Senin, 22 November 2010 | By: Babad Sunda

Jejak-jejak kehidupan kerajaan Sumedang

Penelusuran kembali “Nyukcruk Galur” jejak-jejak kehidupan masa lampau terutama masa kerajaan sepenuhnya tergantung pada tinggalan budaya baik itu berupa artefak maupun situs-situs yang ada.
Sumedang bagian dari Tatar Sunda barang tentunya memilki kekayaan budaya yang beragam khususnya berupa peninggal-peninggalan masa lampau. Keberadaan kerajaan – kerajaan di Sumedang sudah tercatat dalam berbagai kitab kuno seperti Carita Parahiyangan dan Catatan Bujangga Manik (1473). Selain itu mengenai raja-raja Sumedang tercatat pula di kitab Waruga Jagat, Pustaka Rajya-Rajya I Bhuni Nusantara Parwa III Sarga 2 (1682), Kropak 410 dan Pustaka Nagara Kretabhumi Parwa I Sarga 2 (1694). Dalam Carita Parahiyangan bahwa sekitar kaki Gunung Tompo Omas (Tampomas) terdapat sebuah kerajaan yang bernama Medang Kahiyangan 252 – 290 (+ terletak di antara Kec. Conggeang dan Kec. Buah Dua). Raja-raja Medang Kahiyangan merupakan keturunan Raja Salakanagara ke 5 dari Prabu Dharma Satya Jaya Waruna Dewawarman menantu Dewawarman IV, sangat disayangkan catatan sejarah Kerajaan Medang Kahiyangan hampir tidak banyak diceritakan dalam Carita Parahiyangan, sedangkan peninggalan masa Medang Kahiyangan banyak tersebar di Gunung Tampomas. Dan dalam catatan Bujangga Manik disebutkan pula bahwa sekitar daerah Cipameungpeuk terdapat sebuah Kerajaan bernama Sumedanglarang (721 – 1601), Selain terdapat kedua kerajaan tersebut, di sebelah selatan Sumedang pun terdapat kerajaan yang bernama Medang Sasigar pada abad ke-17 yang terletak diantara Bandung dan Parakanmuncang.
Dari semua kerajaaan tersebut Sumedanglarang yang lebih menonjol dalam lintasan sejarah Sumedang, dalam perkembangannya Sumedang membujur dari timur ke barat dari Citembong Agung Girang sampai Regol Wetan. Dari peninggalan tersebut banyak historiografi yang berkembang di masyarakat Sumedang.


Awal keberadaan Sumedanglarang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Kerajaan Galuh. Setelah Kandiawan atau Rajaresi Dewaraja (597 – 612) raja Kendan ketiga mengundurkan diri dari tahta Kerajaan Kendan, lalu menjadi Resi di Layuwatang daerah Kuningan. Sebagai penggantinya ia menunjuk puteranya yaitu Wretikandayun yang waktu itu menjadi Rajaresi di Menir. Wretikandayun dinobatkan sebagai raja Kendan pada tanggal 14 bagian terang bulan Caitra tahun 534 Saka atau 23 Maret 612 M. Ketika dinobatkan Wretikandayun berusia 21 tahun. Setelah dinobatkan sebagai raja Wretikandayun mendirikan Ibukota baru yang diberi nama Galuh (permata) yang terletak diantara dua sungai yaitu Citanduy dan Cimuntur. Wretikandayun menikah dengan puteri Resi Makandria yang bernama Manawati setelah menjadi permaisuri bergelar Candraresmi. Dari pernikahan tersebut Wretikandayun mempunyai tiga orang putera, yaitu Sempakwaja (620), Jantaka (622) dan Amara / Mandiminyak (624).
Sempakwaja mempunyai dua orang putera, yaitu Purbasora (643) dan Demunawan (646) yang kelak menurunkan raja-raja kerajaan Sunda, sedangkan Jantaka dikenal sebagai Resiguru di Denuh atau dikenal pula sebagai Resiguru Wanayasa atau Rahiyang Kidul, mempunyai seorang putera yaitu Aria Bimaraksa yang lahir tahun 653, yang kemudian jadi Patih Galuh pada masa pemerintahan Prabu Purbasora. Aria Bimaraksa dikenal pula sebagai Ki Balangantrang, setelah pensiun dari Patih Galuh dikenal sebagai Sanghyang Resi Agung, yang menurunan raja-raja Sumedanglarang, dan putera bungsu Wretikandayun yang bernama Amara yang merupakan putera mahkota kerajaan Galuh kelak menurunkan raja-raja di tanah Jawa.

kami informasikan jika diantara pengunjung ada yang tertarik untuk mensponsori pencetakan buku nyukcruk galur raja-raja sunda, bisa menghubungi saya Via Email :Jakatatal@gmail.com /Call:+6281321285885

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas