dalam Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Bogor: Universitas Pakuan dan Puslitarkenas.
Djafar, Hasan , dkk.
1988 Daftar Inventaris Peninggalan Arkeologi Masa Tarumanagara. Jakarta: Universitas Tarumanagara.
Djatisunda, Anis
1992 “Rancamaya Dikaji Melalui Uga Sastra Pantun Bogor,” dalam Gotrasawala Sejarah III Peninggalan Kepurbakalaan di Jawa Barat, 25 Februari. Bandung: Universitas Pasundan
2008 “Fenomena Keagamaan Masa Sunda Kuna Menurut Berita Pantun dan Babad”, dalam Seminar “Revitalisasi Makna dan Khasanah Situs Sindang Barang”, 19-20 April 2008 di Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor. Belum diterbitkan.
Ekadjati, Edi S., dkk.
2000 Serat Catur Bumi dan Sang Hyang Raga Dewata: Edisi dan Terjemahan Teks serta Deskripsi Naskah. Bandung: The Toyota Foundation dan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
Eliade, Mircea
1959 The Sacred and the Profan. New York: Harcourt, Brace & World Inc.
Iskandar, Yoseph
1992 “Sang Mwakta Ring Rancamaya,” dalam Gotrasawala Sejarah III Pe-ninggalan Kepurbakalaan di Jawa Barat, 25 Februari. Bandung: Universitas Pasundan.
Littlejohn, Stephen W.
1995 Theories of Human Communication. Belmont: Wadsworth Publishing Company (Fifth Edition);
Magetsari, Nurhadi
1999 Metode Interpretasi Dalam Arkeologi, makalah disampaikan dalam Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Lembang, 22-26 Juni (tidak diterbitkan).
Mardiwarsito, L.
1978 Kamus Jawa Kuna (Kawi)—Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.
Munandar, Agus Aris
1991 “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra,” dalam Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Bogor: Universitas Pakuan dan Puslitarkenas.
1994 Penataan Wilayah pada Masa Kerajaan Sunda,” dalam Seminar Evaluasi Data dan Interpretasi Baru Sejarah Indonesia Kuna (dalam Rangka Purna Bakti M. M. Soekarto Karto Atmodjo). Yogyakarta, 23-24 Maret
2007 Situs Sindang Barang: Bukti Kegiatan Keagamaan Masyarakat Kerajaan Sunda (Abad 13-15 M). Laporan Hasil Penelitian Awal. Bogor: Padepokan Giri Sunda Pura Sindang Barang.
2008 “Bangunan Suci dalam Masa Kerajaan Sunda: Tinjauan Terhadap Kerangka Analisis”, dalam Seminar “Revitalisasi Makna dan Khasanah Situs Sindang Barang”, 19-20 April 2008 di Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor. Belum diterbitkan.
Mundardjito
1993 Pertimbangan Ekologi Dalam Penempatan Situs Masa Hindu Buda Di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro. Disertasi Jakarta: Universitas Indonesia.
2002 “Perencanaan Tata Ruang Situs Arkeologi”, dalam Laporan Workshop Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Percandian Situs Batujaya Kabupaten Karawang. Pemerintah Propinsi Jawa Brat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Cikampek – Karawang, 15-19 April..
Noorduyn, J.
1982 “Bujangga Manik’s Journeys Through Java: Topographical Data from An Old Sundanese Source”, dalam BKI Deel 138 4e aflevering. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
Noorduyn, J., dan A. Teeuw.
2006 Three Old Sundanese Poems. KITLV, dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Hawe Setiawan, Tien Wartini, dan Undang D. Darsa, dalam judul Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 2009
Panitia Kamus Lembaga Basa & Sastra Sunda
1990 Kamus Umum Basa Sunda. Bandung: Tarate.
Prawiroatmojo, S.
1981 Bausastra Jawa—Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.
Pudentia MPSS
1998 Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.
Ricouer, Paul
1976 Interpretation Theory: Discouse and the Surplus of Meaning. Fortworth: Christian University of Texas Press.
Saptono, Nanang, dan Agus
1994 Laporan Hasil Penelitian Penanggulangan Kasus Kepurbakalaan di Kecamatan Bayongbong, Wanaraja dan Banyuresmi Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.
Saringendyanti, Etty.
1996 Penempatan Situs Upacara Masa Hindu Budha: Tinjauan Lingkungan Fisik Kabuyutan Di Jawa Barat. Tesis Magister Arkeologi. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Saringendyanti, Etty dan Tanti R. Skober
2009 Percandian di Tatar Sunda Masa Hindu Budha. Bandung: Sastra Press.
Satjadibrata, R.
1954 Kamus Basa Sunda (Katut Kětjap-kětjap Asing Nu Geus Ilahar). Djakarta: Perpustakaan Perguruan Kementrian P.P. Dan K.
Sedyawati, Edi
1994 Pengarcaan Ganesa Masa Kadiri dan Singhasari: Sebuah Tinjaun Sejarah Kesenian. Seri LIPI-RUL, Ecole Francaise D’Extreme-Orient, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Institut of Sciences) – Jakarta, Indonesia, Rijkuniversiteit te Leiden, Leiden, the Netherlands.
Silitonga, P.H.
1973 Peta Geologi Lembar Bandung, Quadrangle 9/XIII-F. Direktorat Geologi Bandung
Sumardjo, Jakob
2003 Simbol-Simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-Tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir.
Suryalaga, Hidayat.
2009. Kajian Filsafat Sunda. Bandung: Nur Hidayah.
Suryani NS., Elis & Undang A. Darsa.
2003. Kamus Bahasa Sunda Kuno Indonesia. Bandung: Alqaprint.
Suryani NS., Elis.
2007 Mengenal Aksara, Naskah, dan Prasasti Sunda. Tasikmalaya: Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya.
2007. Keanekaragaman Budaya Sunda Buhun. Tasikmalaya: Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya.
2008. Merumat Warisan Karuhun Orang Sunda yang Terpendam dalam Naskah dan Prasasti. Tasikmalaya: Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya & Alqaprint.
2008 Dongeng Tatar Sunda. Tasikmalaya: Rengganis Print.
2009 Kearifan Lokal Budaya Sunda yang Tercermin dalam Naskah dan Prasasti. Tasikmalaya: Dzulmariaz Print.
Susanto, P.S. Hary
1987 Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius.
Widiyanto dan Suprapto Dibyosaputro
1991 “Geomorfologi,” dalam Evaluasi Sumberdaya Lahan. Yogyakarta: Fakul¬tas Geografi Universitas Gadjahmada.
Van Bemmelen, R.W.
1934 Geologische Kaart van Java, Blad 36, Bandung:.Dienst van den Mijnbouw Nederlandsch-Indie.
1949 The Geology of Indonesia. Tha Hague, Martinus Nijhoff, The Netherlands.
Warnaen, Suwarsih, dkk.
1987 Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Bandung: Sundanologi
Zoetmulder, P.P.
1982 Old Javanese—English Dictionary. ‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.


INTERNET
Suryani, Elis
2009 “Gambaran Kosmologis Sanghiyang Raga Dewata (Naskah Lontar Abad XVI Masehi), dalam http://www.wacananusantara.org, diakses 15 September 2009

ADENDUM
1. TEKS NASKAH SERAT PURUSANGKARA
(Bagian yang dikutip berupa terjemahan dalam bahasa Indonesia)

A. Identifikasi Naskah
1. Judul Naskah : Serat Purusangkara (SP)
2. Nomor Naskah : 07.46
3. Asal Naskah : Kuningan
4. Keadaan Naskah : Naskah masih baik dan tulisan masih jelas dibaca
5. Bahan Naskah : Daluang
6. Ukuran Naskah
a. Ukuran sampul : 21,8 cm x 33 cm
b. Ukuran halaman : 20,5 cm x 32,5 cm
c. Ruang tulisan : 14,5 cm x 27 cm
7. Tebal Naskah : 371 halaman
8. Jumlah Baris Per Halaman : 20 baris
a. Halaman Awal : 5 baris
b. Halaman Akhir : 2 baris
9. Aksara Naskah : Jawa (Cacarakan)
10. Bahasa Naskah : Jawa Dialek Priangan
11. Tinta yang digunakan : Hitam
12. Bentuk Teks : Prosa
13. Cara Penulisan : Tulisan tangan dan bolak-balik
14. Tahun Penyalinan : Tidak terdapat titimangsa
15. Pemilik Naskah : Koleksi Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga

Naskah Serat Purusangkara (SP) seperti yang tertera pada teks halaman awal berasal dari Dalem Kangjeng Pangeran Panji Puspakusuma di Surakarta. Kondisi naskah SP masih bagus dan tulisannya masih dapat dibaca dengan jelas. Naskah ini ditulis pada daluang yang disampul dengan karton tebal berwarna hijau kebiru-biruan yang dilapisi plastik. Aksara Cacarakan (Jawa) yang digunakan berukuran sedang kecuali untuk bagian awal ukurannya besar. Jika dilihat dari bentuk aksara dari halaman pertama sampai halaman terakhir tampak memiliki karakter aksara yang sama atau dalam hal ini naskah SP hanya ditulis oleh satu orang penulis.
Penomoran halaman naskah SP ada yang meloncat 30 halaman, yaitu dari halaman 309 langsung ke halaman 340. Pada awalnya diperkirakan yang 30 halaman tersebut hilang, namun setelah ditelusuri dari alur ceritanya selaras. Kemungkinan besar pada saat membubuhi nomor halaman tersebut penulis lupa sehingga terjadi kesalahan penulisan lambang angka.

B. Ikhtisar Isi
Naskah SP disajikan berbentuk prosa yang tidak terikat dengan aturan pola metrum gurulagu, guruwilangan maupun jumlah padalisan dalam setiap pada (bait), seperti halnya dalam naskah yang berbentuk puisi. Naskah SP secara garis besar menceritakan tentang perjalanan Prabu Jaya Purusa serta berlatar tempat di lingkungan keraton. Walaupun naskah ini berjudul Serat Purusangkara namun yang menjadi tokoh sentralnya ialah Prabu Jaya Purusa di negeri Widarba. Adapun nama Purusangkara merujuk pada salah satu nama lain dari menantu Prabu Jaya Purusa, yaitu Prabu Astra Darma dari Yawastina yang menikahi Dewi Pramesti yang pada akhirnya Prabu Purusangkara sirna beserta negerinya menjadi samudra. Berdasarkan susunan ceritanya teks SP terbagi ke dalam 11 bagian cerita atau episode. Episode yang berkaitan dengan Selahuma terdapat pada episode 6 (± 170 halaman naskah), yaitu sebagai berikut:
Ketika berjalan satu bulan pada tahun 841 siklus Suryasangkala (919 Masehi) atau dua bulan pada tahun 866 siklus Candrasangkala (944 Masehi), termasuk tahun Sambrama dan mangsa Pausa. Diceritakan di negeri Malawapati, sang raja yaitu Prabu Aji Darma bersiteguh untuk menyerang ke negeri Widarba untuk membalas kematian ayahnya, yaitu Prabu Sariwahana. Patih Sudarma menasehatinya bahwa dalam peperangan dulu Paduka telah kalah dan jika sekarang hendak perang kembali maka akan terjadi kekalahan dan mengalami kesulitan pada negeri ini.
Lalu adik Patih Suksara, yaitu Arya Sumarma bercerita kepada kakaknya mengenai kehendak raja tadi. Tidak lama terdengar suara ghaib, yaitu suara Patih Sunjali yang berpesan bahwa negeri Malawapati akan sirna dan kalian berdua harus pergi malam ini juga ke negeri Yawastina dan mengabdi di sana. Setelah mendengar suara itu, pada malam harinya mereka bergegas meninggalkan negeri Malawapati menuju negeri Yawastina. Begitu pula yang dialami oleh Brahmana Resi Rasika. Kepergian ketiga abdi tersebut diketahui oleh Prabu Aji Darma. Ketika mereka bertiga telah sampai di negeri Yawastina, mereka menceritakan maksud kedatangannya kepada Prabu Astra Darma, maka setelah itu mereka bertiga diangkat menjadi abdi Yawastina.
Adapun Prabu Aji Darma tetap menyerang ke negeri Widarba dan menyuruh dua adiknya yaitu Raden Darma Sarana dan Raden Darma Kusuma untuk menjaga kerajaan. Sesampainya di sana terjadilah pengrusakkan dan pembunuhan. Kejadian tersebut diketahui oleh pengawal Widarba yang sedang berkeliling, lalu disampaikan kepada Prabu Jaya Purusa sehingga terjadilah pertempuran antara negeri Widarba dengan Malawapati. Akhirnya negeri Malawapati dikalahkan oleh negeri Widarba. Balatentara Malawapati yang selamat mengabdi pada negeri Widarba. Kedua adik Prabu Aji Darma di negeri Malawapati mendapat pesan dalam mimpinya bahwa harus mengabdi pada negeri Yawastina.
Dalampada itu, diceritakan di Suralaya, Sanghyang Girinatha memerintahkan Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma untuk turun ke bumi dan memimpin para raksasa di Selahuma. Sanghyang Kala diangkat menjadi raja dan diberi nama Prabu Yaksadewa dan Sanghyang Brahma menjelma menjadi pakaian dan gada Prabu Yaksadewa.
Lalu diceritakan pula dua jiwa perempuan yaitu Kanistri dan Metili serta jiwa Maharsi Mayangkara alias Resi Anoman yang raganya bertapa di Gunung Kandhalisada. Maharsi Mayangkara alias Resi Anoman disuruh oleh Sanghyang Girinatha menuju ke negeri Yawastina untuk menyelenggarakan perjodohan antara putra-putra di Yawastina dengan putri-putri di Widarba. Di negeri Widarba, Prabu Jaya Purusa hendak menikahkan putranya yang bernama Raden Jaya Amijaya dengan Ken Satapi cucu dari Resi Kumbayana di Gunung Padang.
Tidak lama di sana kedatangan dua raksasa yang bernama Gawaksa dan Pradaksa utusan Prabu Yaksadewa dari Selahuma untuk menyampaikan pustaka (surat) yang isinya bermaksud melamar putri raja yang bernama Dewi Pramesti. Namun Prabu Jaya Purusa tidak menyetujuinya dan akhirnya terjadilah peperangan. Berkat bantuan Maharsi Mayangkara alias Resi Anoman, pasukan dari Selahuma dapat dikalahkan.
Ketiga putri Prabu Jaya Purusa dinikahkan dengan putra-putra negeri Yawastina, yaitu Dewi Pramesti dengan Prabu Astra Darma, Dewi Pramuni dengan Raden Darma Sarana, dan Dewi Sasanti dengan Raden Darma Kusuma. Selanjutnya, ketiga putra negeri Yawastina berganti nama, Prabu Astra Darma menjadi Prabu Purusangkara, Raden Darma Sarana menjadi Arya Amijaya, dan Raden Darma Kusuma menjadi Arya Jaya Kirana.

C. Kutipan Redaksi Terjemahan Yang Berkaitan Dengan Selahuma
............................................................................................................................................. (Hal.134) bubar.
Prabu Astra Darma pulang ke keraton, Patih Sudarma dan teman-temannya masing-masing pulang.
Selesailah cerita negeri Yawastina akan diganti dengan keadaan di negeri Suralaya. Ketika itu Saghyang Girinata ditemani seluruh bidadara-bidadari. Sanghyang Naradha memanggil Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma untuk turun menjelma ke bumi. Kata Sanghyang Naradha,
“Duh Paduka Sang Jagad Yang Berkuasa, mengenai turunannya Brahma dan juga Kala itu sekarang menjadi raja di Tanah Selahuma. Merajai semua raksasa yang melindungi seluruh tempat di sana. Negerinya pasti dinamai Selahuma, sedangkan yang menjadi raja adalah Kala, dengan julukan (Hal.135) Prabu Yaksadewa. Brahma itu menjadi gada yang dibawa Prabu Yaksadewa, sedangkan yang menjadi keinginannya adalah memusnahkan semua keturunan Wisnu.”
Sanghyang Girinata bertanya kembali, “Mengapa sampai tiba-tiba hendak berbuat salah kepada sesama makhluk? Sekarang Brahma dan Kala itu sama-sama tidak patuh pada aturan saya.”
Sanghyang Naradha menjawab, “Silakan terserah kehendak paduka, karena yang menjadikan gerak-gerik jagat raya ini adalah paduka, tidak akan keliru.”
Sanghyang Girinata berkata lagi, “Seperti itulah Kakang Naradha. Kamu jangan sampai ditaklukkan, lalu turunlah ke bumi, lindungi semua keturunan Wisnu, serta kamu akan mengupayakan untuk mengumpulkan para prabu di Yawastina dan para (Hal.136) prabu Widarba.”
Sanghyang Naradha berkata, “Baiklah,” lalu ia terbang atas kehendaknya dewa.
Lalu diceritakan ketika itu Sanghyang Naradha berjumpa dengan nyawa dua perempuan. Keduanya ditanya tentang alasan mengapa mereka melepas rasa terdalam menuju tempatnyanya yang sejati. Yang satu berkata,
“Silakan Sanghyang Bathara yang tak pernah keliru menjadikan baik buruknya badan saya ketika masih ada di bumi dulu. Adapun yang menjadi penyebab kematian saya itu begini paduka. Selama saya menikah dan lama dibantu oleh dukun beranak, saya belum pernah punya anak. Saya memohon dengan sangat kepada dewa lalu diizinkan untuk diperistri. Akhirnya sampai pada (Hal.137) batas akhir, saya meninggal tidak menunggu datangnya anak sehingga pulang ke tempat saya yang sejati ini paduka. Sedangkan nama saya Kanistri dari Desa Soya. Adapun penyebab saya sekarang telah sampai di sini adalah karena permohonan saya, semoga selanjutnya saya dimasukkan dalam neraka saja, karena sangat jeleknya perilaku saya ketika masih ada di bumi dulu, sehingga melakukan perbuatan yang hina seperti itu tadi. Oleh karena itu, setelah menunggu lama-lama saya dimasukkan ke neraka, paduka.”
Selesai perkataan Kanistri, Sanghyang Naradha sangat kasihan dalam hatinya. Kemudian yang satunya disuruh berkata,
“Duh Sang Mahadewa, menurut perasaan saya, apa yang (Hal.138) saya lakukan ketika masih ada di bumi dulu lebih baik. Perilaku saya sebagai perempuan tidak ada cacat sekecil kulit beraspun. Barangkali Sang Bathara bertanya, nama saya Metili. Istri Umbul Sandana dari Desa Karja. Sedangkan penyesebab kematian saya itu begini, paduka. Suami saya yang bernama Sandana di Desa Karja tadi beristri lagi lebih cantik, namanya Milag. Namun mengenai perilakunya dalam bermadu masih diatur orang tua saya. Selamanya saingan saya, yaitu Milag tadi selalu saya cari setiap pergi. Saya mencari hingga saudara yang seayah-ibu. Pada satu hari, saingan saya, yaitu Milag tadi datang dan tega (Hal.139) memberikan racun kepada saya yang menjadi sebab atas kematian saya itu. Selanjutnya saya tidak tahu lagi bagaimana saingan saya tadi itu. Begitulah paduka kematian saya ini karena dianiaya. Saya tidak suka dan tidak menerima. Semoga ada belas kasihan Mahabathara untuk membalas saingan saya, yaitu Milag tadi. Kematian saya ini adalah karena rasa belas kasih, atau saya ini ketika masih ada di bumi selalu berbuat kebaikaan kepada sesama, juga tidak putus-putus saya selalu menyembah kepada dewa. Oleh karena itu semoga selanjutnya saya dinaikkan ke syurga saja, setelah menunggu lama-lama (Hal.140) ada di sini, paduka.”
Selesai perkataan ruh orang perempuan yang bernama Metili tadi, lalu seluruh anggota badannya atas kehendak dewa tiba-tiba dapat berkata sendiri-sendiri seperti ini,
“Duh Mahabathara yang telah mendengar pernyataan orang bohong seperti itu. Sesungguhnya Metili itu ketika masih ada di bumi jelek perilakunya. Barangkali suaminya sendiri yang mempunyai istri pertama bernama Loka, sedangkan orang yang bernama Sadana tadi itu hanya kesenangannya saja. Sedangkan Metili itu selamanya hidup di alam dunia telah berumah tangga sebanyak sembilan kali. Dia telah melakukan selingkuh dua puluh lima kali (Hal.141) dengan Sadana itu. Selain itu, dia banyak melakukan kejahatan. Sedangkan yang menjadi sebab matinya itu karena sakit terlalu banyak laki-laki, menunggu hingga bau busuk dan tak terpelihara badannya.”
Selesai anggota badan Metili berbicara, Sanghyang Naradha tersenyum lalu bertanya kepada Metili, “Eh Metili, seperti itu cerita anggota tubuhmu, sampai begitu kelakuanmu?” Ketika itu Metili sangat malu, lalu ia menunduk saja.
Kemudian Sanghyang Naradha berkata kepada ruh perempuan yang bernama Kanistri tadi, bahwa saat ini Kanistri mendapat belas kasih dewa dan diperkenankan naik ke syurga, namun akan diuji oleh orang yang menyebabkan saat kematiannya dulu, karena Kanistri matinya itu belum pernah me(Hal.142)menyusui bayi. Jadi masih membawa kotoran air payudaranya. Sekarang Kanistri diperintahkan untuk menyusui kedua sahabatnya, dan jika telah terlaksana tidak ada kekhawatiran dalam hati dan sungguh akan diperkenankan naik ke syurga bersatu dengan Sanghyang Suksma Kawekas. Kanistri berkata, “Baiklah paduka.”
Seketika lalu ada ular yang sangat besar sebanyak dua ekor secara tiba-tiba. Tidak begitu lama ular raksasa itu setelah menerima tanda dari Sanghyang Naradha lalu mereka menyusu kepada Kanistri. Ketika payudara Kanistri dihisap oleh kedua ular itu, seketika itu juga sangat bergetar hampir lupa akan pencariannya atas keadaan yang sejati. Lama-kelamaan ia sadar akan asal mula kehendaknya, lalu diselamatkan pikirannya, bahwa yang dituju dalam pencariannya hanyalah kekekalan (Hal143) dapat naik ke syurga Sanghyang Tunggal. Karena itu tidak lama sahabatnya hilang tanpa sebab. Sejatinya kendaraan Kanistri itu adalah yang keluar menjadi naga itu. Kanistri sangat suka karena sukses dalam pencariannya. Sanghyang Naradha tertawa sambil berkata kepada Kanistri bahwa sekarang ia telah diterima dan diperkenankan naik ke syurga. Kanistri berkata, “Baiklah paduka,” lalu ia berjalan setelah sempurna.
Sanghyang Naradha lalu berkata kepada ruh perempuan yang bernama Metili tadi, bahwa sekarang Metili diperintahkan mejalani cobaan dari dewa, dan jika mencapai keselamatan seperti Kanistri sungguh diperkenankan naik ke syurga serta jujur dalam perkataannya. Metili berkata, “Baiklah paduka.”
Lalu dia disuruh memegang ujung senapan yang dikoyak dan dibagi sepuluh. Sedangkan (Hal.144) pangkal senapan masih dipegang Sanghyang Naradha. Metili segera maju, senapan itu dipegang oleh kedua tangannya, dan setelah kuat pegangannya, segera ditekan pelatuknya oleh Sanghyang Naradha sehingga jemari kedua tangannya hilang semua. Metili menjerit sekeras-kerasnya kepada Sanghyang Naradha. Kemudian ia dibentak menjadi burung cakaklak, serta dalam sumpahnya tidak diperkenankan minum kecuali air hujan. Sedangkan ketika melihat air samudra, air sungai dan sumber air lainnya disumpahi terlihat menyala-nyala. Kemudian keluar suara yang bergetar dan bergemuruh. Sedangkan Metili seketika itu lalu menjadi burung cakaklak dan segera terbang mengembara.
Tidak diceritakan ketika itu dan juga sebelumnya tentang jiwa kedua perempuan tadi, lalu datanglah ruh yang berasal dari (Hal.145) jiwa Sang Maharsi Mayangkara yang sedang bertapa di Gunung Kandhalisada. Ketika itu Sanghyang Naradha yang bijaksana dalam penglihatan lalu melambai dan menyuruhnya mendekat ke hadapannya. Resi Mayangkara bergemetaran saat mendekati dan mencium kaki beliau. Lalu ia ditanya tentang maksud kedatangannya. Dia berkata bahwa ia ingin segera berbadan senjata, ingin segera menyatu dengan para dewa. Sanghyang Naradha tersenyum senang sambil berkata,
“Wahai ananda Hyang yang sungguh mulia budinya. Ketahuilah sekarang ini kamu belum menyelesaikan janjimu, serta belum diperkenankan untuk kembali ke zaman keabadianmu karena masih panjang ceritamu berada di alam dunia. Oleh Sebab itu, sekarang lebih baik pulanglah saja dulu. Kembali ke dalam badanmu karena badanmu itu sangat disukai ular, dan dalam waktu singkat kamu tidak akan mempunyai tempat tinggal karena (Hal.146) kamu telah bangkit dan melepaskan semua anggotamu tadi, sehingga menjadi tidak semakin karuan keadaannya. Bersyukur dan berbahagialah kamu bisa menyatu seperti sekeadaan kamu semula. Di sana kamu sungguh akan bertambah syurganya yang sangat mulia.”
Resi Mayangkara berkata, “Duh Paduka Mahabathara, perkenankanlah saya tanpa harus meminta pulang ke zaman keabadian saya. Sekalipun tidak diperkenankan pulang ke keadaan saya yang sejati, berhubung tempat saya ada di dasar neraka terdalam, paduka. Oleh karena demikian itu sesungguhnya saya ini telah lama sekali berada di bumi. Barangkali diumpamakan orang yang anghkuh, tetapi sesungguhnya telah merasakan lelah yang tidak ada akhirnya. Maka selebihnya dari u(Hal.147)saha saya tadi, serta saya berambisi harus meminta pulang ke keadaan saya yang sejati saja paduka.” Selesailah perkataan Maharsi Mayangkara.
Sanghyang Naradha berkata lagi, “Wahai ananda Mayangkara, kamu tidak boleh lelah akan panggilan Sanghyang Jagad Wisesa tadi. Ketahuilah olehmu sekarang kamu diberi pekerjaan oleh Sanghyang Girinata. Disuruh mengumpulkan keturunan Prabu Sariwahana dan keturunan Prabu Jaya Purusa di Widarba, dan kamu itu adalah keturunan prajurit yang mulia rela mati sampai tidak menggunakan perisai perang. Maka sekarang kamu pergi ke Yawastina, tikahkan Prabu Astra Darma dengan saudaranya karena dialah jodoh putra Prabu Jaya Purusa di Widarba.”
Ketika itu lalu dibisikkan semua perjalanannya. Sang Maharsi Mayang(Hal.148)kara sangat senang. Akhirnya ia berkata, “Baiklah Paduka,” lalu pamit dan kemudian turun dari Suralaya hendak kembali ke pertapaannya di Gunung Kandhalisada. Sanghyang Naradha masih mengawasi kepergian Sang Maharsi Mayangkara dari kejauhan. Kemudian sesampainya ke pertapaan di Kandhalisada, Sang Maharsi Mayangkara bertemu dengan kakaknya yang bernama Resi Anoman.
Diceritakan ketika itu raga Maharsi Mayangkara masih ditemukan berdiri tegak seperti tugu, karena kuat semedinya tidak ada yang bisa mnandingi ketinggian Sang Maharsi Mayangkara. Jika ada burung yang bisa melebihi tidak akan mati. Menurut cerita bahkan angin atau awan mendung pun yang menerobos tidak akan melebihi tingginya pertapaan, kecuali hanya cahaya tempatnya sendiri yang ada setinggi Sang Resi A(Hal.149)noman, serta terlihat menggandeng sebesar kepala.
Dalam pada itu setelah bertemu raga dengan jiwanya, mukjizat dewa, raganya itu dapat bercakap-cakap dengan jiwanya. Sesungguhnya memang itu karena kekuasaan dan kehendak Sang Maharsi Mayangkara tadi. Karenanya ia sama-sama berbincang dengan keduanya. Perkataan Sang Maharsi Mayangkara begini, “Wahai raga lahiriahku yang ada di bumi, seluruh anggota badanku semua, ketahuilah pada sekarang kalian akan saya masuki menyatu dengan saya lagi seperti dulu.”
Jawaban Sang Raga, “Wahai jiwaku yang sesungguhnya menguasai dunia, apa sebabnya kamu itu telah mulia dan suci sampai berkehendak untuk lahir lagi? Apakah kamu itu hendak mengajak pada perbuatan jahat saja, sampai (Hal.150) tidak terpikiran betapa mustahil sekali kehendakmu itu, bahkan keinginan saya selamanya ini bisa menyatu dengan keadaanmu. Akhirnya kamu yang bermaksud akan kejelekan. Jika begitu saya tidak sudi menyatu lagi denganmu. Pasti hanya akan mengajak kepada perbuatan jahat saja, meskipun nyatanya kamu bisa menduga akan pertanyaan ini. Sungguh saya akan menuruti akan kehendakmu itu.”
Jawaban jiwa Mayangkara, “Wahai raga lahiriahku, kamu jangan khawatir kepadaku. Artinya jika kamu tidak saya jaga tinggal di bumi, pasti kamu akan membusuk dan menjadi makanan cacing karena telah tidak ada yang menghidupi di dalam sekujur anggotamu semua. Ketahuilah, kamu masih berkuasa bisa berbincang dengan saya sela(Hal.151)ma ini. Sesungguhnya memang masih pengaruh dari kekuasaan kehendaknya yang sejati meliputi kepadamu. Jika kamu bertambah pada kekuasaan kehendak saya yang sejati, maka kamu itu akan mendapat hinaan bangsa raksasa yang berbuat kepada kamu. Sedangkan jika kamu hendak mengetahui kesejatianmu sendiri, nah ayo ungkapkan pertayaanmu kepada saya dulu. Nanti saya akan berkata kepada kamu.” Selesailah perkataan Maharsi mayangkara.
Lalu Maharsi Anoman berkata, “Wahai jiwaku yang sejati. Adapun yang menjadi pertanyaanku kepada kamu ialah, dahulu ketika sebelumnya datang kepada ayah dan ibu, aku juga kamu ini ada di mana tempatnya, dan apa namanya? Setelahnya datang pada ayah dan ibu itu apa namanya dan di mana tempatnya yang sejati? Juga setelah (Hal.152) dalam kenyatan menjadi itu apa namanya dan di mana tempatnya?. Nah, cepatlah tebak pertanyaan saya kepada kamu ini. Jika memang kamu mulai menduga semua tadi, sungguh tidak khawatir pada kehendakmu jadi.”
Jawaban Maharsi Mayangkara, “Wahai raga Anoman, ketahuilah olehmu yang menjadi pertanyaanmu itu sesungguhnya begini. Adapun yang dulu sebelum diperintah kepada ayah dan ibu, saya dan kamu ini masih bernama kehendaknya Hyang Sejati, terletak di udara, yaitu nafsu yang melahirkan keinginan. Artinya yaitu yang bernama Seming Sakaroron. Adapun pertanyaanmu yang kedua, setelah datang kepada ayah dan ibu, itu namanya jiwa, artinya hidup, terletak pada rasa terdalam bersuka ria (Hal.153) selanjutnya melahirkan sifat, karena yang bernama hidup itu memang menghidupi pada semua sifat. Adapun pertanyaanmu yang ketiga, setelah kenyataan ada ayah dan ibu itu bernama budi, terletak pada sifatmu yang lahir itu, selanjutnya melahirkan pertumbuhan seperti bulu, kulit, tulang, dan sebagainya yang sama nyata terlihat oleh mata semua. Telah terjawab semua pertanyaanmu yang tiga perkara tadi, namun ketahuilah oleh kalian semua, semua itu sungguh sama terikat oleh kehendakku serta diliputi oleh hidupku yang sejati. Adapun kamu tadi mengaku bisa hidup sendiri, itu adalah mustahil. Dengan tidak ada yang menghidupi kehidupan dari apa? Sesungguhnya hidupmu itu pasti diliputi oleh hidupku. Oleh karena itu, sekarang ka(Hal.154)mu akan sadar bahwa kamu hanya cangkangku saja.”
Selesai perkataan Maharsi Mayangkara, ketika itu Resi Anoman mendengar perkataan yang begitu tadi, seketika lalu tanpa bicara serta melumatkan tanpa daya seperti bangkai utuh. Demikian Maharsi Mayangkara ketika melihat raganya telah kalah, segera ia masuk lagi dan menyatu menjadi syurga seperti pada dulu-dulu. Tak begitu lama, datanglah Sanghyang Naradha dengan tiba-tiba, lalu mempercepat perjalanannya Maharsi Mayangkara ke negeri Yawastina. Resi Anoman berkata, “Baiklah paduka.”
Kepergian Sanghyang Naradha telah sempurna lagi. Lalu perjalanan Sang Maharsi Mayangkara tidak diceritakan berapa lamanya. (Hal.155) Ketika sampai di Yawastina, ia menuju ke bawah pohon beringin kembar. Ketika itu Prabu Astra Darma sedang pergi dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara yang sama menghadap tidak berubah seperti biasanya. Di sana selama dihadap, Prabu Astra Darma kaget melihat di bawah pohon beringin kembar terlihat ada yang putih-putih sedang duduk, dan empat panjang rupanya setengah seperti manusia. Raja lalu mengutus pengawal untuk memeriksa yang putih-putih tadi. Pengawal yang diutus berkata, “Baiklah paduka.”
Lalu pergi dari tempat penghadapan. Ketika sampai di bawah pohon beringin kembar, utusan raja mengetahui bahwa yang terlihat putih-putih itu adalah monyet yang sangat besar, serta memakai pakaian seperti pakaian (Hal.156) raja. Utusan raja sangat heran lalu hingga semua berkata begini, "Lah ini monyet-monyet lagi pula bukan main besarnya, dan apakah gerangan yang menjadi kehendaknya sampai berkumpul seperti manusia.”
Maka Resi Anoman menjawab dengan pelan, “Hai utusan raja, telah diketahui aku ini monyet dari hutan. Jelek-jelek begini masih raja pendeta serta diangkat menjadi putra oleh Bathara Bayu. Lagi pula sesungguhnya saya ini saudara Raja Pandhawa dulu. Nama saya Resi Anoman yang bertapa di Gunung Kandhalisada. Maka saya terburu-buru sampai di sini untuk melakukan perintah dewa. Disuruh berpesan bagi semua yang berkunjung kepada raja yang terhormat di Yawastina, yang bernama Prabu Astra Darma.”
Begitu (Hal.157) utusan raja mendengar perkataan Resi Anoman yang seperti tadi, ia sangat senang dan menghormatinya sambil berjongkok. Kata utusan, “Nah jika begitu Resi kalian mohon tinggal di sini sebentar, saya akan memberitahukan kepada raja dulu.” Resi Anoman berkata, “Silakan.”
Utusan raja lalu kembali lagi ke Pancaniti. Setelah diceritakan semua pemeriksaannya dari awal hingga akhir, lalu Prabu Astra Darma dan semua yang menghadap sangat suka, serta semua sangat keheranan karena panjang umurnya. Sang Raja bertanya kepada Patih Sudarma, “Apakah dalam cerita dulu kala ada yang bernama Resi Anoman?”
Jawab Sang Pemimpin kepercayaan, “Benar Paduka Kangjeng Dewaji. Sesungguhnya memang ada ceritanya pada waktu (Hal.158) dulu yang bernama Resi Anoman tadi. Malah dikabarkan bahwa dia sahabat karib kakek Paduka Arya Sena, karena sama-sama diaku putra oleh Bathara Bayu.”
Patih Sudarma lalu menceritakan sebagaimana yang dikisahkan di dalam kitab Wedha. Ketika Resi Anoman bertemu dengan Raja Pandhawa kisahnya telah disampaikan semua dari awal hingga selesai. Prabu Astra Darma sangat senang hatinya, lalu disuruh memanggil Maharsi Anoman yang ada di bawah pohon beringin kembar tadi. Tidak begitu lama sampailah di hadapan raja. Prabu Astra Darma sangat disayangi oleh mereka serta pada perhelatan duduk sejajar. Sang Maharsi Mayangkara diam sehingga dipaksa agar menuruti duduk sama sejajar.
Setelah (Hal.159) berlangsung acara penyambutan, Prabu Astra Darma menyampaikan pidato penuh haru disertai perasaan suka riang bagi tamunya, “Duh, kakek Mahawiku terhormat, saya sangat suka dan bersyukur kepada dewa karena Eyang Sang Kawindra masih selamat. Dalam hati saya juga merasa seperti adik yang serasi dengan kakek Raja Pandhawa yang turun menjelma ke Yawastina lagi. Maka selama ini datangnya Paduka kepada saya, pikiran saya tenang seperti dilimpahi kesabaran dari kasih sayang dewa. Selanjutnya tak henti-hentinya timbul rasa suka cita dalam hati masyarakat di Yawastina semuanya. Akhirnya tidak lebih saat ini saya hanya memohon maaf kepada kakek Mahakawindra, karena saya tadi tidak segera memberi penghormatan atas kedatangan Padu(Hal.160)ka Eyang.” Selesailah perkataan Prabu Astra Darma.
Ketika itu Maharsi Mayangkara sangat senang lalu berkata ganti menjawab ungkapan hati sanubari Sri Narendra, “Duh, Paduka Junjungan alam semesta, tidak sama sekali kakenda mempunyai pikiran yang begitu. Malah selama ini perasaan saya ada pada kehendak paduka itu. Saya merasa tidak mampu menerima kasih sayang yang besar kepada saya bagaikan aliran air sungai. Serasa menunggu percikan kesejukan menyebar ke sekujur anggota tubuhnya kakenda. Justru sebaliknya kakendalah yang memohon ampunan paduka, karena kakenda sampai sombong berani duduk sejajar dengan paduka.”
Ketika (Hal.161) itu, Paduka Astra Darma sangat suka, lalu bertanya akan kesungguhan kehendaknya. Sang Maharsi Mayangkara berkata bahwa ia melaksanakan perintah Sanghyang Naradha. Sejak awal pembukaanya telah diceritakan semuanya hingga selesai.
Jawaban Prabu Astra Darma, “Duh kakek Sang Maharsi Mayangkara. Kira-kira mengapa uwa Prabu Jaya Purusa hendak mengambil menantu kepada saya? Apalagi saya belum pernah dipertemukan atau sampai bermusuhan dengan saudara tua saya, Kakang Prabu Aji Darma di Malawapati. Kekhawatiran dalam hati saya jangan sampai berakibat jelek dalam persaudaraan. Maka dari itu tentu saja akan membuat saya malu.”
Sang Maharsi Mayangkara menjawab, “Tentang hal itu (Hal.162) sudah dipikirkan, dan sesungguhnya tidak jadi masalah karena semuanya itu adalah kekuasaan dan kehendak dewa. Dari ketentuan hidup Prabu Astra Darma dan kedua adiknya juga adalah kehendak dewa yang tiba-tiba menjadi mudah.”
Raja berkata, “Duh, kakek Sang Maharsi Mayangkara bahwa jika memang begitu kehendak paduka, saya akan membungkus tulang yang terpisah. Sesungguhnya memang silakan saja, namun sepantasnya saya tidak membawa balatentara sementara waktu.”
Maharsi Mayangkara berkata, “Duh Paduka, menurut pendapat saya balatentara tadi tempatkan saja di belakang. Semula begitulah panggilan kepada anak, karena kabarnya uwa Paduka Prabu Jaya Purusa di Widarba dulu selalu berperang dengan ayah Paduka Prabu Sariwahana atau kakak (Hal.163) Paduka Prabu Aji Darma di Malawapati. Maka dari itu, paduka yang mulia menunggu setiap kejelekan pikiran balatentara, kalau-kalau masih dicurigai sebagai yang pasti akan menjadikan penghalang. Itulah barangkali maksud dari kehendak raja. Paduka dan kedua adik raja akan saya bawa dalam kancing sanggul saja. Sedangkan Kyai Patih Sudarma beberapa bulan kemudian akan menyusul ke Widarba bersama teman-temannya. Namun sampainya di Widarba pasti telah melihat bahwa belum pasti.”
Selesai perkataan Maharsi Mayangkara, ketika itu Prabu Astra Darma dan kedua adiknya setuju. Singkat cerita, Prabu Astra Darma lalu berkata kepada Patih Sudarma, bahwa ia harus berada di belakang raja dan ia disuruh (Hal.164) menyusul ke negeri Widarba, sebagaimana perkataan Sang Maharsi Mayangkara tadi. Patih Sudarma berkata, “Baiklah paduka.” Setelah itu diceritakan Prabu Astra Darma dan dua adiknya tidak menunggu pulang ke keraton. Lalu mereka berlindung di kancing sanggul Maharsi Mayangkara.
Ketika itu, Maharsi Anoman kemudian menasehati Sang Pemimpin terpercaya, “Hai cucuku Patih Sudarma, yang menjadi pesanku, besok dibelakangku kamu jangan lama-lama lalu seperti yang saya katakan susulah ke negeri Widarba. Namun harus telah jelas dulu, karena belum mendapat berita pertemuan raja. Ada kemungkinan jika telah mendapat berita pernikahan dengan putri Widarba, cucuku Sang Pemimpin terpercaya bersama para pengawal semua (Hal.165) datang kepada Patih Suksara Saja.”
Patih Sudarma menyanggupi lalu mereka bubar. Sang Maharsi Mayangkara segera terbang ke langit. Patih Sudarma dan temannya telah pulang masing-masing.
Sang Maharsi Mayangkara lalu pergi ke arah timur hendak ke negeri Widarba, namun perjalanannya tidak berlawanan sebab menurut perintahnya saja, bahkan setiap gunung disinggahi lalu berhenti untuk memuja dan semedi.
Tunda kisah perjalanan Maharsi Anoman, ganti diceritakan negeri Widarba. Ketika itu pada hari Senin Manis pagi Prabu Jaya Purusa pergi dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara yang sama-sama menghadap dengan sigap seperti biasanya. Hal.166) Yang dipikirkan olehnya hanya rencana pernikahan anak laki-lakinya yang bernama Raden Jaya Amijaya. Patih Suksara ditanya tentang adanya para pendeta yang mempunyai anak perempuan serta pantas menjadi istri putra raja.
Patih Suksara berkata, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, menurut pengetahuan saya tidak ada yang pantas menjadi istri putra Paduka Raden Jaya Amijaya, kecuali hanya cucu Resi Kumbayana yang berasal dari Pendeta Subrata di Gunung Padang, bernama Ken Satapi. Dia itulah yang sangat cantik dan elok parasnya, hanya itu saja paduka. Sebaliknya putra paduka yaitu Rajaputri yang tiga, mengapa tidak dinikahkan dengan putra paduka yaitu Raden Jaya Amijaya, siapa tahu itu yang (Hal.167) menjadi jodohnya? Barangkali jika menunggu dilangkahi seperti apa jadinya.”
Prabu Jaya Purusa berkata, “Hai Patih Suksara, mengenai ketiga putriku ini semuanya saya pasrahkan pada kehendak dewa saja. Semoga mereka diberi jodoh lalu bisa bersama yang sulung jadinya dengan putraku, yaitu Jaya Amijaya.”
Patih Suksara berlutut merasa tidak dapat melangkahi kehendak raja yang seperti itu. Lalu ketika sedang enak berbincang, terlihat ada dua raksasa yang berjalan dengan tiba-tiba. Tatkala itu Prabu Jaya Purusa serta seluruh balatentara yang sama menghadap semua sangat kaget, lalu ditanya nama dan asalnya juga tujuannya.
Kedua raksasa berkata, (Hal.168) “Namaku Gawaksa, yang satunya bernama Pradaksa, sedangkan tujuan kedatangku ini diutus oleh rajaku, yaitu raja raksasa yang bernama Prabu Yaksadewa di Selahuma, disuruh menyampaikan pustaka kepada Prabu Jaya Purusa.”
Sang raja lalu berkata kepada putranya yaitu Raden Jaya Amijaya untuk menerima pustaka itu. Lalu segera diterima oleh Rajaputra. Raksasa yang bernama Gawaksa tidak suka, katanya, “Duh Raden, pesan rajaku Prabu Yaksadewa, surat ini tidak diperkenankan diterima putra mahkota, jika bukan oleh Paduka Prabu Jaya Purusa sendiri yang menerimanya.”
Ketika itu Raden Jaya Amijaya sangat kaget, hatinya sedih lalu diambil oleh ayahnya sehingga terdiam. Prabu Jaya Purusa berseru, katanya kepa(Hal.169)da dua raksasa, ”Hai utusan dari Selahuma, janganlah kalian keliru atas penerimaan yang kurang tepat. Ketahuilah yang saya tunjuk untuk menerima pustakamu itu adalah putraku yang akan menggantikanku di keratonku. Dia juga telah seperti aku berhak menerima sendiri.”
Setelah kedua raksasa mendengarkan perkataan Prabu Jaya Purusa tadi, mereka sangat takut. Pustaka itu lalu diserahkan kepada putra mahkota, diterimanya lalu disampaikan kepada ayahanda kemudian diterima dengan sepenuh hati. Isi dalam pustaka Prabu Yaksadewa berembun-embun pagi hujan sore kepada putri Prabu Jaya Purusa yang bernama Dewi Pramesti akan dijadikan istri. Jika tidak diberikan maka akan merusak negeri Widarba. Setelah sang raja (Hal.170) selesai membaca pustaka, surat itu lalu diberikan kepada putranya yaitu Raden Jaya Amijaya disuruh membacanya. Sang rajaputra menerima dengan segera pustaka dari ayahnya, lalu dibaca, seluruh maknanya telah dipahami. Raden Jaya Amijaya ketika melihat makna dalam pustaka yang berbunyi akan melamar kepada kakaknya yaitu Dewi Pramesti.
Putra mahkota bangkit lagi kesedihannya lalu berkata kepada kedua utusan, “Wahai utusan dari Selahuma, tidak perlu ayahku yang menjawab kepadamu, cukup saya saja. Kalian katakan pada rajamu yaitu Prabu Yaksadewa, jika kakak perempuanku diminta oleh rajamu untuk diperistri akan saya berikan. Namun saya minta seserahan dua kepala raksasa yang rupanya seperti kalian, hen(Hal.171)dak saya buat keset untuk seluruh balatentaraku di Widarba, serta saya minta kematian menghampiri badan kedua raksasa yang sama besarnya. Ya, yang seperti kalian postur tubuhnya. Itu akan saya gunakan untuk sasaran panah yang berada di perempatan, bersama semua keluargaku. Namun semua persyaratan itu aku ingin dalam keadaan hidup saja, dan saya sndiri yang akan memotongnya. Jika tidak dituruti maka saya tidak akan menuruti yang menjadi permintaan rajamu. Karena yang keduanya tertulis dalam surat bahwa jika keinginan rajamu ditolak akan menyerang ke Widarba. Nah cepat kalian sampaikan pada rajamumu, sekarang berani besok pun berani.” Selesailah perkataan Raden Jaya Amijaya.
Ketika kedua raksasa itu mendengar perkataan (Hal.172) putra mahkota yang begitu tadi, seketika seperti diiris telinganya dan segera menjawab dengan kasar, “Hai putra mahkota, menurutku tidak perlu kami pulang, sekarang saja saya berikan persyaratannya. Mari sama-sama dipotong di tengah alun-alun.”
Raden Jaya Amijaya berseru, katanya, “Heh binatang, ayo cepat keluar, saya potong kepalamu!” Ketika mereka akan berdiri lalu dipisahkan.
Prabu Jaya Purusa berkata, “Eh raksasa walau bagaimanapun kalian tinggal sederajat dengan utusan. Tiba-tiba kalian melanggar adat pada kehendakku. Jika kalian saling memaksa segala kesalahan melawan segala perintahku yang datang kepada kamu, sungguh kalian akan meledak menjadi abu.” Ketika mendengar perkataan (Hal.173) Prabu Jaya Purusa yang begitu tadi, kedua utusan itu sangat takut lalu kembali duduk berlulutut.
Prabu Jaya Purusa selanjutnya berkata lagi, “Hai utusan dari Selahuma, sekarang kalian pulang saja. Katakan pada rajamu, yaitu Prabu Yaksadewa sungguh permintaannya itu tidak saya tolak juga tidak saya terima, karena pada saat ini belum ada perintah dewa, meskipun barusan mungkin telah ada perintah dewa agung menyuruh kepada putraku dari rajamu, sepertinya tidak ada hambatan dalam pesta pernikahannya. Jangankan pagi atau sore pasti akan saya nikahkan. Nah hanya itu saja yang jawabanku.”
Selesai perkataan Prabu Jaya Purusa, kedua raksasa menyembah dan berkata, “Baiklah paduka,” lalu mereka pamit (Hal.174) agar diperkenankan untuk pulang. Lalu seperginya kedua raksasa tadi, Raden Jaya Amijaya pamit kepada ayahnya karena akan mengikuti utusan dari Selahuma hendak ditumpas semua. Dengan demikian mungkin menunggu hingga sampai di kerajaannya. Prabu Yaksadewa di Selahuma sudah pasti akan mendatangi, karena dapat laporan dari kedua utusannya tadi. Prabu Jaya Purusa mengizinkan serta diikukuti oleh pamanna, yaitu adik ibu Dewi Sara yang bernama Arya Susastra, sekeluarga. Setelah mereka siap, Raden Jaya Amijaya dan Arya Susastra berangkat. Di belakangnya dihadapkan lalu bubar. Prabu Jaya Purusa pulang ke keraton, Patih Suksara dan temannya telah pulang masing-masing.
Lalu diceritakanlah perjalanan utusan dari Selahuma, ketika (Hal.175) sampai di luar kerajaan telah bertemu dengan balatentaranya yang menungu di perbatasan negeri, tidak berapa lama lalu mereka berangkat lagi.
Kemudian diceritakan perjalanan Raden Jaya Amijaya, ketika sampai di luar kerajaan sudah agak jauh, lalu terlihat seluruh kuda raksasa dari Selahuma tadi. Lalu balatentara Arya Susastra semua disuruh menantang kepada balatentara raksasa dari Selahuma itu. Kemudian semua kuda raksasa ketika mendengar tantangan dari belakang lalu mereka berhenti. Ketika dekat dengan serempak segera berkecamuk perang saling mengalahkan. Lama-kelamaan balatentara di Widarba tidak kuasa lagi lalu berguguran semuanya. Raden Jaya Amijaya beserta paman Arya Susastra bersama-sama kembali melawan, (Hal.176) namun tidak sanggup menghadapi perang. Raksasa segera ikut maju nyasar berebut arah masing-masing. Lalu seluruh kuda raksasa Selahuma ketika melihat musuhnya telah sirna lalu berjalan lagi. Adapun selanjutnya perjalanan kuda raksasa.
Ganti cerita Rajaputra yang kalah perang. Ketika sampai di tengah hutan ia bertemu lagi dengan pamannya yaitu Arya Susastra, lalu mereka berbincang. Kata Raden Jaya Amijaya, “Hai paman Arya Susastra, seperti apakah kenikmatan dalam perjalanan itu, karena perang dengan raksasa saja sampai tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan balatentara benar-benar semua musnah?. Jika saya pulang ke Widarba akan malu (Hal.177) sekali paman, karena tidak sebanding dengan keangkuhanku kepada utusan ketika ada di Pancaniti dulu, tapi akhirnya tidak dapat melenyapkan raksasa musuh. Padahal setiap saya pergi ke mana pun saya sebagai putra mahkota sampai pergi merunduk tanpa diiringi balatentara. Makanya lebih baik menunggu daripada berkeluh kesah begini, betapa kasihan rendahnya paman. Oleh karena itu, bagaimanakah baiknya kesepakatan pembicaraan saya kecuali turut di belakang saja, paman.”
Selesailah perkataan Raden Jaya Amijaya. Arya Susastra betapa sayangnya. Katanya, “Duh putra mahkota, sesungguhnya sangat pasti apa yang dikatakan paduka tadi. Oleh karena itu, baru saja masih anak-anak telah memaksakan keinginan padahal belum sanggup. (Hal.178) Artinya walaupun sombong banyak omong tapi memang telah terbukti sangat sakti. Namun barangkali sikapmu dalam kebaikan tidak kekanak-kanakan, walaupun sakti sekali. Itu sesungguhnya bukan untuk disombongkan oleh diri sendiri. Yang seharusnya mengabarkan bahwa kamu sangat sakti itu orang lain yang telah juga mengetahui dalam kesehariannya. Ucapanku yang demikian ini semoga direnungi dengan sesungguhnya. Daripada disebut rendah lebih baik disebut utama.”
Raden Jaya Amijaya ketika mendengar perkataan pamannya begitu tadi hanya diam saja. Namun di dalam hatinya ia merasa menyesal akan perilakunya sendiri terhadap ke(Hal.179)dua utusan raksasa dulu. Pamannya Arya Susastra berkata lagi, “Duh putra mahkota, mengenai kesenangan perilaku itu, barangkali memang paduka ingin ikut kepada paman. Sebaiknya kita mencari bantuan saja. Siapa tahu mendapat kasih sayang dewa, ada yang dapat menghancurkan musuh raksasa tadi.”
Raden Jaya Amijaya sangat suka, lalu mereka pergi ke barat hendak ke Tanah Yawastina. Ketika itu perjalanan dua perwira belum begitu jauh, lalu bertemu dengan Maharsi Anoman yang ada di tengah hutan. Raden Jaya Amijaya dengan Arya Susastra sangat kaget dan agak takut karena ada monyet yang sangat besar serta memakai pakaian seperti manusia. (Hal.180) Dalam pada itu, Maharsi Mayangkara telah melihat dari pikirannya yang waspada bahwa yang datang itu putra mahkota dari Widarba. Resi Anoman sangat suka cita mendapat waktu yang tepat untuk menikahkan raja di Yawastina dengan saudaranya. Oleh karena itu lalu berkata lemah lembut agar membuat senang hatinya. Demikian kata Maharsi Mayangkara, “Duh, putra mahkota yang utama, telah tanggung pikiran tertukar penglihatan. Sesungguhnya saya ini bukan bagiannya memetik buah di hutan. Walaupun monyet jelek namun masih monyet yang dianggap satria, atau suka berbuat seperti pendeta yang gemar bertapa. Oleh karena itu, Sanghyang Girinata sangat sayang kepadaku dan memberikan seluruh ilmu kejayaannya.”
(Hal.180) Dalam pada itu, Raden Jaya Amijaya dengan Arya Susastra ketika mendengar perkataan Resi Mayangkara yang begitu tadi. Putra mahkota sangat kaget karena telah mengetahui bahwa ia adalah putra dari Widarba. Akhirnya ia sangat senang, serta merasa mendapat belas kasih dewa yang berusaha membantu. Kedua perwira itu lalu mendekat sambil mempersembahkan penyambutan. Maharsi Mayangkara menanggapi dengan perkataan puitis menghantar sambutan pengganti. Setelah semua merasa senang hatinya, lalu ia bertanya tentang nama dan asalnya juga keinginannya.
Sang putra mahkota menjawab, “Namaku Raden Jaya Amijaya putra Prabu Jaya Purusa dari Widarba. Sedangkan maksudku adalah ingin mencari bantuan yang pantas, karena Raden Jaya Amijaya baru saja ka(Hal.181)lah dalam perang dengan balatentara raksasa Prabu Yaksadewa dari Selahuma. Barangkali ada yang mampu memusnakan raksasa di Selahuma itu. Jangankan dari bangsa manusia, walaupun binatang bebek dan binatang ternak, laki-laki atau perempuan sungguh akan dijadikan sahabat kental serta besar ganjarannya.”
Sedangkan yang menjadi sebab terjadinya perang telah diceritakan semua dari awal hingga selesai. Maharsi Mayangkara merasa sangat heran. Kemudian dia menceritakan nama dan asalnya juga tujuannya. Namun ia mengaku dari Suralaya utusan Sanghyang Jagad Wisesa, bernama Maharsi Anoman. Padahal sebenarnya bernama Maharsi Mayangkara, atau disebut Resi Anjanisuta juga Resi Bayu Tanaya. Sedangkan maksud(Hal.182)nya diutus oleh dewa, disuruh menolong seluruh isi bumi yang sedang kesulitan. Ketika itu Raden Jaya Amijaya dan pamannya yaitu Arya Susastra sangat senang.
Lalu putra mahkota berkata, “Hai Sang Maharsi Kera utusan dewa, jika begitu sangat cocok sekali dengan yang menjadi kehendakku. Sedangkan saya bisa bertemu dengan utusan Sanghyang Girinata. Sejujurnya Sang Maharsi, saya ini benar-benar sedang kesulitan hati. Apakah Sang Maharsi bermaksud menolongku untuk melenyapkan musuhku raksasa tadi?”
Jawaban Resi Anoman, “Sanggup tapi belum tahu.”
Sang Rajaputra berkata lagi, “Apa sebabnya jawabanmu sanggup tapi be(Hal.184)lum tahu tadi?”
Yang ditanya menjawab, “Hai putra mahkota, begini arti dari perkataanku tadi. Jika seumpamanya saya sanggup memang benar mungkin sanggup, tapi menang kalahnya itu masih bergantung pada kehendak dewa. Jika saya melawan atas permintaan paduka itu, mungkin saya akan mendapat kemurkaan dewa. Keduanya itu menebak rupa ganjarannya tadi belum bisa diramalkan. Hanya itu yang menjadi keraguan dalam hatiku raden. Oleh karena itu, mengapa paduka hendak menuruti akan permintaanku?”
Jawab Raden Jaya Amijaya begini, “Nah saudaraku yang setia, memang secara tiba-tiba ada keinginan dalam hatiku untuk memberi imbalan yang lebih banyak. Meskipun mungkin ada permintaan Mahare(Hal.185)si selain harta tadi. Silakan apa saja supaya dipikirkan karena pasti saya dapat mengabulkannya.”
Maharsi Mayangkara tersenyum sambil berpesan lagi, “Duh putra mahkota, mengenai permintaanku itu tidak banyak. Seandainya saya dapat melenyapkan raksasa yang jadi musuh, saya minta imbalan seekor burung perkutut saja, dan lebih baik jika ada tiga.”
Raden Jaya Amijaya sangat senang. Jawabannya, “Duh Sang Maharsi Mayangkara, jika hanya meminta burung perkutut seberapa pun banyaknya sungguh saya sanggupi, karena negeri Widarba tempatnya burung perkutut yang bagus-bagus. Jangankan tiga, seratus sekalipun saya akan mangabulkannya.”
Resi Mayangkara berkata lagi, “Duh Raden semoga jangan salah (Hal.186) mengerti, karena permintaanku tadi bukan semata-mata burung perkutut. Permintaanku burung perkutut yang dapat berbahasa manusia, atau peliharaan ayah Paduka Prabu Jaya Purusa sendiri.”
Ketika itu Raden Jaya Amijaya dan pamannya yaitu Arya Susastra sangat bingung hatinya, karena telah menyanggupi permintaan simbolik Sang Resi Mayangkara. Padahal yang demikian itu berarti meminta imbalan putri putra Prabu Jaya Purusa sendiri. Yang menjadi kebingungan kedua Perwira itu karena telah menolak raksasa tapi akan mempunyai menantu monyet. Lama-kelamaan Raden Jaya Amijaya putus asa pada takdir dewa. Dia berterima kasih karena Resi Mayangkara dapat menutupi rasa malunya seketika.
Raden Jaya Amijaya lalu berkata kepada Maharsi (Hal.187) Mayangkara, “Hai kekasih dewa, saya telah mengetahui yang menjadi permintaanmu tadi. Sesungguhnya saya tidak mau, namun sebagaimana yang menjadi permintaanmu telah dikeluarkan. Jika memang telah bebrhasil bisa menyirnakan raksasa musuhku tadi, sungguh akan aku kabulkan semua yang menjadi permintaan Maharesi itu.”
Maharsi Mayangkara sangat senang. Katanya, “Nah mari raden kita ikuti perjalanan kuda raksasa menuju ke Selahuma.”
Raden Jaya Amijaya dan pamannya yaitu Arya Susastra sangat senang. Mereka segera berjalan mengikuti kuda raksasa cepat-cepat. Tidak begitu lama seluruh kuda raksasa sudah terlihat, lalu dipanggil oleh Sang Maharsi Mayangkara. Ketika itu semua balatentara raksasa dari Se(Hal.188)lahuma kaget mendengar panggilan, lalu mereka semua kembali. Ketika mendekat tanpa komando segera berkecamuk perang. Sang Maharsi Mayangkara dikerubuti, namun ia tidak kesulitan membunuh, bahkan segera salin rupanya menjadi besar hampir menyerupai dinding. Raden Jaya Amijaya bersama dengan paman Arya Susastra malah senang melihat pertandingan, bahkan lebih heran melihat tingkah perang antara raksasa dengan monyet. Tidak ada yang mengecewakan kesaktiannya. Ketika itu, perang Sang Maharsi Mayangkara dengan seluruh kuda raksasa dari Selahuma sangat ramai, meski sudah lama belum juga ada yang kalah. Keduanya saling mengeluarkan kesaktian, tidak ada yang takut. Semua berani saling mengeluarkan senjata perang. Seluruh kuda raksasa bersenjatakan (Hal.189) anggala, tombak, kapak, peling, golok, dan pedang. Senjata Sang Maharsi Anoman adalah berupa kayu-kayuan di hutan yang besar-besar. Ada raksasa di batang pohon lontar semua korban terkena pukulan. Siapapun balatentara raksasa dari Selahuma yang terkena pemukul Sang Maharsi Mayangkara semua tidak jadi berdaya. Sisanya yang tidak mati merasa takut dan mereka segera tersasar berebut tempat masingmasing. Lalu kedua senapati raksasa juga sama-sama berlari hendak pulang ke negeri Selahuma. Begitulah sirnanya raksasa yang buas.
Raden Jaya Amijaya dan paman Arya Susastra sangat suka. Lalu mereka mendekati Sang Maharsi Mayangkara sambil berkata dan merayu agar suka kepada yang pintar berkarya. Resi Anoman (Hal.190) sangat senang ketika mendengar kata-kata penuh sanjungan dari Raden Jaya Amijaya. Sang Resi sangat suka untuk bertemu lagi.
Setelah beberapa saat agak tenang Rajaputra berkata, “Duh saudaraku, Mahakawi Dwijendra, saat ini telah nyata kasih sayangmu kepadaku. Sesungguhnya tentu lebih suka ucapan terima kasihku kepada mahakawi. Jadi saya nanti sungguh akan melaksanakan kesanggupanku yang telah diucapkan tadi, serta aku memuja kepada Dewa semoga akan memberikan kasih sayangnya terhadap saya, atau merestui semua hadiah yang aku sanggupi kepada mahawiku tadi. Namun bukan di sini tempatnya saya akan melaksana(Hal.191)kan kesanggupanku. Barangkali berkenan atas kehendakmu, marilah Sang Maharsi saya hadapkan kepada ayahku. Sedangkan tentang terlaksananya keinginanmu tadi, Sang Mahawiku jangan khawatir. Sesungguhnya saya sendiri yang akan berkata memberitahukan kepada ayahku.”
Sang Maharsi Mayangkara sangat suka menyetujui pada rencana putra mahkota. Singkat cerita, ketiga perwira lalu berjalan bersama, tidak diceritakan perilakunya di jalannya. Ketika sampai di negeri Widarba telah tengah malam. Raden Jaya Amijaya lalu pulang dahulu ke dalam keraton sendiri. Ia besok pagi akan menemui ayahnya, sedangkan Sang Maharsi Mayangkara disuruh dibawa ke rumah (Hal.192) paman Arya Susastra semalam, lalu dihormati dengan besar-besaran.
Tidak diceritakan kejadian pada malah hari, dan esok paginya Prabu Jaya Purusa pergi dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara yang menghadap dengan sigap seperti biasanya. Raden Jaya Amijaya dan paman Arya Susastra juga telah berada di hadapan raja, serta membawa Sang Maharsi Mayangkara tadi. Ketika itu Prabu Jaya Purusa melihat putranya telah kembali dan membawa monyet putih yang sangat besar. Raja cepat-cepat bertanya tentang perjalanannya mengikuti utusan dari Selahuma dulu. Raden Jaya Amijaya lalu menceritakan seluruh kejadiannya dari awal hingga selesai. Prabu Jaya Purusa sangat senang juga heran serta agak (Hal.193) sedih. Senangnya karena raksasa utusan dari Selahuma telah sirna semua, sedangkan herannya karena yang menyirnakan raksasa itu karena bantuan berupa monyet putih serta punya permintaan untuk mendaptkan salah satu putra raja, dan yang menjadi sedihnya lagi karena dulu raja tidak ingin mempunyai menantu raja raksasa, tapi justru akhirnya akan mempunyai menantu seekor monyet. Oleh karena itu, raja sesaat tidak dapat berkata-kata karena hatinya sangat bimbang untuk mewujudkan semua yang menjadi kesanggupan putranya tadi.
Sedangkan menurut Prabu Jaya Purusa jika diterima akan sangat malu karena putra raja akan menikah dengan monyet. Namun jika ditolak sungguh akan disebut raja yang hina sebab mengingkari (Hal.194) apa yang telah disanggupinya. Lama-kelamaan lalu pasrah terhadap takdir dan kehendak dewa karena pernikahan Dewi Pramesti dengan monyet. Namun sementara ada juga sukanya Prabu Jaya Purusa, berhubung putranya kembali bersama monyet pendeta, lagi pula kekasih dewa.
Ketika itu Prabu Jaya Purusa lalu menjamu pada penyambutan kepada Sang Maharsi Mayangkara serta ditanya nama dan asalnya, juga ditanya sebabnya ia bisa bertemu dengan putra raja, Raden Jaya Amijaya tadi. Sang Maharsi Anoman sangat senang menerima penyambutan raja dan berterima kasih, serta menceritakan nama dan asalnya dan mengaku dari pertapaan di Gunung Kandhalisada. Kemudian ia menceritakan sebuah kisah sejak zaman Raja Pandhawa menunggu sampai kepada tujuan Raden Jaya Amijaya tadi. Seluruh (Hal.195) kejadiannya telah diceritakan semua dari awal hingga akhir.
Ketika itu Prabu Jaya Purusa mendengarkan kisah dari Maharsi Anoman yang begitu tadi sangat suka serta segera memperkenankan duduk rapih sejajar dengan Sri Narendra. Sang Maharsi Mayangkara berkata lelah, namun dipaksa lama-kelamaan menurut untuk duduk sejajar.
Setelah itu Prabu Jaya Purusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara, “Apakah dahulu diceritakan tentang keluarnya dari negeri di Gua Kiskendha Negeri India. Barangkali ingat akan cerita perjalanannya Prabu Rama Wijaya di Ayudyapala. Dia yang membabad negeri Alengka dulu.
Sang Maharsi Anoman berkata, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, mengenai perjalanan Bathara Rama Wijaya di Ayudyapala, yang memba(Hal.196)bad negeri Alengka dahulu sesungguhnya saya ingat semua. Bahkan ketika itu saya tengah didampingi senapati perang bersama adikku sesaudaraku bernama Raden Anggada, putra tertua pamanku yang bernama Prabu Subali di Gua Kiskendha. Makanya saya menjadi senapati karena pamanku yang muda bernama Prabu Sugriwa yang saat itu dimintai bantuan oleh Bathara Rama Wijaya tadi. Yang jadi balatentaranya ialah semua raja monyet yang mengiringi bersama Bathara Rama Wijaya ke negeri Alengka.”
Prabu Jaya Purusa sangat senang dan heran. Senangnya karena akan dapat bertambah cerita perjalanan Prabu Rama Wijaya dulu, dan yang menjadi herannya karena Sang Maharsi Mayangkara sangat tua usianya.
Kata Prabu Jaya (Hal.197) Purusa, “Wahai Sang Maharsi kekasih dewa, sebagaimana kehendak Wiku semoga berkenan untuk menceritakan perjalanannya Prabu Rama Wijaya yang mebuka negeri Alengka. Asal awal mula dahulu saya kedatangan tamu Brahmana dari negeri India yang kedua kalinya. Yang pertama bernama Dhanghyang Asuman, yang terakhir bernama Dhanghyang Ilagni. Mereka itu sama-sama menceritakan tentang perjalanan Prabu Rama Wijaya dahulu. Saya senang sekali malahan sekarang telah dikarang oleh pujangga saya yang bernama Empu Puywa. Namun dalam hati saya merasa seperti masih kurang lengkap ceritanya, berhubung tidak dialami sendiri seperti Sang Maharsi tadi. Karena itu, apabila Sang Wiku mence(Hal.198)ritakan perjalanan Prabu Rama Wijaya sungguh akan sangat membahagiakan hatiku. Ataukah tidak mungkin akan bertambah lagi cerita dari kedua Brahmana tadi. Namun permintaanku semoga akan diceritakan meskipun ceritanya bukan karena semua telah sama tanpa ada yang terlewat dalam menceritakannya.
Sang Maharsi Mayangkara berkata, “Baiklah Paduka.” Lalu ia menceritakan asal mula semenjak lahirnya Prabu Rama Wijaya di Ayudyapala dahulu hingga wafatnya Putra Prabu Rama Wijaya yang bernama Prabu Padlawa di Duryapura serta Prabu Kusiha di Ayudyapala. Selururuh perjalanannya juga diceritakan semua dari awal hingga selesai. Ketika itu Prabu Jaya Purusa sangat senang (Hal.199) hatinya. Dia lalu menyuruh Empu Puywa untuk menambahkan karangannya ke dalam cerita dari kedua Brahmana dulu.
Empu Puywa berkata, “Baiklah paduka.” Lalu ia catat semua.
Dalam pada itu, Prabu Jaya Purusa berkata kepada Patih Suksara, bahwa sekarang raja akan menikahkan Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesti. Sang Pemimpin kepercayaan disuruh bersiap-siap untuk menghias pernikahan, serta disuruh menggantikan seluruh pewaris balatentara yang mati di medan perang melawan raksasa dari Selahuma tadi. Patih Suksara berkata, “Baiklah paduka,” lalu bubar.
Prabu Jaya Purusa pulang ke keratin. Patih Suksara dan temannya bersamasama pulang masing-masing. Sedang(Hal.200)kan Sang Maharsi Mayangkara diberi satu tempat istirahat di rumah Patih Suksara dengan penuh kehormatan.
Tidak diceritakan kejadian di malam hari, dan keesokan harinya Patih Suksara beserta seluruh teman para pengawalnya bersiap-siap akan mnghormati menantu. Diceritakan ketika itu siang dan malam mereka bekerja sama tanpa ada hentinya. Lalu dalam beberapa hari kemudian telah selesai semuanya.
Singkat cerita, Sang Maharsi Mayangkara telah dinikahkan kepada putra raja yang sulung bernama Dewi Pramesti. Prabu Jaya Purusa lalu menghidangkan jamuan pesta dengan seluruh pengawal di dalam istana. Tidak diceritakan semua tentang pesta perjamuan itu. Dalam pada itu diceritakan pengantin tepat pada (Hal.201) waktunya Raja Sang Resi Mayangkara lalu bersembunyi ke belakang, dan mengeluarkan tiga orang yang disembunyikannya: Prabu Astra Darma ditugasi menuju tempat tidur Dewi Pramesti, Raden Darma Sarana ditugasi menuju ke tempat tidur Dewi Pramuni, dan Raden Darma Kusuma ditugasi menuju tempat tidur Dewi Sasanti. Prabu Astra Darma dan kedua adiknya tanpa ragu-ragu, lalu mereka berjalan masing-masing. Tidak diceritakan cara mereka pada saat merayu. Ketika itu ketiga putri Prabu Jaya Purusa telah saling mencintai dengan adiknya dari Yawastina. Semalam suntuk pasangan mereka bersenggama di tempat tidur masing-masing.
Tidak diceritakan keadaan mereka yang saling (Hal.202) berkasih-kasihan. Keesokan paginya Prabu Jaya Purusa duduk dengan para istri di dalam istana, tidak begitu lama terlihat datang pelayan ketiga putri berkata yang sama kepada Prabu Jaya Purusa, bahwa ketiga putri raja telah bersenggama dengan pandungaguna, sedangkan Sang Maharsi Mayangkara semalam tidak terlihat selain ketiga satria tadi. Prabu Jaya Purusa ketika mendengar perkataan para pelayan seperti itu sangat marah, segera memanggil putra laki-lakinya yaitu Raden Jaya Amijaya. Tidak lama ia sampai ke hadapan ayahnya, lalu diperintah untuk menangkap pandangaguna yang merusak pingitan ketiga raja, sedangkan Sang Maharsi Mayangkara dikabarkan telah menghilang oleh pandangaguna tadi.
(Hal.203) Raden Jaya Amijaya berkata, “Baiklah Paduka,” lalu segera pergi ke tempat kakak perempuannya, yaitu Dewi Pramesti. Sang putra mahkota mengintai dari luar dan melihat kakaknya dipangku oleh ksatria yang tampan. Putra mahkota tidak merasa senang hatinya lalu ia berseru menyuruh keluar hendak diikat. Prabu Astra Darma ketika mendengar seruan itu lalu meminta izin kepada istrinya untuk menuruti.
Dewi Pramesti tidak suka selalu diomeli, namun Prabu Astra Darma tahan mendengar tantangan. Istrinya kemudian dilepaskan, sang raja keluar lalu ribut perang tanding. Lama-kelamaan Raden Jaya Amijaya kalah dan akhirnya tunduk. Prabu Astra Darma sangat senang lalu menyambut kakaknya yaitu Raden Jaya Amijaya diperkenankan duduk, namun putra mahkota segan lalu merasa bosan ada (Hal.204) di sana. Raden Jaya Amijaya sangat senang lalu pamit berdalih akan berkata kepada ayahnya. Raja dari Yawastina mengizinkannya lalu berpisah. Prabu Astra Darma telah pulang ke tempat istrinya lagi. Raden Jaya Amijaya pindah ke tempat kakak perempuannya yaitu Dewi Pramuni. Ketika diintai ada satria tampan lalu ditantang dan disuruh keluar hendak diikat. Raden Darma Sarana keluar dan akhirnya terjadi perang ramai, lama-kelamaan Raden Jaya Amijaya kalah lalu tunduk. Raden Darma Sarana telah pulang ke tempat istrinya lagi. Raden Jaya Amijaya agak kelelahan lalu pindah ke tempat kakak perempuannya yaitu Dewi Sasanti. Ketika diintai dari luar juga terlihat ada satria tampan lagi bahkan terlalu mengejek. (Hal.205) Raden Jaya Amijaya kesal hatinya lalu berkata dari luar. Raden Darma Kusuma ketika mendengar perkataan itu tidak sabar lalu segera pergi ke luar lalu ribut perang ramai. Lama-kelamaan Raden Jaya Amijaya kalah lagi lalu tunduk. Raden Darma Kusuma telah pulang ke tempat istrinya lagi. Ketika itu Raden Jaya Amijaya segera lapor kepada ayahnya bahwa telah kalah perang dengan pandangaguna. Namun tidak diceritakan bahwa para pandungaguna tadi adalah adiknya dari Yawastina, hanya dikatakan bahwa ia kalah saja.
Seluruh kejadiannya diceritakan semua dari awal hingga akhir. Prabu Jaya Purusa sangat marah dan segera turun ke keputrian hendak melihat pandungaguna tadi. Dalam pada itu Sang Maharsi Anoman melihat bahwa Pra(Hal.206)bu Jaya Purusa sendiri yang turun sangat khawatir, takut jika mereka sampai dibunuh. Ia segera turun dari atas kayu Naga Kusuma. Sesampainya di bawah segera mendekap kaki raja sambil berkata memohon pesta pernikahan tidak usah besar-besaran. Lalu diceritakan segala yang diperintahkan Sanghyang Naradha dulu dari awal hingga akrhir. Prabu Jaya Purusa setelah mereda kemarahannya akhirnya sangat berterima kasih kepada dewa. Ketiga putranya lalu diserahkan semuanya untuk dibawa ke dalam kerajaan. Sang Maharsi Mayangkara selalu mengikuti di belakang. Ketika sampai di keraton, ketiga pengantin lalu bersama-sama menyembah kepada ayah dan ibu. Ketika itu seluruh gadis istana sangat senang melihat ketiga pengantin. Laki-laki perempuan se(Hal.207)mua sebanding dengan rupanya seperti keindahan yang tertera pada permata. Prabu Jaya Purusa serta permaisurinya yaitu Dewi Sara sangat sayang kepada para putra menantu sehingga berlinang air mata sambil memeluk kepada adiknya yaitu Prabu Sariwahana dari Malawapati.
Lalu mereka dinasehati supaya dapat menjaga istrinya masing-masing. Sedangkan putri dinasehati agar sayang dan berbakti kepada suaminya. Para putra laki-laki dan perempuan menyembah dan berkata, “Baiklah Paduka.” Prabu Jaya Purusa semakin tumpah rasa sayangnya kepada Sang Maharsi Mayangkara, lebih dihormati serta dituruti segala kehendaknya. Lalu setelah itu Prabu Jaya Purusa merayakan kegembiraannya dengan seluruh balatentara Widarba. Siang dan malam selalu diadakan pesta, (Hal.208) segala terpenuhi tidak pernah ada yang kekurangan. Tumpah-ruah segala hidangan silih berganti jenisnya. Dapat dikatakan yang ada terus ditambah, yang tidak ada terus didatangkan. Ketika itu kemeriahan di negeri Widarba diceritakan lamanya sampai setengah bulan telah berlalu namun belum juga bubar.
Tunda yang tengah menikmati kesengan di negeri Widarba, ganti diceritakan kembali mengenai seluruh raksasa buas yang melarikan diri dari peperangan dulu dan sampai di negeri Selahuma. Kedua perwira lalu menghadap kepada Prabu Yaksadewa. Mereka menceritakan seluruh kejadian dari awal hingga akhir. Ketika itu Prabu Yaksadewa marah sekali, segera memerintahkan kepada Patih Mohita agar bersiap-siap semua untuk berperang, karena (Hal.209) Prabu Yaksadewa akan pergi menyerbu ke Widarba nanti. Patih Mohita berkata. “Baiklah Paduka,” lalu bubar.
Tidak diceritakan bersiap-siapnya raksasa yang buas. Ketika telah lengkap dan siap untuk berperang lalu pergi. Tidak diceritakan kejadian selama dalam perjalanan. Sesampainya di Widarba lalu menyerbu kerajaan. Ketika itu Prabu Jaya Purusa dengan seluruh balatentaranya gempar, lalu mereka perang saling serbu dengan pasukan raksasa, perang berkecamuk saling balas menggunakan berbagai senjata tajam. Serunya perang antara musuh dan teman saling bidik senjata. Lama-kelamaan balatentara raksasa dari Selahuma besar dan kecil ditumpas oleh Sang Maharsi Mayangkara. Sisanya yang tidak mati semua lalu berhamburan. Ketika itu Prabu Yaksadewa dan Patih Mohita (Hal.210) sangat marah dan segera mengamuk sambil membawa gada. Siapapun yang diterjang buyar karena terkena gada sampai mati. Seluruh balatentara Widarba mati karena tertimpa oleh gada Prabu Yaksadewa. Lalu Prabu Jaya Purusa sangat sedih segera melawan dengan seluruh pengawal yang belum mati. Sang Maharesi Anoman marah lalu melemparkan pohon beringin kepada Patih Mohita sampai mati. Prabu Yaksadewa semakin marah, segera melawan dan membalas kematian. Lama-kelamaan seluruh pengawal Widarba mati.
Sang Maharsi Mayangkara melawan bersama dengan Patih Suksara, tidak lama tewas terkena gada. Lalu Prabu Astra Darma dengan kedua saudaranya maju ke medan perang, tidak lama kemudian mati terkena gada, ketiganya hingga berguling di tanah.
Prabu Jaya Purusa ketika (Hal.211) melihat bahwa ketiga putra menantunya mati di sana, raja sangat marah. Ketika hendak salin rupa lalu datanglah Sanghyang Naradha yang turun dari langit. Dia segera berbisik kepada Prabu Jaya Purusa, “Hai Prabu Widarba, ketahuilah olehmu mereka dari Selahuma itu disebabkan Sanghyang Kala. Sementara gadanya yang digunakan untuk menumpas semua balatentara itu adalah Sanghyang Brahma. Nah, kamu jangan khawatir, ayo terus lawan dengan panah. Saya akan berubah menjadi gada untuk digunakan melawan gada Prabu Yaksadewa pasti nantinya ia akan mati.”
Sanghyang Naradha setelah berpesan begitu lalu berubah menjadi gada. Ketika itu Prabu Jaya Purusa sangat senang. Gada itu dibawanya dan segera mengamuk melakukan pembalasan. Lalu berhadapan sendirian dengan Prabu Yaksade(Hal.212)wa. Ramai mereka berperang saling pukul dengan gada. Sudah beberapa lama belum juga ada yang kalah. Selama saling memukul dengan gada Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma sama-sama mencium harumnya Sanghyang Naradha. Ketika menengadah, di keraton terlihat bahwa Sanghyang Girinata sedang mengawasi Prabu Jaya Purusa. Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma sangat takut, akhirnya kembali berubah menjadi Sanghyang Kala dan Sanghyang Brahma lagi. Kemudian mereka bersujud meminta ampunan. Sanghyang Naradha juga tidak terlihat lagi.
Demikianlah Prabu Jaya Purusa ketika melihat para dewa turun menjelma pada Sanghyang Girinata. Sri Narendra sangat takut lalu menghormati sebagaimana biasaannya persembahan. Ketika itu Sanghyang Girinata sangat senang lalu berkata kepada Sanghyang Naradha disuruh menghidupkan (Hal.213) yang telah mati dalam perang tadi. Namun Resi Mayangkara yang telah sampai pada janjinya sendiri pulang menuju keadaan yang satu. Sanghyang Girinata setelah berkata begitu lalu pergi. Sanghyang Naradha berkata, “Baiklah.”
Selanjutnya disampaikannya kepada Sanghyang Brahma seperti kepada Sanghyang Jagad Wisesa tadi. Sanghyang Brahma dan Sanghyang Kala berkata, “Baiklah,” lalu mereka dihidupkan semua. Setelah itu mereka selamat seperti dulu, kecuali Sang Maharsi Mayangkara sendiri yang telah abadi dalam kesempurnaannya.
Sanghyang Naradha lalu berkata kepada raja Widarba, “Hai, Saudara Jaya Purusa, sekarang ketiga menantumu dari Yawastina serta seluruh balatentaramu telah hidup lagi tanpa berubah sama seperti dulu, kecuali saudaramu Resi Mayangkara sendiri yang abadi kembali (Hal.214) kepada keadaannya yang sejati, karena sesungguhnya itu telah terlewat dari batas waktunya sendiri. Oleh karena itu, Resi Mayangkara menerima imbalan karena ditugasi oleh dewa untuk menikahkan Prabu Astra Darma dengan saudaranya kepada ketiga anak perempuanmu. Dengan demikian ketiga putrimu itu telah diramalkan oleh dewa akan menikah memakai peralatan perang. Karena semua tugas Resi Mayangkara telah selesai, maka ia harus kembali pada keadaan yang sejati. Nah setelah mereka hidup dengan senang di Widarba semua akan berakhir kesenangannya. Prabu Jaya Purusa menyembah dan berterima kasih. Lalu Sanghyang Naradha, Sanghyang Brahma juga Sanghyang Kala pergi seketika.
Ketika itu Prabu Jaya Purusa dan para putra juga seluruh balatentara, setelah perginya Sanghyang Naradha semua (Hal.215) sangat bersyukur kepada dewa. Bersama dengan itu raja pun lalu pulang ke keraton. Para putra dan Patih Suksara beserta para pengawal telah bubar pulang masing-masing.
Setelah itu, Prabu Jaya Purusa beberapa hari kemudian bermaksud membahagiakan seluruh putra termasuk para pengawal. Semua dihidangkan pesta lagi di dalam istana. Siang malam hiburan tidak ada hentinya.
Tunda yang tengah berpesta pora, ganti diceritakan Patih Sudarma di Yawastina bersama temannya, sama-sama hendak menyusul rajanya ke negeri Widarba. Lalu tidak diceritakan kejadiannya selama di jalan. Ketika sampai di Widarba mendengar berita bahwa sekarang Prabu Astra Darma beserta saudaranya telah menikah dengan putri (Hal.216) uwanya yaitu Prabu Jaya Purusa. Patih Sudarma dan temannya sangat senang. Segera saja mereka bersama menuju kerajaan. Melihat ramainya hidangan pesta, Patih Sudarma bersama temannya mengira bahwa itu pernikahannya Prabu Astra Darma.
Ketika itu, setelah memberi tahu kepada raja lalu semuanya dijawab, dipersilakan menuju keramaian di dalam istana. Patih Sudarma sampai di hadapan raja dan setelah mereka ceritakan semua perjalanannya dari awal hingga selesai, Sang Pemimpin kepercayaan Yawastina sangat menyesal karena tidak melihat sendiri perang tanding.
Akhirnya semua bersenang-senang karena pernikahan putri di Widarba telah terlaksana. Patih Sudarma dan temannya di Yawastina semua disuruh ikut bersenang-senang, serta mereka dihormati oleh para balatentara Widarba.
(Hal.217) Lalu tidak diceritakan lamanya mereka berpesta. Dikabarkan setelah sampai dua bulan, Prabu Astra Darma pamit akan pulang ke Yawastina, dan istrinya akan dibawa untuk dirayakan di Yawastina. Prabu Jaya Purusa sangat merestuinya, serta ketiga putranya yang laki-laki dan perempuan dinasehati baik-baik. Prabu Astra Darma dan kedua adiknya termasuk para istri semua menurutinya. Ketika itu Prabu Jaya Purusa lalu berkata kepada Patih Suksara disuruh mengiringi kepulangan putranya yaitu Prabu Astra Darma ke Yawastina, serta diperkenankan membawa beberapa pengawal setianya, juga disuruh menyiapkan kendaraan ketiga pengantin dan seluruh abdinya. Patih Suksara berkata, “Baiklah Paduka.”
Lalu mereka bersiap-siap, terutama di dalam istana semua sibuk menyiapkan barang (Hal.218) bawaan beserta abdi yang akan mengiringi pengantin ke Yawastina. Kemudian keesokan paginya bertepatan pada hari Senin Manis, Prabu Jaya Purusa dengan putra menantunya yaitu Prabu Astra Darma duduk dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara menghadap dengan sigap seperti biasanya. Raden Jaya Amijaya duduk berjajar dengan para adiknya dari Yawastina. Patih Suksara berjajar dengan Patih Sudarma, sedangkan para pengawal Widarba semua bersebelahan dengan para pengawal dari Yawastina. Lalu tidak begitu lama Prabu Jaya Purusa berkata kepada Patih Suksara dengan Patih Sudarma, bahwa sekarang putra menantunya yaitu Prabu Astra Darma diberijulukan dengan nama Prabu Purusangkara, serta masih tetap menjadi raja yang terhormat di Yawastina. Sedangkan Raden Darma Sarana berganti na(Hal.219)ma menjadi Arya Amijaya, Raden Darma Kusuma ganti nama menjadi Arya Jaya Kirana, atau putra mahkota nantinya akan diangkat menjadi raja muda, diberi nama Arya Jaya Amijaya. Patih Suksara dan Patih Sudarma juga seluruh balatentara pengawal berkata, “Baiklah Paduka, medukung pada kehendak raja.”
Setelah itu lalu bubar. Prabu Jaya Purusa dan Prabu Purusangkara pulang ke keraton. Para putra dan seluruh pengawal telah pulang masing-masing. Begitulah dikabarkan pada saat itu para balatentara Widarba, yang sma-sama diperintah mengantarkan kepulangan Prabu Purusangkara ke negeri Yawastina.
Tidak diceritakan dalam persiapannya, ketika telah siap lalu pergi. Ayahanda yaitu Prabu Jaya Purusa dengan ibunya yaitu Permaisuri semua mengantarkan (Hal.220) kepulangan putranya sampai ke pesanggrahan di luar kerajaan lalu mereka semua berhenti. Tidak begitu lama Prabu Purusangkara serta para adik serta istri mereka berjalan lagi bersama balatentara bergemuruh. Ayahnya yaitu Prabu Jaya Purusa dengan ibu suri semua sangat meronta-ronta sehingga berlinang air mata lalu pulang menuju kerajaan. Begitu pula mereka yang pulang bersama berlinangan air mata.
Tersebutlah yang pulang ke Yawastina bersama seluruh balatentaranya. Mereka di sepanjang perjalanan bercengkrama, bertemu binatang hutan, tertarik oleh berbagai burung yang pantas dijadikan kesenangan. Lalu tidak diceritakan kejadiannya selama di perjalanan, dan setelah sampai di Yawastina menghabiskan waktu dalam perjalanan kurang dari tiga hari. Patih Sudarma diperintah berjalan lebih dahulu, disuruh menyiapkan di dalam (Hal.220) kerajaan juga di dalam dan di luar istana, serta disuruh melengkapi tempat peristirahatan seluruh balatentara Widarba jangan ada yang kekurangan. Patih Sudarma berkata, “Baiklah Paduka.”
Segera berangkat dengan hanya membawa dua pengawal bersama pembantunya. Di belakang Patih Sudarma lalu ada yang berangkat lagi. Dalam perjalanannya mereka bersnang-senang sambil menikmati keindahan sepanjang perjalanan membahagiakan para istrinya.
Selesai cerita tentang perjalanannya Prabu Purusangkara, ganti diceritakan Patih Sudarma dengan kedua pengawal yang dibawa berangkat dulu. Tidak diceritakan selama di perjalanan, sampai di negeri Yawastina tanpa beristirahat lagi lalu mereka menyiapkan seluruh hiasan istana serta di dalam kerajaan semua, terutama melengkapi semua tempat (Hal.222) peristirahatan untuk seluruh balatentara Widarba yang mengikuti kepulangan Prabu Purusangkara. Ketika itu mereka melakukan pekerjaannya dengan cepat siang malam tidak ada berhenti.
Dalam pada itu tidak diceritakan perilaku orang yang bekerja. Sekitar tiga hari telah sempurna dan lengkap pekerjaannya semua. Lalu datanglah Prabu Purusangkara beserta seluruh balatentara bergemuruh. Sang raja dengan para adik serta para istrinya terus menuju istana. Patih Sudarma mempersilakan seluruh balatentara Widarba ditempatkan di tempat istirahatnya masing-masing. Para pengawal Widarba sangat senang tak terhingga. Sedangkan balatentara di Yawastina semua telah sama bubar pulang masing-masing.
Lalu diceritakan kembali ketika suasana badan telah tentram. Prabu Purusangkara (Hal.223) lalu mengungkapkan kegembiraannya. Tersebutlah siang malam selalu mengadakan pesta meriah di dalam istana. Ketika itu negeri Yawastina di dalam beberapa hari tidak ada yang dikhawatirkan kecuali hanya bersenang-senang habis-habisan dengan seluruh balatentara Widarba dan balatentara di Yawastina semua. Namun tidak diceritakan kejadian dalam bersenang-senangnya. Ketika telah sampai setengah bulan seluruh balatentara Widarba berpamitan kepada Patih Sudarma. Ketika itu lalu dikatakan kepada raja dan diperkenankan. Mereka diberi banyak hadiah berupa kain dan senjata. Para pengawal Widarba sangat senang dan mengucapkan terima kasih. Tidak diceritakan perilakunya mereka yang sedang bersiap-siap, dan setelah siap lalu semuanya berangkat. Tidak pula diceritakan sampainya mereka di kerajaannya. (Hal.224) Setelah waktu pergi para pejabat Widarba, antara sebulan kemudian bertepatan dengan pergantian tahun.
// Ketika berjalan tiga bulan dalam siklus Suryasangkala pada tahun 842, atau terjadinya pada bulan keempat siklus Candrasangkala pada tahun 867, termasuk dalam tahun Biswawisu, bertepatan dengan masa Sitra. Selanjutnya yang diceritakan negeri Yawastina. Pada waktu itu Prabu Purusangkara sangat bersedih hatinya karena istri kedua adiknya telah hamil tua, hanya istri raja sendiri yang belum mengandung. Oleh karena itu, Prabu Purusangkara setiap hari selalu bepergian keluar kerajaan diikuti seluruh balatentara Yawastina. Oleh karena itu, pulangnya selalu senja, langsung me(Hal.225)nuju tempat tidur saja. Ia melakukan itu karena kesedihannya. Prabu Purusangkara tampak malu kepada istrinya yaitu Dewi Pramesti. Dikiranya raja mungkin celaka tidak akan mendapat putra. Maka setiap hari raja selalu bercengkrama di luar kerajaan. Patih Sudarma beserta para pengawalnya sangat sedih karena raja kemudian tidak ingin dihadap rakyatnya sehingga di Pancaniti sepi. Akhirnya akan merusak aturan tugas semua balatentara karena mereka tidak menjalankan kewajibannya, selalu ikut berbincang saja. Sedangkan yang membuat sedih Patih Sudarma hanya keteladanan paduka raja pada dulu kala, berhubung telah lama meninggalkan kerajaan tidak memperdulikan pengadilan. (Hal.226) Hal itu seharusnya tidak pantas terjadi dalam kerajaannya. Dalam keadaan demikian, Sang Pemimpin terpercaya beserta temannya ingin berkata namun takut, sehingga hanya berdiam diri. Akan tetapi mereka tidak putus asa tetap berusaha berdoa sekemampuannya dengan mengharap tidak lebih hanya memohon ampunan dewa bila ada kesalahan sehingga marah.
Tidak diceritakan perilaku Prabu Purusangkara yang selalu bepergian, tersebutlah istri adik raja yang dua, yaitu Arya Amijaya dan Arya Jaya Kirana. Saat ini telah sampai bulan ke sembilan lalu mereka melahirkan. Istri Arya Amijaya yang bernama Dewi Pramuni melahirkan anak perempuan, sangat cantik parasnya diberi nama Dewi Renggawati. Istri Arya Jaya Kirana yang bernama Dewi Sasanti melahirkan anak laki-laki, sangat tampan parasnya (Hal.227) diberi nama Raden Sanjaya.
Ayah, ibu, uwa raja laki-laki dan perempuan sangat suka karena mempunyai keponakan. Namun, hati Prabu Purusangkara semakin sedih sekali karena selalu diminta istrinya supaya punya anak sendiri. Dalam pada itu Prabu Purusangkara lalu berkata kepada Patih Sudarma disuruh mengutus dua pengawal untuk memberitahukan kepada ayahanda Raja Widarba. Patih Sudarma berkata, “Baiklah paduka.”
Lalu Patih Sudarma menugasi kepada dua pengawal saat itu juga mereka pergi. Yang pertama Arya Sudarsa, dan kedua Arya Sasana. Mereka setelah diberi nasehat lalu berangkat ke tempat yang dituju. Tidak diceritakan antara lamanya di perjalanan, sampai negeri Widarba pada pagi hari bertepatan dengan hari penghadapan.
Ketika itu pada hari Senin (Hal.228) Manis Prabu Jaya Purusa duduk dihadap oleh rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara bersama menghadap degan sigap seperti biasanya. Ketika itu kedua utusan dari Yawastina setibanya ke tujuan langsung menuju tempat penghadapan secara tiba-tiba. Prabu Jaya Purusa dan semua yang ada sangat kaget lalu menyuruh menanyakan tujuan kedatangannya. Patih Suksara berkata, “Baiklah Paduka,” lalu bertanya kepada Arya Sudarsa. Jawabnya, ia diutus putra raja Prabu Purusangkara di Yawastina, disuruh memberi tahukan bahwa Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti saat ini telah Melahirkan. Seluruh kejadiannya telah diceritakan semua dari awal hingga akhir. Prabu Jaya Purusa sangat suka dan heran. Sukanya karena saat ini ia telah mempunyai dua orang cucu, dan herenannya (Hal.229) karena putranya yaitu Prabu Purusangkara belum mempunyai putra sendiri.
Prabu Jaya Purusa berkata, “Hai Arya Sudarsa, jadi putraku Prabu Purusangkara itu dapat dikatakan tinggal berbuat membahagiakan keempat adiknya.”
Arya Sudarsa berlutut sambil menceritakan kesedihan Prabu Purusangkara. Semua perilakunya telah diceritakan dari awal hingga akhir. Prabu Jaya Purusa begitu heran sekali dan agak kasihan. Lalu ia berkata kepada Arya Sudarsa, “Kamu sampaikan pada putraku Prabu Purusangkara apa yang menjadi kesedihannya itu jangan sampai terus-menerus bersedih. Saya pasti temani meminta kepada dewa semoga diberi putra nanti.”
Arya Sudarsa menyembah dan berkata, “Baiklah Paduka.”
Prabu Jaya Purusa berkata kepada Sang Pemimpin kepercayaan, “Hai Patih Suksa(Hal.230)ra, yang sedang saya pikirkan itu lain, tapi juga masih termasuk kehendakku dulu. Saat ini siapa kiranya yang pantas untuk saya utus ke Gunung Padang, meminta putra perempuannya Ajar Subrata yang bernama Ken Satapi. Aku hendak menikahkannya dengan putraku yaitu Prabu Anom Jaya Amijaya?”
Kata Patih Suksara, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, di luar dari kehendak Paduka saya pantas untuk diutus ke Gunung Padang. Oleh sebab itu paduka, berhubung Ajar Subrata untuk memanggilnya agak sulit, kemungkinan saja jika saya yang pergi akan lebih mudah.”
Prabu Jaya Purusa sangat senang. Patih Suksara telah dinasehati tentang segala kehendak raja. Patih Suksara berkata, “Baiklah Paduka,” lalu bubar.
Prabu Jaya Purusa pulang ke keraton, Patih Suksara dan temannya telah (Hal.231) pulang masing-masing. Utusan dari Yawastina dan temannya telah diberi tempat istirahat serta hidangan yang cukup. Setelah beberapa hari, Arya Sudarma dan Arya Sasana memohon pamit pulang ke Yawastina, diperkenankan serta diberi banyak kiriman oleh Prabu Jaya Purusa untuk ketiga putranya berupa bahan dan barang jadi terpilih dan dibagi-bagi banyak sedikitnya, termasuk bagi kedua utusan juga diberi kain dan senjata yang sama rata dengan temannya. Kedua utusan semua berterima kasih lalu bersiap-siap. Setelah itu mereka berangkat bersamaan dengan keberangkatan Patih Suksara yang diutus ke Gunung Padang.
Dalam pada itu cerita perjalanan Sang Pemimpin kepercayaan tidak dilukiskan. Sampailah di Gunung Padang bertemu dengan Ajar Subrata. Setelah disambut (Hal.232) dengan penuh keramahan dan hidangan, Patih Suksara lalu mengatakan perintah Prabu Jaya Purusa. Seluruh nasehatnya telah dikatakan dari awal hingga akhir. Ketika itu Ajar Subrata menerima perintah raja tadi. Seketika Ajar merunduk, namun cahaya wajahya terlihat seperti kurang suka. Patih Suksara sangat senang hatinya karena mendengar ungkapannya tadi. Sang Pemimpin kepercayaan lalu mengira bahwa pernyataan Ajar Subrata itu telah memuaskan.
Sang Ajar Subrata menjawab dengan santun, “Duh Paduka Sang Pemimpin kepercayaan, sesungguhnya memang benar sekali di sini ada bunga teratai putih yang tumbuh di telaga. Namun menurut pikiranku sepertinya tidak pantas jika dijadikan permaisuri tuanku, yaitu Prabu (Hal.233) Anom karena jelek sekali rupanya, kecuali sungguh ada pilihannya mengingat keperawanannya masih utuh. Karena masih diinginkan oleh dewa disimpan dalam ramalan. Maka beginilah dulu pesan dari dewa. Diramalkan bahwa bunga teratai putih yang tumbuh di telaga itu kelak keturunannya akan menyebabkan pertengkaran di seluruh Tanah Jawa. Namun hanya ada sedikit yang mengherakan hatiku selama ini tadi paduka, karena meskipun bunga itu buruk rupa tempatnya dan sangat hina keturunannya, ternyata atas kehendak dewa sampai harus dicari oleh tuan. Akhirnya atas kesepakatan tidak lebih pada saat ini saya hanya mempersilahkan atas kehendak raja saja.”
Patih Suksara sangat senang. Setelah sepakat Sang Pemimpin kepercayaan lalu (Hal.234) utusan berkata kepada raja, serta meminta untuk menjemput Ken Satapi yang serupa ratu keputrian dan kendaraannya. Singkat cerita ketika itu penjemput Ken Satapi semua telah datang di Gunung Padang, lalu diterima oleh Ajar Subrata. Selanjutnya mereka bersiap-siap, sehari kemudian telah siap bersama Patih Suksara berangkat pulang dari Gunung Padhang. Ken Satapi telah dibawa di dalam tandu. Ajar Subrata dan semua keluarganya mengikuti.
Tidak diceritakan di perjalanannya. Sesampainya di negeri Widarba semua berhenti di Pancaniti. Patih Suksara telah laporan kepada raja dan dijawab akan menuju istana. Sampai di hadapan raja, Ken Satapi telah masuk ke dalam istana. Patih Suksara (Hal.235) disuruh menceritakan seluruh perilakunya yang diutus dari awal hingga akhir. Prabu Jaya Purusa sangat senang menyambut hangat kepada Ajar Subrata, dengan penuh suka cita dan berterima kasih sambil berlutut.
Prabu Jaya Purusa bertanya sebabnya Resi Kumbayana sampai tidak ikut mengiringkan. Kata Ajar Subrata bahwa sekarang Resi Kumbayana telah wafat, tetapi tidak diberitakan kepada raja karena ketika itu di dalam negeri Widarba sedang terjadi perang besar dengan Malawapati menunggu reda kedua pihak. Tidak lama setelah itu datang musuh besar lagi dari Selahuma. Akhirnya menunggu hingga sekarang ini belum juga diberitakan. Bersamaan dengan sirnanya musuh baru akan diberitahukan, namun karena telah terlalu (Hal.236) lama hingga menjadi begitu takut. Prabu Jaya Purusa heran sekali dan agak menyesal karena tidak menyaksikan jenazah Resi Kumbayana. Prabu Jaya Purusa bertanya tentang putra yang ditinggalkan Resi Kumbayana. Ajar Subrata disuruh menjelaskan secara terperinci.
Kata Ajar Subrata, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, jika bertanya mengenai putra Resi Kumbayana itu hanya ada dua. Saya dan adikku perempuan yang bernama Ken Subrangti yang diperistri oleh Empu Sedhah itu. Sedangkan saya ini hanya mempunyai dua anak, yaitu Satapi dan Ajar Satapapampang. Sedangkan yang ikut kepada saya yang tiga orang itu adik ayahku, yaitu Resi Kumbayana bersama putranya Resi Brangtadi, bernama Empu Kumbarawa, (Hal.237) kedua Empu Sendhi, ketiga Empu Ken Dhiwiri. Ketiga orang itu seluruhnya senang menjadi pandai besi. Prabu Jaya Purusa sangat senang lalu berkata kepada Patih Suksara bahwa sekarang Ajar Subrata diperkenankan datang pada pertemuan di Pancaniti, bersatu dengan para Brahmana tidak berubah seperti ketika ayahnya Resi Kumbayana dulu, dan Ken Satapi nanti berdiganti nama Dewi Satapi. Sedangkan adik Resi Kumbayana yang tiga sama-sama diabdikan menjadi balatentara raja sebagai kepala pandai di Widarba semua.
Patih Suksara berkata, ”Baiklah Paduka,” lalu melantik para pengawal yang ada di hadapan raja. Setelah itu lalu mereka saling berbincang tentang rencana pernikahan pengantin. Patih Suksara dengan Ajar Subrata se(Hal.238)mua menyambut baik. Semoga diperkenankan kehendak raja yang baik besok pada hari Senin Manis mengusulkannya itu. Prabu Jaya Purusa Menyetujui keinginan itu. Sang Pemimpin kepercayaan lalu disuruh menyiapkan seluruh keperluan pernikahan. Ajar Subrata disuruh mengundang sahabat karibnya, para pendeta yang dekat-dekat.
Patih Suksara dengan Ajar Subrata berkata, “Baiklah Paduka,” lalu mereka diperkenankan keluar, kecuali Ajar Subrata sekeluarga yang disuruh tetap berada di tempat peribadatan. Patih Suksara dan rombongan pengawal sampai di luar, lalu mereka semua pulang masing-masing.
Keesokan harinya Patih Suksara dan temannya lalu mulai bekerja mempersiapkan pernikahan putra raja yaitu Prabu Anom. Ketika itu negeri Widarba setiap (Hal.239) hari sama-sama sibuk merangkai hiasan kerajaan dan di dalam keraton. Sedangkan Ajar Subrata sekeluarga meminta pamit pulang ke Gunung Padang, akan mengundang saudaranya, para petapa yang dekat-dekat semua. Prabu Jaya Purusa mengizinkan Ajar Subrata dengan keluarganya berangkat. Sampai di Gunung Padang, Ajar Subrata lalu menunjuk seluruh muridnya, disuruh mengundang kepada semua saudaranya, bersama dengan putranya Ajar Subrata yaitu Satapi di Pampang termasuk ketiga pamannya juga disuruh merangkai macam-macam yang akan dipersembahkan ke luar Gunung Padang.
Tunda cerita tentang persiapan Ajar Subrata di Gunung Padang, ganti diceritakan yang mempersiapkan hiasannya di negeri Widarba. Tidak di(Hal.240)ceritakan berapa lamanya mereka semua bekerja, dan sebulan kemudian telah siap dan sempurna semua. Selanjutnya rombongan Ajar Subrata dari Gunung Padang dan keluarganya telah sampai sambil membawa persembahan kuning keemasan bermacam-macam sangat banyak, dan diiringi seluruh saudaranya para pendeta. Sampai di Widarba telah diberitakan kepada Patih Suksara, rombongan pembawa persembahan tengah berjalan menuju istana untuk diberikan kepada permaisuri raja. Sedangkan seluruh pendeta besar dan kecil telah ditempatkan di peristirahatan masing-masing.
Singkat cerita ketika telah sampai pada hari Senin Manis, putra raja yaitu Prabu Anom Arya Jaya Amijaya lalu dinikahkan dengan (Hal.241) putrinya Ajar Subrata yang bernama Dewi Satapi. Ketika itu pernikahannya lebih meriah, siang dan malam selalu menghidangkan pesta. Seluruh tempat penghormatan dihidangi jamuan bagi para balatentara yang kecil-kecil semua bersatu dengan seluruh murid para petapa yang sama-sama menghadap di negeri Widarba. Sedangkan para pengawal dan para pendeta Resi Bagawan Ajar Wawasi yang besar-besar semuanya disuguhi hidangan pesta di dalam istana.
Diceritakan ketika itu keramaian dalam pernikahan Prabu Anom Arya Jaya Amijaya sampai empat puluh hari empat puluh malam, namun tidak diceritakan perilaku mereka dalam pesta. Ketika telah sampai empat puluh hari empat puluh (Hal.242) malam lalu selesai. Seluruh pendeta telah diperkenankan pulang ke pertapaannya masing-masing, serta semua diberi berbagai macam peralatan yang cocok untuk bertani dalam jumlah banyak. Namun Ajar Subrata sendiri dan keluarganya belum diperkenankan pulang, karena masih diminta supaya merayu putrinya yaitu Dewi Satapi.
Tunda perjalanannya di negeri Widarba, ganti diceritakan negeri Yawastina. Ketika itu pada hari Kamis Manis pagi Prabu Purusangkara duduk dihadap rakyatnya di Pancaniti, lengkap dengan seluruh balatentara yang menghadap dengan sigat seperti biasanya. Prabu Purusangkara bertanya kepada Sang Pemimpin terpercaya barangkali mendengar berita dari negeri Widarba. Kabarnya nanti Prabu Jaya Purusa (Hal.243) hendak menikahkan putra laki-lakinya. Patih Sudarma ditanya benar atau tidaknya.
Kata Patih, “Duh Paduka Kangjeng Dewaji, saya sungguh mendengar berita itu. Katanya yang dinikahkan adalah kakak Paduka Prabu Anom Arya Amijaya kepada putri Ajar Subrata dari Gunung Padang bernama Dewi Sutapi. Sedangkan Ajar Subrata itu putranya Resi Kumbayana, cucunya Empu Brangkadi yang bernama Resi Tambakbaya oleh kakek Paduka leluhur Prabu Parikesit di Astina dulu. Sedangkan mengenai pernikahan kakak Paduka Prabu Anom Arya Amijaya tadi, kabarnya lebih meriah pestanya. Semua merasa senang sampai menghabiskan seluruh perilaku dalam pesta. Ibaratnya yang ada ditambah yang tidak ada sama didatangkan. Demikianlah (Hal.244) paduka kabar tentang kesenangan hati uwa Paduka Prabu Jaya Purusa. Lamanya mereka mengadakan pesta sampai empat puluh hari empat puluh malam baru selesai. Hanya itu yang saya ketahui Paduka.”
Begitulah laporan Patih Sudarma.
........................................................................................................................................................



2. TEKS NASKAH CARITA RATU PAKUAN (Kropak 410)
Redaksi teks naskah Carita Ratu Pakuan ini dikutip bagian awal (baris 1-33), bagian tengah (baris 189-231), dan bagian akhir (baris 476-518)

Ini carita Ratu Pakuan,
ti gunung Kumbang.
Gunung Giri Maya Séda,
patapaan Pwahaci Mangbang Siyang,
5. nitis ka Rucita Wangi,
ahis tuhan Jayasakti ,
seuweu patih Sang Atus Wangi.
Munding Cina pulang dagang,
basa pulang ti Lamajang,
10. sakelél miduwa basa,
nu beunghar di Pabéyan.
Gunung Tara Maya Séda,
bukit si Panglipur Manik,
patapaan Pwahaci Mangbang Siyang,
15. nitis ka Manik Déwata,
ka Sang Raja Angsa,
ahis Ratu Premana,
tuhan Paksajati,
seuweuna Serepong Wangi,
20. nu beunghar di Taalwangi.
Gunung Cupu Bukit Tamporasih,
patapaan Pwahaci Niwarti,
nu nitis ka Taambo Agung,
nu leuwih kasih,
25. ahis tuhan Rahmacuté,
seuweu pa[h]tih Prebu Wangi
Serepong. Sira Punara Putih,
ti Sumedanglarang.
Gunung Cupu Bukit Tanporasih,
30. mandala Tanpo Wahanan,
sri gina bukit Manghening,
Patanjala panénjoan.
Gunung si Purnawijaya,
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
bésé jati dipasagi bubuleud emas,
190. tetek taleh salaka,
sasaka gading ditapak liman,
baaneun ka Pakuan.
Bur jolian homas,
dipuncakan ku camara gading,
195. dililinggaan omas,
ngarana tan garantay,
dipuncakan ku mirah,
tumpak di karang mantaja,
singasari keri kanan,
200. payung wilis lilingga gading,
dipuncakan ku manik molah,
payung getas dililinggaan,
dipuncakan homas,
deung payung saberilén,
205. beunang ngagalér ku lungsir,
tapo térong homas keloh.
Gelewer paraja papan,
kikiceup deungeun liliyeuk,
deg semut sama dulur,
210. bétana tataman pindah.
Bur kadi kuta Sri Manglayang,
luménggang di awang-awang,
juru kendi ti peundeuri,
juru kandaga ti heula,
215. deung sawung galing kiwa tengen,
di tengah kidang kancana,
saha nu si singa barong.
Bur ti heula ley peudeuri,
sataganan lain deui,
220. nu geulis taan Bungasari,
ahis tuhan Bima Raja,
putri ti Lodatar Luar,
deung nu geulis Sriwati,
ahisna Munding Dalima,
225. putri ti gunung Kajapu,
deung nu geulis Raja Kalapa,
ahis tuhan Bima Kalang,
putri ti Kalapa Jajar,
deung nu geulis Limur Kasih,
230. ahisna Panji Bomapati,
putri ti Pasir Batang.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Karang Sindulang di muhara
Cilamaya,
di Sanghiyang Atas Keling,
ahis Hacimaya Raja,
480. seuweuna sang guru Pamijahan ,
asuh Haci Mageuhan,
seuweu Sanghiyang di umbul Catih,
asuh Hacimaya Manik,
seuweu susuhunan Pakancilan,
485. mangkubumi Pakancilan,
asuh Haci Madéwata,
seuweu Sanghiyang di umbul Majak,
asuh Haci Lebok Maya,
seuweuna Sanghiyang di umbul Sogol,
490. asuh Haci Ratna Larang,
seuweu Sanghiyang di Saligara,
asuh Haci Lénggang Sari,
seuweu Sanghiyang Mandiri,
asuh Haci Mundut tunjung,
495. seuweuna Sanghiyang di umbul Tubuy,
asuh Haci Maya Tunjung Maya Déwata.,
Sri Petas mulih déwata,
deung nu geulis Maya Kusuma
Manglibu Larang,
500. mama Libu Wang Sri Ratna,
tuhan Dewata,
seuweu susuhunan Lila,
di hujung Tipu,
nu ngabarangniya Sarasa Maya,
505. heubeuheus di Sanghiyang,
ja di suku bubukit di tanah.
Nu geulis Gedongmaya
seuweuna patih di Siyang,
deung nu geulis Rancangmaya,
510. Ramayasari Déwata.
Hanaca
raka datasawala
pada jayanya magabatanga.
Sadu pun.
515. Sugan aya sastra leuwih
suda baan, kurang wuwuhan.
Beunang diajar nulis
gunung Larang Sri Manganti .

3. TEKS NANSKAH KISAH BUJANGGAMANIK
Redaksi teks naskah Bujanggamanik ini dikutip bagian awal (baris 1-45), bagian tengah (baris 773-824), dan bagian akhir (baris 1702-1752).

The Story of Bujangga Manik

1 Saur sang mahapandita: The wise man said:
‘Kumaha girita ini? ‘What commotion is this?
Mana sinarieun teuing Why so unexpectedly
téka ceudeum ceukreum teuing? this gloom and depression?
5 Mo ha(n)teu nu kabéngkéngan.’ No doubt there are people in distress.’
Saur sang mahapandita: The wise man said:
‘Di mana éta geusanna? ‘Where is this taking place?
Eu(n)deur nu ceurik sadalem, The whole palace is weeping intensely,
séok nu ceurik sajero, the whole court is wailing loudly,
10 midangdam sakadatuan. the whole kraton is lamenting.
Mo lain di Pakancilan, No doubt it is in Pakancilan,
tohaan eukeur nu ma(ng)kat, a prince is departing
P(e)rebu Jaka Pakuan.’ prince Jaka Pakuan.’
Saurna karah sakini: He spoke as follows:
15 ‘A(m)buing tatanghi ti(ng)gal, ‘Mother, keep awake while staying behind,
tarik-tarik dibuhaya. even if you pull as strongly as a crocodile,
pawekas pajeueung beungeut, it is the last time we see face to face,
kita a(m)bu deung awaking, you, mother and I,
héngan sapoé ayeuna, still one more day, today.
20 aing dék leu(m)pang ka wétan.’ I shall go to the East.’
Sa(ang)geus nyaur sakitu, Having spoken thus,
indit birit su(n)dah diri, he rose and departed,
lugay sila su(n)dah leu(m)pang. he stretched his legs and left.
Sadiri ti salu panti, After leaving the entrance hall,
25 saturun ti tungtung surung, and descending from the end of the dais,
ulang panapak ka lemah, he put his feet on the ground,
kalangkang ngabiantara, his shadow emerging outdoors,
reujeung deung dayeuhanana, together with the man in person,
mukakeun / panto kowari. and he opened the gate door.
30 Sau(n)dur aing ti U(m)bul, After I had left Umbul behind me,
sadiri ti Pakancilan, had departed from Pakancilan,
sadatang ka Wi(n)du Cinta, and had come to Windu Cinta,
cu(n)duk aing ka Mangu(n)tur, I arrived at the outer courtyard,
ngalalar ka Pancawara, went past Pancawara,
35 ngahusir ka Lebuh Ageung, proceeded to the great square,
na leu(m)pang saceu(n)dung kaén. walking with a piece of cloth as my hairdress.
Séok na janma nu carék: Many were the people who said:
‘Tohaan nu dék ka mana? ‘Where are you going, my Lord?
Mana sinarieun teuing Why are you so unexpectedly
40 téka leu(m)pang sosorangan?’ travelling all alone?'
Ditanya ha(n)teu dék nyaur. Thus questioned I did not want to speak.
Nepi ka Pakeun Caringin, Coming to Pakeun Caringin
ku ngaing téka kaliwat. I passed it immediately.
Ngalalar ka Na(ng?)ka Anak, I went past Nangka Anak,
45 datang ka Tajur Mandiri. and came to Tajur Mandiri.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
basa mitineung batari. when he longed for the goddess.
Ti wétan bukit Marapi, To the east is Mount Merapi,
775 sakakala Darmadéwa. which keeps the memory of Darmadéwa,
inya lurah / Karangian. that is the district of Karangian.
Diri aing ti Danara, I left Danara,
datang aing ka Pidada. and came to Pidada.
Sadatang aing ka Jemas, After I had arrived at Jemas,
780 ka kénca jajahan Demak, to my left was the territory of Demak,
ti wétan na Welahulu. to the east of Mount Welahulu.
Ngalalaring ka Pulutan, I went past Pulutan,
datang ka Medang Kamulan. and came to Medang Kamulan.
Sacu(n)duk ka Rabut Jalu, After arriving at Rabut Jalu,
785 ngalalaring ka Larangan. I went past Larangan.
Sadatang aing ka Jempar, After coming to Jempar,
meu(n)tasing di Ciwuluyu, I crossed the river Ci-Wuluyu,
cu(n)duk ka lurah Gegelang, arrived at the district of Gegelang,
ti kidul Medang Kamulan, to the south of Medang Kamulan,
790 cu(n)duk ka Bangbarung Gunung. then arrived at Bangbarung Gunung.
Sadatang ka Jero Alas, After arriving at Jero Alas,
meu(n)tas di bagawan Cangku, I crossed the river Cangku,
ngalalar aing ka Daha, and went past Daha.
Samu(ng)kur aing ti inya, After departing from there,
795 sacu(n)duk aing ka Pujut, and arriving at Pujut,
meu(n)tas di Cironabaya, I crossed the river Ci-Ronabaya,
ngalalar ka Rambut Merem. and went past Rambut Merem.
Sacu(n)duk aing ka Wakul, After I arrived at Wakul,
sadatang ka Pacéléngan, and had arrived at Pacéléngan,
800 ngalalar aing ka Bubat, I went past Bubat,
cu(n)duk aing ka Mangu(n)tur, arrived at Manguntur,
ka buruan Majapahit, the square of Majapahit,
ngalalar ka Dar/ma Anyar, and went past Darma Anyar,
na Karang Kajramanaan, and Karang Kajramanaan,
805 ti kidulna Karang Jaka. to the south of Karang Jaka.
Sadatang ka Pali(n)tahan, After I came to Palintahan,
samu(ng)kur ti Majapahit, having left Majapahit behind me,
na(n)jak ka gunung Pawitra, I ascended Mount Pawitra,
rabut gunung Gajah Mu(ng)kur. the sacred Mount Gajah Mungkur.
810 Ti ké(n)ca na alas Gresik, To the left was the territory of Gresik,
ti kidul gunung Rajuna. to the south Mount Rajuna.
Ku ngaing geus kaleu(m)pangan, When I had walked through it,
ngalalar ka Patukangan, I went past Patukangan,
datang ka Rabut Wahangan, and came at Rabut Wahangan,
815 leu(m)pang aing nyangwétankeun. walking to the eastward.
La(m)bung gunung Mahaméru, The slopes of the Mount Mahaméru,
disorang kaléreunana. I passed at the north side.
Datang ka gunung B(e)rahma, I came at Mount Brahma,
datang aing ka Kadiran, arrived at Kadiran,
820 ka Tandes ka Ranobawa. at Tandes, at Ranobawa.
leu(m)pang aing ngalér ngétan. Walking northeastward.
Sacu(n)duk aing ka Dingding, I arrived at Dingding,
éta hulu déwaguru. that is the seat of a prior.
Samu(ng)kur aing ti (i)nya, After departing from there,
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . .
Rakaki Bujangga Manik, The honourable Bujangga Manik
tuluy dirawu dipangku, then was lifted up and taken on the lap,
diais dipagantikeun, carried in the arms by one after the other,
1705 diu(ng)gahkeun ka sudangan, brought upwards to the platform (?),
ti sudangan ka wangsana, from the platform to the palanquin,
wangsana carana gading, a palanquin decorated with ivory,
tu(m)pak di camara putih, riding on a white yak,
camara lili(ng)ga omas, with a fan with a golden knob,
1710 dikikitiran ku mirah, spangled with rubies,
diwé(n)tang-wé(n)tang ku omas, starred with gold,
dipuncakan manik[a] asra, with gems and jewels on top,
dibalay ku muténghara, inlaid with pearls,
diselang pramata mirah, alternating with jewels and rubies,
1715 pramata ko(m)bala hi(n)ten, jewels, precious stones and diamants,
na sarba é(n)dah sagala. all and everything beautiful.
Pakarang cacaritaan, It was decorated with a story,
carita Darma Kancana, the story Darma Kancana,
ti manggung kula(m)bu hurung, above shining curtains,
1720 ti ha(n)dap kulambu lé(ng)gang, below transparant curtains,
paheutna naga pateungteung, attached to them dragons daring each other,
di tengah naga wérati, in the middle unconcerned (?) dragons,
ti handap naga paheu(m)pas, below dragons meeting each other,
merak ngigel di puncakna, a dancing peacock on top,
1725 na sarba é(n)dah sagala, all and everything beautiful,
liwat na sarba mulia, exceedingly beautiful everything,
atita amahabara, exceptional, extraordinary,
murug mu(n)car pakatonan, splendid and brilliant to be seen,
branang siang sarba warna, beaming and luminous with all kinds of colours,
1730 gumilap luma/rap-larap. glittering and sparkling.
Sarua sekar pamaja, Like a pamaja flower
ruana sanghiang atma, is the appearance of the sacred soul,
diwereg ku tatabeuhan, excited by musical instruments,
goong ge(n)ding diba(n)dungkeun, an orchestra with gongs in rows,
1735 gangsa pabaur deung caning, copper symbals mixed with canings.
tatabeuh(an) saréana, the instruments, all of them,
sanghiang pabura(n)caheun, the sacred burancah instruments,
gangsa rari dirindukeun, the rari cymbals were played,
sa(m)peuran aluy-aluyan, the hanging gongs (?) sounded,
1740 payung hapit sutra Keling, flanking umbrellas of Indian silk,
tunggul bungbang kiri kanan, banners of bungbang bamboo to the left and right,
lu(ng)sir putih ngaba(n)daleuy, white silk (as a decoration?) in a long row,
unyut mungpung sama dulur, unyuts in abundance all together,
bitan ku(n)tul sri manglayang, like herons flying beautifully.
1745 Payung lu(ng)sir puncak gading, Silk umbrellas with an ivory top,
payung ke(r)tas puncak omas, paper umbrellas with a golden top,
payung hateup sutra Keling, roofing (?) umbrellas of Indian silk,
galéwér parada Cina, draperies with Chinese gilding,
na banteuleu ratna ureuy, decorated with loose jewels,
1750 taluki ratna kancana, satin with jewels and gold,
camara lili(ng)ga omas, a fan with a golden knob
tapok térong omas ngora, térong calyxes of light gold,
pu(n)cak mirah naga ra(n)tay, on top rubies, dragons forming a chain,
pajalé ratna sumanger, a jewel pajalé, beneficial,
1755 kilat padulur deung téja, lightning accompanied by celestial glow,
diliung nu kuwung-kuwung, encircled by a rainbow,
di i/(nya?) ............... (there ?) ………..

4. Teks Naskah Kisah Kenaikan SRI AJNYANA
Redaksi teks naskah Sri Ajnyana ini dikutip bagian awal (baris 1-47), bagian tengah (baris 440-495), dan bagian akhir (baris 1506-1094)

The ascension of Sri Ajnyana
1 Sakit geui ngareungeuheun, Distressed, dismayed,
she stood motionless, unwilling to speak, cicing hanteu dék matingtim,
usma ku raga sarira. heat raging in her body.
Béngkéng upapen rasana, She felt weak and uncertain,
5 dosa a(ng)geus kanyahoan, having become aware of her sins,
ngeureuy teuing gawé hala, she deeply regretted her bad actions,
hanteu burung katalayah. as she would doubtless get into misery,
Ja kini teuing rasana, So she would feel all too badly,
kasasar jadi manusa. how, having erred, she would become a human being,
10 Saurna sang Sri Ajnyana: Sri Ajnyana said:
‘Adiing, ambet ka dini! ‘My little sister, please come here.
Mulah ceurik nangtung dinya! Do not weep, standing there!
Dini di lahunan aing.’ Come here on my lap.’
Tuluy dirawu dipangku. Then he took her on his lap.
15 ‘Adiing, aing ngalahun.’ ‘My little sister, I take you on my lap.’
Teher direduk na gelung, Then he undid her chignon,
buuk panjang dirundaykeun, letting loose her long hair,
teher dikawul na beuheung, and he embraced her,
dicium diremek penyu, /1r/ kissing her most ardently,
20 diulas-ulas awakna. and stroking her body.
‘Adiing Puah Aci Kembang, ‘My darling Puah Aci Kembang,
sakit ceurik beuteung heula. first stop weeping sadly.
Mungku mangka a(ng)geus tineung. We shall certainly not stop loving.
Adiing urang matingtim. My sister, let us deliberate.
25 Lamun diturut tineunging, If you follow my idea,
éboh ta ngamasih dosa, we should atone for our sins,
turun ka madiapada.’ by descending to the middle world.’
Saur Puah Aci Kembang: Puah Aci Kembang said:
‘Lanceuking sang Sri Ajnyana, ‘My brother Sri Ajnyana,
30 sakati(ng)kah aing milu. wherever you go I follow you.
Ulah aing diti(ng)galkeun, Do not leave me,
sakaleumpang kundang aing, support me wherever I go,
sorga papa deungeun aing, in bliss or misery be my companion,
jeung kasih hamo kapalang. and let our love not be disturbed.
35 Laki hiji kahayanging. There is only one man I want.
Mumul aing palaksana. I do not want to be disobedient (?).
Ja dék leumpang énam-onam, Since you wish to go, please do so,
lanceuking sang Sri Ajnyana.’ my brother Sri Ajnyana.’
Deungeun Puah Aci Kembang Puah Aci Kembang’s companion
40 kaintar diri ti sorga, was expelled from heaven,
turun ka ma/diapada. /1/ and descended to the middle world.
Sia leumpang sumoréang, While going he looked back,
teher reu(m)bay na cimata, and burst into tears,
waas di na kasorgaan. sadly remembering the heavenly abode.
45 Nu mangkaing sakit ceurik, What made me weep sadly,
béngkéng teuing ku awaking, feeling too weak in my body,
hanteu burung kasangsara, was that inevitably I would be tormented
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
440 nyurupan janma manusa, taking possession of human creatures,
sangkan perang deung baraya, causing war between brothers,
paséa deung kula-kadang, quarrels between relatives,
nu lupa katalanjuran. forgetfulness going too far.
Turun na alit mangganal, The small things become large,
445 alu(s) sabda sabda kala, soft words become rough,
aweuhan geni tan lampo. indulging in an unending fire (?).
Ayeuna ageung salama, Now this (fire) will be great forever,
hanteu beunang ditambaan. impossible to be remedied.
Manusa mulah mo iyatna, Man should beware,
450 hala na tuah eureunan. evil is his innate nature.
Mu/lah kroda panas bara, /10/ Do not be angry and hot-tempered,
salah rasa pada janma: nor ill-disposed to fellow-men:
éta na tuah eureunan.’ that is the innate nature.’
Kéna waya jeueung reungeu, Because they had seen and heard (all this),
455 pangeusi auman ageung the participants of the large meeting,
pasieun aya dini. were afraid it might come here (as well).
Manusa dék disaraan, Mankind should be criticised,
nyeueung inya p(e)relaya, seeing they came to ruin,
kasurupan buta Kala, possessed by the evil Kala,
460 lupa di na pasangkanan, forgetting their true origin,
lipi di na wuat jati. unaware of their real provenance.
Manusa mulah sandéha, Mankind should not be in doubt,
lamun datang na sanghara. when annihilation would come.
Saa(ng)geus auman ini, After this meeting was over,
465 déwata pahi jimbaran, the gods all dispersed,
ngahusir kahananana. and went to their abodes.
Jimbaran sang Sri Ajnyana Sri Ajnyana also left
ti kadaton Pancamirah. the palace Pancamirah.
Sadiri aing ti inya, After I had departed from there,
470 milang-milang kasorgaan, I looked around in heaven,
jeueung aing tébéh wétan, and saw in the east,
mé/ru ditihang salaka, /11r/ a pagoda on silver pillars
dipiwaton pirak Cina, framed in (bordered by?) Chinese silver,
dideudeul ku beusi Keling, shored by Indian iron,
475 saréna salaka Keling, its floor of Indian silver,
dijeujeutan omas ngora, linked up with alloyed gold,
imah maneuh dikarancang, a solid building with openwork
diukir ditiru kembang, carved with flower motifs,
digaléwéran ku lungsir, silk cloths hanging down,
480 beunang mu(n)cakan ku manik, jewels set on its top,
dikikitiran ku hi(n)ten, spangled with precious stones,
murug muncar pakatonan, looking all glittering and sparkling,
brenang-siang sadakala. continually bright and shining.
Ngaran(n)a Jambudrasana, Its name was Jambudrasana,
485 kahanan Isora Guru, the abode of god Isora Guru,
husir(eun) nu asak tapa, where all true ascetics go,
lamun satia di sabda. if they are loyal to the word.
Aya deui ti sakitu: There was another one than that.
jeueung aing tébéh kidul, I saw in the south:
490 méru dihateup tambaga, a pagoda with a copper roof,
tihangna tambaga sukla, with pillars of bright copper (pewter?),
saréna ta/mbaga Cina, /11/ its floors of Chinese copper,
dijeujeutan omas Cina, linked up with Chinese gold.
Imah maneuh dikarancang, A solid building with openwork,
495 warnana ukir-ukiran, adorned with all kinds of carvings,
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
mulih ka jatina deui, to return to the essence again,
ngadongkap jati tan hana. to reach the essence of non-existence.
Sakitu pitutur aing, These are my lessons,
mulah mo iatnakeun(eun), be sure to heed them,
1060 kéna réa pangwurungna, for there are many obstructions,
wisaya iatnakeuneun.’ sensual pleasures to be heeded.’
Nyaur na Atma Wisésa: Atma Wisésa said:
‘Sangtabé, namasiwaya! ‘Farewell, homage to Siwa!
Kami amit pu/lang deui, /24r/ I take leave to return again,
1065 turun ka madiapada.’ to go down to the midddle world.’
Leumpang na Atma Wisésa, Atma Wisésa went on his way,
turun ka tanah dunia, descended to the earth,
datang ka madiapada, came to the middle world,
cunduk ka na pangbaturan, arrived at the monastery,
1070 datang ka Mandala Singkal, came to the hermitage Mandala Singkal,
geusan aing laku tapa, where I practised asceticism,
miumit na sabda jati, uttering the words of truth,
mitutur sabda rahayu, speaking the words of welfare,
miawak sabda yogia, embodying the words of righteousness,
1075 mite(men) na sabda lemes, earnestly applying the noble words,
mileuwih basa basiki, honouring the august language,
patingtiman Aci Kuning, the considerations of Aci Kuning,
nu ngeusi bumi kancana, who lives in the golden house,
pituturna Lakawati, the instructions of Lakawati,
1080 nu ngeusi Rahina Wengi, who lives in Rahina Wengi,
siksaan Wiru Mananggay, the prescriptions of Wiru Mananggay,
nu ngeusi Rahina Sada, who lives in Rahina Sada,
panyaraman para sorga. the lessons of all celestials.
Ja déwa turun mangjanma, For the gods descend to become human beings,
1085 milu awor deung manusa, to join and mingle with mankind,
mangkuk di madiapada, to live in the middle world,
nya puah tanah dunia. to be goddesses on the earth.
Pun tla(s) sinurat ring Written in the eighth month,
wulan kawalu pun. Beunang the result of
1090 diajar / sang anurat maha /24/ study by the writer
kasuhun pun. Beunang di who expresses gratitude. Done in the Mandala Beutung
Mandala Beutung Pamaringinan Pamaringinan (in?) Cisanti.
Cisanti pun. Sammadana ku Sorry for the messy letters.
na sa(s)tra rocék.

5. Teks Naskah Sanghyang Raga Dewata
Redaksi teks naskah Sanghyang Raga Dewata ini dikutip bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir.

(Redaksi awal)
Ndĕh ujarrakna wwa ni kaidĕr ku lupa. 1
Katutupan ku si lupa,
apanya ning [ng] amingĕt. /
Kasilib kasilipĕtkeun,
ku mala jati ning raga.
Kna ku tutur ning jagat,
malapat / di sarira.
Suptapada ngaranya turu,
jagra ngaranya tanghi.
Yata ingĕtakna ring sang [ng]amitutur,
me-/mehnya ring aturu,
suptapada ngaranya.
Ari pinĕh ari hetas,
kna ku mala naraka,
kna ku mala // na tutur,
mala na-[ng] raka.
Lipi lupa di jati di maneh,
hilang na tutur yyatna.
Ja leungit na kapageuhan, /
kasaputan ku ikang lupa,
kaparingkus ku ikang tutur,
lupa di jati di maneh pun.
Haywa / tuturaknang ri,
suptapada ngaranya turu,
jagra ngaranya tanghi.
Prayatnakna ring sang atapa pun,
ku sang awru-/h ring tapa.
Tan adoh ring sarira pun papa,
na rasa den tan enak [a] den ta(n) turu.
Sang ngawruh ri carita,
wruh // di carita niskala. 3
Ja mo wruh di suptapada,
ja lipi lupa di rasa,
kna ku mala ning tutur.
Tan jagra tan / tanghi,
ka sangkala tutur lupa,
kna ku pangikĕt [h] mala,
lipi di jati di maneh.
Sarĕp urang turu,
nga-/ranya suptapada.
Pada ngaranya beurang,
supta ngaranya peuting,
rĕbĕt ptêng pwek mo(ngk)leng.
Lipi lupa di ja-/ti di maneh,
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
(Redaksi tengah)
na prang ta ma bisti.
Nagĕnan prang alah,
mtu [da] hayu [ba] akeh lacan [wa].
Haseup sang- / hyang hurip nungkup,
ya agêm jariji numpak [a] tngĕh.
Silana tan alah,
ya ageus majar iji.
Ha- / na teng ngadĕg kna imah,
paeh ana kĕbo,
ja [wa] mtu [da] hayu,
mtu [ba] paeh anak lalaki.
Ja / kita ngarasakeun nu gĕring,
mtu [ba] banaspati1 ning awang-awang,
tawurna beuleum hurang [hayu],
lauk [a] asak // atah hayam,
beureum kuning sajina.
Mtu dora banas- [a] pati lĕmah,
warna sajina [wa] putih sajina.
Makana / taya sanghyang bayu,
ja juru tanghi.
Sing sakaparanya,
ageung madĕt.
[ha] Haywa mupungkur sanghyang bayu,
mu- / pungkur2 sanghyang hurip,
mupungkur sanghyang kasyewanan3,
[ i ] ya sanghyang kajayaan.
Sanghyang Jaya- / syewana4,
nu hurip dina syewana5.
Samangkana ta ikang,
sanghyang kajayaan,
nu ngasuh ikang bwa- // na,
dibeunang [ngi] ngayuga bwana,
pahi paya dewatana,
dina kapapaan sang bwana,
dewatana di- / na kaswa(r)gaan,
batara guru dewatana,
di laut batara baruna,
dewatana di jĕro ning / sapatala,
nusya larang dewatana.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
(Redaksi akhir)
Isorra sab- [iu] da,
Brahma da- // ..................,
(i)nya guna na sanghyang tu(ng)gal,
yata basana hdap herang,
hnang langgĕng tugĕng,
tuturnya paramarata.
i- / (nya) (guna) na sanghyang tu(ng)gal,
inya la(ng)gĕng ning hdap ngaranya.
Ya sabda tata basa,
guru basa ba- / ........... dasa sila,
kosop been tejeh,
atong teuang guru lagu,
suka sila sa- / .....................,
Inya guna na sanghyang tu(ng)gal,
inya la(ng)gĕng ning sabda ngaranya.
inya guna na sanghyang tu(ng)gal. //
n wurungngan sangkan trasna,
pangrĕpĕkna kaleupaseun,
nir sangsangya nir sang deha,
nir trasna nir ajnyana,
hatosa / sadakala,
langgĕng sadakala,
tan molah tan midĕr,
sanghyang hdap bnĕr tmĕn. //
//o// Tlas i nulis ring sida carita, pun. //


LAMPIRAN


Perjalanan menuju Pasir Peti
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Mencari lokasi Batu Pangcalikan
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.

Di lokasi Batu Pangcalikan
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Pengambilan dimensi Batu Pangcalikan
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Batu Pangcalikan Pasir Peti
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Makam Istri Sunan Guling
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Perjalanan menuju Pasir Ciguling
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Lokasi Geger Hanjuang
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.




Wawancara dengan Kuncen kabuyutan Ciguling
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.


Pengambilan dimensi kabuyutan Ciguling
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.


Makam Uyut di komplek kabuyutan Ciguling
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.


Makam Sunan Guling
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Lokasi Sumur Tujuh Pasir Ciguling
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Temuan Batu Gandik Pasir Ciguling
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Geger Hanjuang dari kejauhan
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Sebagian dari para peneliti di Cadas Gantung
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



View dari Cadas Gantung
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Batu Pangcalikan di Cadas Gantung
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.








Pengambilan dimesi Batu Tegak, Cikondang
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.



Yang bekerja dan yang menonton
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.









Peneliti & Mahasiswa Sastra Sunda Unpad
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.




Peneliti & Mahasiswa Sastra Sunda Unpad
Sumber : Dokumentasi peneliti, 2009.

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas