Sabtu, 11 Juni 2011 | By: Babad Sunda

Sejarah Sukaraja Kabupaten Majalengka

RISALAH SUKARAJA DAN MASUK NYA AJARAN ISLAM

Dikesempatan ini saya ingin mengupdate kembali coretan di blog carita ki sunda ini, setelah menghilang dari peredaraan he..he, baiklah teman-teman carita ki sunda, kali ini saya mencoba menceritakan kembali sebuah kisah asal mula nama desa sukaraja dan sekitar nya di kecamatan jatiwangi kabupaten majalengka.

kenapa saya tertarik untuk melirik sejarah disekitar kabupaten majalengka???jawaban nya adalah karena di majalengka juga banyak terdapat situs-situs purbakala, dan jauh sebelum masuk nya ajaran islam wilayah tersebut menjadi bagian kekuasaan kerajaan sunda, dan setelah kerajaan sunda berangsur-angsur memahami ajaran islam dan wilayah majalengkapun pernah menjadi wilayah kekuasaan kerajaan sumedanglarang masa pemerintahan Pangeran santri P.Kusumadinata I (Cucu Sunan Panjunan Cirebon)dan pada masa pemerintahan Prabu Geusan ulun, hanya saja waktu itu terjadi gejolak perang saudara antara kerajaan sumedanglarang dengan kerajaan cirebon ,kesalah pahaman tentang Ratu Haris Baya (istri P.Girilaya cirebon)memaksa untuk ikut ke kerajaan sumedanglarang,

Biar lebih jelas nya ringkasan cerita kerajaan sumedanglarang VS Keraton Cirebon
Video Part 1


Video Part 2




Nah dengan alasan itulah saya tertarik untuk menelusuri carita sejarah yang ada diwilayah majalengka, dan saya mengawali mengamati sejarah yang ada dikab.majalengka ini di desa sukaraja kecamatan jatiwangi, karena sukaraja adalah tanah kelahiran bapak saya, dan menurut kuncen/juru kunci Syekh Maulana Abdulrahman Akbar atau masyarakat sukaraja menyebut beliau dengan Embah Depok Suradipati Ewanggasona, keluarga bapak saya masih punya garis keturunan beliau, dan juru kunci nya pun masih ada pertalian kerabat dengan keluarga saya, dan juru kunci tsb adalah paman saya.

Baiklah kita kembali ke topik carita/risalah sukaraja yang menjadi bahasan dikesempatan ini.
Sukaraja adalah nama desa diwilayah kecamatan jatiwangi kabupaten majalengka, memang saya sendiripun mencium kesimpang siuran tentang asal mula nama sukaraja ini.
tak heran dalam sejarah selalu saja ada kesimpang siuran versi sejarah yang berbeda.
ada yang mengatakan bahwa nama sebelum sukaraja adalah Pedukuhan Tegallega dan Pedukuhan Jatilawang, alasan nya katanya nama sebelum sukaraja adalah tegal lega menurut embah Dayem (saya tidak mengetahui siapa sebenarnya embah Dayem ini)dan versi lain nya lagi bahwa nama sukaraja adalah Pedukuhan jatilawang karena dalam legenda kalabanteng disebut pedukuhan Jatilawang yang merupakan wilayah bagian dari waragati. dan ada yang mengatakan bahwa pedukuhan tegallega dan jatilawang adalah nama pedukuhan yang sama...

jika demikian hal nya,mungkin saja pada waktu itu semasa ,pedukuhan tegal lega adalah nama lain dari pedukuhan jatilawang bagian wilayah waragati. dan jika pada waktu itu tidak semasa kemungkinan besar perubahan nama pedukuhan tegallega menjadi pedukuhan Jatilawang tidak mustahil terjadi, karena dengan perubahan masa yang sangat jauh dan perkembangan dari masa kemasa kini menjadi nama desa sukaraja.

menurut cerita keberadan embah Dayem kurang lebih tahun 1380 M, sedangkan masa kala banteng kurang lebih tahun 1550M perbedaan masa antara embah dayem dengan kalabanteng kurang lebih 170 tahunan, mungkin saja pada tahun 1400m/pada masa embah dayem nama sukaraja sekarang adalah tegallega dan pada tahun 1551 M/pada masa kalabanteng (desa.sukaraja sekarang) pedukuhan tegallega berubah nama menjadi Jatilawang,kemudian menjadi pedukuhan sukaraja, karena perkembangan dan perubahan masa pedukuhan sukaraja berubah menjadi sebuah desa.sukaraja yang terletak di kecamatan jatiwangi, desa sukaraja terletak sebelah utara dari pusat pemerintahan kabupaten majalengka sekarang.

masa embah dayem belum mengenal ajaran islam, dan pada masa kalabanteng mulai peralihan kepercayaan, dan masyarakat sukaraja mengenal ajaran islam dari seorang da'i yang bernama Kyai Muhamad/Pangeran muhamad putra dari syekh maulana Abdurahman/sunan Panjunan keturunan dari syekh datulkahfi (Gunungjati)seorang ulama keturunan arab hadramaut yang berasal dari mekah. Pangeran muhamad/Da'i Muhamad penyebar ajaran islam disukaraja dan di wilayah majalengka lain nya, karena pangeran muhamad menikah dengan Siti Armilah putri sindang kasih majalengka dan dari hasil pernikahan nya tersebut mempunyai seorang putra yang bernama Raden soleh /kigedeng sumedang / Pangeran Kusumadinata I/Pangeran santri yang menikah dengan seorang ratu kerajaan sumedanglarang (Ratu Pucuk Umun)dan kemudian menjadi raja sumedanglarang berputra Prabu Geusan Ulun (Raden Angka Wijaya).

Perubahan nama sukaraja menurut cerita dimasyarakat karena diriwayatkan bahwa dahulu pernah ada peristiwa seorang putri yang menyukai seorang raja maka pedukuhan jatilawang berubah nama menjadi sukarja yang berarti suka pada raja hanya saja tidak jelas siapa nama putri dan raja yang diceritakan masyarakat tersebut (harus ada pengkajian sejarah secara khusus).

maaf ini hanya pendapat saya pribadi, apakah karena pedukuhan tegallega atau pedukuhan jatilawang atau lebih populer dengan nama pedukuhan sukaraja adalah pedukuhan yang sering dilalui raja sumedanglarang sebagai pewaris kerajaan pajajaran, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan sunda yang pernah berjaya dimasa lampau, dan seluruh wilayah kekuasaan kerajaan pajajaran diserahkan kepada kerajaan sumedanglarang, tak terkecuali kerajaan-kerajaan yang ada ditanah majalengka (talaga dll) menjadi bagian kerajaan sumedanglarang, karena raja sumedanglarang sering melintasi kepedukuhan jatilawang sehingga menjadi sukaraja karena Ibu dan ayah raja sumedanglarang (Pangeran santri/pangeran kusumadinata)bermukim di majalengka yaitu Kyai muhamad dan ibu siti armilah di sindangkasih.dan juga masa putra pangeran santri yaitu Prabu Geusan ulunpun kerap melintas kepedukuhan ini, apakah yang diceritakan masyarakat sekitar tentang seorang putri yang kabur dan mengikuti raja tersebut adalah peristiwa Ratu Harisbaya istri sultan Girilaya cirebon yang memaksa memilih ikut ke kerajaan sumedanglarang????
seperti dikilas dalam video diatas bahwa Harisbaya adalah kekasih Prabu geusan ulun semasa menimba ilmu agama islam ditanah jawi, karena Raden angka wijaya akan dinobatkan menjadi raja sumedanglarang dengan gelar Prabu Geusan ulun sehingga perpisahaanpun terjadi dengan kekasihnya harisbaya, dan setelah kurun waktu lama Prabu Geusan ulun berkunjung ke keraton cirebon karena sesungguhnya keraton cirebon dan kerajaan sumedanglarang adalah saudara atau keluarga dekat, maka tak heranlah jika prabu geusan ulun berkunjung ke keraton cirebon ,akan tetapi sungguh tak diduga prabu geusan bertemu kembali dengan harisbaya hanya saja status harisbaya sudah menjadi istri sultan cirebon sebagai persembahan.
Prabu geusan ulunpun menjadi gundah dan berniat pamit tapi tiba-tiba harisbaya memaksa untuk ikut kesumedanglarang dan mengancam akan bunuh diri apabila dirinya tidak diperkenankan ikut ke kerajaan sumedanglarang, dengan sangat terpaksa  membawa harisbaya daripada dituding membunuh harisbaya.sehingga timbul kesalah pahaman dan terjadi perang saudara yang berlangsung lama.
Cerita lengkap nya Klik Disini

Dan menurut cerita masyarakat sekitar bahwa yang memberinama sukaraja adalah sultan cirebon kurang lebih tahun 1570 m, dan saya pun heran kenapa sultan cirebon memberi nama sukaraja karena pada masa 1570M, wilayah majalengka masih termasuk bagian wilayah Pajajaran.
dan pada tahun 1579 wilayah kekuasaan pajajaran diserahkan ke sumedang kecuali tanah cirebon dan banten
Masa pemerintahan Pangeran Santri            1530-1579 M
Masa pemerintahan Prabu Geusan ulun        1579-1601M

saya memaklumi apabila pemberian nama sukaraja oleh sultan cirebon dilakukan kurang lebih tahun 1600-1601 setelah wilayah majalengka diserahkan prabu geusan ulun kepada sultan cirebon sebagai pengganti harisbaya.


MASUK NYA AJARAN ISLAM DI SUKARAJA
sudah barang tentu sukaraja masa pemerintahan raja sunda terdahulu menganut ajaran hindu dan budha, masa peralihan kepercayaan dan masuk ajaran islam pada masa Pajajaran yang dipinpin oleh Sribaduga maharaja (Prabu siliwangi)yang telah menganut agama islam dan beristri Nyimas Subanglarang Putri/santri wali sepuh syekh Hasanudin atau lebih dikenal dengan nama Syekh Quro A'in karawang,
akan tetapi pada masa sribaduga maharaja ajaran animisme masih subur dimasyarakat, wajar saja karena masih sedikit nya da'i kala itu.
Dan ajaran animisme diwilayah kekuasaan sribaduga maharaja mulai terkikis setelah hadirnya cucu sribaduga maharaja dari Nyimas Larasantang yaitu Syekh Syarif Hidayattullah ke cirebon, sehingga sribaduga dengan senanghati melihat cucu nya menyebarkan ajaran islam didaerah cirebon hingga kedaerah majalengka.
sebagai tambahan dari saya untuk diteliti, banyak nya pendapat bahwa Prabu Siliwangi (Sribaduga Maharaja)beragama hindu, dan pendapat itu tidak salah dan benar ada nya akan tetapi perlu diketahui juga bahwa sribaduga masuk dan memeluk agama islam dikarawang oleh syekh Quro A'in sehingga sribaduga dapat mempersunting santri nya yang bernama Nyimas Subanglarang. kenapa demikian??? secara logika pun mestinya kita harus sudah bisa menangkap bahwa Sribaduga maharaja (Prabu Siliwangi )memeluk islam, karena jika prabu siliwangi masih memeluk ajaran hindu ketika mempersunting Nyimas subanglarang adalah hal yang mustahil terjadi dikarenakan Syekh Quro adalah termasuk wali sepuh sebelum ajaran islam yang dibawa para wali songo ke tanah jawa ini. syekh Quro seorang wali allah tidak mungkin memberikan putri didik nya dipersunting orang yang berbeda agama walaupun ia seorang raja kesohor ,saudagar kaya ataupun ksatria gandang sakti mandraguna jika berbeda agama.

Ini adalah nama-nama tokoh Da'i penyebar ajaran islam di daerah majalengka 

1.Dalem panungtung
2.Nyimas lintangsari
3.Wirangga Laksana
4.Embah Salamuddin
5.Pangeran muhamad dan istrinya Siti Armilah pada tahun 1526M
6.Pangeran Puteran
7.Sunan Drajat
8.Eyang Tirta/Eyang Cai
9.Buyut Samoja opat
10.Embah Nursalim
11.Embah Talamudin
12.Dipati Suraga Ewanggasona (murid Embah Nursalim & Embah Talamudin)
13.Embah Hanafiah,
14.Eyang Weri
15.Raden haji Brawinata
16.Pangeran jakarta
17.H.ibrahim dll yang tersebar si seluruh wilayah majalengka .


saya mohon maaf apabila ada kekeliruan, dan semoga saja kita semua dapat menemukan keutuhan sejarah sukaraja yang sesungguhnya. dan insyaallah saya akan mencoba menggali sejarah Syekh Maulana Abdurrahman Akbar atau lebih dikenal dengan nama Embah Depok Dipati Suraga Ewanggasona.

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

6 komentar:

Bustomy mengatakan... [Reply to comment]

sbgai turunan sukraja yg hidup d luar sukraja ada mitos bahwa orang sukaraja tdk boleh hajat tatanggapan wayang....mohon crita kebenaranya??

target='_blank'>Carita Ki Sunda mengatakan... [Reply to comment]

Mohon maaf apabila jawaban nya kurang memuaskan, sebab saya sendiri pun tengah mencari kebenaran tentang cerita/risalah diatas, karena kalu hanya bersandar dari sumber cerita rakyat saja, sudah barang tentu banyak hal kesimpang siuran, tapi kali ini saya hanya bisa menjawab dari sisi cerita rakyatnya, bahwa pantangan (tabu) tatanggapan wayang bagi keturunan sukaraja dari peristiwa seorang putri (tak jelas siapa putri tsb)yang hendak dinikahkan paksa oleh orang tuan nya dengan tatanggapan wayang golek, akan tetapi sang dalang membawa kabur calon pengantin perempuan nya, ternyata sang dalang adalah kekasih calon pengantin perempuannya, kekasihnya yang menyamar menjadi dalang berhasil membawa lari mempelai perempuan tsb, sehingga mempelai pria marah dan melarang warga keturunan sukaraja tatanggapan wayang, kemungkinan besar dari cerita rakyat itu saya perkirakan calon mempelai pria tsb seorang tokoh besar dan berpengaruh pada masa itu, dan versi kedua larangan /tabu tatanggapan wayang pada masa Mbah syekh maulana Akbar/ mbah Dipati Suraga Ewanggasona/Mbah Depok...mengatakan larangan tatanggapan wayang diakibatkan karena pada masa itu banyak warga yang tidak melakukan sholat subuh karena mereka ngantuk dan tidur selesai menonton wayang, karena menonton wayang berakibat melalaikan ibadah sholat subuh kemudian dilaranglah tatanggapan wayang didesa sukaraja, semoga jawabanya dapat dipahami saudara Bustomy, terima kasih.

Anonim mengatakan... [Reply to comment]

Sebelumnya saya mohon maaf,karena menurut informasi yang kami dapatkan "Konon" selain daripada hal yang sudah disebutkan tadi,ada kabar bahwa EMBAH DEPOK merasa sakit hati terhadap seorang "Sinden",sehingga beliau menjatuhkan semacam kutukan atau sumpah,siapa saja anak atau keturunanku yang kelak mengadakan hiburan yang bersipat "Meriah"ditambah lagi melibatkan wanita sebagai Penyanyi atau juru kawih,maka akan mendapatkan sial.
mana yang benar atau yang salah,Hanya ALLAH yang tahu

target='_blank'>Babad Sunda mengatakan... [Reply to comment]

Terima kasih atas infonya, keterangan diatas tsb sangat berharga untuk bahan peninjauan sejarah Embah Depok/Dipati Suraga Ewanggasona/Syekh Maulana Abdurahman Akbar..

target='_blank'>Rey Marchell Ikhsani mengatakan... [Reply to comment]

blognya keren, mampir ya kak ke blog sya :)

target='_blank'>cheppi rottens mengatakan... [Reply to comment]

Ass maaf saya mau tanya...knp klo di sukaraja kulon klo ada hiburan hajatan si perempuan2nya gak boleh joget atau nyanyi mngkin akang punya ceritanya...dan saya jg ingin tau pantangan2 yg ada di sukaraja selain hiburan wayang...trim's..Ass wrwb

cheppy rottens

Poskan Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas