Rabu, 10 November 2010 | By: Babad Sunda

Seni Buhun Tutunggulanan

Kesenian tradisional "Tutunggulan" sering disamakan dengan kesenian gondang, padahal pada pelaksanaannya berbeda karena kalau tutunggulan tidak diikuti dengan lagu-lagu atau pantun yang bersaut-sautan sedangkan gondang menggunakan lagu dan sisindiran. Namun alat dan sarana yang digunakannya sama yaitu alu dan lisung.
Kata tutunggulan berasal dari kata "nutu" yang artinya "menumbuk" sesuatu. Sesuatu yang ditumbuk itu biasanya gabah kering hingga menjadi beras,
atau dari beras menjadi tepung. Menumbuk gabah menjadi beras tersebut biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara tiga sampai empat orang dan ayunan alunya mengenai lesung yang menimbulkan suara khas, artinya dapat berirama, dengan tujuan agar tidak membosankan dalam menumbuk padi. Ini dilakukan hingga pekerjaan selesai.
Dari kebiasaan itulah akhirnya muncul seni tutunggulan hanya saja ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi langsung menumbukkan alunya kepada lesung. Dari ayunan alu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya. Konon khabarnya lagu-lagu yang ke luar dari tutunggulan ini adalah seperti; lutung loncat, oray belang, caang bulan dll. Tiap kelompok memiliki jenis lagu tersendiri.

Kesenian tutunggulan dimainkan oleh enam orang ibu-ibu dan dipertunjukkan kepada masyarakat manakala terjadinya ¿samagaha¿ atau disebut gerhana bulan di malam hari ataupun sering digunakan untuk menghadirkan warga agar hadir dalam acara musyawarah di balai desa. Belakangan, seni tradisional ini digunakan untuk menyambut tamu pada suatu upacara tertentu, biasanya upacara peresmian proyek, penyambutan tamu, dll.
Dari mana asalnya seni buhun tutunggulan ini ? Adalah masyarakat Desa Wanayasa Kec. Wanayasa Kab. Purwakarta menjadi cikal bakal munculnya seni buhun Tutunggulan. Dan saat ini terdapat tiga kelompok pemain seni tutunggulan yang kesemuanya sudah berusia lanjut. Untuk mempertahankan kelestarian kesenian ini, Kantor Disbudpar Kab. Purwakarta sedang mengadakan regenerasi melalui upaya ajakan terhadap anak muda dan melalui pelatihan-pelatihan di tempat terutama ditujukan kepada masyarakat di sekitar Desa Wanayasa, serta diadakannya lomba Seni Tutunggulan setiap tahunnya dengan melibatkan kecamatan-kecamatan lainnya. Upaya ini dimaksudkan untuk mengembangkan kelompok pelaku seni tutunggulan hingga akhirnya merata di Kabupaten Purwakarta.

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas