Minggu, 28 November 2010 | By: Babad Sunda

HANJUANG DI KARATON KUTAMAYA KIWARI JADI SAKSI


Sebenarnya sejarah tentang hanjuang peningalan Jaya perkosa telah saya posting di blog babad leluhur sumedang, akan tetapi karena teman-teman lebih suka berkunjung ke blog ini dan juga ada pembahasan sejarah hanjuang jaya perkosa di kolom komentar yaitu dari sahabat blogger kuri-kulum.blogspot.com dan blog Urang Lembur yang mengulas tentang hanjuang dan jaya perkosa, nama Jaya Perkosa, mengandung makna  :J aya berarti menang atau abadi sedangkan perkosa (bahasa sunda) artinya perkasa atau gagah berani, karena banyak orang salah persepsi tentang nama Jaya perkosa maka masyarakat sumedang memanggilnya dengan jaya perkasa yang bernama asli Sanghyang Hawudalam catatatan sejarah sumedang yakni arsip sejarah hanjuang tercatat
di Yayasan Pangeran Sumedang/Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang.
Agar memudahkan anda maka saya beri judul dengan hanjuang di Kutamaya(Karaton SumedangLarang masa Pangeran Santri sampai dengan Prabu Geusan Ulun Raja Sumedanglarang terakhir)



HANJUANG DI KUTAMAYA.


SAMPAI SAAT INI TUMBUH SUBUR DI DUSUN PANJELERAN
PADASUKA KABUPATEN SUMEDANG.  YANG DIPELIHARA OLEH KUNCEN YANG BERNAMA BAPAK HARI




 Pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun ada suatu peristiwa penting, menurut Pustaka Kertabhumi I/2 (h.70) peristiwa Harisbaya terjadi tahun 1507 saka atau 1585 M. Peristiwa ini dimulai ketika Prabu Geusan Ulun pulang berguru dari Demak dan Pajang, singgah di Keraton Panembahan Ratu penguasa Cirebon ketika Prabu Geusan Ulun sedang bertamu di Cirebon, sang Prabu bertemu dengan Ratu Harisbaya isteri kedua Panembahan Ratu yang masih muda dan cantik. Harisbaya merupakan puteri Pajang berdarah Madura yang di “berikan” oleh Arya Pangiri penguasa Mataram kepada Panembahan Ratu. Pemberian Harisbaya ke Panembahan Ratu oleh Arya Pangiri agar Panembahan Ratu bersikap netral karena setelah Hadiwijaya raja Pajang wafat terjadilah perebutan kekuasaan antara keluarga keraton Pajang yang didukung oleh Panembahan Ratu menghendaki agar yang menggantikan Hadiwijaya adalah Pangeran Banowo putra bungsunya, tetapi pihak keluarga Trenggono di Demak menghendaki Arya Pangiri putra Sunan Prawoto dan menantu Hadiwijaya sebagai penggantinya yang akhirnya Arya Pangirilah yang meneruskan kekuasaan di Pajang.
Selama berguru di Demak Prabu Geusan Ulun belajar ilmu keagamaan, sedangkan di Pajang berguru kepada Hadiwijaya belajar ilmu kenegaraan dan ilmu perang, selama di Pajang inilah Prabu Geusan Ulun berjumpa dengan Harisbaya dan menjalin hubungan kekasih yang akhirnya hubungan kekasih ini terputus karena Ratu Harisbaya di paksa nikah dengan Panembahan Ratu oleh Arya Pangiri. Ada kemungkinan setelah pulang berguru dari Demak dan Pajang Prabu Geusan Ulun singgah di Cirebon untuk memberikan ucapan selamat kepada Panembahan Ratu atas pernikahannya dengan Harisbaya dan sekalian melihat mantan kekasih. Melihat mantan kekasihnya datang rasa rindu dan cintanya Harisbaya ke Geusan Ulun makin mengebu-gebu, setelah Panembahan Ratu tidur Harisbaya mengedap-edap mendatangi tajug keraton dimana Prabu Geusan Ulun
beristirahat dan Harisbaya datang membujuk Geusan Ulun agar membawa dirinya ke Sumedang ketika itu Geusan Ulun bingung karena Harisbaya adalah istri pamanya sendiri sedangkan Harisbaya mengancam akan bunuh diri apabila tidak dibawa pergi ke Sumedang, setelah meminta nasehat kepada empat pengiringnya akhirnya malam itu juga Harisbawa dibawa pergi ke Sumedang. Keesokan paginya keraton Cirebon gempar karena permaisuri hilang beserta tamunya, melihat istrinya hilang Panembahan Ratu memerintahkan prajuritnya untuk mengejar tetapi prajurit bayangkara Cirebon yang mengusul Geusan Ulun rombongan dapat dipukul mundur oleh empat pengiring sang prabu. Akibat peristiwa Harisbaya tersebut terjadilah perang antara Sumedang dan Cirebon, sebelum berangkat perang Jaya Perkosa berkata kepada Prabu Geusan Ulun, ia akan menanam pohon Hanjuang di Ibukota Sumedang Larang (Kutamaya) sebagai tanda apabila ia kalah atau mati pohon hanjuang pun akan mati dan apabila ia menang atau hidup pohon hanjuang pun tetap hidup, sampai sekarang pohon hanjuang masih hidup? Setelah berkata Jaya Perkosa berangkat bertempur karena pasukan Cirebon sangat banyak maka perangpun berlangsung lama dalam perang tersebut dimenangkan oleh Jaya Perkosa, dipihak lain Nangganan, Kondang Hapa dan Terong Peot kembali ke Kutamaya sedangkan Jayaperkosa terus mengejar pasukan Cirebon yang sudah cerai berai. Di Kutamaya Prabu Geusan Ulun menunggu Jaya Perkosa dengan gelisah dan cemas, karena anjuran Nangganan yang mengira Senapati Jaya Perkosa gugur dalam medan perang agar Prabu Geusan Ulun segera mengungsi ke Dayeuh Luhur tanpa melihat dulu pohon hanjuang yang merupakan tanda hidup matinya Jaya Perkosa. Maka sejak itu Ibukota Sumedang Larang pindah dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur. Keputusan Geusan Ulun memindahkan pusat pemerintahan ke Dayeuh Luhur sesungguhnya merupakan langkah logis dan mudah difahami. Pertama, dalam situasi gawat menghadapi kemungkinan tibanya serangan Cirebon, kedua benteng Kutamaya yang mengelilingi Ibukota belum selesai dibangun, ketiga, Dayeuh Luhur di puncak bukit merupakan benteng alam yang baik dan terdapat kabuyutan kerajaan.
 Tongkat yang ditancapkan oleh Jaya perkosa masih terpelihara dengan baik di desa dayeuh luhur kec.Ganeas Sumedang, dan tongkat batu tsb sebagai ciri berakhirnya pengabdian (Ulun Kumawula)ka Prabu geusan ulun, menurut versi dayeuh luhur jaya perkasa  ngahyang atau menghilang kealam ghaib, dan menurut versi M.H.Suhardi Jaya perkosa setelah menancapkan tongkat batu tsb, turun menemui Ratu Tjukang gedengwaru istri pertama Prabu Geusan ulun dan kemudian mengabdikan diri ke buyut Tajur cipancar sumedang atau R.Sutra Ngumbar putra Mahkota Pajajaran terakhir, keberadaan Jaya perkosa sangat dirahasiakan sampai akhir hayatnya dimakam kan di sebelah makam R.Sutra Ngumbar/Buyut Tajur

Dokumentasi Foto,yadi mulyadi


 Foto : Batas memakai batik didayeuh luhur setelah peristiwa penyerangan pasukan Cirebon ke Sumedanglarang, dan batas itu pula pasukan cirebon berakhir tanpa daya dalam menghadapi Jaya perkasa

 Foto : Makam Prabu Geusan Ulun
 Foto : Makam Ratu Harisbaya
Foto : Makam Pangeran Soeriadiwangsa/Pangeran Rangga Gempol I
/Pangeran Bembem Ket:Makam pindahan dari Jogjakarta


Jayaperkosa kembali ke Kutamaya dengan membawa kemenangan tetapi ia heran karena Ibukota telah kosong sedang pohon hanjuang tetap hidup akhirnya Jaya Perkosa menyusul ke Dayeuh Luhur dan setelah bertemu dengan Prabu Geusan Ulun, ia marah kepada Nangganan bahkan membunuhnya dan meninggalkan rajanya sambil bersumpah tidak akan mau mengabdi lagi kepada siapapun juga.Terdengar kabar dari Cirebon terdengar bahwa Panembahan Ratu akan menceraikan Harisbaya sebagai ganti talaknya daerah Sindangkasih. Akhirnya Prabu Geusan Ulun menikah dengan Harisbaya dan berputra dua, Raden Suriadiwangsa dan Pangeran Kusumahdinata, sedangkan dari istri pertamanya Nyi Gedeng Waru berputra Rangga Gede. Setelah Prabu Geusan Ulun wafat merupakan akhir dari nalendra kerajaan Sunda Sumedang Larang dan Sumedang memasuki masa kebupatian ketika dipimpin oleh Raden Suriadiwangsa / Rangga Gempol dan menjadi bawahan Mataram.
Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Cakrawarti atau Nalendra merupakan kebebasan Sumedang untuk mengsejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan Cirebon. Arti penting yang terkandung dalam peristiwa itu ialah pernyataan bahwa Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran di Bumi Parahiyangan. Pusaka Pajajaran dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jaya Perkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi keberadaan Sumedang, sama halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak dan Mataram.


 Dan bagi anda yang ingin mengetahui ilustrasi Sejarah Jaya Perkosa silahkan klik video dokumenter pindahnya karaton kutamaya disini
Mungkin dikesempatan lain saya akan membahas sejarah jaya perkosa
dan berbagi foto makam jaya perkasa versi M.H.Suhardi  Desa Cipancar
Kecamatan Sumedang Selatan.

M.H.Suhardi 


Semoga dapat menambah wawasan sejarah anda, kritik saran nya jangan lupa yach gan, dan apabila anda mengetahui sejarah jaya perkasa yang tidak tertuang diatas dan asal dapat/bisa dipertanggung jawabkan, bisa menghubungi saya....ok....

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

9 komentar:

target='_blank'>sibutiz mengatakan... [Reply to comment]

wach,keren banget gan tulisanya...
like it...

Anonim mengatakan... [Reply to comment]

Baraya@....Janten Panasaran versi M.H.Suhardi, bentena naun kang??

target='_blank'>kuri-kulum.blogspot.com mengatakan... [Reply to comment]

nambihan sakedik ah....tentang "prabu geusan ulun"
prabu geusan ulun gaduh istri tilu:
1.nyimas cukang gedeng waru,
2.ratu harisbaya
3.nyi mas pasarean
Ti tilu istri gaduh putra limabelas
1.Pangeran Rangga Gede
2.Raden Aria Wiraja
3.kiyai Kadu rangga Gede
4.Kiyai rangga patra kalasa
5.Raden Aria Rangga Pati
6.Raden ngabehi watang
7.nyimas Demang (cipaku)
8.Raden ngabehi martayuda. (ciawi)
9.Raden ranggawiratama (di cibeureum)
10.Raden rangga Nitinagara(di panggadean pamanukan)
11.Nyimas rangga pamade
12.nyimas Dipatiukur (bandung)
13.raden suridiwangsa ( putra ratu harisbaya dari panembahan ratu)
14.pangeran tumenggung (tegal kalong)
15.raden kiyai demang cipaku (dayeuh luhur)
( RIWAYAT PRABU GEUSAN ULUN )
kang 7-news gentos nami ku link aslina "kuri-kulum.blogspot.com" hatur nuhun kang ah.

Anonim mengatakan... [Reply to comment]

Bade versi naon bade versi nu kumaha...mangga teh teuing...da urang mah teu nga zaman sareng aranjeuna. Nu penting mah kedah tiasa ngalestarikeun titinggal karuhun urang...

target='_blank'>Babad Sunda mengatakan... [Reply to comment]

Sumuhun da sadayana oge teu aya nu ngazaman sareng maranten na,asa kirang payus saupamina gaduh emutan hoyong ngalestarikeun titinggal karuhun tapi urang teu nalungtik versi sajarahna tina sababaraha versi nu aya pikeun maluruh sajarahna anu tujuan na spy ngalengkepan/miceun sajarah anu teu tiasa ditanggung walerkeun tina versi carita dongeng masyarakat tanpa dokumen (naskah kuno)janten nu diposting dina ieu blog teh pikeun ngamumule/ngalestarikeun titinggal karuhun sakaligus sareng sajarahna spy urang tiasa uninga mana anu tiasa dipetik hikmahna dina lalakon sajarah luluhur teh, salajengna Versi nu diposting dina ieu blog versi anu diangkeun leresna ku pihak Yayasan Pangeran Sumedang, salaku panerus sareng nu mupusti titinggal karuhun di Museum Prabu geusan Ulun, hatur nuhun ki dulur

target='_blank'>muhamad supendi. SE.,Ak mengatakan... [Reply to comment]

sae pisan kang,,, kataji ku lalakon karuhun luluhur sumedang teh, mung aya hiji ganjelan, khususna d wewengkon hariang, naha aya hubungan sareng "hariang banga" ???? ti mana asal usulna, kumaha sajarahna, anu kadua, nyi mas gedeng waru teh putra "sanghyang Pada" anu aya di wewengkon jati gede,, manawi aya sajarahna, anu ka tilu, manawi aya buku anu nyajarahkeun sumedang ti kawit eyang cakrabuana dugi jaman kajayaan angkawijaya, nyuhunkeun bewarana

wasalam

target='_blank'>Babad Sunda mengatakan... [Reply to comment]

Makasih atas komentar-komentarnya gan, yg ingin yahu versi Cipancar klik az link ini http://babadsunda.blogspot.com/2012/08/sajarah-jaya-perkasa-versi-ciapancar.html

target='_blank'>harris mulyana mengatakan... [Reply to comment]

manawi gaduh silsilah ratu cukang gedengwaru ?

target='_blank'>harris mulyana mengatakan... [Reply to comment]

manawi gaduh silsilah ratu cukang gedengwaru ?

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas