Rabu, 11 Mei 2011 | By: Babad Sunda

Prasasti Batutulis Bogor

            Dikesempatan ini saya mendapatkan info kembali di catatan Facebook Kang Undang A.Darsa, beliau adalah ahli aksara sunda (Filologi) di Unpad , setelah mendapatkan izin copas maka lagsung az saya posting ke carita ki sunda,Ga ada salah nya kan copy paste juga, dan yang terpenting adalah kita dapat menambah wawasan tentang Situs/Benda cagar budaya ka sundaan" dengan seizin pemilik artikel tersebut.
Baiklah buat sahabat carita ki sunda, langsung menuju catatan
“Prasasti Batutulis Bogor”


 Foto : Dari om google


Sumber catatan: Undang A. Darsa

Proses Pengungkapan Tabir Yang Menyelimuti Makna

“Prasasti Batutulis Bogor”



Berikut ini dikutip hasil transliterasi prasasti Batutulis yang dikerjakan oleh Poerbatjaraka (1919-1921), dengan penyesuaian pada EYD:



(1) …(1) ini(2) sakakala(3) prebu ratu purana(4) pun. diwastu

(2) dya wingaran (dingaran)(5) prebu guru déwasrana(6) diwastu diya dingaran sri

(3) baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran. sri sang ratu dé-

(4) wata pun ya nu nyusuk na pakwan. diya anak rahiyang déwa nis-

(5) kala sasida mokta(7) di guna tiga(8). i(n)cu rahiyang niskala wastu-

(6) ka(n)cana sasida mokta ka nusa lara(ng) ya siya nu nyiyan sakata

(7) ka(9) gugunungan ngabalay(10) nyiyan samida(11) nyiyan sa(ng)hiyang talaga

(8) réna mahawijaya. ya siya pun. i saka panca pandawa …ban(12) bumi.



Di sinilah salahsatu eksistensi “PAJAJARAN TERSURAT JELAS” (di samping dalam Piagam Kebantenan; lihat catata Richadiana Kartakusumah), yang sama sekali sudah tidak menjadi sumber polemik seperti yang diperdebatkan dewasa ini. Berdasarkan transliterasi tersebut, justru kata-kata yang diberi tanda angka di belakangnya merupakan inti permasalahan yang dibahas para pakar terdahulu.

1. Tulisan pada prasasti ini, in situ sekarang sudah sangat sulit untuk ditelaah karena telah aus, lekuk-lekuk aksaranya penuh bekas kapur tulis. Holle (1882: 92) yang mendasarkan bacaannya kepada 2 lembar foto lama yang dibuat oleh C. Dietrich & Kinsbergen berpendapat bahwa, bagian permulaan ini, pertama kali dibaca: watu geng pun; kedua kalinya: watu geng na pun. Bagian itu dibaca Pleyte (1911: 159): gawang na pun, diterjemahkan olehnya dengan: de opening ervan. Poerbatjaraka (1919-1921: 382) mengatakan, mijn is het duister gebleven ‘bagi saya tetap gelap’. Oleh karena itu dalam transliterasinya digunakan tanda “…”


2. Dibaca Pleyte: itu; Holle membacanya: ini yang disetujui oleh Poerbatjaraka.

3. “sakakala” merupakan serapan dari Sankrit-Jawa Kuno: ‘sakakala’, selanjutnya menjadi: sengkala(n) (Pigeaud, 1938: 522), chronogram, yaitu angka tahun (hari bulan) yang dirahasiakan dalam kata-kata pada kalimat (Prawiroatmodjo, 1981: 166), dalam bahasa Sunda menjadi: sasakala, yang artinya menurut Eringa (1984: 676): iets dat nog herinnert aan…; Poerbatjaraka memberi makna: een gedenkwaardig tijdstip, gedenkstuk ‘satu waktu yang berharga untuk diperingati, satu tanda peringatan’.

4. Dibaca oleh Holle: purana, yang keduakalinya : purana(na?). Pleyte membacanya: purané yang diterjemahkannya vroeger ‘dulu/dahulu’; purané ialah kasus lokatif dari purana. Holle berpendapat bahwa, purana atau purana(na?) bukan nama diri, melainkan kata biasa, yang dinyatakannya, waarbij het poerana niet als eigennaam, maar volgen de gewone beteekenis word opgevat (Holle, 1882: 91). Dengan demikian, baik Holle maupun Pleyte tidak menganggap purana itu sebagai nama diri. Poerbatjaraka menganggapnya nama diri sehingga beliau memberi arti “Prebu Ratu Purana” bukan “Prebu Ratu yang lalu“. Kemudian Noorduyn (1959: 506) sepakat dengan Poerbatjaraka bahwa, purana sebagai nama diri, bahkan dianggap Noorduyn, “Prebu Ratu Purana” sebagai nama raja untuk pertama kalinya. Pendapat itu diikuti oleh Amir Sutaarga (1984: 31). Namun demikian, pendapat Holle dan Pleyte cenderung lebih tepat, yaitu purana atau purané sebagai kata yang berarti ‘dulu’ atau ‘dahulu’; bahkan melihat bukti dewasa ini tampak sebelum aksara “na” secara jelas ada goresan tanda vokalisasi “taling”. Jadi, bacaan Pleyte itu sesuai dengan kenyataan in situ.

5. Kata ini dibaca Holle: dingaran, namun Pleyte membacanya: wingaran, sedangkan Poerbatjaraka membacanya: wingaran, tetapi di antara tanda kurung harus dibaca dingaran.

6. Holle membacanya: déwatasana; Pleyte (1911: 159) membacanya: déwatabhana; Poerbatjaraka membacanya: déwatasrana, yang dikatakan selanjutnya bahwa, nama ini verhaspeling ‘rusakan dari kata’ déwata-sarana, artinya: “dia yang mencari perlindungan kepada dewata”; dengan kata-kata Poerbatjaraka sendiri, hij die zijn toevluch bij de godhead. Noorduyn (1959: 506) berpendapat bahwa kata itu harus dibaca déwataprana dengan penjelasan bahwa, prana ialah kata Sanskerta yang berarti ‘napas, hati, hidup’. Jadi, kata Noorduyn, déwataprana boleh diartikan ‘napas atau hidup kedewaan’. Pendapat ini diikuti oleh Sutaarga. Gelar raja seperti ini dalam Nagarakretabhumi I.2, juga disebut Sang Ratu Jayadéwata yang dinobatkan dengan gelar abhiseka ‘kehormatan’ Prabu Guru Déwataprana (Atja & Ayatrohaédi, 1986: 39).

7. Frase: sasida mokta dibicarakan oleh Poerbatjaraka sebagai berikut: Mengenai sasida dapat diterangkan dengan dua cara; pertama: sang séda ‘yang telah meninggal’, jadi sida mokta merupakan sebuah pleonasme; kedua: sang ”sidha” ‘yang sudah’, menurut Poerbatjaraka reeds yang dalam bahasa Jawa Baru: sida = gebeurd. Namun demikian, pendapat yang kedua inilah yang tepat, yakni ‘yang sudah wafat’.

8. Holle, Pleyte, dan Poerbatjaraka tidak memberi perhatian kepada kata guna tiga, kecuali Sutaarga (1984: 31, catatan kaki 2) yang menjelaskan bahwa, guna sebenarnya harus dibaca gunung; sampai sekarang ada Gunung Tilu di Galuh, tepatnya dari Panjalu dengan melewati tiga buah bukit ke arah barat, kita dapat mencapai Gunung Tilu, tetapi sudah termasuk wilayah kabupaten Tasikmalaya. Dalam teks FCP lempir 4b, antara lain disebut: Heuleutna ti kalér hanggat Sukasangtub hulu alas Galunggung. Medang Kamulan hulu alas Cidatar. Bantar Bojong Cisalaka hulu alas Gegergadung. Gunung Tiga hulu alas Utama Jangkar. Jambudipa hulu alas Denuh. Lamabung hulu alas Pucung. Gunung Manik hulu alas Windupepet. Gunung Sri hulu alas Pun[a]tang. Pacera hulu alas Lewa. Papandayan hulu alas Kandangwesi (Darsa & Ekadjati, 1995).

9. Frase ini ditransliterasi oleh Holle: saka(n)taka diikuti dengan gurunusan. Adapun Pleyte (1911: 160) membacanya: sakuta ka. Noorduyn membetulkannya menjadi: sakakala gugunungan, yang disetujui oleh Sutaarga. Namun, apabila dibaca, baik melalui faksimile yang dilampirkan Pleyte ataupun membaca sendiri in situ, sangat jelas perbedaannya antara gugus aksara sakakala pada larik pertama dengan sakata ka pada larik 6 akhir dan 7 awal. Poerbatjaraka membacanya: sakata ka, yang dijelaskan selanjutnya bahwa, sakata berasal dari Sanskrit-Jawa Kuno ‘sakata’ sebagaimana juga telah diperingatkan oleh Friederich (1853: 463). Poerbatjaraka menerjemahkan: nu nyiyan sakata ka gugunungan dengan die maakt (dat) de voertuigen naar de berglanden, artinya ‘yang membuat jalan kendaraan ke tanah-tanah pegunungan’. Pengertian dari transliterasi Poerbatjaraka mengenai sakata sudah tepat, tetapi gugunungan dalam bahasa Sunda bukanlah berarti bergland ‘tanah pegunungan’, melainkan arti yang dimaksud ialah ‘gunung tiruan’, mungkin juga gunung buatan. Eringa (1984: 272) memberi arti gugunungan: (a) kunstmatig heuweltje, (b) s.v. rekwisiet bij wajangvoorstellingen. Arti (a) itulah yang dimaksudkan dalam konteks tadi. Sedangkan bergland dalam bahasa Sunda mesti diartikan pigunungan atau pagunungan. Dalam pada itu, pendapat Noorduyn (1959: 507) yang mengartikan dengan “membuat sakakala gugunungan” atau ‘monumen yang berupa gunung’, tidak relevan karena gugunungan itu sendiri telah merupakan bukit buatan dengan maksud sebagai tempat yang disucikan, sebagai monumen, yaitu sejenis “punden”, seperti yang diduga Sutaarga (1984: 32, catatan kaki 2).

10. Kata ngabalay oleh Holle dikosongkan. Pleyte memberi arti kata ngabalay dengan met muur omgeven ‘dikelilingi dengan pagar batu’, sedangkan Poerbatjaraka berpendapat, haruslah berarti: (die) een bale d.i. openbare vergaderzaal maakt ‘membuat sebuah balai pertemuan’. Kata balay dalam bahasa Sunda tidak sama dengan kata balé. Kedua kata itu masing-masing tercatat dalam kamus-kamus bahasa Sunda. Dalam kamus terbitan LBSS (1981) kedua kata itu diterangkan sebagai berikut: balay: batu kira-kira sagedé-gedé peureup nu geus dibéréskeun diceceb-cecebkeun kana taneuh ‘batu kira-kira sebesar kepalan-kepalan tangan yang telah dirapihkan dan ditanam dalam permukaan tanah’; ngabalay ‘membuat balay’; balé: adegan wawangunan ‘sejenis bangunan’; balédésa, balékota, jsté. Tempo dulu balé juga merupakan ruang yang terbuka pada bagian depan rumah.

11. Kata samida merupakan perubahan dari kata serapan bahasa Sanskerta: samidha ‘hangus’. Dalam konteksnya terjadi pergeseran arti dari ‘hangus’ menjadi ‘kayu bakar’ yang khusus untuk kepentingan upacara; nyiyan samida berarti membuat/menjadikan hutan yang ditumbuhi kayu khusus untuk diambil sebagai kayu bakar guna kepentingan upacara keagamaan.

12. Kata “…ban” menjadi pembicaraan yang tak kunjung terpecahkan. Holle berpendapat bahwa, bagian yang meragukan itu, pertama dibaca piban, kemudian diterka mesti dibaca tiban yang berarti gevallen (of uit de lucht gevallen), ‘jatuh’ atau (‘jatuh dari langit’). Hal itu menunjuk kepada satu bagian di dalam Barata-Yuda (“di mama?” tanya Poerbatjaraka, 1919-1921: 387), yaitu di tempat kelima orang Pandawa kembali dari kematian. Dengan demikian, kata tiban dapat berarti angka nol (0), sehingga diperoleh susunan angka tahun 1055 Saka (1133 Masehi).

Pleyte, berdasarkan saran dari Prof Kern, membacanya: eban atau emban, dan dihubungkan dengan “empat emban” yang berkaitan dengan kebiasaan dalam cerita-cerita Hindu selalu ada empat orang wanita pengasuh untuk anak-anak orang kaya, di antaranya, seorang nurse dan tiga orang drya nurses. Dengan demikian maka diduga bahwa, emban (baik nurse maupun drya nurses) memiliki nilai angka 4. Karena itu pula bunyinya menjadi: panca pandawa “emban” bumi, bernilai angka tahun 1455 Saka/1533 Masehi (Pleyte, 1911: 162). Pleyte mengatakan, dahulunya saya berpikir bahwa angka tahun 1455 Saka terlalu muda. Tetapi berita-berita Portugis ternyata sebelum tahun tersebut, raja-raja Banten belum memeluk agama Islam. Jadi, dari sudut itu tidak ada keberatan terhadap angka tahun 1533 Masehi.

Hoesein Djajadiningrat (1913: 140; 1983: 158-159) berpendapat, tahun pendirian Pajajaran jika didasarkan atas berita portugis, terlalu muda. Tetapi, jika harus dihubungkan dengan emban, tentulah emban itu adalah 3 orang emban Pandawa: Semar, Nalagareng, dan Petruk. Hoesein Djajadiningrat berkesimpulan bahwa dengan demikian, emban itu bernilai angka 3, jadi susunan angka tahun itu berarti 1355 Saka (1433 Masehi).

Adapun Poerbatjaraka berpendapat, kata yang meragukan itu harus dibaca nge(m)ban. Di dalam daftar kata candrasangkala tidak terdapat nilai angka untuk kata ngemban, tetapi kita dapat berpikir tentang segala perbuatan dengan tangan, yang di dalam candrasangkala bernilai angka 2. Karena itu, ngemban mestinya berarti 2. Hal tersebut mengingatkan kita kepada kata emban pada candrasangkala yang ditemukan dalam Pararaton halaman 192 larik 13 (Poerbatjaraka, 1919-1921: 388). Dengan demikian, larik terakhir dari prasasti Batutulis menjadi: “In saka de vijf (5) pandawa’s (5) (dragen in) de armen (2) de werld (1)” yang berarti susunan angka tahun 1255 Saka (1333 Masehi).

"Semoga bermamfaat dan menambah wawasan sejarah kita semua"

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain.

3 komentar:

target='_blank'>Agung mengatakan... [Reply to comment]

Baru kali ini gw nemu blog yg ngangkat tentang hal2 yang berbau sunda ..
kebeneran baru n lg belajar nih kawan tentang sunda ..
thx buat posting2nya

target='_blank'>Babad Sunda mengatakan... [Reply to comment]

Terima kasih, Jika coretan diatas bermamfaat bagi kawan

target='_blank'>hendra somantri mengatakan... [Reply to comment]

Bagaiman kalau mengartikan prasasti batu tulis ini tidak hanya dari sisi filologis saja, tetapi dari sisi filosofi Sunda yang luhur penuh dengan siloka (simbolik) dan makna. Menurut Saya, Surawisesa menulis tsbt adalah peringatan bahwa beliau pernah diajarkan Silwangi dan perintah ke orang Sunda untuk mentaati apa yang diajarkan beliau , yaitu ngabalay (kerja keras) nyian samida (Simbol dari konsep gunung segitiga seperti pyramidanya Mesir, ajaran Budha di Jepang, all seeing eye di Yahudi dll) yang kurang lebih maksudnya bahwa utk mencapai kejayaan (mahawijaya/light of greater) yang diberkahi, diperlukan Keteguhan, Kesabaran dan kerja keras untuk mendapatkan Kepastian Hidup karena nasib dan takdir tidak bisa dirubah tapi kepaatiannya yg bisa dirubah (mis. Nasib kaki jadi kaki , takdir kaki untuk melangkah tapi kepastian kaki mau dibawa melangkah ke mana tergantung yang bawa). Nyian sa(ng) hiang telaga rena mahawijaya Dst...Dgn melaksanakan sembahyang lima waktu. Panca (lima) Pendawa (arjuna, bima,....mata , hidung dg kata lain menjaga panca indera).

Posting Komentar

Pengunjung yang baik tentunya memberikan Komentar,kritik serta saran yang sopan disini, Terima kasih atas komentar dan kunjungan nya

Kembali lagi ke atas