Selasa, 26 Oktober 2010 | By: Babad Sunda

Makna dan macam tradisi (adat istiadat) sunda

ADAT ISTIADAT
1. Nendeun Omong
yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat mempersunting seorang gadis.
2. Lamaran
Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga dekat. Disertai seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara. Bawa lamareun atau sirih pinang komplit, uang, seperangkat pakaian wanita sebagai pameungkeut (pengikat). Cincin tidak mutlak harus dibawa. Jika dibawa, bisanya berupa cincing meneng, melambangkan kemantapan dan keabadian.


3. Tunangan
Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis.
4. Seserahan
(3 - 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.
5. Ngeuyeuk seureuh
Ngeuyeuk asalna tina kecap Heuyeuk, hartina ngatur, ngurus, migawe. Contona : ngaheuyeuk dayeuh, ngolah nagara, sangkang tengtrem, aman, subur, ma’mur, gemah ripah loh jinawi. Harti heuyeuk nu sejena nyaeta papuntang-puntang, paheuyeuk-heuyeuk leungeun dina ngalakonan gawe, tegesna digawe babarengan. Rempug jukung sauyunan, sapapait samamanis, sabobot sapihanean, gotong royong dina kahadean.
(opsional, Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah.)
o Dipimpin pengeuyeuk.
o Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.
o Diiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk
o Disawer beras, agar hidup sejahtera.
o dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat bekerja.
o Membuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
o Membelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri.
o Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria).
6. Membuat lungkun
Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan.
7. Berebut uang
di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga.
8. Upacara Prosesi Pernikahan
o Penjemputan calon pengantin pria, oleh utusan dari pihak wanita
o Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.
o Akad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan menandatangani surat nikah.
o Sungkeman, Indung panganten ngarendeng calik mayunan panganten. Ramana gigireun bojona. Panganten sujud sungkem ka indungna masing–masing.
”Ema, abdi nyuhunkeun dihapunten tina samudaya kalepatan. Ti aalit abdi diatik dugi ka mangsa nikah, abdi nyuhunkeun pido’a ti salira Ema, pernikahan abdi sing aya dina rido Allah sareng rido Ema”.
”Dihampura pisan ku Ema, jeung didu’akeun hidep dina rumah tangga sing tengtrem, piara mawadah warohmah (cinta asih) anu langgeng sarta barkah”.
o Wejangan, oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.
o Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
o Meuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria.
o Nincak endog, pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin wanita.
o Buka pintu. Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan.
Buka pintu ngandung maksud anu luhur budi, teu wantun asup ka jero bumi mun teu idin pribumi. Sawangsulna, pribumi teu gancang narima semah upama tacan dikenal sarta maksud jeung tujuannana. Mun istri lunta kaluar ti imah, kedah widi salakina, mun salaki rek nyaba neangan napkah, kedah ngawartosan sareng do’a ti bojona.
9. Nujuh bulan
Sesuai adat kebiasaan, menyambut masuknya usia kandungan yang ke-tujuh bulan, maka diadakan acara Nujuh Bulan. Selain mengadakan pengajian.
Selesai pengajian, dimulailah acara adat dimulai dengan siraman. Suami mendampingi istri dengan mengacungkan 3 batang lidi yang diikat menjadi satu sebagai tanda bahwa sebagai suami harus tegas dalam membimbing istri dan anakku kelak. Sebelumnya suami harus menggunting tali yang diikatkan pada perut istri yang bermakna agar pada saatnya melahirkan pembukaan istri tidak sulit. Setelah siraman, suami harus meloloskan telur dari balik pakaian yang dikenakan istri yang langsung dipecahkan ke lantai sebagai pertanda pecahnya air ketuban dan pengharapan agar dimudahkan dalam proses kelahiran. Lalu proses tadi dilakukan lagi namun kali ini dengan sebutir buah kelapa. Buah kelapa yang sebelumnya telah digambari wayang Arjuna dan Subadra di masing-masing sisinya itu harus dibelah dengan sebilah golok. Sebisa mungkin suami harus membelah dengan sekali tebasan sebagai tanda kemudahan persalinan.
Rupanya dibalik pembelahan kelapa tadi ada isyarat tertentu. Air kelapa yang keluar tidak memancur keluar melainkan meleleh pelan menyatakan bahwa yang akan lahir adalah perempuan. Selain itu belahan kelapa pada bagian yang digambari Subadra yang notabene perempuan lebih besar dibanding bagian sebelahnya.
Acara dilanjutkan dengan mematut-matutkan pakaian yang akan dikenakan istri setelah siraman. 7 pakaian harus dicoba terlebih dahulu yang sebelumnya dikatakan belum pantas oleh para hadirin hingga akhirnya pakaian yang terakhirlah yang paling pantas. Hal tadi bermakna agar selalu bersabar untuk mencapai yang terbaik. Seselesainya acara yang sarat makna itu, maka selesai pula acara secara keseluruhan.
Selain acara tadi, sang istri juga menyediakan rujak yang akan dijual untuk tamu atau tetangga umumnya anak-anak dengan koin buatan dari potongan genting yang dibentuk seperti koin. bila menurut tamu rasa rujak yang disediakan itu asam atau pedas, mengartikan jenis kelamin bayi yang dikandung istri adalah perempuan.

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas